
Sejujurnya, Aditya kesal dengan kata-kata yang baru saja Abian ucapkan. Bagaimana bisa apa yang dia katakan itu Abian katakan bohong? Yang benar saja.
Tapi ... saat ingin marah dan ingin mengungkapkan rasa kesal itu. Aditya meredam kembali emosinya. Karena sorot mata penuh dengan kesedihan itu seketika menancap menusuk ke jantung hati Aditya.
"Aku tidak bohong. Dia pasti akan baik-baik saja. Tapi, kau harus tetap memberinya dukungan. Maaf, aku harus pergi."
Aditya langsung ingin meninggalkan Abian yang sedang tertunduk. Namun, tangannya langsung di tahan oleh Abian. Sontak saja, langkah Aditya langsung terhenti.
Aditya langsung menoleh ke belakang untuk melihat orang yang sedang menahan tangannya.
"Tolong jangan hambat langkahku. Karena aku harus segera menolongnya."
"Tolong jangan bohong lagi padaku, pak dokter. Karena aku sudah pernah mengalami hal ini sekali, maka aku sungguh tidak bisa jika harus kalian bohongi lagi."
"Yang harus kamu lakukan adalah, perbanyak berdoa. Karena doa itu senjata yang paling ampuh buat kita sebagai umat manusia. Terlepas dari itu semua, yang berkuasa bukan kita. Kita hanya bisa melakukan segala hal dengan sungguh-sungguh dan sebaik mungkin saja. Hasilnya, Allah jugalah yang menentukan. Kau paham apa yang aku katakan, bukan?"
Abian terdiam. Ingin rasanya dia membangkang dan membantah apa yang Aditya katakan. Tapi, hati kecilnya yang paling dalam malah membenarkan apa yang baru saja dia dengar.
"Ya sudah, aku pergi sekarang."
__ADS_1
"Bisakah aku ikut?"
"Kau bisa ikut. Cuma tidak bisa masuk."
"Kenapa?"
"Karena aku sebagai dokter, tidak mengizinkannya. Kau bisa tunggu di depan ruang operasi saja."
"Baiklah kalau begitu. Aku ikut apa yang kamu katakan."
Abian langsung beranjak mengikuti Aditya. Menyusul dengan langkah besar agar mampu mengimbangi langkah Aditya yang berjalan dengan sangat cepat.
Dua jam menanti, pintu kamar itu belum. juga terbuka. Dia yang cemas, semakin di buat cemas saja.
"Apa yang terjadi dengan istrimu, Nak?" tanya papa mertuanya dengan lembut.
"Ya Tuhan, ada apa dengan anakku Abian? Kenapa bisa terjadi seperti ini ha?" Mama mertua yang panik, tentu saja tidak akan berpikir dulu jika ingin bicara.
"Ma, jangan bertanya seperti itu. Mama akan membuat Abian semakin panik saja."
__ADS_1
"Aku juga panik sekarang, Pa. Jadi, bagaimana bisa aku bertanya dengan nada baik-baik, ha?"
"Tias, sabar. Anak kamu itu menantu kami. Kamu lihatlah Abian, dia sepertinya juga sedang sangat panik. Jadi, jangan buat suasana semakin tidak enak ya." Papa Abian pun angkat bicara.
Baru juga mama Putri ingin menjawab, tiba-tiba, pintu ruang operasi terbuka. Hal itu tentu saja mengalihkan perhatian mereka semua.
Dengan tatapan penasaran yang penuh dengan tanda tanya, mereka langsung menyerbu Aditya yang baru saja muncul dari balik pintu tersebut. Yang paling tak sabaran, ya tentulah Tias. Selaku mama, dia adalah orang yang paling ingin tahu bagaimana keadaan anaknya.
"Adit! Itu kamu, Nak? Bagaimana keadaan Putri, Dit? Apa dia baik-baik saja sekarang, Dit? Katakan pada tante kalau dia baik-baik saja, Adit!" Mama Putri bicara sambil memegang kedua lengan Aditya.
"Tante .... "
"Iya, katakan pada tante secepatnya. Apa yang sudah terjadi."
"Ma, sabar dulu dong. Jika mama potong terus ucapan Aditya, bagaimana dia mau menjelaskan apa yang terjadi dengan Putri."
"Aku sudah tidak bisa sabar lagi, Pa. Tidak bisa sabar."
"Tante ... tenang dulu ya. Dia baik-baik saja kok. Hanya saja ... sekarang, Putri sedang dalam keadaan koma. Tapi, dia koma gak akan lama kok. Aku sebagai dokter mempunya prediksi, kalau Putri koma hanya dalam hitungan bulan."
__ADS_1
"Apa! Kamu bilang dia koma gak akan lama. Tapi ... barusan kamu bilang dia akan koma dalam hitungan bulan? Itu kamu bilang tidak lama, Aditya?"
"Itu adalah kondisi terbaik dari apa yang sudah aku prediksi selama ini, Tante, semuanya. Dia selama, mampu melewati masa tersulit yang dia alami, dan sekarang, koma dalam hitungan bulan. Maka itu adalah hal termudah yang dia alami."