Putri Untuk Mas Duda

Putri Untuk Mas Duda
*Episode #11


__ADS_3

Saat Aditya tertawa, Putri langsung membalas perbuatan Aditya sebelumnya dengan menyuapi dia dengan sayuran kol yang tidak dia sukai. Keduanya terlihat cukup bahagia. Tanpa sadar, mereka sudah di perhatikan sejak tadi oleh seseorang yang duduk di kursi paling pojok rumah makan tersebut.


Orang itu menatap Putri dengan tatapan yang sangat kesal. Tapi, dia tetap diam walau sudah memperhatikan Putri sejak lama dari kejauhan.


Orang itu tak lain adalah Abian. Dia datang ke restoran ini untuk membahas kerja sama dengan temannya. Karena perusahaan temannya berada tak jauh dari restoran tersebut, dan pertemuan mereka bertepatan dengan jam makan siang. Maka mereka sepakat untuk bertemu di restoran. Sambil membahas kerjasama, sambil makan siang bersama.


Abian sungguh tak menyangka bisa melihat pemandangan yang entah kenapa membuat hatinya merasa sangat kesal. Bukan hanya kesal, dia juga merasa sangat sakit yang tiba-tiba tepat mengenai relung hati terdalamnya.


Sangking sakit, dia rasanya ingin sekali menarik Putri supaya menjauh dari laki-kaki yang sedang tertawa bersama istrinya itu. Tapi sayang, keberanian untuk melakukan hal itu sama sekali tidak ada. Karena Abian cukup merasa tahu diri sekarang. Putri bersikap seperti itu, karena dirinya. Jadi, itu semua bukan murni salah Putri sendiri.


Sadar kalau dia tidak bisa bertahan di sana lebih lama lagi, Abian langsung menghubungi temannya untuk meminta pergantian tempat. Sedikit merasa bingung, namun temannya tetap menyetujui apa yang Abian minta.


Dengan cepat, Abian meninggalkan restoran tersebut dengan cara keluar dari pintu samping. Itu dia lakukan agar Putri tidak melihatnya. Bagaimanapun, dia tidak ingin merusak kebahagiaan orang yang selama ini sudah terluka bersamanya. Setidaknya, tidak untuk di tempat umum seperti restoran ini.


Abian dan temannya makan di restoran yang berseberangan dengan restoran sebelumnya. Dia terlihat sangat tidak fokus dengan pembicaraan yang mereka lakukan. Saat makan juga, dia lebih banyak melamun dari pada makan. Sedikit-sedikit, diam. Sedikit-sedikit, diam.


Hal itu membuat temannya tahu, kalau sekarang, Abian sedang dalam masalah hati. Karena tidak ada masalah lain yang bisa merusak suasana Abian, selain masalah hati.


"Bi, kamu kenapa sih? Kok gak fokus banget sekarang? Ada masalah apa sih sebenarnya kamu ini?" tanya temannya memulai obrolan pribadi setelah obrolan pekerjaan mereka kacau berantakan karena ketidak fokusan yang Abian alami.


"Aku gak papa. Gak ada masalah apapun dengan aku. Kamu tenang saja."


"Bagaimana bisa kamu bilang tidak ada masalah dengan kamu sekarang, Bi? Kau itu manusia yang paling serius jika sedang bicara soal pekerjaan. Tapi barusan, kau malah mengacaukan semua pembahasan tentang kerja sama yang akan kita buat."


"Katakan padaku! Masalah hati seperti apa lagi yang sedang kamu hadapi sekarang?"


Abian menatap temannya selama beberapa. Lalu kemudian, dia mengalihkan pandangannya dari teman yang juga sedang menatap dirinya dengan serius.


"Masalah hati? Siapa yang sedang mengalami masalah hati?"


"Kamulah, Bi. Siapa lagi coba?"

__ADS_1


"Aku? Hah? Nggak deh. Mana ada aku mengalami masalah hati." Abian berusaha menyembunyikan kebenaran yang terjadi.


"Abi-Abi. Aku kenal kamu sudah lama. Kita berteman bukan hitungan bulan lho ya. Sudah hitungan tahun. Dan selama itu, aku sudah sangat mengenalmu dengan cukup baik. Masalah pekerjaan, masalah keluarga, mana mungkin bisa merusak suasana kamu. Tapi, saat masalah hati atau lebih tepatnya, masalah perempuan. Pasti langsung membuat kamu berantakan."


"Jangan sok tahu kamu, Dion. Aku nggak .... " Tiba-tiba saja, Abian menggantungkan kalimatnya. Dengan mata yang terus menatap ke arah luar restoran, dia tak mampu melanjutkan kata-katanya lagi.


Diamnya Abian dengan tatapan yang seperti sedang memperhatikan sesuatu membuat Dion langsung melihat ke arah yang Abian lihat. Sontak saja, dia langsung membulatkan matanya ketika melihat seseorang yang dia kenal.


"Bian ... dia .... "


"Apa kau baik-baik saja, Abian?"


"Ah, iya. Aku baik-baik saja. Kenapa kamu menanyakan hal itu padaku? Kau tahu bukan, kalau dia hanya istriku yang .... "


"Aku tahu kamu. Karena dialah kau berubah hari ini. Iyakan?"


"Apa maksud kamu?"


"Jangan banyak bicara, Dion. Kau tidak tahu apa yang aku inginkan. Aku pergi dulu. Nanti kita bahas lagi soal kerja sama kita."


Selesai berucap, Abian langsung bangun dari duduknya. Meninggalkan tempat tersebut tanpa menunggu temannya menjawab apa yang dia katakan lagi. Abian langsung memilih pulang ke rumah.


Sementara itu, Putri yang sedang bersama Aditya, langsung menuju pusat perbelanjaan setelah selesai makan. Tapi, karena Aditya mendapat panggilan mendadak dari pihak rumah sakit, mereka harus membatalkan jalan-jalan yang seharusnya mereka lakukan.


Aditya pun tidak bisa mengantarkan Putri pulang. Putri terpaksa pulang dengan taksi online yang dia pesan sendiri.


Lewat dari tiga puluh menit melakukan perjalanan. Akhirnya, Putri pun sampai ke rumah. Tanpa ada rasa bersalah, dia berjalan masuk dengan santai.


Namun, saat dia membuka pintu, dia dikagetkan dengan kehadiran Abian yang sedang duduk di sofa ruang tamu dengan menyilang kan kaki. Dengan tatapan tajam, Abian memperhatikan Putri yang baru saja masuk ke dalam rumah.


"Mas Abian .... "

__ADS_1


"Duduk! Aku ingin bicara."


"Mau bicara apa, Mas?"


"Duduk, aku bilang! Jangan banyak tanya." Abian bicara dengan nada tinggi. Hal itu membuat Putri merasa agak kaget.


Putri pun memilih mengikuti apa yang Abian katakan. Duduk di depan Abian dengan perasaan campur aduk.


"Dari mana kamu?" tanya Abian memulai kembali setelah melihat Putri duduk.


"Dari luar."


"Aku tahu kamu dari luar. Yang aku tanyakan itu, dari mana kamu barusan? Tujuan kamu keluar itu ngapain? Dengan siapa?"


"Aku keluar makan dengan teman. Gak ada tujuan. Cuma makan siang bareng aja."


"Di rumah gak bisa makan?"


"Mas ... ada apa sih sebenarnya? Kenapa kamu malah menanyakan hal-hal yang tidak penting seperti barusan? Kenapa? Apa kamu sudah mulai ingin mengetahui semua yang aku lakukan sekarang?"


"Kau istriku, Putri! Jangan lupa itu."


"Aku tidak lupa, Mas. Tidak akan pernah lupa. Aku istri kamu. Istri sah secara hukum dan agama. Tapi tidak secara batin. Iyakan?"


"Kau sungguh ingin aku menjadikan kamu sebagai istri sah secara batin? Kita mulai malam nanti."


Putri tertawa mendengarkan kata-kata yang Abian ucapkan barusan. Bibir tertawa, tapi hati menangis. Sebenarnya, tertawa itu bukan bentuk kebahagiaan. Melainkan, bentuk ejekan untuk dirinya sendiri.


"Kenapa kau malah tertawa, ha? Terlalu bahagia kamu karena aku ingin ajak kamu bermalam bersama?"


"Bukan bahagia, mas. Tapi aku merasa iba dengan ajakan itu. Aku istrimu. Tapi sayangnya, aku tidak layak di sebut sebagai istri."

__ADS_1


__ADS_2