
Entah memang sudah takdir, atau ini hanya sebuah trik yang penjahat itu mainkan, Aditya lolos dari tembakan tersebut. Penjahat itu langsung tersenyum, dia ingin menepati janji yang dia buat. Membiarkan Aditya lepas dari mereka untuk menyelamatkan Putri.
"Kau sudah berhasil lolos dari permainan yang aku buat. Maka, silahkan pergi."
Tanpa berucap, Aditya langsung ingin bergerak meninggalkan kamar tersebut. Namun, permainan yang penjahat itu mainkan tidak segampang yang Aditya bayangkan. Saat dia ingin beranjak, lepasan peluru yang kedua penjahat itu berikan.
Sontak saja, Icha yang melihat hal itu tidak akan membiarkan Aditya mati sia-sia dalam misi ingin melakukan penyelamatan. Dia langsung menghadang tembakan itu dengan cepat.
"Aggh!"
Bunyi rintihan keras di barengi bunyi satu tembakan lagi. Aditya yang berjalan membelakangi semuanya langsung terhenti seketika.
"Abang!" Kedua anak buah penjahat tersebut berteriak secara bersamaan. Berbarengan dengan Aditya yang langsung menoleh ke belakang untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Di sana ... saat Aditya menoleh, dia merasa kaget bukan kepalang. Dia melihat suster Icha yang sudah terbaring dengan darah yang merembes dari bekas peluru yang menancap di bagian perutnya.
Sementara kedua anak buah penjahat itu sedang menggoyang-goyangkan tubuh laki-laki yang sedang sama-sama terbaring seperti Icha. Bedanya, laki-laki itu berdarah tepat di bagian kepalanya.
Dan ... belum sempat Aditya mencerna apa yang sedang terjadi di hadapannya saat ini. Beberapa polisi dengan senjata lengkap langsung masuk ke dalam kamar tersebut.
__ADS_1
"Jangan bergerak! Angkat tangan kalian semua!" Perintah salah satu polisi yang masuk ke dalam.
Aditya seperti sedang di serang virus lupa diri akibat apa yang sedang terjadi. Namun, itu tidak lama. Karena bunyi ponsel membuyarkan semuanya.
Dengan tangan bergetar, Aditya merogoh saku celana untuk menemukan keberadaan ponsel yang sedang berdering. Tertera nama Abian di sana. Aditya langsung menggeser layar untuk menjawab.
"Halo Ditya. Kamu di mana? Apa semua baik-baik saja?" tanya Abian setelah panggilan tersambung.
"Semua ... tidak. Semua tidak baik-baik saja. Semuanya sangat kacau sekarang. Kacau balau. Kalian di mana sekarang? Mana Putri? Apa dia baik-baik saja?" tanya Aditya dengan suara sangat cemas.
"Kami di rumah sakit Pelita. Semuanya baik-baik saja. Putri juga baik-baik saja sekarang. Apa yang terjadi di sana? Kenapa kamu bilang kacau? Bukankah kita hanya ingin menjebak mereka? Apanya yang jadi kacau?"
"Aku yang mengacaukan semuanya. Icha tertembak. Aku tidak tahu bagaimana keadaan dia sekarang. Dia baru saja di larikan ke ruang operasi untuk di tangani."
"Tidak perlu datang. Kalian tetap saja diam di sana. Aku akan ke sana jika keadaan sudah membaik. Atau, jika masalah sudah selesai. Jaga Putri baik-baik. Itu yang harus kamu lakukan."
Panggilan langsung terputus oleh Aditya. Abian terdiam beberapa saat lamanya. Lalu, dia kembali masuk ke kamar di mana Putri dan semua keluarga yang lainnya sedang berada.
"Ada apa, Mas? Kok kayanya, wajah kamu seperti dapat kabar buruk. Kek orang kaget gitu, Mas." Putri berucap sambil membenarkan posisinya.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa, Sayang. Semua .... "
"Mas. Kamu gak bisa bohong sama aku. Wajah kamu gak bilang begitu lho mas."
"Benar, Bi. Wajah kamu gak bisa bohong lho, Nak," ucap mama Putri membenarkan apa yanga anaknya katakan.
Abian melepas napas kasar. Namun, terdengar sangat pelan.
"Semua rencana yang Aditya miliki kacau. Suster Icha tertembak."
"Apa! Ya Allah. Suster Icha tertembak? Kok bisa, Mas?" Putri terdengar sangat kaget sekarang.
"Gak tahu pasti bagaimana kejadiannya, Put. Aditya hanya bilang itu saat aku menelponnya barusan. Selain itu, tidak ada penjelasan sedikitpun yang Aditya berikan padaku."
"Lalu, bagaimana keadaan Aditya sendiri, Mas? Apa dia baik-baik saja?"
"Kendalikan emosimu, Put. Keadaan kamu masih belum stabil." Mamanya berusaha menenangkan.
"Aditya baik-baik aja kok, Sayang. Kamu gak perlu cemas dengan keadaan dia ya. Dia bilang, dia akan ke sini jika masalah yang terjadi di sana selesai. Kamu gak usah cemas."
__ADS_1
"Gimana bisa aku gak cemas, Mas? Semua masalah yang terjadi di sana itu karena aku. Akulah penyebabnya."
"Jangan terlalu menyalahkan diri kamu sendiri, Putri. Semua ini bukan salah kamu. Tapi takdir yang menginginkan." Papa Putri angkat bicara.