
"Apa-apaan sih kamu, Ditya. Kita sudah berjanji jadi teman baik sejak kecil sampai seumur hidup bukan? Mana bisa kamu jadi anak pak Agung Hutama Sudirya. Jika pun iya, aku juga gak akan mau menikah dengan kamu."
"Lho kenapa?"
"Karena kamu teman aku. Mana bisa teman jadi pasangan. Gak enak!" Putri berucap sambil memukul bahu Adit dengan tangan.
"Heh ... kamu ya."
Obrolan mereka terhenti karena kedatangan Bi Titin. Karena Putri hanya perlu istirahat di rumah, maka dia sudah di perbolehkan pulang. Maka dari itu, bi Titin datang untuk menjemputnya. Setelah menunggu lama di depan pintu tentunya, dia baru berani masuk.
"Nah ... Ditya. Bi Titin udah datang nih. Aku pulang dulu ya."
"Apa gak perlu aku antar juga kamu, Put? Semua ini, aku yang menyebabkannya. Bagaimana kalau pulang, aku yang antar kan?"
"Gak usah, Dit. Aku gak papa kok pulang sama bi Titin juga ada pak sopir kok. Kamu tenang aja. Gak perlu merasa bersalah, apa lagi menyalahkan diri kamu sendiri. Ini bukan salah kamu kok. Ini salah aku. Aku yang gak hati-hati, dan aku yang terlalu lemah. Makanya semua ini terjadi."
"Put .... "
"Udah ya, tuan keras kepala. Sudah cukup label kamu sekarang jadi tuan keras kepala. Jangan buat aku ngeluarin label kamu yang satunya lagi, yaitu, tuan pemaksa. Aku bisa pulang dengan bibi dan pak sopir ya."
"Kamu yang keras kepala, Put-Put. Malah ngelemparin gelar itu padaku. Kamu ini."
"Eh, he he he ... iya. Ah, ya udah deh. Aku pulang sekarang. Sampai jumpa lagi tuan pemaksa," ucap Putri sambil beranjak.
"Iya. Hati-hati, Putri." Ditya berucap dengan suara kecil yang terdengar sangat lemas.
__ADS_1
Dia terus melihat kepergian orang yang sudah lama berada dalam hatinya itu. Sayangnya, orang yang dia cintai, tidak mau menerima cinta yang dia punya. Cinta itu terhalang tali persahabatan yang sudah terjalin sejak mereka masih kecil.
"Maaf, Put. Aku bohong sama kamu. Aku tidak pergi keluar negeri karena ada hal mendadak yang mau aku urus. Tapi, aku keluar negeri karena aku tidak ingin menghadiri pernikahan mu yang sangat menyakitkan buat aku."
"Aku cinta padamu. Tapi sayangnya, tali persahabatan yang telah lama kita jalin, membuat kamu tidak punya perasaan cinta padaku. Dan malangnya, kamu tidak ingin sedikitpun mencoba membangun perasaan itu dengan cara membuka sedikit saja hati kamu untuk aku. Kamu malah berusaha menutup, semakin rapat hati kamu itu."
"Dokter Ditya bicara dengan siapa?" tanya salah satu suster yang tiba-tiba masuk.
Sontak saja, ucapan itu membuat Ditya kaget bukan kepalang. Dia yang sibuk dengan pikirannya tadi, sama sekali tidak menyadari keberadaan suster tersebut. Terus bicara sampai suster itu masuk dan mendengarkan semuanya.
"Itu .... Kapan kamu masuk?"
"Baru saja, Dok. Maaf, saya masuk sudah ketuk pintu dulu sebelumnya. Apa dokter tidak mendengar ketukan yang saja buat?"
"Mm ... dokter Ditya sedang patah hati ya?" tanya suster itu dengan nada menggoda.
"Hah? Siapa yang sedang patah hati? Aku? Nggak kok. Udah, lanjutkan saja pekerjaan kamu. Jangan banyak nanya. Karena semua itu gak ada urusannya sama kamu."
Aditya berucap dengan nada cukup kesal. Anehnya, bukan merasa bersalah, si suster yang menggoda Aditya barusan, malah tersenyum bahagia sambil melihat kepergian Aditya meninggalkan kamar tersebut.
"Orang yang sedang patah hati itu biasanya akan mudah untuk di dekati. Karena dia butuh tempat lain buat melabuhkan kasih sayang yang sebelumnya kehilangan tempat," ucap si suster yang bernama Mira itu sambil tersenyum manis.
Sementara itu, di sisi lain, tepatnya di dalam mobil Putri. Bi Titin yang sudah lama menyimpan rasa penasaran, kini tidak kuat menahan lagi. Dia langsung melontarkan Putri dengan pertanyaan yang sudah dia siapkan sejak tadi.
"Non Putri, non kelihatannya sudah kenal dekat dengan dokter laki-laki yang bersama non Putri tadi. Boleh bibi tahu siapa dia, Non?"
__ADS_1
"Oh, dia itu Aditya, bik. Sahabat aku sejak kecil."
"Walah, pantas saja kalian terlihat sangat-sangat akrab, non. Dan, pantas dia tahu banyak tentang non Putri. Oh ya, memangnya, apa yang terjadi pada non Putri sebenarnya. Kenapa dia bilang, cedera pada kaki itu akan kambuh jika sedikit saja terjadi kesalahan, non. Bibi sungguh merasa penasaran."
"Ini ... dulu, saat aku berumur lima belas tahun, aku pernah jatuh dari ayunan yang sedang berayun sangat kencang. Yah, karena jatuh itulah, kakiku jadi cedera parah. Keseleo parah yang bikin urat-urat kakiku bergeser. Saat itu, aku gak bisa jalan hampir dua bulan lamanya. Hanya bisa duduk di kursi roda saja sebagai alat bantu buat aku bergerak."
"Walah ... kasihan sekali kamu, non. Pantas saja, si dokter teman non itu wanti-wanti bilang, kalau non harus jaga kesehatan. Rupanya, ada hal yang sangat serius rupanya."
"Yah, dia itu emang begitu, bik. Gak serius juga, jadinya akan serius di dianya. Aku udah biasa kok, kalo menghadapi dia. Oh ya, jangan bilang apa-apa soal aku pada mas Abi. Aku gak mau kalau dia jadi kesal sama aku."
"Lah, kok kesal sih, non. Emangnya, non Putri bikin ulah apa sampai tuan Abi harus kesal sama non Putri?"
"Bibi tahukan, bagaimana posisi aku di mata mas Abi. Salah, atau gak salah, mungkin aja bisa bikin dia kesal sama aku. Jadi ... intinya, diam aja deh. Karena diam akan lebih baik buat aku dan mas Abi."
"Yah, tapi non ... bibi udah bilang sama tuan Abi tentang non Putri yang masuk rumah sakit. Bagaimana ini?" tanya bi Titin dengan wajah cemas karena bersalah.
"Aish ... kapan bi Titin bilang sih? Ya Allah, kok gak tanya aku dulu kalo mau ngabarin mas Abian soal aku."
"Maaf, non. Bibi itu cemas saat dengar pembicaraan non Putri dengan teman dokter non itu. Makanya, bibi langsung bilang aja sama tuan Abi saat non sedang berada dalam kamar rawat tadi."
"Ah, ya ampun. Kalau sudah begitu, mau bagaimana lagi. Sudah terjadi pun. Tidak bisa di atur ulang lagi," kata Putri sambil memegang kepalanya.
"Maafkan bibi, Non. Bibi gak sengaja."
"Huh .... Gak papa, bik. Lagian, aku yakin kalau mas Abi juga gak akan peduli kok sama keadaan aku. Dia gak akan ambil pusing dengan apa yang terjadi sama aku. Tapi, takutnya, dia akan marah karena aku bikin ulah dengan memberi dia kabar yang menurutnya tidak penting."
__ADS_1