Putri Untuk Mas Duda

Putri Untuk Mas Duda
*Episode #28


__ADS_3

Abian mengikuti apa yang Aditya katakan. Mereka berjalan menuju taman dengan pikiran masing-masing.


Sampai di taman, Aditya langsung memilih duduk di kursi pojokan. Tempat favorit dia ketika jam istirahat.


"Duduk di sini saja," ucap Adit ketika mereka sudah sampai.


"Aku sejujurnya bingung sama kamu. Kenapa kita melewati kursi kosong hanya untuk kursi yang ada di pojokan ini? Apa obrolan kita ini benar-benar bersifat tertutup? Atau .... "


"Tidak. Tidak ada hubungannya dengan obrolan yang akan kita lakukan sebentar lagi. Aku memilih kursi yang ada di pojokan ini karena aku suka saja. Soalnya, di sini lebih tenang dari pada kursi-kursi yang sudah kita lewati."


"Oh. Kalau gitu, bisakah kamu mulai pembicaraan kita soal Putri langsung sekarang? Soalnya, aku ingin lihat putri kecilku, pak dokter."


"Oh, baiklah. Mm ... tapi sebelum itu, bisakah kau panggil aku dengan panggilan Adit, atau Ditya saja? Soalnya, aku lebih suka dengan panggilan itu. Karena .... "


Ditya tiba-tiba menggantungkan kalimatnya. Hal itu membuat Abian yang mendengar mendadak merasa penasaran.

__ADS_1


"Karena apa, pak dokter? Maksudku ... Ditya."


"Karena ... karena Putri juga memanggil aku dengan panggilan seperti itu."


"Oh."


"Mm ... apa Putri dan kamu sudah kenal dekat? Kalian terlihat cukup dekat sebelumnya, bukan?"


"Ya, aku dan Putri sangat dekat. Dia adalah sahabat masa kecil yang paling dekat. Bukan, dia adalah sahabat masa kecil satu-satunya yang aku miliki. Maka dari itu, hanya dia yang aku punya sejak kecil hingga saat ini. Dialah satu-satunya sahabatku."


"Kau sahabat masa kecil istriku, Aditya? Tapi ... aku tidak pernah melihat kamu di acara pernikahan kami waktu itu. Aku tentu tidak salah ingat bukan? Ke mana kau saat kami menikah?"


"Kau tidak salah ingat. Karena aku memang tidak datang. Aku ada urusan mendadak waktu itu. Aku harus berangkat keluar negeri tepat sehari sebelum pernikahan kalian. Jadi, maka dari itu aku tidak hadir di sana."


Tidak ingin terhanyut dalam masalah pribadi, Aditya memilih langsung membicarakan soal apa yang sebenarnya terjadi dengan Putri. Hal yang membuat Abian mengajak dirinya bicara sebelumnya. Tapi, malah terlupakan karena mementingkan masalah pribadi.

__ADS_1


"Oh ya, kau ingin tahu soal Putri bukan? Kenapa dia bisa sampai seperti itu. Aku sejujurnya kesal padamu. Kau suami yang tidak bertanggung jawab dengan Putri. Soal apa yang dia alami selama masa kehamilan saja kamu tidak tahu. Ingin sekali aku pukul wajahmu biar kamu sadar, kalau kau suami yang tidak baik buat Putri."


Abian tidak marah. Dia hanya bisa diam tertunduk mendapat kata-kata yang penuh dengan tekanan seperti barusan. Karena sejujurnya, dia juga marah pada dirinya sendiri. Mengutuk dirinya atas kelalaian yang sudah dia perbuat pada istri yang sangat dia sayangi.


"Kenapa kau diam saja, Abian? Apa kau tidak punya emosi sekarang? Kenapa kau ini? Tidak marah dengan apa yang aku katakan, ha?"


"Aku bisa apa, Ditya. Aku harus marah bagaimana? Kau tahu, sejujurnya aku sekarang dipenuhi dengan penyesalan yang sangat besar atas semua kesalahan yang sudah aku perbuat pada istriku. Aku sayang padanya, aku cinta dia. Tapi ... aku hidup dalam trauma yang dahsyat. Hal itu membuat aku jadi hilang akan selama ini."


Suasana mendadak hening seketika. Baik Abian maupun Aditya, mereka sama-sama tidak berucap. Mereka memilih diam dengan pikiran masing-masing.


Beberapa saat kemudian, Abian memulai lagi obrolan mereka yang sempat terhenti.


"Jika kau ingin marah padaku, ya silahkan. Karena sebenarnya, aku juga sedang marah pada diriku sendiri, Ditya."


Aditya menarik napas dalam-dalam. Lalu, menghembuskan napas tersebut secara kasar.

__ADS_1


"Hah .... Sudahlah. Tidak ada gunanya marah. Karena Putri pasti tidak menginginkan hal itu."


"Kau tahu? Selama ini, Putri sudah banyak melewati masa sulit. Terutama saat dia sedang hamil."


__ADS_2