
Sontak saja, ucapan itu membuat Abian langsung kaget dan langsung memutar tubuh untuk melihat Putri. Dengan cepat, dia menyeka air mata yang masih mengalir di pipinya.
"Putri."
"Mas Abi kenapa? Kok nangis?"
Pertanyaan yang seperti tanpa beban, juga sepertinya tidak ada sedikitpun sakit dalam hati si penanya itu membuat Abian semkin merasa bersalah. Abian tidak bisa untuk tidak menahan diri lagi. Dia langsung memeluk tubuh istrinya dengan cepat.
"Aku suami yang tidak berguna, Putri. Maafkan aku," ucap Abian lirih sambil selingi isak tangis.
"Mas .... "
"Maafkan aku, Put. Aku mohon."
"Untuk apa minta maaf, Mas? Kamu tidak punya salah sama sekali sama aku. Jadi .... "
"Aku salah, Put. Sangat salah. Maafkanlah aku yang bodoh ini."
"Mas, kamu tidak salah. Aku tahu kalau kamu hanya sedang berusaha mengimbangi rasa trauma yang ada dalam hati kamu saja. Untuk itu, aku maklum apa yang kamu rasakan."
"Putri .... "
"Aku juga tahu, selama ini, kamu selalu memperhatikan aku. Walau kamu melakukan semuanya secara sembunyi-sembunyi, tapi aku cukup bisa melihat semuanya dengan baik. Aku menyadari semua perhatian yang kamu berikan itu."
"Ka--kamu sadar? Kamu tahu kalau aku selalu mengawasi kamu? Memperhatikan kamu?"
__ADS_1
"Tentu saja aku sadar. Hanya saja, aku akan makin bahagia jika perhatian itu kamu lakukan secara terang-terangan. Dengan begitu, aku akan merasa punya suami yang sesungguhnya, bukan hanya sekedar bayangan saja."
"Put .... "
Tiba-tiba, Putri merasa sangat sakit di bagian perutnya. Ingin dia tahan, tapi rasa itu semakin lama semakin sakit saja. Dia sungguh tidak kuat untuk tetap diam.
"Ah ... Mas. Perut aku, sakit se--kali," ucap Putri sambil menegang bagian perutnya.
Sontak saja Abian langsung kaget bukan kepalang. Dia kelabakan tak tentu arah dengan wajah panik luar biasa.
"Bi Titin .... Bi! Cepat! Itu .... "
"Ya Tuhan, Putri. Bagaimana ini? Apa yang terjadi dengan kamu, Putri. Bertahanlah. Bertahan ya. Kita akan ke rumah sakit sekarang juga."
Abian berucap sambil membawa Putri ke dalam gendongannya. Bi Titin yang baru saja dia panggil, langsung datang ke kamar Putri secepat yang dia bisa.
"Siapkan mobil, Bik! Kita akan ke rumah sakit sekarang juga. Putri sakit perut."
"Apa! Sakit perut? Ini belum saatnya non Putri melahirkan. Bagaimana bisa sakit perut?"
"Ya ampun, bik. Mana aku tahu. Cepat siapkan saja."
Panik. Sangat panik. Itulah yang Abian dan bi Titin rasakan sekarang. Untung saja, trauma yang dia miliki tidak kambuh ketika kepanikan itu melanda. Jadi, dia masih bisa bersikap wajah saat mendengar rintihan kesakitan yang Putri lakukan.
***
__ADS_1
Setelah melalui jalan yang Abian rasa paling panjang selama dia mengemudi kendaraan di kota ini, akhirnya, mobil mereka tiba juga di rumah sakit terdekat. Abian langsung membawa Putri masuk ke dalam dengan langkah besar. Sambil berteriak memanggil dokter dan suster tentunya.
Dua orang suster datang dengan terburu-buru. Minta Abian membaringkan Putri di atas ranjang sambil menunggu dokter datang. Abian memaksa agar suster yang ada di sana segera menolong istrinya. Dengan tatapan geram, dia melihat kedua suster itu.
"Cepat selamatkan dia! Apa kalian tidak lihat, dia sedang sakit sekarang!" Abian berucap dengan nada tinggi.
"Maaf, Mas. Kita akan segera menolong istri mas. Tapi tunggu sebentar lagi. Dokter sedang dalam perjalanan."
"Apa yang dokter kalian lakukan, ha! Kenapa lama banget?"
"Tenang, Mas. Tenang. Jangan memperkeruh suasana yang sedang tidak baik ini."
"Aku tidak .... "
"Nah, itu dokternya sudah datang," ucap salah satu suster langsung memotong perkataan Abian.
Sontak saja, Abian langsung menoleh ke arah pintu. Ketika melihat wajah dokter yang baru saja muncul itu, Abian kaget sampai tak berkedip untuk beberapa saat.
"Dok. Ini pasiennya .... "
"Ya Tuhan ... Putri!"
Kaget bercampur cemas, itulah yang Aditya rasakan sekarang saat melihat pasiennya malam ini. Sungguh, dia tidak menyangka kalau pasiennya adalah Putri.
"Minta yang tidak berkepentingan tunggu di luar. Aku akan segera melakukan tugasku sekarang," ucap Aditya pada suster tersebut.
__ADS_1
Kata-kata itu membuat Abian merasa jengkel dan sangat kesal. Dia tidak ingin pergi, walau suster belum melakukan apa yang Aditya perintahkan. Karena sesungguhnya dia tahu, orang yang tidak berkepentingan yang Aditya katakan itu tak lain hanyalah dia.