
Putri tidak gentar dan bahkan tidak akan mundur. Dia berusaha meyakinkan Aditya kalau ide yang dia punya adalah yang terbaik. Terbaik untuk kehidupan sahabatnya.
"Ditya. Aku bukan bermaksud untuk memaksa kamu melakukan hal besar ini. Tapi, pernikahan adalah pilihan terbaik buat kamu. Aku akan tenang meninggalkan kamu di sini jika kamu sudah menikah. Karena kamu sudah ada yang menjaganya."
Sontak saja, kata-kata itu membuat Aditya membulatkan mata.
"Apa maksud ucapan mu barusan itu, Put? Kau mau meninggalkan aku ke mana?"
"Tidak perlu kaget begitu, Ditya. Kau kan tahu kalo akan beberapa hari lagi akan meninggalkan kota ini. Bukan kota, tapi negara ini. Kami akan pindah keluar negeri buat sementara. Tapi, tidak tahu sampai kapan kami akan tinggal di sana."
Ditya terdiam. Sebenarnya, dia sudah tahu rencana Putri dan keluarganya yang ingin meninggalkan tanah air untuk kehidupan baru mereka. Tapi sayangnya, itu cukup berat buat Aditya. Melepaskan Putri pergi, walau statusnya hanya sebatas teman, itu terasa cukup sulit buat Aditya.
"Lagian, kau juga harus hidup bahagiakan, Ditya. Aku sudah menikah, tinggal kamu lagi yang belum. Jadi ... pikirkanlah apa yang aku katakan padamu tadi."
Ditya masih diam. Sementara Putri memilih meninggalkan ruangan tersebut setelah dia anggap apa yang ingin dia bicarakan telah usai.
____
__ADS_1
Seperti yang Putri katakan, dia dan keluarganya telah pergi meninggalkan tanah air hari ini. Memulai kehidupan baru, di tempat yang baru pula.
Sementara itu, Aditya yang mengantar kepergian Putri telah berjanji untuk hidup bahagia dengan mengikuti apa yang Putri katakan. Dia berjanji akan menikah dengan Icha, seperti permintaan Putri beberapa hari yang lalu.
Meskipun dia merasa itu sulit untuknya. Tapi, demi kebahagiaan dan ketenangan Putri, Aditya memilih menikah dengan orang yang tidak dia cintai sama sekali.
Setelah pesawat yang Putri dan keluarganya tumpangi pergi, Aditya langsung meninggalkan bandara. Dia mengendarai mobik dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit untuk bicara dengan Icha.
Abian sampai di kamar Icha. Dia melihat Icha sedang termenung sambil melihat keluar jendela. Aditya enggan bicara sebenarnya, tapi tidak bisa mengatakan tidak.
"Dokter Adit. Ada apa?" tanya Icha saat sadar dengan kehadiran Aditya.
"Katakan saja apa yang ingin dokter bicarakan! Aku akan mendengarkan apapun yang dokter Adit katakan."
"Aku ingin kita menikah." Aditya berucap cepat tanpa basa basi terlebih dahulu. Hal itu tentu saja membuat Icha kaget bukan kepalang.
"Apa! Jangan main-main dokter. Pernikahan bukan bahan candaan."
__ADS_1
"Aku tidak main-main, Icha. Aku ingin menikah dengan kamu. Meski kita sama-sama tidak punya cinta. Tapi, kita akan sama-sama belajar mencintai. Lagipula, semua yang terjadi padamu sekarang adalah kesalahan aku. Kesalahan sahabatku yang tidak bisa dia lupakan. Pikirkanlah satu hal, kau cedera karena kami. Aku akan bertanggung jawab untuk itu."
Sulit Icha terima. Tapi hatinya sangat bahagia. Meski dia tahu, ucapan Aditya barusan itu sungguh jelas hanya ingin menikah karena merasa bersalah atau hanya karena ingin bertanggung jawab saja.
Karena itu, dia tidak akan melepaskan kesempatan emas yang sudah ada di depan mata ini begitu saja. Dia akan mengikat Aditya dengan tali pernikahan. Meski tanpa cinta sedikitpun.
"Baiklah. Aku setuju untuk menikah dengan dokter Adit."
Dengan persetujuan itu, akhirnya, dokter Aditya dan suster Marisa pun melangsungkan pernikahan mereka tiga hari setelah suster Icha diperbolehkan pulang ke rumah.
Pernikahan yang diadakan secara tertutup, tanpa resepsi sedikitpun itu dilaksanakan di kantor KUA. Hanya dihadiri oleh orang penting saja, seperti kedua orang tua Aditya. Sedangkan Icha, dia tidak punya siapa-siapa. Dia hanya hidup sebatang kara saja. Jadi, tidak ada yang datang saat pernikahannya dilangsung kan.
___________________SEKIAN__________________
Catatan dari aku.
*Teman-teman. Untuk karya ini, kita akhiri sampai di sini saja. Kita akan lanjut ke karya berikutnya untuk cerita dokter Aditya dan suster Icha. Dengan judul,
__ADS_1
SEBATAS MENIKAH. Maaf jika akhir atau bahkan isi dari karya ini membuat kalian bosan. Karena kendala di pertengahan bab, cerita ini jadi berantakan. Sekali lagi, maaf buat kalian semua. Terima kasih sudah mau baca.