Putri Untuk Mas Duda

Putri Untuk Mas Duda
*Episode #31


__ADS_3

"Aku tahu apa yang ingin kamu katakan, Dit. Tidak perlu di teruskan. Karena aku sudah tahu, dan aku tidak ingin mendengarkannya lagi."


Aditya langsung menoleh ke samping. Tempat di mana Abian sedang berdiri di sampingnya dengan wajah sedih.


"Tahu apa kamu, Bian?"


"Aku tahu apa yang ingin kamu katakan padaku. Kamu ingin bilang kalau Putri masih belum bisa sadar bukan?"


"Jangan sok tahu kamu, Abian. Aku tidak ingin bilang begitu kok."


"Lalu, apa yang ingin kamu katakan padaku tentang keadaan Putri? Apa dia baik-baik saja? Atau ... apa dia akan segera bangun sekarang?"


"Iya. Dia akan segera bangun, Abian. Reaksi yang dia berikan saat kamu mencium tangannya itu adalah reaksi yang paling kuat. Jadi, aku sarankan padamu untuk mengulangi lagi dan lagi jika Putri memberi reaksi atas apa yang kamu lakukan."


Dengan tatapan yang bercahaya, Abian melihat Aditya. "Benarkah apa yang kamu katakan barusan ini, Ditya? Dia akan sadar jika aku mencium tangannya lagi."


"Aku tidak bisa menjamin hal itu. Tapi, dia merespon apa yang kamu lakukan. Itu tandanya, dia sudah berada di alam sadarnya sekarang. Aku sarankan, kamu mengulangi lagi apa yang sudah membuat dia merespon sebelumnya."


"Baiklah kalau begitu. Aku akan lakukan apa yang kamu katakan, Ditya. Semoga saja, Putri segera bangun."

__ADS_1


Ditya tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya memberikan anggukan pelan dengan senyum kecil di bibirnya. Sementara Abian, dia langsung mencium tangan Putri kembali. Melakukan hal yang sebelumnya dia lakukan seperti yang sudah Aditya sarankan.


Ciuman yang penuh dengan kasih sayang itu membuat hati Ditya mendadak merasa perih. Ada luka yang tiba-tiba menggores hatinya. Ingin dia abaikan, namun terasa semakin sakit saja.


Tanpa sadar, Aditya memegang dadanya karena rasa sakit yang dia derita. Tapi, sekuat tenaga dia bertahan. Berusaha bersikap biasa saja, meskipun itu sebenarnya adalah hal yang paling tidak mungkin untuk dia lakukan.


"Ee ... Bian. Aku ke kamar mandi sebentar. Jika ada perkembangan, langsung hubungi aku saja."


"Baiklah. Kamu pergi jangan lama-lama kalo bisa," ucap Abian tanpa menoleh.


"Ya. Tidak akan lama, tapi aku juga tidak bisa memastikan hal itu."


Abian memilih melanjutkan pancingan itu. Seperti yang Aditya katakan sebelumnya, dia harus melakukan hal itu lagi jika Putri menunjukkan reaksi.


Dan ... akhirnya, hal yang paling Abian nantikan selama beberapa bulan ini. Kesadaran Putri. Bangunnya Putri dari tidur panjang yang membuat mereka terpisah selama beberapa saat.


Hal itu sungguh sangat membahagiakan. Putri membuka mata untuk yang pertama kali setelah dia divonis koma. Abian tersenyum dengan tatapan tak percaya namun penuh syukur.


"Put. Kamu sudah bangun sayang?"

__ADS_1


"Mas ... mas Abi. Di ... mana ini, Mas?" tanya Putri sambil berusaha bagun dengan satu tangan yang masih memegang kepala.


"Kita sedang di rumah sakit, Put. Pelan-pelan. Jangan paksakan dirimu untuk bergerak dulu. Kamu baru saja sadar setelah beberapa bulan koma, Put."


"Apa! Ko--koma? Aku koma? Tunggu! Perutku. Anakku, Mas. Di mana anakku?" Putri berucap dengan nada sangat panik.


Abian langsung menarik tubuh itu untuk dia peluk agar istri kesayangannya bisa sedikit tenang.


"Tenang, sayang. Anak kita baik-baik saja kok. Dia selamat. Kamu harus tenang ya."


"Ap--apa kamu bilang, Mas? Anak kita baik-baik saja? Kamu gak bohong padaku bukan?"


"Tentu saja tidak bohong, sayang. Aku bicara yang sebenarnya. Anak kita baik-baik saja. Dia sedang berada di rumah bersama kedua mama."


"Kedua mama? Maksud kamu, mama aku dan mama kamu? Iya, Mas?"


Abian tersenyum sambil mengangguk pelan.


"Iya, sayang. Kedua mama kita yang merawatnya sekarang. Aku akan hubungi mereka supaya mereka datang ke sini dengan anak kita. Semuanya pasti sangat bahagia jika tahu kalo kamu sudah sadar."

__ADS_1


"Ah, iya. Aku lupa mengatakan pada Aditya kalau kamu sudah sadar. Sangking bahagianya aku, bisa-bisa aku melupakan Aditya." Abian berucap sambil menepuk pelan dahinya. Putri yang melihat itu hanya bisa terdiam sambil menahan rasa penasaran yang ada salam hatinya.


__ADS_2