
"Lo tenang, gue akan bantu bereskan, Raffa bagaima?." tanya denis.
"Dia sedang mencari informasi, bersama anak-anak lain." Jawab Farid.
"Ok, gue otw." Jawab Denis.
Denis tanpa pamit berlalu begitu saja.
Disisi lain, Raffa bersama teman-temannya sudah menuju basecamp geng Kharisma.
"Mana bos lo?" tanya Raffa kepada salah seorang anggota yang ada disana.
"Bos Kharisma sedang keluar kota." Jawabnya.
"Banyak bacot lo an***." Raffa langsung menonjok pria itu
"Udah dibilangin lo malah ngeyel. Sok jagoan lagi " Balas pria yang ditonjok Raffa.
"Lo kasih tau dimana Kharisma atau lo bakal mati." Bentak Raffa emosi.
"Asal lo tau ya, Kharisma udah bilang sama semua anggotanya, mulai seminggu lalau tidak ada lagi musuh yang bernama Raffa." Ucap pria itu
"Bacot, gue nggak percaya." Balas Raffa. "Sekarang surih Kharisma keluar atau basecamp ini akan gue ratakan." Emosi Raffa memuncak.
"Udah Raf, tenang dulu." Bujuk Farid.
"Kalau memang benar Kharisma diluar kota, coba lo telpon." Usul Farid.
Pria itu merogoh ponsel di sakunya. mencari kontak yang bernama bos besar. Ia sengaja mengaktifkan speaker panggilan.
"Apa lagi Deno, gue lagi ada kerjaan ini." Balas Kharisma dari seberang sana.
"Dimana sekarang bos?" tanya yang dipanggil Deno itu.
"Gue baru landing, perjalanan gue masih tau. Kasih tau yang lain juga, gue nggak mau diganggu." Ucap Kharisma.
"Ada informasi terbaru bos." Ucap Deno.
"Gue nggak peduli." Jawab Kharisma kesal sambil memutuskan sambungan.
"Kalian dengarkan, Kharisma benar keluar kota. Ada apa kalian kesini, orangnya nggak ada." Balas Deno.
"Lo tau nggak, Shanum diculik. Selama inikan Kharisma orang yang nggak punya hati " Ucap Andrew.
"Jaga mulut lo ya. Bos gue sekarang lagi ada job besar. Apapun yang terjadi pada keluarga Raffa, bukan urusan Kharisma. Dengar itu baik-baik." Ucap Deno tegas.
"Gini aja, gimana kalau minta bantuan Kharisma untuk cari Shanum." Usul Farid.
"Nggak mungkin Rid." Balas Raffa.
"Kami sih fine aja. Kalau lo pada minta tolong, ya kami tolong. Itu aja sih." Balas Deno.
"Yaudah kalau gitu, kami butuh bantuan." Ucap Raffa.
"Its oke. Gue kabari yang lain dulu kalian sana gih duluan." Ucap Deno.
__ADS_1
Deno kembali menghubungi Kharisma.
"Ban**t, udah gue bilang, jangan ganggu gue." Kesal Kharisma.
"Shanum hilang bos, Raffa kemari cari bos." Ucap Deno.
"Shanum hilang? siapa yang berani melakukan itu? siapa?" tanya Kharisma murka.
"Sedang mereka usahakan bos, Raffa juga minta bantuan kita." Ucap Deno.
"Gue serahin ke elo, semua harua selesai. Gue nggak mau nama gue tercoreng untuk kesekian kalinya." Ucap Kharisma.
"Baik bos." Ucap Deno. Telpon pun terputus.
"****, siapa orang yang berani melakukan itu, akan gue beri pelajaran untuknya." Geram Kharisma.
"Kay, gue nggak akan melukai lo lagi. Kebahagiaan lo juga kebahagiaan gue. Karena lo memang adik kandung gue. Semua yang mengganggu kebahagiaan lo akan gue lenyapkan" Batinnya.
***
Berita Shanum diculik sampai ke telinga nenek, ia menangis memeluk Kayla. Membuat Kayla heran kenapa bundanya menangis.
Nenek hanya beralasan rindu pada Shanum. "Kalau bunda rindu, suruh aja Shanum kesini bunda." Ucap Kayla.
"Biar Kayla telpon Denis ya bun, bawa Shanum kemari." Ucap Kayla. Ia kemudian mencari nama Denis di ponselnya.
"Halo Denis, bunda kangen Shanum. Nanti ajak Shanum kesini ya, sama Raffa juga." Ucap Kayla dengan polosnya.
"Iya, tunggu aja ya." Jawab Denis.
"Terimakasih calonkuh." Ucap Kayla.
Sudah beberapa jam masih belum ada kabar mengenai Shanum. "Ah bangsat. gue lupa sesuatu." Ucap Denis.
"Ada apa bro?" tanya Andrew.
"Lo ingat Denis, dihari Kayla kecelakaan dia ada di rumah sakit yang sama. Feeling gue ini ada hubungannya sama dia." Ucap Denis.
Denis menghubungi Raffa, karena mereka saling berpencar.
"Lo dimana?" tanya Denis.
"Gue di rumah Satria, mau nanya sama mami dia kemana." Jawab Raffa.
"Bagus, feeling kita sama." Balas Denis.
"Kalau sampai dia yang culik Shanum, gue sendiri yang bakal jeplosin dia ke penjara." Ucap Raffa.
"Pokonya kita jalani prosesnya dulu. Jangan gegabah." Jawab Denis.
Raffa bersama yang lain sudah sampai di rumah Satria.
"Mami nggak tau nak, sudah 3 hari dia tidak pulang. Geo juga udah cari dia." Jawab mamanya.
"Ah, kemana dia perginya." Gerutu Raffa.
__ADS_1
"Coba tanya temannya Nak, mami nggak tau sama temannya." Usul Mami.
Raffa semakin kalut ia semakin emosi, "Aaaaa.... siapa yang berani mengambil milik gue." Ucapnya frustrasi.
"Tante Raffa izin istirahat disini dulu ya tante. Kami akan melanjutkan pencarian Shanum." Ucap Farid.
Raffa sudah tergeletak si lantai ruang tamu itu, membuat maminya khawatir dan menelpon mama Raffa.
"Kak, Raffa ada disini kak. Dia sedang istirahat. Katanya Shanum diculik kak." Ucap maminya.
"Astagfirullah anakku. Iya Utari, sebentar lagi saya kesana." Ucap mama Raffa.
Mama Raffa mencari kontak di ponselnya dan menghubungi kontak itu.
"Cari tahu dimana Shanum sekarang. Kabari satu jam kemudian." Perintahnya.
"Siap bos, akan dilaksanakan." Jawab seseorang diseberang sana.
"Raffa, kamu sih sok-sok an mau nikah, bilangnya udah mampu jagain anak orang. Yang ada malah menderita. Bukannya bahagia," Batin mamanya kesal.
Mamanya menuju kediaman kelaurga Satria.
"Tumben nih anak kesini?" tanya mama.
"Nggak tau juga kak, katanya Shanum diculik. Nanya Satria kesini." Jawab Mami.
"Satria kemana?" tanya mama.
"Nggak tau kak. Sudah 3 hari tidak pulang. Saya dan Geo juga tak peduli lagi kak, kmi sudah lelah. Kalau dia di rumah, selalu cari gara-gara." Ucap mami.
"Kamu yang sabar ya, dia memang copyan papanya. Keras kepala tapi nggak ke arah yang baik. Kamu pasti kuat." Mama mengelus pundak mami.
"Selama ini Satria memang lebih dekat dengan almarhum papanya kak. Saya dulu fokus sama Geo yang dulu sering sakit-sakitan. Inilah akibatnya mungkin." Ucap mami.
"Sudah, jangan berkecil hati. Kita lihat saja sampai dimana Satria bisa mencelakai Shanum." Ucap mama.
"Maksud kakak, Satria yang menculik Shanum?" tanya Mami tak percaya.
"Satria bukan anak baik Utari. Sudah banyak kasusnya di sekolah, hanya saja saya yang bertanggung jawab atasnya. Sebab itu semua Permasalahanny tidak pernah sampai si rumah ini." Ucap Mama.
Mami yang mendengar itu menangis menyesal, kenapa selama ini dia tidak tahu bagaima putranya di luar sana.
"Sudah kesekian kali Satria terlibat dalam geng yang ingin menghancurkan Raffa dan Shanum. Raffa sudah meminta saya untuk memberikanya pelajaran. Tapi Satria juga anak saya, saya tidak tega mengeluarkannya dari sekolah." Ucap mama.
"Kak, apapun itu tentang Satria, tidak usah kakak pikirkan lagi. Kalau dia ketahuan berbuat kekerasan, beri dia pelajaran kak, saya salah, saya salah mendidik anak saya." Tangis mami.
"Sudah ya, kita fokus pada Shanum.Semoga dia baik-baik saja. Jika mamang kali ini Satria terlibat, jangan salahkan saya akan menjebloskan dia ke penjara sebagai pelajaran untuknya." Ucap papa.
"Terserah kakak, Saya sudah lelah kak." Jawab mami.
Ponsel Mama berdering. Panggilan dari seseorang
"Iya ada apa?" tanya mama.
"Sudah ada titik terang bos........".
__ADS_1
Bersambung
23/12/22