RAFFASHA

RAFFASHA
Mata-mata Baru (1)


__ADS_3

Keluarga Raffa sarapan pagi bersama untuk pertama kalinya.


“Shanum nanti berangkat sama mama ya.” Ucap mama.


“Tapikan ma,” mama lansung memotong ucapan Raffa.


“Mama belum percaya Shanum akan baik-baik saja sama kamu.” Jutek mama.


“Mama jangan terlalu keras sama Raffa ma.” Ucap papa.


“Mama belum percaya sama Raffa pa, nanti Shanum kenapa-kenapa lagi kalau sama Raffa.” Jawab mama kekeuh dengan pendiriannya.


“Yudah, kalau begitu Raffa jangan berkecil hati. Maksud mama baik, supaya bisa jaga Shanum.” Ucap papa.


“Iya pa.” Jawabnya agak melunak.


Papa berangkat ke kantor, mama dan Shanum ke sekolah begitu juga dengan Raffa. Naura juga berangkat ke sekolah dengan motor kesayangannya. Jangan ditanya El kemana, dia masih tidur karena minggu depan baru balik ke luar negeri.


****


Raffa sapai di sekolah dan memarkirkan mobilnya di samping mobil Denis.


“Kok lo sendirian?” tanya Denis.


“Nyokap ngambil alih.” Ucapnya kesal.


“Untung buk bos peka bro, bakal nambah masalah kalau ada yang lihat lo bareng sama dia.” Ucap Denis.


“Iya juga ya.” Raffa baru sadar, karena tadi pagi terlalu emosi.


Keduanya berjalan menuju kelas mereka, Raffa melihat mobil mamanya baru sampai. Kedua wanita itu keluar dari mobil. Shanum bersalaman dengan mamanya kemudian berjalan menuju kelasnya yang lumayan jauh dari kelas Raffa.


“Segitunya mengawasi doi.” Goda Denis.


“Gue selalu khawatir bro, rasanya hidup gue itu nggak kecuali di rumah.” Ucap Raffa.


“Kita harus selalu waspada bro, makin kesini masalah ini makin rumit.” Ucap Denis.


“Ahuy, si bro kok kelihatan biasa aja.” Ucap Andrew.


“Apa gue perlu jungkir balik ndrew.” Balas Raffa.


“Nggak gitu juga dong.” Ucap Andrew.


“Lo pada harus sering lihat grup ya. Apapun hal penting jangan bicarakan di sekolah, gue lihat makin banyak anak sekolah ini yang jadi mata-mata Serigala.” Bisik Farid.


“Lo tau darimana?” tanya Denis.


“Tadi pagi gue nggak sengaja lewat post satpam.”


Flash back on.


“Kalian tau kenapa kalian saya panggil kesini?” tanya seseorang.


“Nggak tau kak?” jawab 6 orang tersebut.


“Kalian punya tugas untuk melihat pergerakan Raffa dan ketiga temannya.” Sambil menunjuka 3 laki-laki tersebut.


“Dan kalian bertiga bertugas mengawasi Diya dan kedua temannya.” Ucapnya pada 3 orang perempuan itu.


“Mulai dari sekarang kalian laporkan apa saja kegiatan mereka di sekolah, saya akan meminta laporan setelah pulang sekolah. Kaian mengerti?” tanyanya.


“Mengerti kak.” Jawab mereka ragu.


“Kalau kalian tidak melakukan perintah ini, siap-siap kalian akan di DO dari sekolah.” Ancamnya.


“Iya kak.” Jawab mereka bersamaan.


Flash back off.


“Gue udah ambil rekamannya dan akan gue share di grup, kalian bisa tandai siapa aja yang harus diwanti-wanti.” Ucap Farid.


“Lo gercep juga ya.” Ucap Andrew.


“Nggak kaya lo, lemot.” Ucap Denis. “Jangan lo bawa serius bro, kita satu tim. Apapun yang terjadi diantara kita, tanggung jawab kita bersama.” Ucap Denis.


****


Shanum dan kedua sahabatnya berdiam diri di kelas. Ketiganya khawatir sejak melihat video rekaman dari Farid. Mereka bertiga sama-sama membuka ponsel.


“Anda telah ditambahkan.” Shanum melihat ia ditambahkan oleh Raffa ke grup yang baru dibuat.


Tak salah lagi, kedua sahabatnya juga masuk grup yang diberi nama GROUP BUCIN.


Tujuan Raffa memberi nama grup itu agar orang lain yang tak sengaja melihat grupnya tidak curiga dengan grup yang sengaja mereka buat.


“Aku punya cara untuk menaklukkan ketiga junior itu.” Ucap Dean.


“Ide apa Dean, kita nggak boleh melakukan apapun.” Ucap Pina.


“Masa harus diam begini aja di kelas, bosan tau.” Ucap Dean.


“Aku setuju sama Dean, mana tau bisa kita terapkan.” Ucap Shanum.


“Idenya begini,” Dean berbisik pada keduanya.


“Satria itu siapa sih sebenarnya, kenapa dia bisa ancam kaya gitu.” Tanya Shanum.


“Tau tuh anak, sombong banget gayanya. Raffa aja anak pemilik sekolah nggak belagu gitukan Diy.” Ucap Pina.


“Aku lagi.” Ucap Shanum.

__ADS_1


“Lihat tuh mereka lewat.” Ucap Dean.


“Sepertinya mereka udah cape nunggu kita dari tadi.” Ucap Pina. Mereka merasa lucu dengan hal itu.


“Dek mau kemana?” tanya Dean.


“Em, mau lewat aja kak.” Jawabnya.


“Adek sini dulu dong duduk bareng kita.” Ajak Pina.


Mereka duduk di kursi panjang depan kelas mereka.


“Adek mau kemana dih, buru-buru banget.” Tanya Shanum.


“Ng-nggak kak, tadi habis dari kantin mau ke kelas kak.” Jawabnya. Anak itu sungguh ketakutan karena diintrogasi seperti itu.


“Kenalin nama kakak Shanum, ini kak Deana sama kak Devvina.” Ucap Shanum.


“Sepertinya kakak nggak pernah lihat adek.” Ucap Dean.


“Iya kak, aku Tika kak. Kelas 10 IPS1,” jawabnya.


“Pantasan jarang kelihatan, junior pada takut lewat kelas senior.” Sindir Pina.


“Kak, aku pamit dulu ya kak. Segan sama kakak-kakak yang lain.” Ucapnya.


Ia beralu meninggalkan Shanum dan kedua sahabatnya.


“Sepertinya mereka diperalat dengan iming-iming uang.” Simpul Pina.


“Betul Pin, aku juga mikirnya kaya gitu.” Ucap Dean


.


“Gimana kalau nanti pulang sekolah kita ikuti si Tika, mana tau kita dapat informasi.” Usul Diya.


“Kita nggak boleh melakukan hal lebih dari yang disarankan mereka Diy.” Ucap Pina.


“Pina sayang, kita berhak melakukan apa saja. Diya aja berani ngambil meputusan padahalkan Raffa, eh maksudku itulah.” Ucap Dean.


“Terserah kalian deh, aku ngikut aja.” Ucap Pina.


“Gitu dong.” Balas Shanum.


Dean melihat salah satu dari mereka menguping pembicaraan mereka dari jendela kelas sebelah.


“Siapapun yang mendengarkan pembicaraan kami, semoga Allah memekakkan telinganya, menyulitkan segala urusannya.” Ucap Dean.


“Dean, kok gitu?” tanya Pina heran.


Dean berjalan menuju kelas sebelah, terlihat seseorang bersembunyi di belakang lemari.


“Kamu masih aman kalau tidak melakukan hal yang sama pada hari esok.” Ancam Dean.


“Maafkan saya kak.” Rengeknya.


“Air mata buaya.” Ternyata Pina dan Diya mengikuti Dean.


“Aku janji kak, nggak baka melakukan hal yang sama.” Tangisnya.


“Ini laporan untuk Satria, laporkan saja apa yang ada di kertas ini jikakalian ingin aman.” Ucap Diya.


“Terimakasih kak.” Ucapnya.


“Tunggu, siapa namamu?” tanya Dean.


“Aku Ningsih kak, kelas 10 IPA1.” Jawabnya.


Setelah junior itu pergi, ketiganya malah tertwa lucu.


“Masih ada ya zaman sekarang orang selicik Satria.” Ucap Pina.


“Dendam membutakan mata hati mereka.” ucap Diya.


“Maksudnya dendam apa Diy?” tanya Dean.


“Aku juga belum tau ceritanya seperti apa, tapi aku yakin ada sesuatu yang disembunyikan Satria.” Ucap Diya.


“Aku masih belum paham Diya.” Ucap Pina.


“Kalian taukan geng Serigala yang bermusuhan dengan geng Raffa, Satria juga ikut geng Serigalakan. Tapi aku yakin Satria ada maksud lain ikut geng mereka.” ucap Shanum.


“Aku nggak paham deh Diy. Kita tunggu aja informasi selanjutnya dari mereka.” ucap Pina.


***


Pulang sekolah Shanum bersama kedua sahabatnya menuju ruang kepala sekolah.


“Ma, Kila minta izin ikut sama Dean dan Pina ya ma.” Izinnya.


“Kalian mau kemanasih?” tanya mama.


“Ada misi yang harus kami selesaikan bu, nanti kita akan kabari ibu kalau semua udah selesai.” Ucap Dean.


“Oke, mama akan kasih izin. Tapi kalian janji pulangnya akan baik-baik saja.” Ucap mama.


“Iya ma, kami akan baik-baik saja.” Jawab Diya girang.


Mereka bertiga mengikuti angkot yang baru saja berhenti di halte depan sekolah. Angkot menuju gang kecil di daerah terpencil lumayan jauh dari keramaian.


Angkot berhenti turunlah kedua junior yang mereka temui tadi yaitu Tika dan Ningsih. Sepertinya mereka berdua terpaksa melakukan hal itu karena ancaman dari Satria.

__ADS_1


Pina langsung menancap gas meninggalkan daerah tersebut. Mereka dicegat di tikungan yang agak sepi.


“Pina jangan panik ya, apapun yang terjadi tetap tenang.” Ucap Diya.


“Jangan dengarkan ucapan mereka ya, jalan terus saja.” Ucap Dean.


Mobil berhenti, ada 2 orang algojo disana, mengetuk-ngetuk pintu mobil.


“Keluar nggak, atau kaca gue pecahin.” Ancam salah seorang dari mereka.


“Pina, ambil kuda-kuda.” Ucap Dean.


“Kok kuda-kuda sih Dean.” Rengek Pina.


“Eh maksudku gas, siap-siap untu gas.” Ralat Dean.


Ditengah suasana yang begitu genting, ketiganya masih sempat tertawa dan bercanda. Pina menggas mobilnya sekencang mungkin agar bisa terhindar dari dua algojo yang mengganggu mereka.


“Pin, kalau ada tikungan langsung belok ya.” Ucap Diya.


Mereka tidak terlalu kenal dengan daerah tersebut, karena terlalu banyak gang yang dilalui akhirnya mereka sampai ke jalan lintas.


“Alhamdulillah selamat.” Ucap Pina yang mulai lega karena dari tadi khawatir.


Diya dintarkan menuju kediaman keluarga Raffa sedangkan Dean dan Pina langsung pulang tanpa singgah.


****


Disisi lain, Raffa melihat mamanya pulang sendiri siang itu.


“Shanum kemana ma?” tanya Raffa.


“Mama juga nggak tau, tadi pamit sama mama pergi sama Dean dan Pina.” Jawab mama santai.


“Kenapa mama izinin.” Geram Raffa.


“Kan Cuma bentar Raffa, paingan bentar lagi pulang.” Ucap mama kemudian berlalu ke kamarnya.


“Kemana nih mereka, nggak ada yang online lagi.” Gerutunya.


Group Bucin


“Shanum, Pina sama Dean kemana? Ada yang tau?” tanya Raffa.


“Nggak ada bro, nggak ada yang ngabarin dari tadi.” Balas Farid.


“Udah 1 jam mereka belum pulang nih.” Balas Raffa.


“Lo serius bro?” tanya Denis.


Setelah 2 jam Raffa menunggu, terlihat Shanum masuk dengan santainya ke ruang tamu.


“Darimana?” jutek Raffa.


Shanum dengan cuek meraih tangan Raffa untuk disalami.


“Tadi ada kerjaan sama Dean dan Pina.” Jawabnya.


“Emang ada ngabari?” cuek Raffa.


“Ada tadi sama mama.” Jawabnya santai.


“Eh Kila, udah pulang ternyata. Ganti baju gih temanin mama pergi kondangan.” Ucap mama.


“Mama, Raffa belum selesai bicara sama Shanum.” Kesal Raffa.


“Mama mau ngajak Shanum pergi.” Ucap mama cuek.


“Ma, Ura ikut juga dong.” Rengeknya.


“Yaudah, sana ganti baju. Nggak pake lama ya.” Ucap mamanya.


“Mama kok makin nyebelin ya.” Kesal Raffa.


“Jadi suami baru dua hari, udah posesif gitu. Nggak baik lo sayang.” Nasehat mama.


“Bukan posesif ma, tapi Raffa khawatir sama Shanum ma.” Jawabnya


“Buktinya Shanum baik-baik aja tuh.” Balas mamanya.


“Kila siap ma.” Ucapnya.


“Ura juga siap ma.” Ucap Ura.


Tidak lupa Shanum menyalami Raffa sebelum pergi.


“Jangan marah lagi ya, nanti nggak ganteng lagi.” Goda Shanum.


“Makanya jangan gitu lagi.” Manjanya.


“Iya, Kila pergi dulu.” ucapnya.


“Kissnya mana?” goda Raffa.


“Malu tau, ada mama sama Ura.” Ucap Shanum.


“Kan udah di luar merekanya.” Ucap Raffa.


“Yaudah rendahin dikit,” rafa menundukkan badannya sedikit, “Cup” Shanum mencium pipinya.


“Kila pergi dulu.” ucap Shanum tanpa mendengar balasan Raffa.

__ADS_1


“Istri gue makin sweet aja.” Girangnya.


__ADS_2