
Putri yang baru saja terkena virus cinta itu segera mengumpulkan kesadaran yang dia miliki. Setelah kesadaran itu berhasil dia kumpulkan, dia langsung mendorong Abian menjauh dari dirinya.
"Jangan main-main kamu, Mas. Aku tidak suka dengan hal itu. Jangan melakukan semua itu atas dasar terpaksa. Karena aku tidak akan pernah menerimanya."
Abian yang sedang terbaring di atas kasur pun langsung tersenyum mendengar apa yang Putri katakan. Baginya, perkataan Putri itu adalah hal yang wajar. Dan apa yang Putri katakan barusan itu adalah bentuk kewarasan yang seorang perempuan miliki. Hal itu menambah rasa ingin memiliki Putri yang ada dalam hatinya sekarang.
Abian pun langsung bangun dari baringnya. "Aku tidak sedang main-main, Putri. Aku juga tidak sedang terpaksa. Tapi, aku sedang belajar untuk mencintai kamu. Belajar ingin membina rumah tangga bersama kamu. Tolong, berikan aku kesempatan untuk belajar hidup bersama kamu. Karena sekarang, aku sudah melakukan apa yang kamu minta padaku waktu itu."
"Menyimpan kamu dalam hatiku di bagian yang lain. Sudah aku lakukan sekarang. Tolong, jangan katakan kalau aku terlambat untuk melakukan semua itu, Put. Aku mohon."
Putri kaget. Sangat kaget sebenarnya. Tapi, kaget itu juga berasa sangat bahagia. Antara percaya, bersyukur, tapi juga was-was. Semuanya sedang berada dalam hati Putri. Membuat Putri berada dalam dilema yang akut.
"Kamu tidak perlu langsung percaya dengan apa yang aku katakan sekarang. Tapi, tolong berikan aku kesempatan untuk membuktikan apa yang aku katakan. Aku akan buktikan semuanya sekuat tenaga, sebisa aku."
"Kamu ... yakin mas? Kamu tidak sedang mempermainkan aku, kan?" tanya Putri setelah terdiam beberapa lama.
Abian langsung menyentuh dan menggenggam lembut tangan perempuan yang ada dihadapannya sekarang. Dia tatap mata Putri dengan tatapan lembut penuh cinta.
"Aku yakin, Putri. Sangat-sangat yakin. Dan aku juga tidak sedang mempermainkan kamu. Kau tahu, aku pernah jatuh cinta. Hidup bahagia, walaupun itu tidak berlangsung lama. Tapi setidaknya, aku tahu bagaimana menjaga juga membangun perasaan. Karena perasaan adalah hal yang sangat halus juga sangat lembut. Jadi, dia bukan permainan. Hadirnya tidak untuk dipermainkan, Putri."
Putri tertunduk. Dia tidak bisa menjawab apa yang Abian katakan barusan. Yang bisa dia lakukan adalah, mencerna semua perkataan Abian dengan baik juga hati-hati.
Abian mengangkat dagu istrinya dengan lembut. Meminta istrinya membalas tatapan yang dia berikan.
__ADS_1
"Katakan padaku, apa aku punya kesempatan untuk belajar membangun rumah tangga bersama kamu, istriku?"
"Mas ... apa yang membuat kamu berubah? Apa karena pertengkaran kita tadi siang?"
"Aku berubah, karena aku sadar, Put. Kau istri. Kau berharga buat aku. Apa yang kamu katakan itu sangat benar. Aku yang membuat kita tidak sepadan. Dan sekarang, aku sedang berusaha membuat kita sepadan, Putri. Semoga kamu bisa menerimanya."
Abian berucap dengan penuh harap. Lalu kemudian, dia berlutut dengan satu kaki di depan Putri. Dengan satu tangan memegang tangan Putri, Abian menatap penuh harap juga rasa mengiba.
"Istriku ... apa aku punya kesempatan emas itu? Apa kita bisa memulai ulang kehidupan rumah tangga kita lagi? Aku tidak akan memaksa. Tapi, aku sangat berharap, kalau aku punya. Aku masih dapat kesempatan berharga sebagai suami kamu sekarang, juga selanjutnya."
"Katakan sejujurnya, Put. Aku sangat butuh kepastian sekarang."
"Mas ... aku .... "
Mendengar ucapan itu, Abian langsung bangun dan memeluk erat tubuh Putri. Dia peluk tubuh itu dengan penuh kebahagiaan.
"Terima kasih banyak, Putri. Mas tidak akan mengecewakan kamu, sayang. Maaf, untuk kesalahan yang selama ini mas buat padamu."
"Mas, aku tidak akan menyalahkan kamu. Karena kamu juga butuh waktu untuk terima aku. Aku sadar, apa yang kamu lalui itu sebenarnya tidaklah mudah."
"Sekali lagi, terima kasih banyak, sayang. Mulai sekarang, kita lupakan masa lalu. Kita mulai menata masa depan."
"Baiklah."
__ADS_1
Obrolan itu terhenti saat pintu diketuk dari luar oleh seseorang. Keduanya langsung melihat ke arah pintu secara bersamaan.
"Siapa?" tanya Putri dengan nada tinggi.
"Bibi, non Putri."
"Iya, bik. Ada apa?"
"Bibi hanya ingin bilang, tuan sudah pulang."
"Benarkah? Aku akan langsung keluar sebentar lagi, Bi. Terima kasih ya."
"Iya, non. Sama-sama."
"Kamu senang banget kayaknya, Put? Maafkan aku yang tidak pengertian selama ini. Tidak mengantarkan kamu pulang untuk bertemu dengan orang tuamu."
"Gak papa, Mas. Itu bukan salah kamu kok. Oh ya, ayo tutun buat ketemu papa. Aku kangen banget sama papa."
"Yuk!"
Keduanya langsung keluar untuk bertemu papa Putri. Terlihat suasana bahagia kembali terukir dari Putri yang sedang melepas rindu dengan papanya. Abian hanya jadi penonton sesaat sebelum akhirnya, dia juga ditarik untuk melepas kerinduan bersama.
Malam harinya, mereka makan malam dengan penuh kebahagiaan. Setelah makan malam, mereka ngobrol sebentar di ruang keluarga. Lalu selanjutnya, papa dan mama Putri yang sangat pengertian itu langsung memutuskan untuk masuk ke kamar dengan alasan lelah dan ingin istirahat segera.
__ADS_1
Karena kedua orang tua yang memutuskan masuk ke kamar. Putri dan Abian juga terpaksa melakukan hal yang sama. Masuk ke kamar untuk beristirahat juga.