
"Huh .... Gak papa, bik. Lagian, aku yakin kalau mas Abi juga gak akan peduli kok sama keadaan aku. Dia gak akan ambil pusing dengan apa yang terjadi sama aku. Tapi, takutnya, dia akan marah karena aku bikin ulah dengan memberi dia kabar yang menurutnya tidak penting."
"Bibi rasa, tuan Abian gak gitu kok, non. Dia gak akan marah. Karena walau bagaimanapun, tuan Abian itu masih punya hati yang cukup baik. Bibi yakin itu."
"Huh ... entahlah, bik. Aku juga tidak tahu sebaik apa hati mas Abian sebenarnya. Karena sepertinya, semua kebaikan hati yang dia miliki itu sudah dia habiskan buat mantan istrinya seorang. Tidak ada yang tersisa lagi untuk orang lain, contohnya untuk aku."
"Sabar, non Putri. Bibi yakin, kalau Tuan Abian pasti akan berubah baik kembali kok, non. Bibi juga berharap, kalau tuan Abi bisa kembali seperti dulu lagi. Seperti saat dia masih bersama dengan almarhumah istrinya, nyonya Tiara."
"Apa mas Abian sangat baik waktu bersama mbak Tiara, Bik?"
"Iya, non. Cukup baik. Eh, bukan cukup, tapi sangat. Sangat baik sekali. Hari-hari penuh cinta, penuh kebahagiaan karena mereka penuh dengan keromantisan."
Putri terdiam mendengarkan ucapan bi Titin barusan. Dalam hati dia berucap, 'mampukah aku menyusup masuk ke dalam hati Mas Abian? Hanya masuk saja, tidak untuk menggantikan mbak Tiara yang mungkin memang tidak akan pernah bisa aku ganti. Jangankan mengganti, menggeser sedikit saja posisinya juga adalah hal yang sedikit tidak mungkin buat aku.'
Putri masih terdiam walaupun mobil mereka sudah berhenti beberapa menit yang lalu. Bi Titin yang awalnya ingin ikut diam, tapi pada akhirnya, dia berpikir, kalau dia juga ikut diam, mungkin mereka akan tetap di dalam mobil sampai sore menjelang.
"Non. Gak ingin turun sekarang ya? Apa mau istirahat dulu?" tanya bi Titin sambil menyentuh lembut tangan si majikan.
"Eh, apa kita sudah sampai, Bi?" tanya Putri seperti orang linglung saja.
"Iya, non. Kita susah sampai beberapa menit yang lalu. Tapi ... non Putri sepertinya sedang melamun. Jadi gak sadar deh kalo kita udah nyampai."
"Ah, maafkan aku, Bik. Aku agak pusing, makanya gak ngeh kalo kita udah sampai," ucap Putri sambil memegang kepalanya.
"Ya sudah, non. Ayo masuk! Biar non Putri bisa istirahat secepatnya."
"Iya, bik."
Putri pun turun dengan di bantu oleh bi Titin seperti sebelumnya. Saat mereka ingin beranjak masuk ke dalam rumah, bi Titin tiba-tiba menghentikan langkah kakinya. Otomatis, langkah bi Titin yang terhenti, membuat langkah Putri juga ikut berhenti.
"Ada apa, bi? Kenapa berhenti sih?"
"Itu ... bukannya itu mobil tuan Abi ya, Non?"
__ADS_1
Kata-kata itu membuat Putri langsung melihat ke mana mata bi Titin melihat. Iya, di garasi, dia menemukan mobil suaminya terparkir indah.
"Iya. Itu emang mobil mas Abian. Kok udah pulang aja jam segini? Tumben."
"Mungkin dia .... "
"Ah, gak mungkin kalau dia pulang karena aku, bik. Pasti ada perlunya ini dia pulang siang-siang begini. Ya udahlah ya. Gak usah di pikirkan. Ayo! Langsung masuk aja deh," ucap Putri memotong cepat ucapan bi Titin. Karena dia tahu apa yang ingin bi Titin katakan sebelumnya.
Tidak punya pilihan, dan tidak ingin membuat hati majikannya merasa terganggu, bi Titin langsung mengikuti apa yang Putri katakan. Masuk ke dalam sambil membantu memapah Putri dengan penuh hati-hati.
Saat bi Titin mendorong pintu tersebut, Abian ternyata sedang menarik pintu itu untuk membuka. Akhirnya, pintu yang di tarik dengan tenaga yang lebih kuat membuat bi Titin kehilangan keseimbangan. Malangnya, karena tidak seimbang dia terjatuh dengan membawa Putri bersamanya.
Melihat hal itu, Abian dengan sigap menahan tubuh Putri agar tidak terjatuh ke lantai. Sedangkan bi Titin, nasib malang menghampiri dia. Dia terjatuh ke lantai dengan posisi tersungkur.
"Aduh!"
Keluhan itu menyadarkan dua insan yang saling berpelukan beberapa detik yang lalu. Sikap reflek yang entah kenapa bisa terjadi, membuat keduanya saling tatap dengan posisi yang saling berpelukan dengan jarak yang sangat-sangat dekat.
Tapi sayangnya, keluhan dari bi Titin menjadi pengganggunya. Keduanya langsung melepas pelukan secepat mungkin.
"Bibi gak papa kok, Tuan Abi. Maaf, bibi sudah bikin masalah buat barusan."
"Gak papa, bik. Gak masalah kok."
"Oh ya, non Putri gak papa, kan? Apa non baik-baik saja?" Bi Titin bertanya dengan suara cemas.
"Aku gak papa kok, bik."
"Beneran kamu gak papa?" Abian pula berucap.
"Iya. Gak papa," ucap Putri dengan nada kesal yang terdengar juga ada nada kecewa di dalamnya.
Setelah berucap, Putri ingin langsung meninggalkan Abian. Namun, Abian dengan cepat menahan tangannya agar tidak pergi.
__ADS_1
"Apa lagi?" tanya Putri semakin kesal.
"Kenapa harus marah padaku? Bukankah tidak ada yang salah?"
"Aku tidak marah. Hanya sedikit kesal. Kenapa menahan tanganku? Lepaskan! Aku ingin segera masuk kamar untuk istirahat."
"Tidak harus kesal juga hanya karena tanganmu aku tahan. Aku menahan tanganmu hanya ingin membantu saja. Kamu sedang tidak baik-baik saja. Jadi, biar aku bantu ke kamar."
"Tidak .... "
Ucapan Putri tiba-tiba di sambut cepat oleh si bibi. Bi Titin yang berharap hubungan keduanya semakin membaik, langsung menjadi mak comblang saat melihat kesempatan.
"Nah, benar apa yang tuan Abi katakan. Non Putri sedang tidak sehat. Kakinya cedera parah. Dia tidak bisa berjalan tanpa bantuan. Jika dia tetap melanggar apa yang dokter katakan, maka cedera yang dia alami akan semakin parah."
"Bi Titin." Putri berucap kesal.
Tapi sayangnya, ucapan itu sama sekali tidak diindahkan oleh si bibi yang sedang punya semangat yang menggebu-gebu buat membantu memperbaiki hubungan kedua majikannya.
"Non Putri juga butuh istirahat total, tuan Abi. Tidak bisa menggunakan kakinya untuk sementara waktu. Jadi .... "
"Bibi ...! Sudah ya. Aku gak papa. Benar-benar gak papa. Ditya itu emang selalu berlebihan. Aku gak papa, dia malah sibuk sendiri."
"Siapa Ditya?" tanya Abian reflek langsung menanggapi apa yang Putri katakan.
"Ditya itu, teman dokternya non Putri, tuan Abi."
Abian langsung melihat ke arah Putri.
"Kamu punya teman dokter?"
"Yah, aku punya. Ah, ya sudahlah. Tidak perlu di bahas lagi. Aku mau ke kamar sekarang, tolong lepaskan tanganku yang kamu tahan sejak tadi," ucap Putri sambil melihat tangannya yang masih Abian pegang.
"Aku antar kamu ke kamar."
__ADS_1
"Tapi .... "
Belum sempat Putri menyelesaikan ucapannya, Abian langsung menggendong Putri. Tanpa bicara, juga tanpa basa-basi. Hal itu membuat Putri kaget sampai tidak bisa berkata-kata. Dengan wajah yang merona merah, dia berusaha menahan degup jantung yang berdetak tak karuan. Lebih cepat dari biasanya.