
"Bukan bom, kan?"
"Mas Abi! Ih ... apa-apaan sih? Masih saja bercanda. Merusak momen aja."
Putri berucap kesal sambil memasang wajah manyun di depan Abian. Abian yang melihat itu, langsung tersenyum sambil menerima kotak yang Putri berikan.
"Udah, jangan ngambek. Nanti, wajah cantiknya bisa hilang."
"Mas buka kotaknya sekarang ya. Mau lihat, apa sih kejutan yang kamu punya untuk, Mas."
"Buka aja. Emang aku ingin mas buka kok. Udah dari tadi malahan."
Abian kembali mengukir senyum. Lalu, dia langsung membuka kotak tersebut dengan cepat. Kemudian, dia mengeluarkan kertas yang Putri lipat dengan rapi dari dalam kotak tersebut.
Sedikit gemetar, Abian langsung membuka kertas itu untuk dia baca. Seketika, raut wajah Abian mendadak berubah. Dia yang awalnya bersikap biasa dengan senyum manis, kini mendadak memperlihatkan wajah kaget yang Putri sendiri tidak mengerti.
"Apa ini, Put?" tanya Abian dengan suara berat yang terdengar sedikit bergetar.
__ADS_1
"Itu hasil pemeriksaan aku dari dokter, Mas. Aku hamil .... " Putri berucap dengan nada sangat bahagia.
Putri ingin langsung menghambur ke dalam pelukan Abian. Namun sayangnya, hal itu tertahan karena kertas yang Abian pegang sebelumnya, jatuh perlahan dari genggaman erat Abian.
"Tidak. Ini ... tidak mungkin, Put. Kamu tidak mungkin hamil," ucap Abian sambil menggenggam erat tangannya.
"Apa maksud kamu, Mas? Aku tidak mungkin hamil? Kenapa? Nyatanya, aku sedang hamil sekarang?"
"Tidak! Itu tidak benar, Putri. Kamu tidak boleh hamil. Tidak boleh!"
Plak! Sebuah tamparan mendarat di pipi Abian. Itu terjadi karena Putri sudah sangat tidak kuat menahan sakit yang baru saja Abian berikan. Ekspresi bahagia yang dia harapkan dari kejutan yang dia berikan, ternyata itu hanya sebatas harapan saja. Karena pada kenyataannya, Abian malah terlihat sangat marah saat tahu dia hamil.
"Kamu tampar aku?"
"Ya. Aku tampar kamu, Mas. Aku tampar kamu agar kamu tahu, betapa aku tak percaya dengan tanggapan kamu barusan. Aku tampar kamu supaya kamu sadar, aku hamil ini anak kamu. Jangan kamu pikir, aku pernah berbuat dengan orang lain. Maka dari itu kamu tak percaya kalau aku sedang hamil. Aku tidak pernah melakukan semua hal kotor itu selama ini. Aku benci kamu mas Abian. Sangat benci!"
Selesai berucap, Putri langsung pergi meninggalkan Abian dengan air mata yang tidak bisa dia bendung lagi. Sungguh sangat-sangat kecewa. Sedih dan marah, semua itu bercampur diaduk menjadi satu dalam hati Putri.
__ADS_1
Sementara itu, Abian yang Putri tinggalkan, kini terduduk lemas di atas lantai. Dengan air mata yang berlinangan, dia pungut kembali kertas yang sebelumnya dia jatuhkan dari tangannya.
"Putri ... kamu salah menebak apa yang aku pikirkan. Bukan aku berpikir yang tidak-tidak tentang kamu. Tapi ... aku hanya tidak ingin kehilangan kamu, Put. Tidak ingin kehilangan orang yang aku sayang untuk yang kedua kalinya. Karena kau tidak tahu sayangku, kehilangan itu sungguh luar biasa sakitnya." Abian berucap dengan suara sangat pelan.
Ya, yang terjadi saat dia melihat kertas itu adalah, trauma kehilangan istri pertamanya tiba-tiba muncul. Trauma yang selama ini sudah berhasil dia atasi, tapi sekarang, datang lagi karena kabar itu.
Rasa takut akan kehilangan untuk yang kedua kalinya, tiba-tiba menyelimuti hati Abian sepenuhnya. Karena hal itulah, dia tidak ingin Putri hamil.
Ingatan Abian akan masa lalu kembali memenuhi pikiran. Saat di mana Tiara, istri pertamanya hamil. Dia sangat bahagia. Bagaimana tidak? Tiara akhirnya hamil setelah penantian lebih dari satu tahun yang sama-sama mereka lakukan.
Tapi sayangnya, kehamilan itu malah membawa Tiara pergi jauh buat selama-lamanya dari hidup Abian. Hal itu membuat Abian mengalami trauma akut. Dia bertekad tidak ingin punya anak lagi buat seumur hidupnya.
Karena dia melihat sendiri, perjuangan Tiara saat melahirkan. Dengan susah payah, Tiara berusaha melahirkan buah cinta mereka kedua. Dia berhasil. Tapi sayang, karena kehilangan banyak darah, dia dinyatakan tak tertolong setelah mengalami koma selama beberapa jam.
Tidak cukup sampai di situ saja. Abian yang sedang berkabung atas kepergian orang yang dia cintai itu, harus terluka lagi dengan kabar kepergian kedua yang datang dari anaknya. Anak yang Tiara lahir kan dengan susah payah, harus pergi bersama Tiara setelah beberapa jam dari kepergian Tiara.
Putri kecil yang sungguh membuat hati Abian terluka. Hanya bisa melihat sebentar tanpa sempat menggendongnya. Kedua bidadari itu pergi buat selama-lamanya dalam hitungan jam. Hati siapa yang bisa menahan kesedihan beruntun itu.
__ADS_1
Abian tersadar dari ingatan masa lalu yang baru saja memenuhi benaknya. Dia langsung menyeka air mata yang jatuh melintasi pipi. Bangun dari jatuh, Abian langsung menatap lurus ke depan dengan tangan yang meremukkan erat kertas yang baru saja dia pungut.
"Tidak! Aku tidak akan membiarkan Putri mengalami hal yang sama dengan yang Tiara alami. Dia tidak boleh melahirkan anak itu. Aku tidak ingin kehilangan istri yang aku cintai untuk yang kedua kalinya. Apalagi jika kehilangan dengan cara yang sama. Tidak akan! Itu tidak akan pernah terjadi."