
Hening seketika. Mereka semua memilih diam dengan pikiran masing-masing. Sementara Putri, dia memendam rasa bersalah dalam pelukan Abian suaminya.
Sementara itu, di sisi lain. Tepatnya di kamar mewah seorang perempuan. Seorang laki-laki paruh baya sedang mengetuk pintu kamar tersebut secara kasar.
"Sebentar!" ucap seorang gadis yang terdengar baru bangun dari tidur nyenyak.
Gadis itu adalah Merry. Sedangkan yang mengetuk pintu kamarnya itu adalah papanya. Ketua gangster yang selama ini berkuasa di dunia hitam kota tersebut.
"Apa saja yang kamu lakukan, Merry! Kenapa lama banget buat bukain pintu buat papi, ha?"
"Aku tidur, Papi. Capek tahu gak? Lagian, ini masih subuh juga. Masa iya, papi udah bangunin aku aja jam segini, Pi."
"Enak banget kamu tidur nyenyak, Merry! Sudah bikin ulah, dan bikin aku berada dalam masalah, kamu malah enak-enak tidur sekarang."
Merry langsung menatap papinya dengan tatapan penuh tanda tanya. Sejujurnya, dia menang tidak mengerti dengan apa yang papinya katakan barusan.
__ADS_1
"Papi ngomong apa sih?" tanya Merry sambil melebarkan matanya yang terasa masih lengket akibat bangun tidur.
"Kau bikin ulah. Anak buah kita tertangkap sekarang. Semua jadi kacau gara-gara ulah kamu yang semena-mena memakai anak buah ku tanpa izin dari aku. Sekarang juga, bereskan semua pakaianmu jika ingin selamat dari jeratan hukum. Jika tidak, maka tetap tinggal di sini samapi polisi datang."
"Apa maksud papi? Papi ingin pergi? Tentu saja aku ikut. Itu sebenarnya bukan salah aku, Pi. Anak buah papi aja yang tidak bisa di andalkan dalam melakukan tugas."
"Masih membantah! Jika begitu, aku tinggalkan saja kamu di sini. Urus urusanmu sendiri jika kamu masih keras kepala."
"Papi .... Ah! Jangan tega begitu sama anak sendiri. Aku akan lakukan apa yang papi katakan," ucap Merry sambil bergegas masuk ke dalam kamar kembali.
Saat polisi datang, tidak ada satu bukti pun yang bisa mereka temukan. Rumah itu bersih dari semua tuduhan. Bahkan, para polisi dikecoh kan dengan pemilik rumah yang sama sekali tidak ada sangkut paut dengan Merry juga papanya.
Luar biasa pintar ketua gangster itu. Dalam waktu yang sangat singkat, dia bisa menyiapkan segalanya. Sebenarnya, itu bukan hal yang luar biasa. Hanya saja, selaku ketua gangster ternama yang selalu lolos dari jeratan hukum, papi Merry punya sikap yang selalu waspada. Selalu berhati-hati dan selalu memikirkan semua kemungkinan. Makanya, dalam waktu singkat, semua bisa dia atasi dengan mudah.
_____
__ADS_1
Hari sudah siang ketika Aditya dapat kabar kalau penangkapan yang polisi lakukan tidak membuahkan hasil apapun. Dengan perasaan yang sangat kesal, Aditya berusaha bersikap tenang saat kabar itu dia dapatkan.
Mau bagaimana lagi, coba? Polisi saja tidak bisa menemukan tersangka. Jangankan buat menemukan orangnya, jejak tersangkanya saja tidak ada sama sekali.
Aditya langsung datang ke rumah sakit pelita untuk menemui Putri yang sekarang melanjutkan perawatan di rumah sakit tersebut. Dengan wajah yang dipaksakan sangat tenang, Aditya melangkah masuk ke kamar tersebut.
Sontak saja, kedatangan Aditya di sambut tatapan bersalah oleh Putri. Karena memang, menurut apa yang Aditya dengar dari Abian, Putri sangat-sangat merasa bersalah saat tahu kekacauan yang terjadi tadi malam.
"Put .... "
"Ditya. Bagaimana keadaan, suster Icha? Apa dia baik-baik saja sekarang? Katakan padaku kalau dia baik-baik saja. Aku tidak ingin jika dia kenapa-napa, Dit." Putri berucap dengan suara cemas.
"Sayang, tenang ya. Biarkan Aditya bicara nanti. Sekarang, biarkan Aditya melepas lelahnya dulu. Dia baru tiba."
"Mas Abi. Aku gak bisa tenang, Mas. Kamu tahu kan, aku sangat-sangat cemas. Dan karena rasa bersalah ini, aku hampir tidak bisa bernapas dengan baik, Mas."
__ADS_1
"Put. Kamu harus tenang. Pikirkan kondisi kamu yang masih belum stabil. Soal suster Icha. Dia baik-baik saja. Operasi yang dia jalani tadi subuh, berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan. Sekarang, dia masih belum sadar karena masih dalam pengaruh obat juga karena kehilangan banyak darah. Selain itu, tidak ada yang serius dari dia."