
Kandungan Putri sudah semakin membesar sekarang. Semakin membesarnya kandungan itu, bukan tambah semakin membuat Abian sadar akan kesalahan, eh ... dia malah merasa semakin ketakutan.
Hari-hari yang dia lewati penuh dengan rasa takut. Namun, walaupun begitu, perhatiannya pada Putri, semakin besar. Dia selalu memperhatikan Putri walau tidak menunjukkannya secara langsung.
Abian memang tidak tinggal satu kamar dengan Putri. Tapi, dia memasang cctv secara tersembunyi di kamar sang istri untuk mengawasinya dari jarak jauh. Dia juga memasang alarm di pintu kamar mandi, pintu kamar, juga jendela.
Sengaja dia lakukan itu untuk tahu, jika istrinya keluar kamar, atau masuk kamar mandi. Jadi, dia bisa selalu tahu apa yang istrinya lakukan di kamar itu. Memperhatikan dari jarak jauh mungkin bisa membuat Abian merasa cukup tenang. Makanya, dia melakukan hal itu untuk menunjukkan kalau dia sayang pada Putri.
Perhatian, memang tidak harus di perlihatkan. Abian merasa senang melakukan hal itu. Dia juga selalu memberikan, atau memenuhi apapun yang Putri inginkan. Seperti saat Putri ingin makan bakso pada malam hari. Mana hujan lebat lagi. Abian langsung berangkat mencari apa yang istrinya ingin makan.
Yah, walaupun dia hanya mencarikan saja. Sedangkan yang memberikan bakso tersebut adalah bi Titin. Dan yang dapat nama juga bi Titin. Abian sungguh tak keberatan dengan semua itu. Malahan, dia bahagia melakukan semua itu tanpa Putri ketahui.
__ADS_1
Bukan hanya bersedia mencarikan apa yang Putri inginkan. Abian juga tak jarang masuk ke kamar yang Putri tempat jika saat malam. Tepatnya, dia sering melihat Putri jika sedang tertidur.
Seperti yang dia lakukan sekarang. Dia masuk ke kamar Putri setelah memastikan istrinya sudah terlelap dari rekaman cctv yang dia hubungkan ke ponsel miliknya.
Abian masuk ke kamar tersebut, lalu menatap Putri selama beberapa saat. Kemudian, baru dia mencium lembut pucuk kepala istrinya sambil membelai rambut Putri dengan penuh kasih sayang.
"Jangan tinggalkan aku, Put. Aku sungguh tak sanggup jika harus kehilangan lagi."
"Calon anakku yang baik. Tolong jangan nakal ya, Nak. Jangan bikin mama kamu sulit, apa lagi jika harus membuat dia menderita. Tolong jangan lakukan itu ya anakku sayang. Karena mama kamu sudah sangat menderita saat ini, nak."
Terdiam selama beberapa saat, Abian akhirnya memutuskan untuk beranjak meninggalkan kamar tersebut. Namun, ketika dia bangun, dia tak sengaja melihat ponsel dan buku harian yang masih berada di atas nakas.
__ADS_1
Merasa penasaran, Abian langsung mengambil buku tersebut. Karena selama ini, dia sering melihat Putri menulis di dalam buku tersebut. Namun sayangnya, dia tidak bisa melihat apa yang Putri tulis. Lagipula, dia juga tidak ingin tahu karena menurutnya, apa yang Putri tulis mungkin hanya sekedar tulisan pelepas bosan saja.
Abian pun membuka buku tersebut. Membaca tulisan yang dia lihat saat pertama kali membuka lembaran buku tersebut.
Dia merasa sedih saat tulisan dari buku itu siap dia baca. Bagaimana tidak? Isi dari tulisan itu adalah, kesedihan yang Putri alami saat dia diabaikan oleh suaminya.
'Ya Allah, aku suami yang memang tidak bertanggungjawab. Bisa-bisanya aku abaikan dia yang sedang mengandung anakku,' kata Abian dalam hati sambil menutup mulutnya karena tidak ingin tangisan yang dia tahan terdengar oleh Putri yang sedang tidur.
Abian langsung membaca lembaran-lembaran buku yang lainnya. Hatinya sungguh tersayat sedih saat lembaran-lembaran itu dia baca. Rasa sesal yang teramat kuat kini memenuhi seluruh hatinya. Karena dia baru menyadari, kalau dia adalah manusia paling egois selama ini. Bukannya berjuang bersama sang istri yang paling dia cintai, tapi dia malah membuat istrinya menderita sendirian.
Sangking menyesalnya Abian, tanpa sadar, dia menangis tersedu-sedu. Tangisan keras yang membuat Putri yang sedang tertidur itu sampai terbangun.
__ADS_1
"Mas Abian." Putri berucap sambil menggerjapkan matanya yang terasa masih berat akibat batu bangun tidur.