
Malam itu, Merry langsung menyusun rencana buat menyakiti Putri. Dia menghubungi orang yang dia percaya, yang bekerja di rumah sakit tersebut. Untungnya, saat orang itu bicara dengan Merry, Icha yang sedang lewat mendengarkan pembicaraan itu dengan jelas.
Dia yang lumayan pintar, langsung merekam pembicaraan itu. Ya meskipun itu tidak bisa disebut sebagai bukti untuk melakukan jeratan hukum buat Merry. Namun, bukti itu bisa dia tunjukkan pada Aditya. Dia yakin, kalau mau bicara dengan Aditya juga harus punya bukti.
"Dokter Adit, bisakah kita bertemu? Bukan, maksudku, bisakah dokter datang ke rumah sakit ini sekarang juga. Ada hal mendesak yang harus kita bicarakan," ucap Icha saat mereka sedang bicara lewat gawai.
"Bicara saja lewat telepon. Aku lelah sekarang, tidak bisa datang. Jika ada urusan mendesak soal pekerjaan, maka tunggu besok saja, suster Icha."
"Ini bukan soal pekerjaan, dokter Aditya. Tapi, soal keselamatan seseorang. Orang yang aku yakin sangat penting buat dokter."
"Apa maksud kamu? Apakah ini soal keselamatan Putri? Benarkah begitu?"
"Iya. Ini soal keselamatan teman anda, pak dokter. Semua ini karena suster Merry yang tidak terima dengan apa yang baru saja dia alami hari ini."
__ADS_1
"Sialan perempuan itu. Tidak mengindahkan ancaman yang aku berikan. Benar-benar perempuan yang punya nyali besar dia ternyata."
"Baiklah. Aku akan ke sana sekarang juga. Tapi, apakah yang baru saja kamu katakan itu bisa aku percaya?"
Icha mendengus pelan. Dia tahu kalau seorang Aditya pasti akan menanyakan hal itu padanya. Untung saja sebelumnya, dia sudah merekam pembicaraan yang bisa dia jadikan sebagai bukti.
"Tentu saja bisa, dokter. Aku sudah mengirim rekaman yang mungkin bisa membuat dokter percaya dengan apa yang aku katakan barusan. Jika dokter masih merasa ragu dengan apa yang aku sampaikan. Silahkan dengar dulu rekaman yang aku kirim."
"Baiklah. Aku akan dengarkan dan akan aku pastikan dulu semuanya."
"Huh ... haruskah niat baik yang aku miliki dia curigai juga. Dasar manusia," ucap Icha pada dirinya sendiri.
Sementara itu, Putri yang sudah berbahagia sedang bersama dengan keluarganya. Kedua orang tua juga kedua mertuanya ada di rumah sakit sekarang. Bayi mungil kesayangan mereka juga ada di sana.
__ADS_1
Untuk pertama kalinya, Putri merasakan kehangatan dan juga kebahagiaan yang terasa sangat-sangat lengkap sekarang. Dia sangat bahagia dengan keadaan sekarang. Tak henti-hentinya dia bersyukur untuk kebahagiaan yang sedang dia rasakan saat ini.
"Sayang, maafkan aku atas segala kesalahan yang telah aku perbuat selama ini. Terima kasih untuk putri cantik yang telah kamu berikan buat aku, buat keluarga kita ini. Maaf, aku baru bisa mengucapkan kata terima kasih sekarang. Karena .... "
"Sudahlah, Bian. Jangan ungkit soal itu lagi. Jangan rusak kebahagiaan yang sedang kita rasakan sekarang deh," ucap mama Putri memotong pembicaraan Abian dengan istrinya.
Putri yang mendengarkan ucapan itu langsung tersenyum. Dia sentuh tangan Abian yang sekarang sedang memegang tangannya.
"Mas ... apa yang mama katakan itu ada benarnya. Lupakan saja apa yang telah berlalu ya. Kita mulai dengan membuka lembaran baru sekarang. Karena sekarang, kehidupan kita susah lengkap, bukan? Kita sudah punya buah hati yang pastinya akan semakin membuat haru-hari kita penuh arti."
"Kamu benar, Putri ku sayang. Tapi, rasa bersalah ini sulit untuk aku abaikan. Karena ...."
"Mas ... aku tidak ingin kamu hidup dengan cara yang sama dengan yang telah kamu lewati di masa lalu. Kamu harus mulai kehidupan kita dengan cara baru yah. Cara barunya yaitu, lupakan kesalahan juga kesedihan yang pernah kamu lalui di masa lalu. Intinya, lupakan masa lalu. Ayo menata masa depan bersama aku, Mas!"
__ADS_1
Abian tersenyum. Dia genggam erat tangan lembut Putri dengan penuh kasih sayang. Lalu, dia cium tangan itu dengan penuh kemesraan.
"Baiklah istriku sayang. Akan aku mulai kehidupan ini dengan penuh kebahagiaan bersama kamu. Hanya dengan kamu, ya sayang."