RAFFASHA

RAFFASHA
Kabar Baik (2)


__ADS_3

Saat akan berangkat kerja, telpon mama Raffa berdering.


“Telpon dari siapa ma?” tanya papa.


“Dari nenek Shanum pa.” Jawab mama sambil tersenyum.


“Wa’alaikumussalam bu, iya bu.” Jawabnya.


“...”


“Alhamdulillah bu, terimakasih banyak bu.”


“...”


“Baik bu, semua akan kami atur, ibu dan keluarga tunggu saja kedatangan kami 1 hari sebelum hari H.” Ucap mama Raffa.


Kemudian telpon mati pertanda percakapan keduanya selesai.


“Bagaimana ma?” tanya papa.


“Alhamdulillah pa, lamaran kita diterima pa.” Jawab mama bahagia.


“Syukurlah.” Balas papa lega.


“Kita akan mempersiapkan semuanya dengan sembunyi-sembunyi ya pa. Mama takut terjadi apa-apa pada Raffa dan Shanum sebelum kegiatan berlangsung.” Ucap mama.


“Kita pesan semuanya dari kampung Shanum aja ma, papa nggak menjamin kalau cari disini semua akan aman.” Usul papa.


“Papa benar juga, mama setuju.” Jawab mama.


***


Setalah makan malam, papa mengumpulkan keluarganya beserta para asisten rumah tangga.


“Papa ingin memberitahu keputusan keluarga Shanum.” Ucap papa. “Raffa jangan berkecil hati ya, mungkin saat ini lamaran kita belum diterima. Insyaallah dilain waktu kita cobalagi.” Ucap papa.


Kalian tau bagaimana ekpsresi Raffa saat ini, seperti daging tanpa tulang alias lesu tak bergairah. Matanya basah, seperti ingin melepaskan kepenatan hati namun belum waktunya.


“Mungkin kalian belum ditakdirkan untu bersama nak.” Ucap mama.


“Dan untuk bi ima dan pak Kusir, minggu depan akan bertugas membantu persiapan di rumah Shanum. Sedangkan El akan mempersiapkan segala sesuatu terkait dekorasi dan dokumentasi.” Ucap papa.


Raffa yang awalnya sedih dan kecewa berubah menjadi percaya kalau papa dan mama sengaja prank dia.


“Pa.” Raffa mendekati papanya.


“Papa serius lamaran Raffa diterima?” tanyanya.


“Iya nak, lamaran kamu diterima. Insyaalaah minggu depan kalian akan menikah.” Jawab papa.


“Terimakasih pa, terimakasih.” Ia memeluk papanya. Kali ini ia tidak malu menangis dihadapn keluarganya.


Ia beralih ke mamanya, “Terimakasih ma.” Ucapnya.


“Iya sayang, pokoknyaharus dengar nasehat mama sama papa ya.” Ucap mama. Ia mengangguk.


Acara pernikahan akan dilangsungkan pada hari Minggu, terhitung 10 hari sejak mendapat kabar baik dari nenek Shanum.


****


Deana dan Devvina makan di kantin sekolah, karenahari ini Diya belum masuk sekolah.


“Dean, Pina tadi buk kepsek nanyain kalian berdua.” Ucap Sherly.


“Kok bisa?” tanya Pina heran.


“Aku juga heran kenapa bisa. Trus buk kepsek nyuruh kalian ke ruangannya.” Sambung Sherly.


“Ada masalah apa coba?” gerutu keduanya.


“Makasih ya Cher, kami pergi dulu.” ucap Dean.


Keduanya berjalan menuju ruang kepsek dengan kekhawatiran. Sampai di depan ruangan keduanya hanya diam, tidak berani mengetuk pintu.


“Dean ayo dong ketuk pintunya.” Ucap Pina.


“Nggak berani.” Jawabnya.


“Kalau gitu barengan ajan ngetuknya.” Sambung Pina.


Mereka mengetuk pintu, hingga terdengar suara dari dalam ruangan, “Masuk.” Ya itu suara buk kepsek.


Keduanya masuk dan langsung disilahkan duduk oleh buk kepsek.

__ADS_1


“Kaian tau kenapa ibu panggila kemari?” tanya buk kepsek.


“Tidak bu.” Jawab keduanya bersamaan.


“Ibu yakin kalian sudah tau tentang lamaran Shanum.” Ucap buk Kepsek.


“Sudah bu.” Seakan kena osepek. Keduanya setegang itu.


“Kalian tau siapa yang melamar Shanum?” tanya buk kepsek singkat, sabil menatap keduanya.


“Nggak bu.” Lagi-lagi keduanya menjawab bersamaan.


“Ibu ingin kaian merahasiakan ini dari yang lain, karena minggu depan atau dua minggu lagi Raffa akan melangsungkan pernikahan dengan Shanum.” Ucap bu kepsek.


“Raffa?” ucap keduanya bersamaan, dengan nada tidak percaya.


“Iya Raffa. Tujuan ibu meminta kalian kesini agar kalian bisa menemani Shanum saat hari pernikahannya nanti.” Ucap bu kepsek.


“Mau bu.” Jawab Dean, semangat. Rasa tegang keduanya berangsur pulih, heheh.


“Dan sebelum itu, ibu minta bantuan samakalian untuk mengawasi Shanum sebelum hari pernikahan, karena ibu tidak ingin kejadian beberapa hari yang lalu terjadi lagi.” Sambung bu kepsek.


“Iya bu, kami juga tidak kepikiran kejadian yang sama terulang lagi. Padahal hari itu Shanum buang sampah keluar rumah, tiba-tiba saja menghilang.” Cerita Dean.


“Kalian harus jeli melihat suasana, jangan biarkan ia kemana saja sendirian. Ibu juga menyiapkan bodyguard dari kejauhan untuk menjaganya.” Ucap bu kepsek.


“Baik bu, semua perintah akan kami laksanakan.” Balas Devvina.


“Sekarang kalian boleh kembali istirahat.” Ucap bu kepsek.


“Terimakasih bu, kami pamit bu.” Ucap keduanya kemudian berlalu.


Keduanya menuju kelas dan bergabung dengan teman-teman yang lain.


Saat akan pulang keduanya membicarakan hal yang tadi.


“Aku nggak nyangka ternyata calonnya Diya itu Raffa.” Ucap Dean.


“Aku juga nggak nyangka Dean, disisi lain aku bahagia karena ada yang bakal jagain dia. Tapi disisi lain aku juga khawatir kenapa-kenapa sama Diya.” Sambung Pina.


“Iya juga ya, sejak Diya kenal Raffa, banyak sekali kejadian aneh yang menimpanya.” Balas Dean.


“Bu kepsek sayang banget sama Diya, jadi baper deh.” Ucap Pina.


“Pengen juga dong dapat mertua kaya bu kepsek.” Keduanya larut dala kebaperan masing-masing.


“Kalau keseplosan gimana?” tanya Dean.


“Farid bilang, Raffa dan Diya selalu diuntit oleh orang-orang jahat.” Ucap Pina.


“Astagah, mengerikan sekali.” Jawab Dean.


“Makanya kita harus bisa jaga rahasia dan jangan biarkan Diya pergi kemanapun sendirian.” Ucap Pina.


****


Raffa meminta ketiga teman-temannya datang ke rumahnya setelah pulang sekolah.


“Makan siang gue tanggung pokonya.” Ucap Raffa.


“Gue yakin pasti ada kabar baik.” Tebah Denis.


“Iya, gue mau kasih tau bahwa lamaran gue diterima.” Ucapnya.


“Lo serius bro?” tanya Andrew.


“Iya, gue serius.” Jawabnya.


“Bentar lagi nikah dong kalau gitu?” ucap Farid.


“Insyaallah Minggu akadnya, kalian harus datang pokoknya.” Ucapnya.


“Aman bro, tapi kita harus atur strategi dulu sebelum pergi.” Ucap Denis.


“Lo benar, mana tau mereka buntutin kitakan.” Tebak Andrew.


“Ha iya betul.” Balas Andrew.


“Hari Sabtunya udah persiapan tempat, otomatis gue dan keluarga udah berangkat di hari Sabtu.” Ucap Raffa.


“Usulan gue nih, lo jangan berangkat barengan sama keluarga inti tapi berangkat bareng kita sorenya. Gimana kira-kira? Untuk mengurangi kemungkinan besar kecurigaan mereka, kenapa lo sama Shanum liburnya bisa barengan.” Jelas Denis.


“Gue setuju sama Denis.” Balas Farid.

__ADS_1


“Benar juga ya, nanti gue diskusikan lagi sama bokap gue.” Jawab Raffa.


“Satu hal lagi, pastinya kedua sahabat Shanum juga ikut.” Ucap Denis.


“Bentar, biar gue tanya sama Devvina dulu.” ucap Farid sambil mengeluarkan ponsel dari sakunya.


“Cie, bakalan ada yang nyusul ni,” goda Andrew.


“Diam.” Ucap Farid.


Terdengar bergetar panggilan Farid, tidak lama setelah itu Devvina mengangkat panggilannya.


“Ada apa Farid?” tanya Pina sengaja di speakerkan.


“Lo dimana sekarang?” tanya Farid.


“Aku masih di rumah, mau jalan ke rumah Diya.” Jawabnya.


“Lo sama Dean ikut ke acaranya si Raffa?” tanya Farid.


Devvina sepertinya berfikir karena belum ada jawaban.


“Pin, lo dengarkan?” tanya Farid.


“Oh iya, aku dengar. Insyaallah aku sama Dean pergi, rencananya barengan sama Diya pas hari Sabtu sore.” Jawab Pina.


“Gimana kalau kita barengan aja perginya.” Ajak Farid.


“Gini Farid, bukannya nggak mau barengan perginya. Tapi yang jadi masalahnya, Diya nggak tau kalau Raffa yang jadi calon suaminya.” Ucap Pina.


“Lo serius Pin?” kali ini Raffa buka suara.


“Iya, serius.” Jawabnya.


“Trus lo taunya dari siapa kalau bukan dari Shanum?” tanya Raffa.


“Dari bu bos.” Jawab Pina singkat.


“Skak mat, bu bos gercep banget ternyata. Kalian duluan tau dari pada kita.” Balas Andrew.


“Yaudah, nanti kita kabari lagi gimana teknis keberangkatannya.” Ucap


“Iya.” Jawab Pina. Panggilan terputus.


“Kalau gini masalahnya, si Shanum duluan aja perginya takutnya dia kecapean di jalan.” Ucap Denis.


“Apa bedanya sama gue.” Sanggah Raffa.


“Lo udah tahan banting bro, udah dibanting-banting malahan” goda Farid. Ketiganya tertawa bersamaan.


****


Devvina dan Deana pergi ke kontarakan Diya. Ketiganya makan siang bersama.


“Diy, kau yakin berangkat sore Sabtu?” tanya Pina.


“Iya Pina, masa iya aku libur lagi. Udah 5 hari aku izin sakit.” Jawabnya.


“Gini lo Diy, kau butuh istirahat. Kalau berangkat hari Sabtu kan bisa istirahat semalaman, itu maksud Pina.” Sambung Dean.


“Aku juga mikir kaya gitu Dean, tapi aku udah sering libur.” Ucapnya.


“Diy, ini ibadah satu kali seumur hidup, kamu mau diacara nanti kamu kecapena trus pingsan.” Bujuk Pina.


“Betul Diy, meskipun pernikahan ini bukan impian kamu pastinya kamu nggak mua nikah untuk kedua kali kan.” Dean ikut membujuknya.


“Nanti aku pikir lagi. Nenek juga minta aku pulang pas hari Sabtu pagi.” Jawabnya.


Pina dan Dean menginap di kontrakan Diya, kebetulan malam Minggu. Saat mereka asik bercerita terdengar suara mengetuk pintu tanpa mengucapkan salam.


“Diy, siapa ya malam-malam ketuk pintu?” tanya Dean.


“Sst, jangan bersuara. Diya tunggu disini ya, biar aku sama Dean yang lihat.” Ucap Pina.


Keduanya berjalan menuju ruang tengah, ponsel di tangan Pina bergetar pertanda chat masuk lewat whatsapp.


“Pin, kalian jangan keluar rumah. Di luar ada penculik.” Chat dari Farid.


“Ok, terimakasih.” Jawab Pina.


Semakin lama suara ketukan semakian kencang, Pina dan Dean buru-buru masuk ke kamar dan mengunci pintu kamar kemudian mematikan lampu.


“Di luar ada penjahat.” Bisik Pina.

__ADS_1


“Kok seram ya.” Balas Dean.


“Yok tidur,” balas Diya, khawatir.


__ADS_2