RAFFASHA

RAFFASHA
Keluarga Satria


__ADS_3

Laki-laki itu berjalan menuju supermarket terdekat dengan berjalan kaki. Ia membelikan titipan sang mama membeli bahan untuk membuat kue.


"Maaf, aku nggak sengaja." Ucap si laki-laki tak sengaja menyenggol seorang wanita hingga barang bawaannya berserak.


"Iya nggak apa-apa." Jawab si wanita.


Laki-laki itu membantu si wanita mengemaskan barang yang berceceran di lantai.


"Sekali lagi maaf ya." Ucap laki-laki. "Oh ya kenalin nama gue Geo, nama lo siapa?" tanyanya.


"Gue Delisa, yaudah kalau gitu gue langsung cabut ya. Terimakasih." Ia kemudian berlalu membawa belanjaannya keluar dari supermarket.


"Harusnya tadi gue nanya tempat tinggalnya." Sesal Geo, kemudian ia pun kembali ke rumahnya.


"Maaf ma, Geo agak lama. Ngantri soalnya." Ucap Geo.


"Iya sayang, nggak apa-apa. Bantuin mama ya. Semoga bundamu suka sama kue buatan mama." Ucap mamanya.


"Geo yakin, bunda bakalan suka ma. Ulang tahun yang lalu bunda suka bangetkan ma." Ucap Geo.


"Iya ya, mama jadi lupa." Ucap mamanya tertawa kecil.


Keduanya membuat kue dengan kompak, kue tersebut akan diberikan kepada bundanya yaitu kakak almarhum papanya.


"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga." Ucap mama dengan bahagia.


"Ternyata bagus juga ya ma, Geo juga mau buat kue kaya gini dong lain kali." Ucap Geo.


"Ma, mamam." Teriak seseorang dari luar.


"Kebiasaan abang teriak-teriak pulang sekolah." Gumam Geo kesal.


"Mama lagi ngapain sih?" tanya si abang.


"Ini mama lagi buat kue untuk bunda kamu." Ucap mamanya.


"Mama kenapasih masih baik sama mereke? mereka sudah mengambil hak kita mah, ini lagi buat kue segala. Mereka orang kaya ma, nggak butuh kue kaya beginian." Laki-kaki itu dengan enteng melempar kue ke lantai.


"Satria!!." Bentak mamanya dengan mata yang berlinang. "Bagaimanapun mereka adalah keluarga kita, hak mana lagi yang kamu maksud ha?? kakek sudah memberi hal kita, besar kecilnya pemberian itu bukan kehendak kita. Kamu taukan Bagaimana almarhum papamu berambisi menguasai semua harta kakek? taukan kamu? atau kamu juga seperti itu? jawab Satria! jawab!" Kali ini hilang kesabaran mamanya.


Geo di samping mama susah payah menenanglan sang mama dengan menggenggam tangan mamanya.


Mama berlalu begitu saja dari dapur, kedua adik kakak yang memiliki kepribadian yang sangat berbeda itu saling pandang.


"Lo puas lihat mama kaya gitu? lo puas?" Kali ini rasa hormat Geo hilang, ia tak habis pikir dengan sifat sang abang.


"Huh... selalu salah. Gue selalu salah dimata mama." Ujarnya frustasi.


***


Geo melihat pintu kamar mamanya masih tertutup rapat. "Kasian mama, gue mesti lakuin sesuatu. Walaupun tidak bisa menyembuhkan hati mama, setidaknya ada sedikit perubahan." Batin Geo.

__ADS_1


Geo mulai meracik satu persatu bahan kue seperti yang dilakukan oleh mamanya tadi.


Geo memang jago memasak kue ya guys, dia selalu ikut serta memasak kue bersama sang mama sejak kecil hingga sekarang.


"Alhamdulillah selesai. Walaupun tidak mirip, yang penting enak." Ia tersenyum lega. Saat melihat jam dinding menunjukkan pukul 6 sore. Geo bergegas mempacking kue buatannya dan bersiap untuk mandi.


Azan magrib sudah berkumandang, Geo masih belum melihat tanda-tanda mamanya akan keluar dari kamar.


"Ma, sudah hampir jam 7 loh ma. Bunda udah telpon Geo daritadi." Ucap Geo dari luar. Masih belum ada sautan dari mamanya.


"Ma, Geo uda nunggu mama dari tadi ma. Mama masih siap-siap ya ma, biar Geo tunggu di bawah ya ma." Ucapan sang anak mengubah pemikiran mamanya. Mama bersiap-siap untuk pergi bersama Geo ke acara ulangtahun kakak iparnya itu.


"Cekrek." Suara pintu kamar mama terbuka. Geo ternyata duduk di depan pintu kamar mamanya, memastikan mamanya baik-baik saja.


"Ayo sayang kita berangkat, maafin mama ya. Kita jadi terlambat." Betapa lembutnya hati sang mama, dalam suasana seperti itu masih sempat meminta maaf.


Geo tersenyum lega melihat mamanya tersenyum, keduanya berangkat mengendarai mobil menuju rumah bunda.


"Ini apa sayang?" tanya mama saat Geo membawa sebuah kotak saat keluar dari mobil.


" Geo buat kue lagi ma, spesial untuk bunda." Ucap Geo tersenyum. Mama tidak menjawab ucapan Geo, mata mama berkaca-kaca.


"Ayo ma, kita masuk." Ucap Geo.


Keduanya masuk ke rumah mewah itu. Sudah banyak tamu yang berdatangan.


"Utari, Akhirnya datang juga. Dari tadi ditelpon2 nggak diangkat." Ucap Wanita yang dipanggil bunda itu.


"Satria nggak ikut Geo?" tanya bundanya.


"Kurang tau juga bun, tadi pas kesini dia nggak ada di rumah." Balas Geo.


"Yaudah, ayo masuk. Makan malam bersama ya. Mumpung semuanya pada kumpul." Ucap bunda.


"Mami," Teriak seorang remaja kecil.


"Naura sayang, Makin cantik aja ya sekarang." Ucap mama Geo.


"Mami sih, sombong banget. Jarang datang kemari, nggak tau mami ya kalau Ura tu kangen sama mami." Ujar Naura dengan nada manjanya.


"Sekali-sekali Naura dong yang datang ke rumah kakak." Geo menimpali.


"Nggak mau ah. Kak Satria galak, Ura nggak mau kesana, Ura juga nggak mau teman sama kak Satria. Sama kak Geo aja." Ucap Naura.


"Nanti lagi ya sayang ngobrolnya, Mami sama kak Geo diajak makan malam dulu." Ucap mamanya.


"Iya ma, Siap mamaku. Yok mi kita masuk." Naura menggandeng lengan maminya menuju ruang makan.


"Mami, mami apa kabar?" tanya Raffa.


"Alhamdulillah, anak mami makin dewasa aja sejak nikah ya." Ucap maminya.

__ADS_1


"Mami tau aja, ini mi istri aku. Shanum." Ucap Raffa memperkenalkan istrinya.


"Cantik ya nak, sholehah pula. Semoga hubungan kalian makin langgeng ya sayang." Ucap mami.


"Terimakasih mami, mari duduk mami." Ajak Shanum ramah.


Mereka makan malam bersama sebelum acara ulangtahun mama dimulai.


"Sudah lama Utari tidak kemari ya pa, terakhir 2 tahun lalu." Ucap mama pada papa saat melihat tamu yang silih berganti berdatangan.


"Iya ma, sekarang usahanya semakin maju. Justru semakin sibuk." Jawab papa. "Oh ya Satria nggak ikut ma?" Sambung papa.


"Nggak pa, anak itu memang keras kepala seperti ayahnya. Jauh beda dengan Geo, udah pintar, sopan, patuh lagi sama orangtua." Ucap mama.


"Semoga saja Satria bisa berubah ya pa. Mama juga nggak tau dia dapat cerita itu darimana. Lihatlah Utari, dari dulu fine aja sama keluarga Kit." Ucap mama.


"Satria sedang masa mencari jati diri ma, suatu saat dia akan berubah, mungkin jauh lebih baik daripada Raffa yang sekarang." Ucap papa.


"Aamiin, semoga saja ya pa." Ucap mama.


"Bunda, ini ada kue buatan Mama dan Geo untuk bunda." Ucap Geo.


"Terimakasih ya sayang. Geo memang the best kalau urusan kue. Bunda mendukung sekali, yakan Utari." Ucap bunda.


"Terimakasih bunda, tapi kak Satria selalu bilang itu bukan pekerjaan laki-laki bun." Ucap Geo pesimis.


"Udah nggak usah dengarin Satria ya, kalau geo mau. Bunda bantu buka usaha kue, Geo yang kelola dibantu sama mama."Ucap bundanya.


"Nggak usah kak, Geo masih kecil." Tolak mamanya halus.


"Geo mau kok ma." Ucapnya pasti.


"Tuhkan, Geo aja mau. Ndak masalah Utari, sekalian belajar bisnis dianya. Yakan nak." Ucap bunda.


"Iya bunda, terimakasih ya bunda." Ucap Geo.


"Sama-sama sayang, dimulai dari nol dulu ya usahanya. Nanti dibantu sama bang Raffa." Ucap bunda.


Geo bahagia mendengar tawaran bundanya, selama ini ia tidak pernah terfikir ide brilian itu.


Terdengar suara bertepuk tangan tidak jauh dari mereka mengobrol.


"Kak Satria." Geo orang pertama yang melihat penyebab sumber suara itu. Semua mata tertuju pada laki-laki yang berjalan dengan sombong itu.


Pembaca yang tersayang, semoga suka ya sama ceritanya. Jangan lupa komen ya supaya makin bagus kedepannya🤗


dan jangan lupa like juga ya guys...😉


terimakasih🤗


21/12/22

__ADS_1


__ADS_2