Putri Untuk Mas Duda

Putri Untuk Mas Duda
*Episode #27


__ADS_3

Abian yang merasa bingung, tentu saja langsung maju untuk bicara dengan Aditya. Karena sejujurnya, dia memang tidak memahami sedikitpun yang baru saja dia dengar dari pembicaraan dokter dan mama mertuanya.


"Katakan padaku, pak dokter! Apa yang sebenarnya terjadi dengan Putri. Kenapa kamu bilang ini adalah hal termudah dari prediksi yang kamu berikan untuk istriku? Apa yang sebenarnya dia alami, dokter?"


Plak! Sebuah tamparan langsung saja mendarat di pipi Abian. Itu dari Tias, mama mertuanya yang merasa sangat kesal dengan si menantu yang dia anggap tidak becus dalam mengurus isteri.


Sementara yang melihat Abian di tampar, langsung kaget. Teruntuk mama Abian yang tidak tahu kenapa anaknya harus mendapat tamparan keras seperti barusan.


"Tias! Kenapa kamu tampar anakku? Apa salah dia, ha?"


"Mbak bertanya apa salah anak mbak padaku? Mbak salah besar, tahu gak? Karena seharusnya, bukan pada aku mbak bertanya, tapi pada anak mbak sendiri."


"Ma, jangan bersikap kasar seperti barusan. Tidak enak. Ini rumah sakit," ucap papa Putri langsung membawa istrinya menyingkir sedikit jauh.


Tidak ingin menghiraukan apa yang baru saja terjadi, Abian langsung menatap Aditya lagi. Dengan tatapan meminta penjelasan juga jawaban dari pertanyaan yang dia lontarkan tadi.


"Abian! Katakan pada mama! Apa yang sedang terjadi, ha?"


"Dokter Aditya, tolong jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi. Karena di sini, aku juga merasa tidak mengerti dengan semua yang baru saja aku alami. Aku harap, kamu bisa menjelaskan semuanya."

__ADS_1


"Kau suami yang tidak tahu diri, Abian! Tidak ada gunanya kau di sebut suami. Tidak pantas!" Lagi, mama Putri kembali berucap dengan nada kasar pada menantunya.


Lagi-lagi, karena merasa kasihan akan keadaan Abian, Aditya harus mengambil keputusan sebagai penengah. Dia tarik napas dalam-dalam, lalu melepasnya secara perlahan.


"Jika kau ingin tahu, Abian. Maka ikutlah denganku. Kita bicara berdua saja. Lagipula, Putri juga akan di pindahkan ke ruang rawat sekarang. Beserta anak kalian yang harus di pindahkan ke ruangan khusus selama beberapa hari."


Berlinangan air mata Abian, juga kedua orang tua yang ada di sana saat mendengarkan kata anak yang Aditya ucapkan. Karena sebelumnya, mereka melupakan soal anak karena terlalu mencemaskan keadaan Putri.


"An--anak? Aku ... punya anak?" tanya Abian dengan air mata yang sudah hampir tumpah karena tidak bisa dia bendung lagi.


"Iya. Kamu punya anak sekarang. Operasi yang kami jalani lancar tanpa ada kendala sedikitpun. Anak perempuan yang mungil, berhasil kamu selamatnya dengan baik. Yah, walaupun Putri harus koma selama hitungan bulan."


"Aku punya cucu ... perempuan Adit?"


"Iya, tante. Putri melahirkan anak perempuan yang cantik. Rahasia USG yang dia sembunyikan selama ini karena ingin bikin kejutan, kini telah terjawab. Semoga dia segera bangun."


Suasana tegang yang baru saja tercipta, seketika mencair lah sudah akibat kabar anak yang Putri lahir kan. Air mata bahagia tidak bisa mereka sembunyikan lagi. Mereka juga saling berpelukan satu sama lain.


Sementara Aditya, hanya bisa menarik napas pelan. Dia juga ikut bahagia sebenarnya. Namun, apa yang bisa dia lakukan. Hanya ikut bahagia di tengah-tengah kebahagiaan orang lain saja.

__ADS_1


'Aku juga pasti akan sangat bahagia jika aku yang menjadi bagian dari mereka. Tapi sayangnya, aku hanya dokter yang sukses membantu persalinan saja. Aku bukan siapa-siapa,' ucap Aditya dalam hati sambil tersenyum.


Perlahan, dia berjalan menjauh melewati keluarga Putri yang sedang bahagia. Tanpa pamit tentunya. Karena dia tidak ingin merusak momen bahagia itu dengan ucapan pamit yang dia berikan.


Namun, kepergian Aditya itu menyadarkan Abian akan ajak Aditya yang ingin bicara berdua saja dengannya. Oleh karena itu, Abian langsung mengejar Aditya dengan cepat.


"Dokter Aditya! Tunggu!"


Seketika, langkah Aditya tiba-tiba terhenti. Dia menoleh ke belakang untuk melihat Abian yang berjalan semakin mendekat.


"Ya. Ada apa?"


"Kau berhutang penjelasan padaku. Kenapa main kabur saja barusan?"


"Aku tidak kabur. Hanya saja, tidak ingin menjadi nyamuk pengganggu buat kalian. Karena kalian terlihat sangat bahagia. Maka aku pamit secara diam-diam saja."


"Aku terima alasan kamu. Tapi sekarang, aku tagih janji kamu untuk sebuah penjelasan yang sangat aku butuhkan."


"Baiklah. Ikut aku ke taman. Aku akan jelaskan semuanya."

__ADS_1


__ADS_2