RAFFASHA

RAFFASHA
Pernyataan Shanum


__ADS_3

“Lo tuh udah ketularan virus bucin tau gak.” Ucap Farid.


“Siapa yang bucin?” tanya seseorang dari belakang mereka.


Dia Satria yang datang mengganggu ketenangan keduanya.


“Lo nguping pembicaraan kita?” tanya Farid emosi.


“Santai bro, gue gak bakal sebarin ini ke yang lain dengan satu sarat.” Tantang Satria.


“Lo jangan macam-macam ya.” Bentak Farid.


“Udah bro, kita layani aja dulu apa maunya.” Jawab Raffa.


“Lo,,,” ia menunjuk Raffa. “Harus jauhi Diya.” Ucapnya.


“Lo gak berhak melarang gue buat dekatin dia, kalau lo berani kita duel.” Tantang Raffa.


“Oke, kalau gue menang jangan pernah lagi lo dekatin dia.” Ucapnya.


“Deal, gue tunggu lo besok sore di lapangan basket belakang taman.” Jawabnya.


“Gue gak takut sama lo.” Kemudian ia berlalu.


“Sial.” Ia frustasi dengan ajakan Satria.


“Lo benaran serius mau nantangin dia?” tanya Farid.


“Apapun gue lakuin buat dia.” beranjak dari tempatnya berdiri.


****


Shanum


Pagi ini aku berangkat lebih pagi dari yang biasa, sepertinya Raffatidak terlihat di bus ini. Tapi ada laki-laki berjaket hitam duduk di sampingku, aku secepat mungkin beranjak dari duduk ku untuk pindah ke kursi lain.


Saat aku menoleh ke belakang, ternyata dia sudah ada di belakangku. Aku khawatir apa lagi yang terjadi setelah ini, aku tidak berani meminta tolong pada yang lain. Aku terus maju ke arah depan tepatnya dekat pintu.


Kulirik lagi ke belakang, ada seorang siswa di belakangku. Aku lumayan lega saat itu, aku bersusah payah untuk memberi kode pada laki-laki di belakangku agar tidak mau beranjak dari tempat berdirinya.


Aku menyenggol sepatunya dengan punggung sepatuku. Ia mengangkat alisnya pertanda bertanya.


“Jangan biarkan laki-laki berjaket hitam itu menggambil posisimu.”


Ucapku berbisik. Ia tak paham maksudku. Kemudian menoleh kebelakangang dan melihat laki-laki itu di belakangnya. Ia hanya menganggukkan kepala pertanda paham. Alhamdulillah, saat ini aku lumayan lega.


Bus berhenti di depan sekolag, aku buru-buru turun dan berlari masuk ke pekarangan sekolah. Aku melihat laki-laki itu tak mengikutiku lagi. Ia berjalan entah ke arah mana.


Karena terus melihat ke belakang aku tidak sadar menabrak seseorang, ternyata Raffa. Ia tak berbicara padaku, bahkan berlalu begitu saja. Padahal aku berniat untuk meminta maaf padanya.


“Diy...” satria memanggilku dari belakang.


“Ya ada apa ?” tanyaku.


“Aku mau ngomong sesuatu sama kamu, ku anggap ini sangat penting.” Ucapnya.


"Apa itu?” tanyaku penasaran.


“Ini tentang Raffa.” Ucapnya.

__ADS_1


“Lalu?” tanyaku cuek.


“Raffa mengajakku taruhan, kalau aku menang aku boleh dekatin kamu dan kalau aku kalah aku diminta untuk jauhin kamu.” Ucap Satria.


“Apa? Raffa bilang begitu sama kamu?” aku sebenarnya meragukan kata-kata Satria.


“Serius aku gak boong.” Jawabnya. “Kalau kamu gak percaya kamu bisa datang nanti sore ke lapangan belakang taman, kami duel disana.” Ucapnya.


Aku gak tau mau jawab apalagi, selama ini Raffa sudah melindungiku dari orang-orang misterius itu.


“Yaudah aku ke kelas dulu.” Jawabku singkat.


Rasanya aku gak bersemangat lagi menuju kelas, apa yang kurasakan saat ini?. Kenapa Raffa menjadikan aku bahan taruhannya. Padahal selama ini ia sangat baik padaku tanpa sepengetahuanku. Aku melihat Farid berjalan di depanku.


“Farid.” Aku memanggilnya dengan sedikit berlari mensejajarkan langkahku dengannya.


“Ada apa dengan Raffa?” tanyaku tiba-tiba.


“Maksud kamu?” tanyanya lagi.


“Em, gak jadi. Aku duluan ya.” Ya aku jadi orang tergaje sepanjang masa. Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi, aku tidak bisa langsung membencinya.


“Maksud lo apasih, gue gak ngerti?” tanya Farid mendahuluiku dan menghalangi jalanku.


“Ng-nggak ada.” Ucapku khawatir dia bertanya banyak hal padaku. Aku ke kelas dengan buru-buru.


Pulang sekolah aku melihat Raffa dan Farid menuju taman yang dimaksud Satria, aku kepo apa yang sebenarnya terjadi. Saat aku berjalan menuju taman, aku melihat Satria bersama beberapa orang preman yang menyandraku waktu itu.


Aku bersembunyi diantara mobil yang terparkir di pinggir jalan itu, salah satunya karena khawatir kejadian itu terulang lagi dan alasan lainnya ingin mendengar percakapan mereka. apa hubungan Satria dengan mereka.


Satu hal yang membuatku sadar, salah seorang diantara mereka memanggil Satria dengan sebutan BOS. Ya Tuhan, permainan apa lagi yang akan mereka lakukan?. Mereka berlalu dari sana, aku berjalan secepat mungkin menuju lapangan tersebut.


Lelah sekali buru-buru seperti ini, tapi aku khawatir terjadi sesuatu padanya. Astagah aku baru sadar, kenapa aku harus sepeduli ini? Ah, sekali-sekali gapapa. Sekalian membalas jasanya saat menyelamatkan sidupku waktu itu.


Keduanya menoleh penuh tanda tanya ke arahku.


“Shanum? Lo ngapain kesini?” Farid mendekatiku dan berdiri di hadapanku.


“Em, aku-aku.” Aku ragu mau bilang apa.


“Apasih, mending lo pulang karna disini bahaya.” Ucapnya.


“Aku mau bicara sama Raffa.” Ucapku singkat.


Ia berlalu mendekati Raffa. Aku gak tau Farid bicara apa padanya tapi ia datang mendekatiku.


“Ada apa?” tanyanya. Dingin banget, ngeselinlah pokoknya.


Aku menoleh padanya, untuk pertama kalinya aku melihat bola mata laki-laki ini. Ya Tuhan ingin rasanya aku melelh saat ini juga. Tapi bukan waktunya aku harus kasih tau dia tentang Satria.


“Aku minta antarin pulang.” Haduh, kok gak masuk akal ya cara mengalihkan dia untuk pergi dari tempat itu.


“Maksud lo?” ia tidak paham.


“Uang saku ku habis, lupa bawa ATM, aku minta bantuan kamu buat antarin aku pulang.” Semoga ia percaya dan mau ngantarin aku.


“Diantar Farid.” Ucapnya kemudian berlalu.


“Aku mau diantar kamu.” Ucapku agak kuat karena dia udah jalan beberapa meter.

__ADS_1


Kulihat ekspresi Farid, dia ngakak. Bikin malu banget kan. Tapi gapapa demi kebaikan dia.


“Yaudah kalau gak mau, aku jalan kaki aja.” Aku pura-pura merajuk dan berjalan cepat-cepat. Salah satunya karena malu dan sok-sok manja dekat Raffa.


Terdengar suara motor mendekat ternyata beneran Raffa. Kalian tau? Jangtungku tiba-tiba berdegup kencang, aku spechles.


“Ayo.” Ajaknya lembut. Aku rasa jadi pasangannya saat ini.


Aku naik ke motornya menghilangkan semua keragua di hatiku, pokoknya saat ini aku harus bawa dia pergi. Tapi bagaimana dengan Farid, untungnya Farid ngekorin kami.


“Aku mau bilang sesuatu.” Ucapku.


Ia tak menjawab, sumpah aku dikacangin. Ternyata dia berhenti dulu di sebuah warung nasi yang tidak jauh dari sekolah. Diikuti oleh Farid. Farid memesankan menu 3 porsi tanpa bertanya apa menu yang ku mau. Tapi gak masalah, makan gratiskan.


Aku salah ambil tempat duduk, ia malah duduk tepat di hdapanku.


“Kamu mau bilang apa Shanum.” Tanya Farid, duduk di sampingku.


“Em, tentang Satria.” Jawabku.


“Lo suka sama Stria ya?” tanyanya. Anak ini blak-blakan juga ternyata udah kaya si Fizha aja.


“Bukan itu.” Jawabku.


“Lo mau bilang apasih, dari tadi pagi gak jelas gitu. Atau lo suka sama Raffa.” Ia bertanya sambil tertawa. Ya Tuha, anak ini gak tau suasana. Aku malu banget dia nanya itu, melirik sedikit laki-laki di depanku. Dia malah lihat ke arahku, mata kami bertemu pandang. Huaaaaaaa.


“Gak ush ladeni Satria.” Ucapku.


“Lo takut ya Satria kenapa-kenapa?” tanya Farid.


“Farid.” Tegur Raffa. Barulah ia diam dan menyerumput es teh yang baru saja dihidangkan.


“Aku khawatir sama Raffa.” Ya Tuhan keceplosan macam apa lagi ini?.


“Uhuk,” Farid batuk mendengar ucapanku, yang masih belum ku ralat.


“Maksud kamu apa? bilang aja kamu khawatir sama dia. Ngapain kamu bawa-bawa namaku?” ia berlalu begitu saja dan mengendarai motornya. Ni anak benar-benar nyebelin.


Farid siap-siap untuk mengekorinya.


“Farid, please dengarin penjelasan aku dulu.” Ucapku.


“Apalagi sih?” tanyanya.


“Tadi aku lihat Satria bersama geng musuh kalian. Aku yakin mereka ada kerja sama, aku gak mau Raffa kenapa-kenapa.” Ucapku.


“Lo serius? Lo tau darimana kalau dia bakal duel ama Satria?” tanya Farid.


“Satria yang ngasih tau.” Ucapku.


“Yasudah, makasih infonya. Gue nyusul Raffa dulu.” Ia berlalu, aku melanjutkan makanku di warung itu.


****


Farid


Shanum jujur banget tadi ngomongnya, sepertinya dia juga ada rasa sama Raffa. Tapi tuh anak-benar-benar menghilang, udah gue cari ke lapangan malah nggak ada.


Raffa juga sih yang salah, baper banget sama kata-kata si Shanum. Ginikan jadinya, apalagi Satria dan gengnya sudah pasti siap-siap menghadapi Raffa. Tiba-tiba dari belakang seperti ada yang menabrak motor gue, gue kehilangan kendali dan tidak tau apa yang terjadi setelah itu.

__ADS_1


****


Bersambung


__ADS_2