RAFFASHA

RAFFASHA
Cucu Menantu


__ADS_3

Nenek mendengar kabar bahwa cucu menantunya masuk rumah sakit, ia mengajak Kayla untuk berkunjung ke kota.


“Bentar ya bunda, Kayla telpon Kila dulu. bentar lagi mau sampaikan bun.” Kayla mencari kontak keponakannya di ponselnya.


“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.” Ponsel Kila tidak aktif.


“Bun, Ponsel Kila nggak aktif bun. Oh ya kita telpon mertua Kila aja ya bun.” Ucapnya.


“Nggak usah nak, telpon Dean atau Pina saja. Mana tau mereka sibuk di rumah sakit.” Usul bundanya.


“Heheh, Ila lupa bun.” Jawabnya.


Kayla menelpon nomor Pina tidak aktif juga, nomor terakhir yang ia telpon yaitu Dean.


“Alhamdulillah aktif bun.” Girangnya.


“Assalamu’alaikum Dean.” Ucapnya.


Kayla menyampaikan bahwa sebentar lagi mereka akan sampai di terminal terdekat.


Disisi lain Dean dan Pina sedang piket di kelas sepulang sekolah, ia merogoh ponselnya berdering. Ternyatapanggilan dari Bibi Kayla.


“Iya bi, ini kami jalan ke terminal bi. Jangan kemana-mana dulu ya bi.” Ucap Dean.


“Apa, bibi sama nenek kesini Dean?” tanya Pina tidak percaya.


“Iya Pina, yok cepat selesaikan nyapunya. Nenek sama bibi Kayla sudah hampir sampai terminal, Takutnya mereka nunggu lama lagi.” Ucap Dean.


“Okeh siap.” Keduanya sepat menyelesaikan tugas menyapu mereka.


Pina dan Dean sudah melaju menuju terminal, baru saja sampai disana mobil yang biasa datang dari kampung baru saja sampai disana. Mereka mencari keberadaan nenek dan bibi.


“Dean itu nenek sama bibi.” Ucap Pina. Keduanya berlari-lari kecil menuju nenek dan bibi Kayla.


“Nenek, bibi.” Teriak keduanya agar mereka tidak kehilangan karena banyaknya orang di terminal.


Nenek dan bibi mendengar suara memanggil mereka, mereka menoleh pada sumber suara dan tersenyum melihat dua gadis SMA yang menuju arah mereka.


“Akhirnya nenek sama bibi ketemu juga.” Ucap Dean sambil bersalaman diikitu oleh Pina.


“Maafkan bibi ya merepotkan kalian, pasti cape pulang sekolah, tadi udah nelpon sama Kila tapi nggak aktif.” Ucap Kayla.


“Biasa aja kok bi, mungkin Diya lupa cas Hp karena semalaman ada di rumah sakit.” Jelas Pina.


“Yaudah nek, bi ayo kita pergi disini panas banget.” Ucap Dean basa-basinya.


Mereka mengajak Nenek dan bibi langsung ke rumah sakit tempat Raffa dirawat.


“Ibu, kapan datangnya kenapa nggak ngasih kabar.” Ucap mama Raffa yang baru saja pulang dari musholla.


“Baru saja sampai, kami takut merepotkan saja. Kalian pasti sangat sibuk merawat Raffa disini.” Ucap nenek.


“Mari buk masuk! Kila, Raffa sama yang lain ada di dalam.” Ucap mama.

__ADS_1


“Ayo Dean, Pina udah kaya orang lain saja pake diajak-ajak segala.” Ucap mama.


“Siap bu boss, kami mau sholat aja dulu. tadi pulang sekolah langsung piket trus jemput bibi sama nenek.” Ucap Dean.


“Yaudah, habis itu kesini lagi ya. Tadi udah dibeliin makan siangnya juga.” Ucap mama.


“Iya bu. Kami ke musholla dulu bu.” Ucap Pina, keduanya meninggalkan tempat tersebut.


Shanum terkejut melihat nenek dan bibinya sudah datang.


“Nenek? Bibi? Datang kenapa nggak bilang sama Kila?” tanyanya sambil memeluk nenek dan bibinya bergantian.


“Nenek mau lihat cucu menantu nenek, semalam Kila bilangkan kalau Raffa sedang dirawat di rumah sakit.” Ucap nenek.


“Nenek gitu, bibi juga nggak ada kasih kabar.” Rengeknya.


“Bibi yang nggak kasih kabar atau Sha yang nggak lihat Hp.” Goda Kayla.


“Astagah bi, HP Kila lupa dicas. Maaf ya nek, bi.” Ucapnya merasa bersalah.


“Nggak apa-apa, untung tadi Dean sama Pina bisa jemput ke terminal, nenek kan mana tau daerah sini.” Balas nenek.


Nenek dan bibi berjalan ke arah ranjang Raffa yang sedang istirahat setelah makan siang dan minum obat.


“Semoga cucu menantu nenek cepat sembuh ya, kasian cucu nenek yang satu ini nangis terus.” Ucap nenek.


“Kila nggak nangis kok nek.” Kilahnya.


“Nek, bibi udah mulai jahil sama Kila.” Rengeknya.


“Yasudah ngobrolnya dilanjutin nanti ya, kita makan siang dulu.” ajak mama.


“Kebetulan, nenek udah masakin makanan kesukaanya Shanum.” Ucap bibi sambil mengambil bungkusan dari dala tas bawaannya.


Mereka makan bersama di ruangan itu, ada mama, nenek, bibi Kayla, Shanum dan Naura. Sedangkan yang lain masih sibuk dengan urusan masing-masing.


***


Kayla membuang sampah bungkus nasi keluar ruangan, kebetulan El sedang duduk di kursi tunggu ruangan Raffa.


“Kayla? Kau kapan datang?” tanyanya.


“Mmm, belum 3ama kok.” Ucapnya sambil duduk di kursi yang sama.


“Kok nggak ngabari, kalau nggak tadi aku jemput ke terminal.” Ucap El.


“Nenek mau lihat cucu menantunya, makanya kami langsung berangkat tadi pagi setelah Shanum ngasih kabar kalau Raffa masuk rumah sakit.” Ucap Kayla.


“Emang kamu nggak kuliah?” tanya El.


“Nggak, kemaren udah selesai bimbingan tinggal revisian.” Jawab Kayla.


“Kalau mau revisian pake laptop aku aja selama disini.” Tawar El.

__ADS_1


“Nggak usah, aku pake laptop Dean aja nanti katanya mau dibawain kesini.” Ucap Kayla.


“Mana tau aku juga bisa bantu.” Balasnya.


Kayla tertawa mendengar ucapan El, ia merasa ada sesuatu yang berbeda dari cara El berbicara empat mata seperti ini.


Mama keluar dari ruangan, katanya mau cari angin di luar. Pembicaraan keduanya berhenti saat mama keluar dari pintu.


“Yaudah aku masuk dulu ya.” Ucap Kayla. Kayla masuk ke ruang rawat Rafa.


“Mama udah makan?” tanya El mengalihkan suasana.


“Udah, barusan. Gimana perkembangan tugas dari papa?” tanya mama.


“Masih dalam proses ma.” Jawabnya singkat.


“El, mama bukannya nggak suka lihat kamu dekat sama Kayla. Kamu taukan kalau Kayla itu bibinya Shanum, mama takut kamu suka sama dia.” Memang feeling seorang ibu begitu kuat.


El neralih menatap mamanya, ia tidak percaya mamanya begitu tau perasaannya.


“Itu yang jadi masalah ma, El sudah terlanjur suka sama dia ma.” Jujurnya.


Mama tidak dapat jawaban dari ucapan El.


“Oke, besok kamu harus balik ke luar negeri!.” Putus mama.


“Kenapa ma? El masih ada tugas dari papa.” Jawabnya.


“Mama nggak terima penolakan El, mulai besok mama tidak ingin melihat kamu disini lagi.” Ucap mama.


“Ma, El janji nggak bakalan kasih tau siapa-siapa tentang perasaan El ma.” Jawabnya.


“Mama nggak percaya El, dari mata kamu saja sudah terlihat El.” Ucap mama menangis.


“Iya ma, El nggak akan kesini lagi. Tapi El nggak bisa balik dulu sebelum tugas dari papa selesai ma.” Ucapnya.


Mama belum menjawab ucapanya.


“El akan menuntaskan tugas dari papa ma, tapi El nggak akan pulang ke rumah ataupun rumah sakit sebelum mereka balik ke kampung.” Ucap El.


“Baguslah, mulai dari sekarang mama harap kamu sudah menjalankan ucapanmu.” Ucap mama.


Dengan penuh keterpaksaan El berjalan menjauh dari ruang rawat Raffa. Mama melakukan hal itu karena tidak ingin putranya merasakan cinta yang terlarang diantara keduanya.


“Maafin mama El, mama nggak seharusnya sekeras itu sama kamu. Mama tidak ingin perasaan kamu pada Kayla bertambah besar. Karena kalian berdua tidak boleh bersatu.” Batin mama.


Pembaca yang tersayang, semoga suka ya saka ceritanya. Jangan lupa komen ya supaya makin bagus ceritanya 🤗


dan jangan lupa komen juga ya guys...😉


terimakasih🤗


29/11/21

__ADS_1


__ADS_2