
“Assalamu’alaikum....” semua mata menoleh ke sumber suara.
“Mama...” ucapnya pelan dengan wajah pucat.
Mamanya berjalan menuju berangkar gadis itu.
“Ya Tuhan, buk kepsek ngapain kesini?” batin gadis itu
“Bagaimana keadaan juara kelas?” tanya mamanya sambil mengusap kepalanya.
“Sudah membaik bu.” Jawabnya segan.
“Bro, kok nyokap lo malah datangin dia?” tanya Andrew heran.
Raffa diam-diam berjalan menuju pintu ruangan untuk keluar.
“Raffa.” Ucap mamanya.
“Gawat.” Batinnya.
“Kamu harus tanggung jawab, udah buat Shanum celaka.” Ucap mamanya.
Ia tidak berani menjawab ucapan mamanya, tetap berdiri di depan pintu.
“Kita perlu bicara.” Ucap mamanya.
“Kamu cepat sembuh ya Shanum, nanti ibu suruh orang buat antar buah untuk kamu. Tadi nggak sempat.” Pamit pada Shanum dan menarik tangan Raffa.
****
Gadis itu berjalan menuju sebuah rumah yang begitu mewah dan megah dengan halaman yang luas serta taman bunga yang indah. Ia melihat seorang wanita yang menatapnya.
Karena penasaran, ia mendekati wanita itu. Ternyata bundanya, ia memeluk wanita di depannya.
“Bunda, Shanum rindu.” Ia meneteskan air mata.
“Bunda juga rindu sayang, bagaimana keadaanmu?” tanya bundanya.
“Shanum baik-baik saja bun, akhir-akhir ini Shanum banyak mengalami kecelakaan.” Ucapnya.
“Itu cobaan sayang, hadapi dengan lapang dada ya sayang.” Ucap bundanya.
Bunda mengajaknya keliling rumah yang mewah itu dan menunjukkan fungsi-fungsi setiap ruangan di rumah itu.
“Ini kamar kamu bersama suamimu sayang, kamu suka?” tanya bunda. Sebenarnya ia ingin menyanggah kata-kata SUAMI. Tapi ia melihat bunda begitu bahagia setelah mengucapkan kalimat itu.
“Mari masuk sayang, lihatlah ini ada cincin yang indah untukmu.” Bunda mengambil sebuah kotak biru yang birisi cincin dengan permata bintang warna biru.
“Untuk siapa ini bunda? Indah sekali.” Ucapnya.
“Untuk kamu sayang, jangan lepaskan cincin ini ya. Apapun yang terjadi pertahankan ya sayang.” Bunda memeluknya.
“Bunda sebentar lagi akan pergi, hati-hati ya sayang. Jangan lupaa doakan ayah dan bunda.” Ucap bundanya perlahan menghilang.
Ia menangis kehilangan sang bunda sambil memegang erat cincin itu.
__ADS_1
“Diy, kamu kenapa?” Dea menggoyangkan tubuhnya. Ia menangis dalam tidurnya ternyata kenyataan.
“Kenapa nangis ha?” tanya Dea sambil mendekatinya.
“Mimpi buruk?” tanya Ulya. Ia hanya mengangguk.
“Semoga pertanda baik untukmu ya Diy.” Ucap Pina
“Ceritain dong.” Ucap Dea. Akhirnya Shanum menceritakan mimpinya.
“Bau-bau ketemu jodoh nih.” Goda Dea.
“Masih SMA, perjalanan masih jauh.” Ucapnya.
****
Raffa.
Mama marah untuk kesekian kalinya, apalagi melibatkan gadis yang ia sebut-sebut sebagai juara kelas. Semua bukan kehendak gue, semua terasa mengalir seperti air susah sekali dibendung.
“Mulai hari ini dan seterusnya kamu jauhi dia.” Ucap mama.
Ya Tuhan, mama memintaku menjauhi dia.
“Kamu dengar? Atau kamu harus pindah sekolah sekarang juga.” Kali ini mama benar-benar serius dengan ucapannya.
“Ma, gak ada cara lain selain itu?” tanyaku.
“Atau mama bakal lapor sama papa kalau kelakuan anaknya begini, membuat orang lain menderita.” Ucap mama.
Gue belum siap untuk menjauhi dia, siapa lagi yang akan melindungi dia selain gue. Eheh percaya diri banget gue.
Dan bodohnya dia dan sahabatnya masih dekat dengan Satria, apa coba maksudnya. Gue minta Farid untuk nyuruh dia jauhin Satria. Gue nguping pembicaraan mereka.
“Aku tahu siapa Satria, aku ngelakuin ini semua untuk menjaga dia. Supaya Satria juga gak curiga kalau aku udah tau siapa dia. Aku hanya meminimalkan pertengkaran, bisa jadi kalau aku jauhin dia, dia bakal nyerang Raffa lagi. Udah cukup dia ngerasain sakitnya.” Ucapnya dengan air mata yang berlinang.
“Kalau ada apa-apa, lo bisa kasih tau gue atau yang lain. Lo ingat itu.” Farid berlalu meinggalkannya.
Gue baru tau ternyata dia juga mikirin gue, jadi GR banget rasanya.
Seminggu ini gue beneran lihat dia dari jauh aja, semakin gue jauhin dia rasanya makin sesak perasaan gue. Penegn banget dekat ama dia, jalan bareng kaya waktu dia minta antar pulang sama gue, lindungin gue sampai dia jatuh pingsan.
Tapi gue bakal bujuk mama supaya menarik keputusannya, karena kasiankan hati gue ngerasain sakita hati terus lihat dia dekat ama Satria.
****
“Diy, Raffa benaran gak ada rasa sama kamu?” tanya Dea.
“Ada rasa gimana sih Ja, dia Cuma bantuin aku waktu kejadian itu.” Jawabnya.
“Tapi kali ini beda lo Diy, dia panik banget saat kamu pingsan. Yang buat kami kesel malah dia yang jagain kamu trus kepala kamu ditaruh di pahanya,.” Balas Pina.
“Uya, udah ya gak usah bahas itu lagi.” Cegahnya.
“Akhir-akhir ini kok dia gak kelihatan.” Sambung Dea.
__ADS_1
“Dahlah kalian bahas itu mulu.” Ia pura-pura ngambek.
“Kan ngambek, jangan ngambek dong. Kami janji gka ngomongin itu lagi.” Bujuk Dea.
****
Raffa dan gengnya masih sering mendapat tantangan dari geng Srigala, tapi mereka sengaja terus menolak, melihat bagaimana respon geng tersebut
“Raffa kok akhir-akhir ini kamu jarang keluar kelas?” tanya Sonia.
“Gue lagi gak mood, udah lo pergi sana.” Ucapnya.
“Gimana ama cwek kampungan yang digosipin sama kamu?” pancingnya.
“Lo bisa dengar gak, gue bilang pergi ya pergi.” Ia emosi.
Sonia cs keluar dari ruangan dengan kekesalan.
“Salah siapa ngatain gadis gue.” Batinnya kesal.
Makan malam kali ini lumayan berbeda dengan hari lain karena papanya pulang dari luar negeri.
“Mama sudah cerita banyak tentang kamu Raffa, papa juga kecewa sama kelakuan kamu. Mama sama papa pindahin kamu supaya bisa berubah, nyatanya masih sama bahkan melibatkan seorang wanita.” Ujar papa.
“Pa, maafin Raffa udah ngecewain mama sama papa. Tapi Raffa gak pernah berniat bawa dia ke masalah Raffa pa, semua terjadi begitu saja.” Belanya.
“Aapa kamu bersedia pindah sekolah lagi, sebelum masuk akhir semester ganjil.” Ucap papa.
“Pa, Raffa janji gak ngulangin kesalahan Raffa lagi. Kasih Raffa kesempatan yah pa. Plesase.” Pintanya dengan ekspresi berharap.
“udah berapa kali dikasih kesempatan, kamu masih seperti ini juga.” Ujar papa.
“Raffa janji pa, ini kesempatan terakhir.” Bujuknya.
“Baiklah, kalau kamu mengulangi kesalahan yang sama, mama sama papa berhenti sampai disini biayain sekolah kamu.” Ancam papa.
“Raffa bersedia pa, Raffa janji.” Jawabnya bahagia.
“Siapa wanita yang terlibat denganmu?” tanya papa.
“Dia bukan siapa-siapa pa, bahkan Raffa baru kenal dengan dia.” Ia berusaha menutupi perasaannya.
“Wanita seprti apa dia, sampai-sampai putra papa rela berkorban demi dia.” Pancing papa.
“Pa, bukannya Raffa berkorban pa. Tapi Raffa merasa bersalah sama dia, masa gara-gara salah paham, orang satu kelas mengira Raffa ada hubungan apa-apa sama dia.” Belanya.
“Kalian memang tidak ada hubungan apa-apa, tapi perasan adakan?” deg, papa begitu paham dengan putranya.
“Papa ngaco deh, Raffa gak ada rasa pa sama dia.” Masih menghindar.
“Papa gak larang kamu dekat sama siapa saja, yang penting kamu harus tanggungjawab dengan perasaanmu.” Papa menepuk pundaknya dan berlalu.
“Haduh kok papa bisa tahu kalau aku suka sama dia, malah pake nyindir segala lagi.” Batinnya.
Ia menyalakan tv dan melihat sinetron tentang nikah muda.
__ADS_1
“Nikah,,, gimana kalau gue nikah aja sama dia.” Kali ini ide gilanya muncul.
Bersambung.