Putri Untuk Mas Duda

Putri Untuk Mas Duda
*Episode #18


__ADS_3

Lebih dari dua puluh lima menit, akhirnya Putri keluar juga dari kamar mandi tersebut. Sontak saja, dia kaget bukan kepalang ketika dia melihat Abian yang masih berada di depan kamar mandi dengan handuk yang masih terlilit di pinggang.


"Mas. Kamu kok masih belum pakai baju sih? Ngapain aja kamu, ha?"


"Aku tungguin kamu. Takutnya, kamu butuh aku saat berada di kamar mandi. Makanya, aku belum pakai baju sekarang."


"Ya Allah, Mas Abi. Kamu kok jadi keterlaluan gini sih? Aku .... "


Dengan cepat Abian menempelkan jari telunjuknya ke bibir Putri.


"Sssttt .... Udah ya. Jangan banyak bicara lagi. Sekarang, yuk aku bantu kamu bergerak!"


"Tapi Mas .... "


"Udah, jangan banyak bicara. Nurut aja ya."


Tanpa bisa membantah. Putri hanya bisa menurut apa yang Abian katakan. Sementara Abian, dia langsung menggendong Putri untuk dia bawa ke kasur agar bisa duduk manis. Karena semua yang Putri butuhkan, sudah dia siapkan semuanya tadi.


"Oh ya, Mas. Baju kamu .... "


"Udah di antar sama bi Titin tadi pagi. Aku tinggal pakai aja sebenarnya. Cuma belum sempat pakai aja tadi."


"Oh. Bi Titin datang ke sini ya?"


"Hm .... "


"Oh ya, aku juga minta bi Titin belikan obat nyeri buat kamu tadi pagi. Semoga membantu. Dan, maaf ... aku yang tidak bisa mengendalikan hawa napsu dengan baik. Sampai-sampai, bikin kamu tersiksa akibat aku."


Putri terdiam menahan malu. Sejujurnya, obrolan itu sangat tabu buat dia. Sangat-sangat merusak momen karena buat Putri, itu adalah aib yang tidak perlu dibicarakan.


Tahu apa yang Putri pikirkan, karena Abian bisa melihat raut malu juga pipi yang merona merah. Abian hanya tersenyum kecil.


"Tidak perlu merasa malu seperti itu. Karena kita ini adalah suami istri. Obrolan seperti itu sudah biasa buat pasangan suami istri, Put."


"Aku butuh waktu buat terbiasa dengan semua itu, Mas. Maaf .... "

__ADS_1


"Aku mengerti. Jangan sungkan seperti itu. Bukankah kita berjanji untuk saling belajar dalam membangun kehidupan rumah tangga kita? Untuk itu, mari saling melengkapi satu sama lain ya," ucap Abian sambil menyentuh tangan Putri yang sedang duduk di atas ranjang dengan sentuhan lembut.


Putri tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya menjawab dengan anggukan saja. Anggukan pelan yang disertai dengan wajah merona penuh rasa malu sekaligus bahagia.


"Ya udah. Sekarang pakai baju kamu, lalu sarapan. Setelah sarapan, baru minum obatnya. Jika gak bisa turun, biar aku yang turun, buat ambil sarapan untuk kamu."


"Eh, nggak-nggak. Aku turun sendiri saja."


"Emang bisa?"


"Ya ... bisalah. Jangan meremehkan aku."


"Bukan meremehkan kamu, sayang. Hanya belajar peduli saja."


"Jangan terlalu manis, Mas. Aku bisa lupa diri nanti."


"Aku sedang belajar, sayang. Jangan sampai lupa diri dong. Nanti, sia-sia aku belajar kalau kamu gak ingat sama kamu."


"Mas Abi ... kamu kok jadi nakal gini sih."


Abian berucap dengan nada yang terdengar cukup sedih. Putri yang mengerti langsung melihat wajah Abian yang kini terlihat cukup murung.


"Mas .... "


"Aku gak papa, Put. Ayo siap-siap buat sarapan. Kita harus turun sekarang. Karena ini sudah mau memasuki jam makan siang."


"Ya ampun. Iya deh. Kamu juga siap-siap gih! Pakai tuh baju. Jangan turun dengan handuk pula hanya gara-gara mau jagain aku."


"Hei ... itu gak akan pernah terjadi ya, nona. Karena tubuh ini juga harta karun berharga. Gak sembarang orang bisa lihat. Tahu gak? Privasi! Rahasia negara!"


"Ih ... bisa aja. Udah, buruan tuh siap-siap."


"Iya. Kamu juga. Kalo gak bisa jalan, aku bantu ambilkan."


"Bisa, kok. Bisa."

__ADS_1


"Hm .... "


Ketika turun dari ranjang. Putri baru menyadari kalau kasur yang dia punya, seprei nya sudah tidak ada lagi. Matanya melebar buat mencari keberadaan seprei kesayangan miliknya.


"Mas, di mana seprei kasurku? Apa kamu melihatnya? Tadi pagi masih ada deh, Mas."


"Tentu saja ada, sayang. Seprei nya aku kasi sama bibi buat dia bersihkan. Itu ... soalnya ... kotor."


"Mas ...! Aku bisa bersihkan sendiri. Aduh ... kamu kok tega banget. Gak nanya aku dulu. Mas Abian!" Putri berteriak dengan nada tinggi karena hatinya cukup kesal. Dia juga sangat malu sekarang.


"Bagaimana aku bisa turun ini? Ya ampun .... "


Abian yang melihat hal itu, bukannya merasa bersalah. Eh, dia malah tersenyum bahagia dengan apa yang baru saja Putri lakukan.


"Kenapa kamu malah senyum sih, Mas? Aku sedang bingung, kesal, juga sangat marah padamu sekarang. Kau tahu itu?"


"Aku tahu. Dan aku sangat bahagia melihat wajah panik mu yang terlihat sangat imut."


"Mas Abian ...! Bikin kesal mulu kamu yah."


"Maaf-maaf. Gak niat kok. Udah, jangan ngambek lagi. Apa salahnya coba kalo aku minta bibi bersihkan seprei itu. Orang seprei nya gak ada bekas apa-apa lagi."


Sontak saja, Putri langsung menoleh ke arah Abian. Dengan tatapan penuh dengan penasaran, juga tanda tanya, dia tatap suaminya itu.


"Maksud kamu apa, Mas? Gak apa apa-apa? Ya ampun ... jelas-jelas itu .... "


"Gak perlu mikir yang nggak-nggak. Aku udah samarkan bekas itu dengan yang lain. Udah, gak perlu malu gak usah banyak nanya. Kamu tenang aja. Aku gak akan bikin kamu malu kok, Put."


"Kamu yakin, Mas? Apa ucapan kamu barusan bisa aku percaya?"


"Terserah kamu aja Put sebenarnya. Mau percaya atau tidak, yang pasti, aku udah bilang yang sesungguhnya barusan."


"Ya sudah kalo gitu, aku pilih percaya sama kamu. Awas aja, kalo kamu bohongin aku. Aku akan bikin pembalasan."


"Aku tunggu, sayang."

__ADS_1


"Mas Abi!"


__ADS_2