
Kayla terbangun dari tidurnya, ia melihat sekelilingnya. "Ini bukan rumahku, bukan rumah Raffa, bukan rumah Dean. Ini dimana?" Ia melihat dari kaca jendela.
Ternyata tempat itu sangat tinggi, bisa jadi di apartemen atau rusun.
"Siapa yang membawaku kesini?"Batinnya khawatir.
"Bunda, bukannya aku tadi sama bunda?" ia bertanya layaknya orang yang kehilangan arah.
"Ini sudah malam," Ia mengetuk-ngetuk pintu keluar. Tapi tidak ada jawaban.
Perutnya berbunyi, ia sudah lapar. Ternyata sejak tadi pagi ia belum makan. Ia mencari sesuatu yang bisa dimakan dengan mengelilingi rumah itu.
"Alhamdulillah, ia menemukan roti kering dalam toples. Setelah makan roti itu ia mulai mengantuk, ngantuk berat.
"Ngantuk sekali aku?" ia kembali merebahkan tubuhnya di ranjang itu.
Setelah ia terlelap seorang pria datang ke lamar itu. Mengambil beberapa foto kemudian berlalu keluar.
"Ini fotonya bos." pesannya.
"Bagus, lakukan tugas kalian dengan baik." Pesan si bos.
Kemudian si bos mengirim pesan pada seseorang.
"Apa lo bisa melawan gue? by: Kharisma." isi pesan itu.
***
Raffa dan keluarganya masih dalam kekhawatiran. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, belum ada kabar dari Denis.
"Harusnya gue ikut." Gumam Raffa.
"Kita tunggu saja kabar dari Denis. Mama percaya sama anak itu." Balas mama.
Sebuah pesan masuk ke whatsapp Raffa.
"Apa lo bisa melawan gue? by: Kharisma." Isi pesan itu.
"Bangsat lo Kharisma. Ternyata lo penghianat." Raffa melemparkan HP nya.
"Ada apa dengan Kharisma?" tanya papa.
"Dia yang menculik bibi pa." Jawab Raffa.
"Tenang ya bang, jangan kaya gitu. Kita belum dapat buktinya bang." Ucap Shanum.
"Kharisma anak Wijaya kan. Mama nggak yakin kalau dia yang culik, buktinya beberapa hari lalu Mama Kharisma datang ke rumah sakit tempat Kayla." Jawab mama.
"Mama nggak tau, selama ini Kharisma yang buat masalah ma. Shanum jadi sasaran itu gara-gara Kharisma ma." Ucap Raffa dengan nada tinggi.
"Kharisma anak Wijaya kan?" tanya Papa.
"Iya pa." Jawab Raffa dengan nada merendah.
***
Kayla terbangun ia melihat sudah pukul 10 malam. Terdengar suara membuka pintu. Ia pura-pura tidur.
Ternyata yang datang itu seorang pria, "Ya Allah lindungi hamba Ya Allah." Batinnya.
"Ternyata bibi Shanum lebih cantik." Ucap Pria itu. "Pantasan Denis ngebet dekatin dia." Sambungnya.
"Cantik, lo tunggu aja siapa yang datang duluan nolongin lo." Kemudian ia berlalu setelah mengucapakan itu.
"Dia, dia pacarnya Renata yang nggak bertanggung jawab itu." Batin Kayla memberontak.
Kayla tidak lupa shalat dan berdoa memohon pertolongan. Ia menunggu siapa yang akan datang menolongnya.
Sudah jam 12 malam, belum ada tanda-tanda kebebasan di rumah itu.
***
Denis, Andrew dan Farid mencari cara agar bisa masuk ke tempat dimana Kayla disekap.
"Itu bukannya apartemen ya. Coba pikir, mana tau ada kenalan kita yang tinggal di apartemen itu." Ucap Farid.
"Siapa ya?" pikir Andrew.
"Sudahlah, kita beli apartemen saja." Ucap Denis.
"Waduh, beli apartemen udah kaya beli es aja nih anak. Nggak level kita nih." Ucap Andrew.
__ADS_1
Farid hanya tertawa melihat gaya bicara Andrew.
"Yaudah buruan kita peegi." Mereka bergegas menuju resepsionis apartemen yang dimaksud.
"Yes, udah punya apartemen." Ucap Andrew.
"Emang kaya lo, orang kaya tapi nggak punya uang." Balas Denis.
"Wkwkwk, bukan nggak punya uang bro. Gue mesti nabung untuk buka usaha sendiri." Jawab Andrew.
"Iyalah, moga terwujud." Jawab Farid.
"Kita benaran nggak sekolah nih bro?" tanya Andrew.
"Sst, nggak usah bacot. Nanti disemprot lagi sama Denis." Bisik Farid.
"Cocok, tempatnya tidak terlalui. Berarti kita bisa pantau dari ini." Ucap Denis.
Mereka masuk ke apartemen yang sudah sah jadi milik Denis.
"mewah banget. Gue yakin, itu bukan apartemen Satria." Ucap Andrew.
"Jangan salah, Satria selevel sama Raffa. Nggak mungkin cater apartemen buat sekap anak orang." Tawa Andrew.
"Iya juga sih." Jawab Andrew.
Mereka istirahat menunggu kabar dari Kharisma, karena pria itu sedang diperjalanan pulang dari luar kota.
"Suruh Raffa kesana untuk memancingnya." Ucap Kharisma.
"Kok Raffa?" taya Denis.
"Lo taukan dia dendam sama Raffa bukan sama gue." Ucap Kharisma.
"Iya." Jawab Denis.
Denis menghubungi Raffa. Raffa datang bersama istrinya Shanum.
flash back on
"Lo tau Den, Kharisma yang menculik Bibi." Ucap Raffa protes.
"Dia punya banyak anggota, yang siap disuruh kapan saja." Icap Raffa.
"Terserah lo deh. Gue berhenti mencari Kayla. Kalau lo bisa, urus saja sendiri." Ucap Denis pasrah. Sambil mematikan ponselnya*
flash back off
Denis bersiap beridiri di depan pintu apartemen Satria.
"Lo yakin Den?" tanya Farid.
"Nunggu Raffa nggak bakalan disa diharapkan." Ucap Denis.
Denis dipersilakan masuk dalam apartemen.
"Dimana Satria?" tanya Denis.
"Lagi di jalan, sekarang lo hadapi gue dulu." Ucap Denis
"Bacot lo." Satria duluan menyerang Denis.
Kayla mendengar suara ribut2 dari luar, ia mengintip lewat pintu.
"Denis, ngapain Denis kesini? jangan2 Denis yang mau nolong aku." Batinnya khawatir.
Kayla tidak sanggup melihat perkelahian diantara keduanya.
"Ternyata lo kuat juga." Ucap Satria melap darah yang keluar dari bibirnya.
"Lo pikir gue siapa?" Balas Denis sinis.
"Hei, bantu gue." Ucap Satria pada kedua anggotanya.
"Bangsat lo, banci lo ternyata." Ucap Denis.
Satu lawan tiga, Denis sudah babak belur, kemudian Raffa datang bersama Andrew dan Farid.
"Banci kaleng, bisanya main keroyok." Ucap Raffa ketiganya menyerang Satria dan anggotanya.
Sedangkan Denis menelusuri setiap ruangan mencari Kayla.
__ADS_1
"Kay... Kay." Panggil Denis memasuki sebuah kamar.
Terdengar suara isakan kecil, ternyata Kayla bersembunyo di dalam lemari.
"Aaa." Teriak Kayla saat mengetahui lemari terbuka.
"Kay, ini gue." Ucap Denis.
"Denis, kamu nggak apa-apa?" tanya Kayla dengan suara bergetar.
"Aku baik-baik saja." Ucap Denis.
Pertengkaran berhenti, Denis dan Kayla keluar. Ternyata Kharisma datang.
"Bagus, ini baru namanya pagar makan tanaman." Ucap Kharisma.
Ia mendekati Satria yang tak ada merasa bersalah sedikitpun.
"Kenapa lo ikut campur?" tanya Satria
"Lo tau siapa yang lo culik itu? lo tau?" tanya Kharisma dengan nada tinggi.
" Tau, bibinya Shanum." Jawab Satria.
"Lo tau siapa bibinya Shanum? lo tau?" Kharisma mengiterogasi Satria layaknya petugas kepolisian.
"Gue nggak merugikan lo, jadi jangan ikut campur." Ucap Satria nada meninggi.
"Nggak merugikan gue? lo harus tau, siapa yang lo sekap itu. Putri Kayla Wijaya. Lo dengar baik-baik. Lo tau nama gue?? ha?? (Kharisma menggas ges😁) nama gue Kharisma Putra Wijaya, jadi apa? apa? " bentak Kharisma emosi.
Semua terdiam, termasuk Raffa dan Shanum yang masih belum mengerti.
"Itu artinya Kayla itu adik gue. Lo paham?" Deg, Seakan disambar petir, Satria tiba-tiba menjadi takut.
Shanum dan Raffa juga belum paham, "Mungkin itu langkah Kharisma mengelabui Satria." Batin Raffa.
"Putri Kayla Wijaya dan Kharisma Putra Wijaya, nama yang mirip, tapikan bibi Kay anaknya bunda." Shanum bingung.
"Gimana? lo paham sekarang?" tanya tanya Kharisma.
Kali ini Kharisma berubah haluan, ia berjalan ke arah Kayla.
"Maafin gue Kay." Kharisma meneteskan air mata saat memeluk adiknya itu.
"Bibi." Shanum seakan tidak terima bibinya dipeluk Kharisma, Raffa menahan Shanum dengan menggenggam erat tangan kekasihnya itu.
"Maafin gue, selama ini udah nyakitin elo dan orang terdekat lo. Andai dari dulu gue tau kalau Renata bukan adik kandung gue." Ucap Kharisma. Kayla membalas pelukan sang kakak.
Mata yang memandang akan merasa terharu melihat pertemuan kedua kakak adik itu.
Lagi-lagi Satria tersinggung, Renata adalah gadis yang sudah ia nodai dulu.
"Kakak tau siaapa laki-laki yang tak bertanggung kawab itu?" Kayla melepas pelukannya.
Suasana kembali menjadi tegang yang awalnya mewek dan haru.
Kayla berjalan dan berdiri tepat di depan Satria, dengan air mata yang meluruh begitu saja.
"Dia kak," Kayla menunjuk pria di hadapannya. Ekspresi Satria berubah menjadi bengis.
"Renata pernah bilang, dia dihamili oleh pacarnya yang tidak bertanggung jawab ini." Ucap Kayla disertai isakan.
"Mana buktinya ha?" bentak Satria. Membuat Kayla surut ke belakang.
"Bibi." Shanum mendekati Kayla.
"Tutup mulutmu Satria, walaupun Renata bukan adik kandung gue, gue bakal kasih pelajaran buat lo. Dengar itu baik-baik." Ucap Kharisma.
Ia menarik tangan Kayla dan berlalu dari sana.
"Mampus, rasain." Balas Andrew kemudian.
Denis dan Farid Berlalu. Begitu juga dengan Shanum dan Rafffa.
"Nenek nggak pernah cerita apa-apa." Ucap Shanum kecewa.
"Nanti kita tanya sama nenek ya sayang." Ucap Raffa mengusap kepala istrinya.
"Aaahhhhh, bangsat." Satria frustasi.
24/12/22
__ADS_1