Putri Untuk Mas Duda

Putri Untuk Mas Duda
*Episode #22


__ADS_3

Satu minggu berlalu. Hubungan keduanya kembali seperti dulu. Merenggang seperti ada jurang pemisah yang membuat jarak untuk mereka berdua. Abian yang sepertinya berusaha kembali menyibukkan diri dengan pekerjaan.


Sementara Putri yang sibuk menghindari Abian dengan segala cara yang dia punya. Pokoknya, hubungan mereka sekarang tidak sedang baik-biak saja.


Namun, walaupun begitu, Abian yang masih berada dalam pengaruh trauma akan masa lalu itu, masih tetap punya ambisi tinggi untuk membujuk Putri agar mau mengugurkan kandungannya. Dia tidak bisa memikirkan apa yang Putri rasakan. Yang ada dalam pikiran Abian itu hanyalah, takut kehilangan Putri dengan cara yang sama. Hanya itu-itu saja.


Malam ini, mereka makan malam bersama setelah satu minggu tidak melakukan kegiatan rutin yang biasanya mereka lakukan selama menjadi pasangan suami istri lahir batin. Namun, suasana canggung sangat terlihat dari keduanya. Baik Putri maupun Abian, keduanya terlihat enggan buat bicara. Sampai pada akhirnya, Abian memberanikan diri untuk memulai.


"Put, ada yang ingin aku bicarakan sama kamu. Ini tentang rumah tangga kita berdua."


"Katakan saja. Aku siap mendengar apapun yang mas Abi bicarakan. Termasuk, jika mas Abi bicara soal perpisahan, aku juga siap mendengarnya."


"Astaghfirullah, Put. Aku gak niat pisah sama kamu kok. Jangankan niat buat pisah, niat bicara soal itu aja nggak. Terbesit buat pisah sama kamu saja tidak ada sedikitpun dalam benak ini, Putri."


"Lalu, mau bicara soal apa? Soal anak yang aku kandung lagi, Mas? Kamu ingin apa lagi? Ingin minta aku bunuh anak kita lagi? Nggak! Aku nggak akan melakukan hal itu. Karena aku masih waras."


Abian terdiam. Sendok yang dia pegang, dia genggam erat karena merasa kesal akibat tidak punya peluang buat bicara soal hal yang sangat penting menurut dirinya.

__ADS_1


"Put ... aku ingin kamu pikir ulang soal resiko itu."


"Resiko apa, Mas! Resiko punya anak maksud kamu? Iya begitu?" Putri berucap dengan nada tinggi karena mulai terpancing emosi.


Sementara Abian yang mendengar ucapan itu, merasa semakin tidak punya nyali buat bicara. Yang bisa dia lakukan hanya diam sambil menundukkan kepalanya saja.


"Jika iya soal anak yang ingin kamu bahas. Calon anak ini tidak keberatan jika aku mengandung, bahkan melahirkan tanpa papa di sampingnya. Bahkan, jika kamu tetap ingin membunuh anak ini, Mas. Maka aku siap pisah dari kamu. Karena aku tidak keberatan menjanda karena anak ini."


"Putri! Ngomong apa kamu, ha?"


"Ngomong soal kenyataan yang sedang aku alami. Kalo kamu gak mau terima anak ini sebagai anak kamu, maka aku tidak akan keberatan, apalagi memaksa itu sama sekali tidak akan pernah aku lakukan."


Menyadari kalau istrinya ingin pergi, Abian segera berucap, "mau ke mana kamu, Put?"


"Pulang ke rumah orang tuaku. Karena di sana, aku yakin kalau anak ini pasti akan diterima dengan sangat baik. Meskipun di sana tidak ada papanya, tapi dia pasti akan bisa hidup bahagia."


"Jangan pergi, Put! Kamu tidak bisa meninggalkan kamu sendirian di sini. Kamu istri aku, Putri."

__ADS_1


"Kenapa tidak bisa, Mas? Aku sedang hamil anak kamu. Kamu minta aku bunuh dia. Lalu, kenapa kamu bilang aku tidak boleh pergi? Kamu saja sangat kejam pada darah daging mu sendiri. Bagaimana aku bisa tetap tinggal di sini?"


"Tolong jangan pergi. Dan, maafkan aku atas apa yang sudah terjadi. Tetaplah di sini, Putri. Aku akan berusaha mengobati rasa takut yang aku alami. Tolong jangan tinggalkan aku, atau hidupku akan semakin berantakan karena kepergian kamu."


Putri terdiam sambil memperhatikan wajah suaminya yang sedang tertunduk. Sejujurnya, dia sangat kasihan dengan apa yang Abian alami saat ini. Tapi, dia juga tidak bisa lemah menghadapi Abian. Karena jika dia lemah, maka Abian juga akan terkurung dalam trauma masa lalu buat selama-lamanya.


Abian tidak salah. Hanya saja, dia yang terlalu terbawa emosi sampai lupa akan segala yang terjadi di dunia ini adalah kehendak yang maha kuasa. Tidak ada manusia yang bisa melawan kehendak sang pencipta.


Putri sudah membulatkan tekad untuk membuat Abian sadar. Kalau apa yang Abian rasakan saat ini itu adalah kesalahan besar yang harus segera dia sadari. Dengan begitu, Abian bisa segera kembali pada sifatnya yang dulu lagi.


"Mas, aku tidak akan pergi. Tapi kamu harus berjanji padaku, kalau kamu tidak akan pernah meminta aku melakukan hal yang tidak masuk akal seperti mengugurkan anak ini lagi. Jika kamu setuju, maka aku akan tetap tinggal di rumah ini bersama kamu."


"Aku janji, Put. Tapi tolong, jangan paksa aku buat bersikap seperti biasa. Setidaknya, sampai aku bisa mengobati dan menghilangkan trauma yang sedang aku hadapi sekarang."


"Aku maklum. Dan aku paham dengan apa yang kamu inginkan. Aku tahu kamu butuh waktu buat menghilangkan trauma itu, Mas."


"Terima kasih banyak sudah memahami aku, Put. Aku akan berusaha sebaik mungkin," ucap Abian tanpa senyum di bibirnya. Karena sejujurnya, apa yang dia rasakan saat ini adalah rasa takut yang masih sangat besar.

__ADS_1


Makan malam yang berantakan itu akhirnya usai juga. Mereka memilih kembali menjauh dengan jarak yang mereka buat. Abian tinggal di kamar tamu, sedangkan Putri tinggal di kamarnya.


__ADS_2