
Diy, kamu gak capek tiap hari harus berbagi waktu kaya gini.” Tanya deana.
“Cape gimana sih Dean, aku malah senang punya kegiatan bermanfaat seperti ini setiap hari.” Jawab Diya.
“Kalau sama Diya, gak bakalan ada istilah cape, kan beda sama kamu Dean.” Ledek Devvina.
“Apasih Pina, nanti aku ledekin lagi sama Farid. Mau?” balas Deana tak kalah.
“Ini kebiasaannya nih, debat mulu. Gak cape apa?” tanya Diya.
“Kan Pina duluan yang mancing Diy.” Belanya.
“Yaudah daripada debat mulu mending kita masak mie telor di dalam.” Ucap Diya.
Kedua temannya mengagguk pertanda setuju. Mereka bertiga memasak mie telor, yang menjadi makanan favorit mereka sejak pertama ketemu.
“Diy, aku mau nanya nih. Jawab yang jujur ya.” Ucap Devvina.
“Nanya apasih Pina, kok serius gitu ekspresinya.” Jawab Diya.
“Aku tau nih Pina mau nanya apa.” sambung Deana.
“Kan sok tau.” Balas Devvina.
“Ya taulah, mau nanya tentang tuan Raffakan?” ucap Dean.
“Kok kamu bisa tau sih Dean?” kesal Devvina.
“Udah ketebak dari tadi.” Jawabnya santai.
“Kalian kok jadi bahas masalah Raffa sih?” sambung Diya.
“Ya iya, gimana hubungan kau sama Raffa Diy?” tanya Devvina.
“Jawab yang jujur ya.” Ucap Dean.
“Kalian apa-apaan sih, introgasi aku kaya gitu.” Balasnya.
“Bukan introgasi Diy, kami Cuma penasaran aja. Kan tiap hari ke rumah Raffa tuh, emang gak pernah ngobrol apa-apa gitu.” Tanya Dean dengan keponya.
Diya tertawa mendengar pertanyaan Dean. Membuat kedua temannya bingung melihat tingkahnya yang tidak biasa itu.
“Berarti kalian selama ini udah suuzhon ya sama aku.” Ucapnya.
"Nggak gitu Diy.” Balas Devvina.
Terdengar dering ponsel Diya, “Angkat dulu telponnya Diy, biar kita lanjutin.” Ucap Dean.
“Yaudah aku ke kamar dulu.” ucap Diya.
Ia belalu meninggalkan kedua temannya di dapur.
“Assalamu’alaikum.” Sapa nenek dari seberang sana.
“Wa’alaikumussalam nek,” ia begitu bahagia mengangkat telpon neneknya.
Keduanyasaling bertukar kabar dalam beberapa menit.
“Mienya udah jadi.” Ucap Dean dan Pina, sambil membawanya masngkok mie ke kamar Diya.
“Nelpon siapa Diy, asik banget kayaknya.” Ucap Dean.
“Nelpon nenek.” Jawab Diya.
“Nek, nenek apa kabar?” tanya Pina.
Diya mengalihkan telpon menggunakan speaker, agar keduanya bisa bercakap juga dengan nenek. Setelah beberapa lama bercerita dengan nene, sambil makan mie.
“Syakira, nenek punya kabar baik untuk kamu.” Ucap nenek.
“Kabar apa nek?” tanyanya.
“Mungkin lain kali saja nenek sampaikan, nenek khawatir Kila malu didengar sama Dean sama Pina.” Ucap nenek.
“Tuhkan nenek, gak asik. Masa ada rahasia diantara kita.” Protes Pina, tak terima.
__ADS_1
“Bukan rahasia Pina, tapi nenek belum siap kabar ini diketahui orang banyak.” Ucap nenek.
“Nenek gak asik, kita udah kenal lama loh nek. Lagian kita gak gak bakal bocorin kok rahasianya, janji.” Balas Dean.
Diya yang mendengar ucapan kedua sahabatnya hanya tersenyum.
“Baiklah, nenek berharap Pina dan Dean jaga baik-baik rahasia ini ya.” Ucap nenek.
“Siap nek, kita berdua akan jaga baik-baik rahasia nenek.” Balas Dean.
“Nenek mau menyampaikan kabar apa?” tanya Diya.
“Kila jangan marah ya samanenek, nenek hanya ingin yang terbaik untuk Kila.” Ucap nenek.
"Kok nambah penasaran ya.” Bisik Dean.
“Beberapa hari yang lalu ada keluarga yang datang ke rumah kita, mereka bermaksud melamar Kila.” Ucap nenek.
Seakan dunia bergetar, wajah Diya langsung pucat. Kedua sahabatnya melihat perubahannya.
“Diy, dengar penjelasan nenek dulu ya.” Bisik Pina. Hanya diangguki olehnya.
“Nenek tidak langsung menerimanya Kila, nenek menunggu keputusan Kila.” Terdengar suara nenek agak parau, seperti menahan tangis.
“Jujur nenek begitu percaya pada pemuda yang melamar Kila, keluarganya begitu sopan dan tampak baik Kila. Nenek berharap Kila dapat mendamping hidup yang bisa menjaga Kila kelak.” Kali ini nenek sedang berbicara sambil tersedu.
“Umur nenek sudah tua Kila, siapa lagi yang akan menjaga Kila kalau bukan suami Kila.” Ucap nenek.
Mereka bertiga juga menangis mendengar ucapan nenek.
“Nek, Kila percaya apapun yang nenek putuskan.” Jawabnya tanpa berfikir.
“Kila tidak mau berfikr dulu?,” tanya nenek.
“Tidak nek, Kila percaya sama keputusan nenek. Kila mau melihat nenek bahagia.” Jawabnya.
“Calon Kila meninggalkan sebuah cincin untuk Kila.” Ucap nenek.
“Cincin?” ketiganya bertanya bersamaan.
“Diy, bukannya yang dala mimpi kamu, ada cincin biru muda juga?” tanya pina.
Diya hanya mengangguk pertanda iya, ternyata sesuai dengan mimpinya beberapa waktu lalu.
“Nenek jangan nangis lagi ya nek, Kila percaya kok sama nenek. Apa yang nenek lakuin adalah yang ter baik untuk Kila.” Sambungnya.
“Alhamdulillah Kila, nenek bahagia mendengarnya.” Jawab nenek.
“Bibi Kayla gimana nek?” tanya Kila.
“Bibi juga sudah punya calon, sepertinya Kila duluan ya.” Ucap nenek.
“Bagaimana bagusnya saja nek, semoga ini yang terbaik untuk Kila.” Balasnya.
***
Sebenarnya bukan hal mudah bagi Diya lamgsumg menerimalamaran yang datang begitu saja, ia ingin melihat neneknya bahagia.
Ia juga belum siap menjalani bahtera rumah tangga yang diidamkannya hanya satu kali seumur hidup. Hingga dalam beberapa hari ia mengalami sakit, mungkin karena kecemasannya.
“Diy, udah dong. Jangan dipikirin mulu.” Bujuk Dean.
“Iya Din, jadi sakit gini jadinya.” Sambung Pina.
“Aku gak kepikiran kok, mungkin besok udah bisa masuk sekolah lagi, kalian gak usah berlebihan gitu.” Balasnya.
“Oh ya, aku lupa ngasih tau kalau tadi si Farid pinjam mobilnya si Pina.” Ucap Dean.
“Kok bisa?” tanya Diya.
“Katanya ada misi penting sih, nggak tau juga.” Balas Pina.
“Semoga tidak terjadi apa-apa pada mereka.” batin Diya.
Raffa On
__ADS_1
Beberapa hari ini gue gak lihat Shanum bareng kedua sahabatnya. Sebenarnya gue pengen banget nanyain gimana kabar dia, tapi kalau mereka curiga gimana?.
“Hei bro, melamun ae lo.” Ucap Denis.
“Bukan melamun bro, gue masih nungguin kabar lamaran gue.” Jawab gue.
“Perbanyak doa aja, semoga lamaran lo diterima.” Balas Farid.
“Iya bro, semoga lamaran kerja di kantor bokap lo diterima ya.” Sambung Andrew.
“Lo...” Gue hampir emosi dengar ucapan si Andrew.
Ketika ia memainkan matanya menuju suatu tempat, gue baru sadar ternyata ada seseorang yang dengarin percakapan kami. Untung aja si Andrew begitu jeli.
“Kalau lo udah kerja di kantor bokap lo, kita juga *** eh dong melamar kerja disana.” Balas Farid. Ternyata dia juga paham.
“Siapa tadi yang nguping pembicaraan kita?” tanya Farid.
“Gue tau, sepertinya dia mata-mata baru.” Jawab Andrew.
“Habis ini kita cari tahu siapa dia sebenarnya.” Ucap Denis.
Setelah bel terakhie berbunyi, kami berempat menuju parkiran dan mengikuti gerak-gerik si penguping tadi.
“Lo yakin dia orangnya?” tanya Denis pada Andrew.
“Gue yakin banget, dia sembunyi setelah gue gak sengaja lihat dia ngarahin ponselnya ke kita.” Jawab Andrew.
“Culun menghanyutkan.” Balas Farid.
“Dia bakal curigakalau kita buntutin pake motor, gimana kalau pinjam mobil mama.” Ucap gue.
“Ide bagus bro.” Jawab Denis.
Gue berlari menuju kantor mama untuk meminjam mobil, ternyata mama udah pulang sejak jam 10 tadi. Benar-benar apes kali ini.
“Gimana? Buk bos ada?” tanya Farid. Gue hanya menggeleng, ketiganya ikut pasrah.
“Gimana kalau pinjam mobil sahabat si Shanum.” Ucap Andrew. Saat melihat Devvina dan Dean berjalan menuju parkiran.
“Betul juga ya, tapi siapa yang mau pinjam?” tanya Gue.
“Biar gue.” Jawab Farid, ia berlari menuju dua wanita yang akan menaiki mobil tersebut.
Kai bertiga gak tau apa yang mereka bicarakan, tapi mereka minta diantar dulu ke kost Shanum.
“Gue sama Andrew aja yang antar mereka berdua, lo sama Denis yang ikutin dia.” Ucap Farid.
Kami berdua menyanggupinya. Farid dan Andrew mengantar kedua wanita itu, sedangkan aku dan Denis hampir kehilangan jejak sama tuh anak.
Perjalanan menuju markas mereka lumayan jauh, terlihat mebil yang ia tumpangi berhenti disebuah rumah mewah yang diawasi oleh satpam.
“Sial, kita gak bisa masuk.” Umpat gue.
“Kita tunggu disini dulu. gue yakin markasnya bukan disini.” Balas Denis.
Kita berdua sudah menunggu lebih dari setengah jam, masih belum ada tanda-tanda ia akan keluar dari rumahnya.
“Kita putar balik dulu, mana tau dia punya cctv di sekitar sini.” Ajak gue. Diangguki oleh Denis.
Gue putar balik mobil, setelah beberapa menit terlihat dia keluar dengan motor ninja silvernya dan melaju sangat kencang.
“Gue gak yakin kita bakal nemuin dia, kencang banget lagi.” Ucap gue, sambil memperlambat laju mobil untuk melihat kemana motor tadi melaju.
“Pokoknya kita harus hati-hatu, mana tau ada jebakan disekitar sini.” Balas Denis.
Gue berhentiin mobil di pinggir jalan yang agak sepi untu menanyakan keberadaan Farid dan Andrew.
“Bro, lo cepat kesini! Shanum diculik.” Ucap Farid.
"..."
Jangan lupa Like & komen ya guys...😉
terimakasih🤗
__ADS_1