
Ada wafer-wafernya loh 😉
Setelah makan malam keduanya kembali ke kamar masing-masing untu istirahat karena besok beraktifitas seperti biasanya.
“Shanum, besok yakin masuk sekolah?” tanya Raffa.
“Iya.” Jawan Shanum.
“Kok cuek gitu jawabnya.” Raffa mendekati Shanum yang sedang duduk di ranjang. “Kenapa Sayang?” sambungnya.
Ucapannya sukses membuat wajah gadis di depannya merah muda.
“Kamu makin cantik kalau wajahnya merona gini.” Goda Raffa.
Shanum mengambil bantal di sampingnya dan memukulkannya pada Raffa.
“Udah ya sayang, sakit loh.” Bujuknya.
Akhirnya Shanum berhenti memukulinya.
“Jangan rese lagi.” Ucap Shanum.
“Nggak rese loh yang, namanya istri sendiri. Boleh dong dipuji.” Bela Raffa.
“Dahlah, mau tidur duluan.” Ucapnya kemudian mengambil selimut.
“Ternyata Shanum bisa ngambek juga.” Raffa tak hentinya menggodanya.
Tak ada jawaban dari Shanum, Raffa membukakan selimutnya.
“Pura-pura tidur dosa lo.” Ucap Raffa.
“Ngantuk.” Jawabnya.
“Yakin udah mau tidur? Gak mau dengar asal-usul kejadian hari ini?” tanya Raffa.
“Yaudah cerita.” Jawabnya singkat.
“Aku akan cerita tapi ada saratnya.” Balas Raffa.
“Nggak jadi kalau gitu.” Shanum kembai menarik selimutnya.
“Iya, iya. Aku akan cerita.” Ucap Raffa menyerah.
“Aku nggak tahu sejak kapan suka sama kamu, tapi aku yakin rasa ini bukan sekedar cinta. Tiap hari aku ingat kau terus, di sekolah aku juga sering lihat kamu dari kejauhan, di bus aku juga sering duduk di samping kamu.” Ceritanya.
“Berarti yang duduk di samping aku itu kamu?” tanya Shanum.
“Apa? kau bilang apa?” tanya Raffa.
“Kamu.” Jawab Shanum singkat. “Trus panggil apa dong?” tanya Shanum polos.
“Panggilan yang sopan dong sayang.” Ucap Raffa.
Shanum menggeleng pertanda tak mengerti.
“Panggil sayang aja gimana?” tawar Raffa.
“Nggak ah, bucin.” Balas Shanum.
“Panggil apa dong sayang.” Ucap Raffa.
“Panggil abang aja ya.” Tawar Shanum.
“Yaudah, tapi itu panggilan di depan umum ya, kalau berdua kaya gini panggil sayang ya.” Tawarnya lagi.
“Iya, kalau nggak lupa.” Balas Shanum.
“Btw, kenapa nggak canggung gitu sama aku. Bukannya sebelumnya kita jarang komunikasi bahkan ngomong aja jarang, kok udah langsung akrab gini.” Ucap Raffa.
“Aku juga nggak tau, malu sih ada tapi nggak terlalu.” Jawab Shanum santai.
__ADS_1
“Berarti kau udah merasa cocok sama aku.” Tanya Raffa.
Shanum menggeleng pertanda iya.
“Yaudah kalau udah merasa akrab, sini tidurnya dekatan dikit.” Godanya lagi.
Masih belum ada pergerakan dari Shanum.
“Yaudah aku yang dekat ya, tapi jangan teriak.” Raffa memelukanya.
“Sesak tau.” Balas Shanum.
“Makanya jangan bantah ucapan suami.” Ucap Raffa melepaskan pelukannya.
“Lanjut gih ceritanya.” Ucap Shanum.
“Iya, tapi tidurnya di sini ya.” Reffa menunjuka lengannya.
“Nggak ah, berat kepala aku.” Jawab Shanum.
“Nggak sayang.” Raffa mengangkat kepala Shanum ke lengannya, sehingga Shanum tidur berbantalkan lengan Raffa.
“Kalau ginikan lebih mudah meluk.” Ucap Raffa.
“Raffa.” Ucapnya.
“Iya sayang, jangan galak-galak ya.” Sanggahnya sambil tersenyum.
“Lanjut ceritanya.” Ucap Shanum.
“Pakaian seragam mereka sengaja aku belikan supaya kau senang lihatnya, Dean bilang kau suka warna coklat makanya temanya warna coklat. tapi kalau tentang penampilan musikalisasi, aku sama sekali nggak tau yang, aku aja sapai heran sambil terpana gitu lihat penampilan mereka.” ucap Raffa.
Shanum tertawa sambil memandang Raffa.
“Kenapa sayang? Ada yang salah sama wajah aku?” tanyanya.
“Naggak, kamu lucu aja. Selama ini aku kira kamu galak, posesif, sombong. Tapi ternyata salah, kamu agak bucin.” Jawab Shanum.
“Sejak tragedi malam itu, aku mulai ada rasa sama kamu. Bukan rasa kasihan karena kau dibully dan di sekap sama geng Serigala, awalnya aku biasa saja. Semakin lama ternyata tumbuh menjadi cinta, aku nggak tegalihat kamu kenapa-kenapa. Aku sakit lihat kamu selalu jadi korban balas dendam geng Serigala.” Cerita Raffa.
“Balas dendam maksudnya?” tany Shanum.
“Lain kali aja ya aku ceritain, ini masalah besar sayang. Setelah kita menikah, secara tidak langsung kamu akan ikut ke dalam masalahku.” Ucap Raffa. Sambil mengelus kepala Shanum.
“Jauh sebelum kita menikah, aku sudah ikut dala masalahmu.” Ucap Shanum.
“Maafkan aku ya sayang, aku janji akan selesaikan masalah ini secepatnya agar kita bisa ikut tenang seperti pasangan romantis lainnya.” Ucap Raffa. Shanum mengangguk pertanda paham.
Keduanya malah terdiam, sepertinya memikirkan apa yang akan dibicarakan.
“Yang, aku juga mau tau perasaan kau sama aku.” Ucap Raffa.
“Aku?” tanya Shanum.
“Nggak yang, Shanum.” Jawabnya kesal.
“Kan ngambek, jangan gitu dong sayang.” Balas Shanum.
“Apa, tadi kamu panggil apa?” tanya Raffa tak percaya.
“Malu tau.” Ucap Shanum.
“Emangnya aku siapa?” tanya Raffa.
“Raffa.” Jawab Shanum.
“Ya aku Raffa, Raffa itu siapa kamu sayang?” tanya Raffa.
“Suami.” Balas Shanum.
“Ngapain malu sama suami.” Ucap Raffa.
__ADS_1
“Iya. Udah dong jangan dibahas lagi, nanti nggak jadi cerita nih.” Shanum mulai mengeluarkan sisi cerewetnya yang sesungguhnya.
“Iya sayang, buruang cerita.” Raffa mengeratkan lengannya.
“Aku juga nggak tahu sejak kapan suka sama kamu, tapi cara pandangku berubah sejak Farid menemui aku waktu itu, “ belum selesai bicara Raffa memotong pembicaraannya.
“Farid nemui sayang? Trus dia bilang apa?” tanya Raffa.
“Intinya Farid menyampaikan kekesalannya sama aku, karena aku berfikir kamu penyebab aku dibully di sekolah gara-gara kejadian malam itu dan pagi saat jatuh dari bus.” Ia berhenti sejenak.
“Farid bilang, kejadian jatuh dari bus karena kamu mau nyelamatin aku. Dia juga marah sama aku karena aku menghindar dari kamu. Sejak itu aku percaya kamu itu orangnya baik, apalagi saat aku disekap sama orang jahat, kamu duluan yang datang selamatin.” Ucap Shanum.
“Yang, jangan kamu-kamu lagi dong sayang.” Ucap Raffa manja.
“Maaf sayang, namanya aja lupa.” Jawab Shanum.
“Jangan lupa lagi ya sayang, kalau lupa kali nanti dapat hukuman ya.” Ucap Raffa.
“Apa hukumannya?” tanya Shanum.
Raffa menunjuka wajahnya.
“Apatu?” tanya Shanum tak mengerti.
“Kiss.” Jawab Raffa.
“Iya, nggak lupa lagi sayang.” Jawab Shanum, membuat Raffa semakin bahagia.
“Yaudah, ceritanya lanjut kapan-kapan lagi ya sayang.” Ucap Raffa.
“Belum siap, lamarannya belum diceritain.” Rengek Shanum.
“Sayang Raffa manja juga ternyata.” Raffa menarik hidung Shanum.
“Sakit.” Ucap Shanum.
“Aku menyampaikan niat sama papa mama, awalnya mereka nolak karena kita masih sekolah. Tapi nggak tau apa yang terjadi, tiba-tiba malamnya aku demam panas dan nggak sekolah beberapa hari. Akhirnya papa dan mama kabulin permintaan buat lamar sayang, akhirnya di lamar deh.” Ucap Raffa.
“Segitunyaya sampai sakit.” Ledek Shanum.
“Trus sayang, kenapa bisa terima lamaran orang yang belum sayang kenal.” Tanya Raffa.
“Aku pernah mimpi, bunda kasih cincin permata biru sama aku. Nenek bilang orang yang lamar kasih cincin biru, aku yakin itu bukan kebetulan tapi takdir. tanpa banyak pertimbangan, aku bilang sama nenek untuk melanjutkannya. Karena nenek juga berharap aku nerima lamaran itu.” Cerita Shanum.
“Yang, jangan bilang aku-aku. Bisa nggak.” Ucap Raffa.
“Salah lagi.” Ucap Shanum, membalikkan badannya dan memunggungi Raffa.
“Bukan salah sayang, nggak enak aja didengar.” Bujuk Raffa.
“Udahlah, ngantuk mau tidur.”
“Yang jangan ngambek gitu dong.”
“Trus maunya panggil apa?” tanya Shanum.
“Panggil Kila aja, kaya pas ngomong sama nenek juga bibi Kayla.” Ucap Raffa.
“Iya.” Juteknya.
“Kan masih marah.”
“Naggak sayang, Kila nggak marah.” Ucap Shanum.
“Gitukan enak dengarnya yang.” Ucap Raffa.
Keduanya mengambil posisi nyaman untuk tidur karena besok akan sekolah seperti biasanya.
pembaca yang tersayang, semoga suka ya saka ceritanya. Jangan lupa komen ya supaya makin bagus ceritanya 🤗
Jangan lupa Like & komen ya guys...😉
__ADS_1
terimakasih🤗