Putri Untuk Mas Duda

Putri Untuk Mas Duda
*Episode #19


__ADS_3

Dua hari nginap di rumah orang tua Putri, mereka akhirnya memilih pulang ke rumah mereka kembali. Selama dua hari tersebut, hubungan keduanya sangat baik.


Mereka terlihat semakin dekat saja sekarang. Layaknya sepasang suami istri pada umumnya. Saling sayang, dan saling mencintai satu sama lain.


Abian yang kini telah berubah, semakin membuat rasa cinta yang Putri miliki bertambah besar. Mereka terus saja menghabiskan malam-malam bersama sampai dengan tiga bulan kemudian.


Tepat tiga bulan setelah kedekatan, atau lebih tepatnya disebut dengan perubahan Abian menjadi suami sesungguhnya buat Putri. Akhirnya, Putri mulai merasakan hal-hal yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.


Tubuhnya mulai terasa sering lelah juga selalu kehilangan semangat. Kepalanya terasa sering pusing, atau ... dia juga sering merasa tidak enak badan. Bahkan, dia pernah mual beberapa kali karena mencium aroma sesuatu yang baginya tidak enak untuk dicium.


"Non Putri, apa jangan-jangan, non sedang hamil sekarang ya? Soalnya ... dulu, maaf. Saat nyonya Tiara hamil juga mengalami hal yang sama. Sekali lagi maaf ya, non. Bibi tidak bermaksud buat mengungkit soal nyonya Tiara. Hanya saja, bibi berusaha belajar dari pengalaman. Kalau ciri-ciri yang non Putri alami sekarang itu, sama persis dengan yang nyonya Tiara alami. Sebaiknya, periksa deh non ke dokter. Biar pasti," ucap bi Titin bicara panjang lebar pada Putri yang sedang duduk bersandar di kursi meja makan.


"Apa benar yang bibi katakan ini, bi? Apa aku benar-benar hamil?" tanya Putri penuh semangat. Sangking semangatnya, dia yang awalnya sedang bersandar di kursi, sontak langsung bangun dengan posisi duduk yang tegak.


"Mungkin saja iya, non. Tapi, jangan terlalu dianggap benar juga dulu. Bibi juga tidak terlalu paham. Soalnya, bibi juga belum pernah mengalami. Hanya pernah melihat saja. Maka dari itu, bibi sarankan, non periksa ke dokter langsung saja untuk memastikan."


"Bibi benar juga. Ayo, bik! Temani aku ke dokter sekarang. Tapi, jangan kasi tahu mas Abi dulu. Kita kasi tahu setelah benar-benar positif. Aku akan kasi mas Abi kejutan jika benar aku hamil."


"Iya, non. Ayuk! Bibi janji gak akan kasi tau tuan Abian. Tenang saja. Rahasia akan aman di tangan bibi, oke."

__ADS_1


Putri tersenyum. Setelah bersiap-siap, mereka langsung meninggalkan rumah menuju rumah sakit terdekat. Dengan penuh semangat juga penuh harap, Putri melakukan pemeriksaan. Dan hasilnya ... sungguh tidak mengecewakan. Hasilnya sangat membahagiakan hati Putri maupun bi Titin.


"Selamat, nyonya Putri. Anda memang sedang hamil sekarang. Kehamilan anda terbilang masih muda. Baru menginjak usia enam minggu. Tolong jaga baik-baik agar janin yang anda kandung tetap sehat."


Air mata bahagia langsung turun karena kata-kata yang dokter ucapkan barusan. Tak sabar ingin memberikan kejutan pada Abian, mereka pun segera pulang setelah mengucapkan terima kasih beberapa kali pada dokter tersebut.


"Bi, aku gak sabar mau lihat reaksi bahagia mas Abi saat tahu kalau aku sedang hamil. Bagaimana ya reaksinya. Apa ... ah, tidak bisa aku bayangkan. Tapi, aku yakin kalau dia pasti akan bahagia."


Bi Titin hanya tersenyum saja menanggapi apa yang majikannya katakan. Dalam hati, dia juga merasakan kebahagiaan yang majikannya itu rasakan. Hanya saja, dia sedikit merasa was-was akan reaksi Abian nanti. Takutnya, reaksi yang Abian berikan tidak sama dengan yang Putri harapkan.


Namun, terlepas dari kekhawatiran itu, bi Titin tetap memberikan semangat buat Putri. Meminta Putri untuk sedikit tenang agar tidak terlalu meleburkan semua kebahagiaan yang sedang dia rasakan dalam harapan besar yang dia miliki.


Lalu kemudian, dia melanjutkan persiapan selanjutnya. Menulis kertas ucapan buat Abian dengan kata-kata yang indah dengan penuh semangat.


Setelah menanti selama kurang dari tiga puluh menit. Akhirnya, orang yang dia tunggu pun tiba juga.


Putri yang sangat bahagia, langsung menyambut kedatangan Abian di depan pintu. Dengan membaca kotak kejutan di tangan tentunya.


"Mas Abian. Udah pulang?" tanya Putri tersenyum lebar dengan pertanyaan hanya sebagai basa-basi saja.

__ADS_1


"Udah, sayang. Tumben nyambut dengan wajah riang begini. Ada apa nih kira-kira? Punya kejutan untuk aku, atau punya permintaan yang ingin aku turuti?"


Abian berucap sambil mencolek hidung Putri dengan gemes. Dia sudah cukup hapal dengan sikap kecilnya ini. Biasanya, sambutan yang dia berikan tidak terlalu berlebihan seperti hari ini. Hanya sebatas sambutan biasa saja.


"Mm ... coba tebak, Mas. Aku punya kejutan, atau punya permintaan?"


"Sayang ... aku gak ingin main tebak-tebak kan sekarang. Capek soalnya," ucap Abian sambil memasang wajah kusut.


"Yah ... mm ... ya udah deh. Aku kasih tahu, kalau aku nggak punya permintaan. Tapi ... aku punya kejutan buat kamu. Tara .... " Putri langsung mengeluarkan kotak segi empat yang sedari tadi dia sembunyikan di belakangnya.


Melihat kotak tersebut, Abian langsung menaikkan satu alisnya. Dia tatap kotak itu dengan Putri secara bergantian. Sementara Putri, dia masih tersenyum sambil terus melihat suaminya yang sedang menyimpan rasa penasaran.


"Apa ini, Put?"


"Buka saja dulu, Mas. Maka kamu akan tahu apa isinya."


"Bukan bom, kan?"


"Mas Abi! Ih ... apa-apaan sih? Masih saja bercanda. Merusak momen aja."

__ADS_1


__ADS_2