
Kata-kata itu membuat Abian merasa jengkel dan sangat kesal. Dia tidak ingin pergi, walau suster belum melakukan apa yang Aditya perintahkan. Karena sesungguhnya dia tahu, orang yang tidak berkepentingan yang Aditya katakan itu tak lain hanyalah dia.
"Kau tidak bisa mengusir aku dari ruangan ini, dokter. Karena aku tidak akan meninggalkan istriku jengkal pun."
"Maaf, mas. Tolong patuhi apa yang dokter kami katakan. Karena ini demi kebaikan kita bersama."
"Kebaikan apanya? Dia minta aku keluar. Apa dia tidak tahu kalau aku ini adalah suami dari wanita yang sedang berbaring itu?"
"Jika kamu suaminya, maka segeralah keluar. Karena aku tidak akan menolong istrimu jika kamu tetap berada di ruangan ini. Apa kau mengerti?" Aditya angkat bicara dengan nada tinggi karena kesal.
Abian yang mendengarkan ucapan itu, semakin dibuat naik darah saja. Tapi sayangnya, dia tidak bisa melakukan apapun selain mengikuti apa yang Aditya katakan. Demi istri yang sangat dia cintai, maka dia akan mengalah kali ini.
"Aku akan keluar! Jika terjadi sesuatu pada istriku, maka kau juga akan ikut menerima akibatnya. Karena apapun yang terjadi dengan Putri, sekarang tanggung jawab kamu."
Selesai berucap kata-kata yang penuh dengan nada ancaman, Abian langsung beranjak meninggalkan ruangan tersebut. Sementara Aditya, dia hanya bisa menarik napas berat lalu melepaskan dengan kasar.
"Maafkan aku, Put. Aku tentu hanya bicara bohong saja barusan. Karena tidak akan mungkin, seorang Aditya akan membiarkan kamu menderita sendirian." Aditya berucap lirih sambil mulai melakukan tugasnya.
"Kau harus baik-baik saja, Putri. Aku harap, aku tidak terlambat."
__ADS_1
Kurang dari lima menit kemudian, Aditya meminta salah satu susternya untuk menyiapkan ruangan operasi. Karena kondisi Putri sekarang, sudah cukup memprihatinkan.
"Baik, Dok. Saya akan siapkan sekarang juga," ucap suster tersebut.
Lalu kemudian, dia langsung meninggalkan kamar itu dengan terburu-buru. Saat suster tersebut keluar, Abian yang sudah menunggu pintu kamar itu terbuka sejak tadi. Tentu saja langsung menghampiri suster itu untuk menanyakan bagaimana dengan kondisi Putri saat ini.
"Suster, bagaimana keadaan istri saya? Apa dia baik-baik saja? Izinkan saya masuk sekarang juga, Sus!"
"Kondisi pasien sedang tidak baik-baik saja. Maaf, Mas. Anda masih tidak di perbolehkan masuk ke dalam. Karena kami akan memindahkan pasien ke ruang operasi sekarang juga."
"Apa! Ru--ruang operasi! Kenapa? Apa yang salah dengan istriku? Kenapa dia harus di pindahkan ke ruang operasi, suster?"
Tidak berdaya. Abian hanya bisa terduduk lemas di atas kursi tunggu depan ruangan tersebut. Saat ini, dia benar-benar merasakan ketakutan akan kehilangan lagi. Trauma itu kembali muncul dalam ingatan Abian.
"Tidak ...!" Abian berteriak keras sambil menutup kedua telinganya.
Teriakan itu membuat penghuni rumah sakit yang mendengar langsung kaget. Mereka sontak memusatkan perhatian pada Abian dengan tatapan penuh dengan tanda tanya.
Kebetulan, saat Abian menangis ketakutan, Aditya keluar dari kamar itu bersama susternya. Dengan membawa Putri tentunya.
__ADS_1
Melihat keadaan Abian yang terbilang cukup memperihatinkan, Aditya yang kesal dengan Abian sebelumnya, langsung mengubah perasaan kesal yang dia miliki. Mendadak, dia merasa kasih pula pada Abian yang sedang ketakutan itu.
"Bawa pasien ke ruang operasi duluan. Aku akan menyusul segera."
"Baik, dokter."
Suster itu melakukan apa yang Aditya katakan dengan cepat. Setelah suster beranjak, Aditya langsung menghampiri Abian dengan menyentuh pelan bahu laki-laki yang sedang tertunduk dengan seribu kesedihan itu.
"Dia akan baik-baik saja. Jangan menangis. Karena itu tidak akan menyelesaikan masalah."
Abian sontak langsung mengangkat wajahnya untuk melihat orang yang sedang bicara barusan. Saat tahu itu adalah Aditya, dia langsung bangun. Lalu, dia cengkram kedua bahu Aditya dengan keras.
"Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi dengan dia! Kenapa dia harus di bawa ke tuang operasi segala?"
Aditya mengerti akan rasa yang sedang menyelimuti hati Abian saat ini. Karena dari sorot mata Abian sekarang, dia sungguh sedang dalam ketakutan yang dalam.
"Dia tidak akan apa-apa. Maaf, aku tidak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada dia saat ini. Karena aku harus segera menolongnya."
"Kau bohong! Kalian semua pembohong! Aku tidak percaya apa yang baru saja kau katakan! Kalian pembohong!"
__ADS_1