
"Kenapa harus jengkel sih, Mas? Orang aku gak bikin kesalahan. Cuma tersenyum aja apa salahnya. Lagian, kamu itu jadi laki-laki jangan terlalu ketus amat. Nanti gantengnya hilang," ucap Putri dengan nada menggoda.
Sontak saja, Abian langsung menghentikan langkah kakinya. Dia tiba-tiba menoleh dengan tatapan tajam ke arah Putri yang ada di belakangnya.
"Tolong jangan bicara sembarang, Putri. Jangan main-main juga dengan aku. Kita memang sudah menikah, tapi aku butuh waktu untuk menganggap kamu ada. Harusnya, kau tahu bagaimana perasaan aku padamu, bukan? Jadi, tolong jangan terlalu agresif dulu sekarang. Karena sikapmu yang agresif itu semakin bikin aku merasa tak nyaman dengan kehadiran kamu."
Sakit. Itulah yang Putri rasakan ketika mendengar ucapan Abian barusan. Walaupun dia sudah berusaha menerima semua itu, semua perilaku Abian yang buruk padanya. Karena memang, dalam hati Abian itu tidak ada dia. Melainkan, hanya ada mantan istri saja. Tapi sayangnya, rasa sakit itu tetap saja ada. Tetap tidak bisa dia abaikan walau sudah berusaha sekuat tenaga.
"Maaf. Aku tidak bermaksud bikin kamu semakin kesal padaku, Mas. Aku hanya berusaha saja." Putri berucap dengan nada sedih.
Abian tidak menjawab. Dia langsung melanjutkan langkah kakinya kembali berjalan maju menuju pintu. Meninggalkan Putri di belakang dengan hati yang sakit.
Ketika Abian masuk ke dalam, Putri masih diam ditempatnya. Saat Abian sudah tak terlihat lagi, dia juga masih diam tanpa berniat untuk bergerak dari tempat di mana dia berdiri sebelumnya.
Hingga pada akhirnya, seorang wanita paruh baya keluar dari pintu tersebut. Wanita itu berjalan menghampiri Putri dengan senyum di bibirnya yang terlihat sudah mulai menua akibat di makan usai.
"Nyonya .... Ayo! Silahkan masuk!"
"Ini .... "
"Eh, iya lupa, Nya. Nama saya, Titin Martanti. Nyonya bisa panggil saya dengan sebutan bi Titin saja. Saya adalah asisten rumah tangga di sini, Nya." Wanita paruh baya itu bicara dengan sangat ramah.
Hal itu membuat Putri langsung menarik senyum kecil di bibirnya.
"Salam kenal, bi Titin. Namaku Putri. Aku rasa, bibi tidak perlu memanggil aku dengan sebutan nyonya. Panggil saja aku nona, atau non Putri saja, Bik. Itu sudah cukup dan terdengar sangat baik."
"Tapi .... " Bik Titin menggantungkan kata-katanya sambil melihat wajah Putri.
Seakan mengerti dengan apa yang bi Titin rasakan, Putri langsung menyambut ucapan itu tampa menunggu si bibi selesai berucap.
__ADS_1
"Aku lebih nyaman di panggil dengan sebutan, Non dari pada nyonya, Bik."
"Baiklah kalau begitu, Nona. Aku akan panggil nona saja."
"Itu terdengar lebih baik." Putri berucap sambil tersenyum.
Mereka pun masuk ke dalam sambil terus ngobrol. Sampai di dalam, bi Titin langsung mengantarkan Putri ke kamarnya.
"Non ... ini kamar non Putri sekarang," ucap si bibi sambil membuka pintu kamar tersebut.
"Kamar ku?" tanya Putri agak merasa sedikit bingung. Tapi pada dasarnya, Putri sungguh mengerti dengan apa yang bi Titin maksud dengar kamar itu.
"Iya, non. Ini kamar non Putri. Tuan Abi minta saya bawa non Putri ke kamar ini." Bi Titin bicara dengan nada bersalah.
"Lalu, di mana kamar Mas Abi, Bik?"
"Oh, mas Abi tinggal di kamar atas sana. Lalu .... Ah, lupakan saja. Ya sudah, aku masuk sekarang ya, Bik. Tolong koperku taruh di situ saja," ucap Putri sambil melangkah masuk ke dalam.
Dia berusaha sekuat tenaga bersikap tegar walau hatinya sedang terluka. Bersikap biasa-biasa saja, walau sebenarnya, dalam hati sedang tergores, itu tidak mudah.
Sebenarnya, Bi Titin mengerti apa yang Putri rasakan. Karena sesama perempuan, kontak batin lebih peka dan lebih bisa merasakan. Tapi sayangnya, dia tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya menjadi penonton saja. Berharap, semua derita yang majikannya lewatkan itu lekas berubah menjadi bahagia.
_____
Satu minggu sudah Putri menjalankan kehidupan di rumah baru. Tidak ada yang berubah dari hubungan mereka yang terasa seperti bukan pasangan suami istri, atau lebih tepatnya, orang lain yang tinggal satu rumah.
Abian masih seperti biasanya. Bagun pagi, pergi kerja. Pulang sore, atau bahkan terkadang pulang larut malam. Dia seolah-olah sedang menjadikan pekerjaan sebagai pelarian buat masalah hidup yang sedang dia alami sekarang. Atau bahkan, dia mungkin juga ingin lebih menghindari diri dari Putri.
Waktu pertama Putri tinggal di rumah itu bersamanya, Putri bersikap layaknya seorang istri normal pada umunya. Mengantarkan suaminya pergi kerja sampai depan pintu, sedangkan saat pulang, dia menantikan kepulangan sang suami.
__ADS_1
Namun, itu tidak berlangsung lama. Itu hanya berlangsung satu hari saja. Karena hari berikutnya, Abian melarang Putri melakukan hal itu dengan alasan, dia tidak ingin mengulang hidup yang sama sekarang.
Sebabnya, ketika Putri melakukan hal itu, Abian terus ingat dengan mantan istrinya yang sudah tiada. Mengingat mantan istrinya, dia bertambah semakin sakit. Tidak kuat menahan hati. Jadi, itulah sebabnya dia melarang Putri melakukan semua itu.
Mengerti akan kesedihan Abian dengan apa yang sedang terjadi, Putri langsung mengikuti apa yang Abian katakan. Tidak pernah lagi menyambut, atau mengantarkan suaminya pergi atau pulang kerja.
Sekarang, Putri menyibukkan diri dengan hobi merawat tanaman yang bisa membuat hatinya merasa tenang. Di temani bi Titin, dia selalu berjalan-jalan ke pasar buat membeli apa saja yang dia perlukan.
"Bi, ke pasar lagi yuk!" ajak Putri saat mereka sedang sibuk menyiram tanaman.
"Lho, mau beli apa lagi, non? Bukannya kemarin kita udah ke pasar ya? Dan juga ... non udah beli banyak benih dan bibit. Sekarang, apa lagi yang kurang toh, nona Putri?"
"Ada bik .... Aku lupa beli pupuk."
"Walah ... ya udah deh. Ayo pergi sekarang! Mumpung bibi udah gak ada kerjaan lagi."
"Ayok!"
Putri yang bahagia langsung mengakhiri kegiatan menyiramnya yang emang udah hampir selesai. Lalu, mereka pun beranjak meninggalkan rumah setelah Putri mengganti pakaian rumah dengan pakaian keluar seperti biasa.
Hampir tiga puluh menit, mereka akhirnya sampai ke pasar, tempat di mana toko tani berada. Di sana, Putri bisa mendapatkan apa yang dia mau.
Hatinya yang selalu merasa senang saat berada di pasar, langsung saja turun saat mobil sudah berhenti di parkiran. Namun, karena tidak hati-hati, Putri malah tersenggol mobil yang baru saja ingin keluar dari parkiran tersebut.
Buk!
"Auh .... "
Putri mengeluh kesakitan karena tubuhnya yang terjatuh akibat tersenggol benar berat tersebut.
__ADS_1