
"Bukan bahagia, mas. Tapi aku merasa iba dengan ajakan itu. Aku istrimu. Tapi sayangnya, aku tidak layak di sebut sebagai istri."
"Aku tahu diriku siapa, Mas. Ajakan kamu barusan itu aku anggap sebagai penghinaan. Aku tidak akan pernah ingin bersama, jika kau hanya melakukan hidup bersamaku karena terpaksa."
Kata-kata itu membuat Abian terdiam. Emosi yang menggebu-gebu itu mendadak lenyap bak api tersiram hujan.
"Sejak awal, kita memang tidak sebanding, Putri. Kau sangat cantik, gadis lagi. Sedangkan aku ... aku duda. Kita tidak cocok."
"Bukan kita yang tidak cocok, Mas Abian. Tapi kamu yang sengaja tidak ingin kita saling sepadan."
Setelah berucap kata-kata itu, Putri langsung bangun dari duduknya. Dia ingin segera meninggalkan Abian yang masih duduk diam di tempatnya.
"Aku pergi dulu. Permisi."
Abian masih terdiam. Sementara Putri terus melangkah meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya.
Sampai di kamar, Putri langsung menutup pintu kamar tersebut rapat-rapat. Dia melakukan hal itu karena ingin menumpahkan rasa sakit juga kesedihan yang sejak tadi dia bendung. Setelah melemparkan tubuh di atas kasur, dia langsung menangis dengan memeluk guling dengan erat.
'Kenapa semuanya terus seperti ini? Apakah memang tidak akan pernah ada cinta yang akan tumbuh diantara aku dengan mas Abian?'
'Ya Tuhanku ... aku pikir cinta akan tumbuh karena kebersamaan. Tapi tahunya, hubungan antara aku dengan dia masih sama saja. Masih ada jarak sebagai pemisah buat kami berdua. Kebersamaan ini ternyata tidak mampu menumbuhkan cinta. Apakah aku harus bertahan selamanya dengan sakit ini. Tolong aku Tuhanku ... '
__ADS_1
Sementara Putri masih menangis di kamarnya. Abian memilih langsung masuk ke dalam kamar dengan pikiran yang terus menerus akan ucapan Putri barusan. Kata-kata itu seperti rekaman yang terus berputar di benaknya. Membuat dia merasa semakin bersalah lagi dan lagi.
Di kamar, Abian langsung menatap bingkai foto mantan istrinya. Dia belai lembut bingkai foto tersebut dengan penuh kasih sayang.
"Tia. Apa aku laki-laki yang paling jahat seperti yang Putri katakan padaku waktu itu? Apakah salah jika aku tetap mencintai kamu? Tapi ... aku juga sekarang tidak bisa mengatakan kalau aku hanya cinta padamu saja. Karena sepertinya, aku sudah memasukkan dia dalam hatiku secara perlahan. Entah kapan, aku juga tidak tahu. Tapi yang jelas, aku sudah menyimpan dia dalam hatiku, Tiara."
"Jangan marah padaku, Tia. Aku tidak bermaksud mengingkari janji yang kita buat. Tapi, kamu duluan yang pergi dari aku. Aku ... tidak. Aku tidak mengingkari janji kita. Aku tidak melupakan kamu. Aku juga tidak menggantikan kamu dengan perempuan lain dalam hatiku. Hanya saja, seperti yang Putri katakan, aku menyimpan kamu di bagian hatiku yang lain. Sementara dia, aku simpan di hatiku yang lain pula. Aku harap kau mengerti dengan perasaan ku, sayang."
Setelah berucap kata-kata itu, Abian langsung mengumpulkan semua bingkai foto yang selama ini dia pajang di kamar tersebut. Dia kumpulkan bingkai foto Tiara, lalu dia simpan di dalam lemari yang ada di kamarnya.
Selanjutnya, dia menatap dirinya di cermin selama beberapa saat. Kata-kata yang Putri ucapkan tadi kembali terdengar di telinganya.
"Kita tidak cocok, Putri. Kamu cantik, sedangkan aku ... aku duda. Kau yang tidak ingin kita sepadan, Mas. Bukan aku."
"Kau benar, Putri. Aku yang membuat kita tidak sepadan. Untuk itu, aku akan bikin kita sepadan walau tanpa menghilangkan status duda yang aku sandang. Karena status itu tidak mungkin bisa aku hilangkan. Tapi setidaknya, status tidak ada yang peduli."
Abian benar-benar sudah membulatkan tekatnya. Dia akan membuat tampilan baru dengan membersihkan diri dari jenggot dan kumis tebal yang selama ini pernah dia urus setelah kepergian sang istri untuk selama-lamanya.
Abian memutuskan pergi ke salon terdekat untuk melakukan semua itu. Sampai di salon, dia tidak hanya membersihkan wajah dari jenggot dan kumis. Tapi, dia juga memotong rambutnya yang panjang dan berantakan itu dengan potongan pendek.
Karyawan salon melakukan permintaan Abian dengan sangat baik. Setelah selesai, tampilan baru dari mantan duda itupun akhirnya terlihat. Abian keluar dengan wajah tampan yang luar biasa. Wajah tampan yang selama ini dia sembunyikan dengan tampilan yang sangat berantakan setelah kepergian istri yang paling dia cintai untuk selama-lamanya.
__ADS_1
Beberapa wanita yang melihat tampilan baru dari Abian langsung tidak bisa berkutik. Mereka menatap Abian dengan sejuta kekaguman. Ada juga yang tidak bisa berkedip karena pesona Abian yang luar biasa.
Abian memilih kembali ke rumah. Tapi sebelum itu, dia sempatkan dirinya untuk membeli bunga terlebih dahulu. Tekatnya sudah bulat sekarang. Dia akan memulai hidup baru bersama Putri, istri kecil yang sudah bersedia menikah dengan dirinya tanpa memikirkan status atau bahkan tampilan dirinya yang terbilang sangat amat buruk.
Namun, ketika di perjalanan, dia tiba-tiba mendapat panggilan dari bi Titin. Awalnya, dia ingin mengabaikan itu. Tapi, setelah bi Titin memanggil lagi untuk yang ke dua kalinya, dia tidak bisa untuk tidak menjawab.
"Iya, bik. Ada apa?" tanya Abian setelah panggilan tersambung.
"Tuan Abi. Non Putri ingin pulang ke rumah orang tuanya. Bagaimana ini, Tuan? Apa yang harua bibi lakukan?"
"Apa! Putri ingin pulang?"
"Iya, tuan Abi. Non Putri bilang, dia akan pulang dulu. Bibi sudah berusaha mencegahnya. Tapi, dia bilang, dia akan pulang sebentar saja. Tidak lama. Apa dia sudah minta izin sama, tuan sebelumnya?"
"Belum. Katakan padanya, dia boleh pulang. Tapi, tunggu aku kembali. Jangan biarkan dia pergi sekarang. Aku tidak mengizinkannya."
"Saya ingin bilang, tuan. Tapi, non Putri sudah keburu pergi."
"Ya Tuhan ... kenapa ngomongnya baru sekarang si bik? Kenapa gak dari tadi? Seharusnya, bilang itu sebelum dia pergi. Bukan setelah dia pergi."
Tidak menunggu jawaban dari bi Titin lagi, Abian langsung saja memutuskan panggilan secara sepihak. Dengan kecepatan tinggi, dia pacu mobil melintasi jalan raya. Untung saja, jalan yang dia lewati tidak terjadi kemacetan. Jika tidak, mungkin akan terhambat untuk segera bertemu dengan istri.
__ADS_1
Kebetulan, mobil yang Abian kendarai sampai di depan jalan perkomplekan elit tempat tinggal mereka itu berpas-pasan dengan mobil Putri yang baru saja ingin keluar dari jalan tersebut. Tidak membuang-buang waktu lagi, Abian langsung mencegah mobil itu untuk pergi.