Putri Untuk Mas Duda

Putri Untuk Mas Duda
*Episode #17


__ADS_3

Mereka melakukan hal tersebut selama beberapa kali. Sampai-sampai, Putri yang baru pertama kali merasakan hal itu, dibuat tak berdaya dengan seluruh tubuh menderita kesakitan.


Maklum, panglima gagah mantan duda itu sudah sangat jago dalam urusan membahagiakan sang istri. Bagaimana tidak? Dia sudah pernah menjalani kehidupan rumah tangga selama dua setengah tahun bersama orang yang sangat dia cintai. Tentu saja dia sudah sering melalui hal yang membahagiakan itu bersama istrinya selama hubungan pernikahan mereka berlangsung.


Putri bangun ketika matahari sudah bersinar terang. Sebisa mungkin dia paksakan untuk turun dari ranjang. Meski sebenarnya, ada bagian yang terasa sangat perih sampai sulit untuk bergerak.


Namun, dia harus tetap memaksakan diri agar bisa bangun dan segera membersihkan diri. Karena sekarang, hari sudah sangat siang. Ditambah, dia sedang berada di rumah mamanya. Bagaimana jika sang mama malah mencari dirinya karena dia masih juga belum. muncul. Karena biasa, dia tidak pernah bangun kesiangan jika tidak dalam keadaan sakit.


Lagipula, sekarang, Abian sudah tidak ada di sampingnya. Mungkin saja sudah bagun sejak tadi subuh. Dan sekarang, mungkin sudah berangkat ke kantor. Setidaknya, itulah yang Putri pikirkan ketika dia tidak menemukan Abian di sampingnya ketika dia membuka mata.


Putri berjalan dengan langkah cukup pelan dengan tubuh yang terbalut selimut kesayangan miliknya. Dia terpaksa membawa selimut itu ikut serta ke kamar mandi. Karena selimut itu juga sepertinya memang harus di bersihkan juga.


Ketika dia sudah sampai di kamar mandi dengan susah payah. Saat ingin membuka pintu kamar mandi tersebut, pintu tersebut malah terbuka dengan sendirinya. Terdiam dengan wajah kaget, itulah yang bisa Putri lakukan.


Sementara itu, Abian yang membuka pintu kamar mandi langsung muncul dari balik pintu yang sudah terbuka. Dengan tatapan kasihan, dia melihat Putri sejenak.


"Kenapa gak tunggu aku baru ke kamar mandi?"


Suara itu langsung membuat Putri yang tertunduk langsung mengangkat wajah untuk melihat orang yang ada di depannya. Sambil membenarkan selimut yang dia pakai, Putri berucap dengan nada kaget.


"Mas Abi!"


"Lho, kok malah kaget sih?"

__ADS_1


"Kamu ... gak ke kantor, Mas?"


"Gak."


"Ke--kenapa?"


"Udah izin sama asisten aku. Gak ke kantor hari ini. Lagian, gak ada rapat penting juga. Makanya bisa bolos."


"Kamu mau ke kamar mandi?"


"Iy--iya."


"Ya sudah. Aku antar."


Belum juga siap berucap, Abian langsung saja mengambil tubuh langsing itu untuk dia gendong. Lalu, dia bawa masuk ke kamar mandi. Dengan sangat hati-hati, dia turunkan tubuh itu.


"Mau aku bantu gak?"


"Tidak-tidak! Tidak perlu, Mas. Aku bisa sendiri," ucap Putri dengan cepat.


Abian ingin mengukir senyum karena tingkah Putri barusan. Namun, sekuat tenaga dia tahan. Karena dia tidak ingin Putri berpikir, kalau dirinya sedang tertawa di atas penderitaan yang Putri alami.


"Ya sudah kalo gak mau aku bantu. Aku tunggu kamu di luar. Ada perlu apa-apa, panggil saja. Aku gak jauh kok. Oh ya, kalo udah siap, langsung panggil aja. Aku bantu kamu keluar."

__ADS_1


Selesai berucap, Abian langsung beranjak tanpa menunggu Putri menjawab perkataannya terlebih dahulu. Sementara Putri yang sedang berada di kamar mandi, tidak langsung melakukan apa yang ingin dia lakukan. Putri malahan terdiam sambil melihat punggung laki-laki penuh kharisma yang sekarang sudah sangat-sangat resmi jadi suaminya lahir batin.


"Ya Allah ... dia benar-benar sudah jadi suami aku sekarang? Huh ... benar-benar seperti mimpi saja. Tidak habis pikir dengan perubahan yang begitu cepat ini. Lah aku ... aku juga kok jadi begitu bego ya? Mau-mau saja ...."


"Put ... buruan. Aku dengar apa yang kamu katakan dengan baik. Ayo segera bersihkan dirimu itu," ucap Abian dari luar pintu kamar mandi.


Putri yang kaget, terpaku tanpa kata. Dia yang sungguh tidak menyangka kalau ucapannya di dengar oleh si suami, lah sekarang membatu bak patung pajangan yang tidak bisa bergerak.


"Putri .... " Abian memanggil lagi saat tidak mendengar jawaban dari Putri.


"Put, apa kamu butuh bantuan aku? Jika tidak ada jawaban juga, maka aku langsung masuk sekarang ya. Aku akan bantu kamu membersihkan diri."


Sontak saja. Kata-kata itu langsung menyadarkan Putri dari membatunya tubuh akibat kata-kata yang Abian ucapkan sebelumnya.


"Tidak-tidak. Tidak perlu masuk, Mas. Aku akan mandi sekarang. Sekarang juga. Kamu tidak perlu bantu aku."


"Mandi dengan cepat, jika tidak ingin aku masuk ke dalam buat bantu kamu."


"Iya ... bawel kamu ah! Cukup saja mamaku yang bawel. Jangan kamu juga ikut-ikutan." Putri berucap dari dalam kamar mandi karena dia sekarang sudah merasa kesal dengan tingkah Abian yang mendadak jadi bawel bukan kepalang.


Abian yang mendengar ucapan itu hanya bisa tersenyum nyengir. Dia bahagia dengan ucapan kesal dari istri yang baru saja dia sadari, kalau dia punya perasaan pada si istri kecilnya ini.


Rasa cinta yang entah sejak kapan tumbuh. Dia baru bisa menyadari kalau dia punya rasa cinta itu setelah dia melihat kebersamaan si istri dengan laki-laki lain. Meski dia tahu siapa laki-laki itu sebenarnya.

__ADS_1


'Aku akan perlakukan kamu seperti apa yang kamu inginkan, Putri. Kamu adalah berlian dalam keluargamu. Maka aku juga akan memperlakukan kamu sama seperti keluargamu memperlakukan kamu. Bahkan, mungkin aku harus lebih baik lagi memperlakukan kamu dari pada mereka,' kata Abian dalam hati sambil tersenyum dengan terus melihat pintu kamar mandi yang ada di depannya.


__ADS_2