RAFFASHA

RAFFASHA
Tekat Raffa


__ADS_3

Setelah mendapatkan lokasi yang pasti dari Raffa, mereka bertiga menuju tempat yang dimaksud tapi mereka tidak melihat ada tanda-tanda Denis disana.


“Gue aja yang masuk, kalian awasi saja di luar.” Ucap Raffa. Ia berlalu dan berhasil masuk ke rumah itu.


“Katakan sejujurnya, ada hubungan apa kamu dengan Raffa?” tanyanya dengan nada tinggi.


“Saya tidak ada hubungan apa-apa dengan Raffa.” Jawabnya keras.


“Jangan bohongi saya Shanum, saya bisa melakukan apapun saat ini padamu.” Ancamnya.


“Saya tidak berbohong.” Jawabnya lagi.


Plak, satu tamparan mengenai wajah mulusnya.


“Tidak ada apa-apa tapi pelukan.” Sindirnya.


“Mungkin kalian salah lihat.” Ucapnya.


“Berani kamu membantah saya ha...” bentaknya.


“Beri dia pelajaran.” Ucapnya sambl mengangkat ponselnya yang berdering.


Wajah Shanum ditampar berkali-kali oleh seorang wanita dengan topeng di wajahnya, Shanum sudah benar-benar tidak kuat ia pingsan tak berdaya.


Brak... terdengar suara tendangan yang keras. Semua mata tertuju pada laki-laki itu, ternyata dia Raffa yang datang untuk menyelamatkan istrinya.


“Ternyata kamu.” Ucap salah seorang diantara mereka.


Raffa tidak banyak bicara, ia berhasil melumpuhkan beberapa algojo di ruang penyekapan Shanum. Farid dan Andrew mendengar keributan dari dalam, mereka langsung masuk dan membanti Raffa.


“Lo selamatkan Shanum, biar kami yang tangani.” Ucap Farid.


“Ternyata banyak pahlawan disini.” Ucapnya.


“Diam lo, maju kalau berani.” Tantang Farid. Farid adu kekuatan dengan sang ketua.


“Lo bawa Shanum jauh dari sini, nggak usah pikirin kita.” Ucap Andrew.


Raffa membopong Shanum menuju mobil yang ia parkirkan agak jauh dari rumah itu.


“Mau lo apasih?” tanya Farid sambil menghapus darah di bibirnya.


“Kalian nggak tau gue mau apa?” tanyanya dengan nada ejekan.


“Lo bakal dilaporkan ke polisi.” Ancam Andrew.


“Gue nggak mau lihat Raffa bahagia. Lo semua harus tau itu.” Ucapnya.


“Lo bodoh atau gimanasih? Nggak bisa bedakan mana yang benar dan yang salah.” Andrew menimpali.


“Kalian nggak perlu ngatur gur.” Ucapnya sambil melakukan perlawanan dengan Andrew dan Farid.

__ADS_1


Pertarungan mereka terhenti saat ponsel ketua Serigaa berdering, ternyata dari Kayla.


“Ada apa gadisku?” tanyanya. Farid dan Andrew memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri, namun tak semudah itu ada beberapa penjaga di pintu belakang, dengan mudah kedunya bisa melumpuhkan.


“Aku ingin mengembalikan ponsel barumu.” Ucap Kayla dari seberang.


“Baiklah manis, dimana kita bertemu?” tanyanya.


“Di pmakaman umum, karena saya ziarah disana.” Ucap Kayla.


“Baiklah manis, saya akan segera kesana.” Ucapnya kemudian berlalu begitu saja.


***


Raffa membawa Shanum ke rumah sakit, Shanum belum juga sadar sejak ia diperiksa oleh dokter.


“Sayang, bangun ya. Jangan buat abang khawatir begini.” Ucapnya sambil menggenggam tangan Shanum.


Tidak berapa lama mama dan Naura datang kesana.


“Inikan yang kamu inginkan? Sudah berapa kali mama bilang selesaikan segera permasalahan kalian agar tidak ada lagi korban.” Ucap mama penuh dengan kekesalan.


Raffa yang merasa bersalah hanya diam saja, ia tak lagi membantah ucapan mamanya. Ia duduk lesu di sofa yang ada di ruangan itu.


“Bunda, bunda, bunda.” Shanum mengigau. Raffa yang awalnya duduk datang mendekati ranjang Shanum karena khawatir.


“Kamu tenang saja, mungkin dia mimpi.” Ucap mama.


“Ma, Raffa keluar dulu ya ma. Jagain Shanum ya ma, Raffa mau nanya kabar Andrew dan Farid.” Ucapnya kemudian berlalu dari ruangan itu.


“Gue janji akan menyelesaikan permasalahan ini sekarang juga, gue janji.” Tekatnya. Selama di perjalanan ia ingat Denis.


“Kemana tuh anak, daritadi nggak ada nongol.” batinnya


kemudian memutuskan berhenti untuk menghubungi Denis.


“Lo dimanasih?” tanyanya.


“Maaf bro, tadi gue pusing banget makanya nggak bisa bantu. Maafin gue ya.” Ucap Denis.


“Yaudah deh, tadi gue mau minta bantuan lo nemanin gue nemuin si Kharisma. Tapi kalau lo lagi sakit nggak usah deh, biar gue pergi sendiri.” Ucap Raffa.


“Lo nggak bisa dong langsung nemuin dia gitu aja bro, jangan. Bahaya buat lo.” Ucap Denis.


“Gue udah nggak sanggup gini terus bro, semakin banyak yang terluka karena kesalahpahaman ini.” Ucapnya.


“Sebenarnya gue dapat informasi mengenai kejadian Renata setahun yang lalu. Tapi gue mau cari kebenarannya dulu, gue bakal ceritain semua ke elo tapi lo jangan temui dia sekrang.” Ucap Denis.


“Lo serius dapat infromasi mengenai Renata?” Raffa memastikan.


“Iya, pokoknya lo fokus aja sama Shanum. Masalah informasi ini gue yang bakal tanggung jawab.” Ucap Denis.

__ADS_1


“Alhamdulillah, akhirnya ada titik terang dalam masalah ini.” Raffa semakin lega mendengar kabar itu.


Ia kembali ke rumah sakit untuk menemani Shanum disana. Shanum tidak sempat dirawat inap karena lukanya tidak serius.


Sorenya Shanum sudah pulang ke kediaman keluarga Raffa. Raffa setia menemani istrinya yang sedang istirahat.


“Sayang makan malam dulu ya.” Bujuk Raffa. Sambil membawakan sepiring makanan untuknya.


“Kila makan di ruang makan saja ya bang, udah lama nggak makan bareng keluarga.” Pintanya.


“Tapikan sayang masih sakit.” Ucap Raffa.


“Abang, yang sakit itu Cuma pipi Kila. Kila bisa jalan kok, lihat.” Ia sambil memperagakan berjalan di samping ranjangnya.


“Yaudah sini abang gandeng.” Ucap Raffa.


“Pake gandeng segala, malu dilihat mama sama yang lain.” Ucap Shanum.


“Gandengan sama pasangan halal kok malu sih sayang.” Ucap Raffa.


“Iyadeh bang.” Jawabnya. Keduanya menuju ruang makan.


Papa dan mama membicarakan tentang permasalahan yang sedang dihadapi Raffa tanpa memperdulikan Raffa yang sedang bersama mereka.


Raffa masih menahan amarahnya karena mama sengat senang menyindirnya, hingga Shanum menggenggam tangannya dari samping.


“Abang makan dulu ya.” Bisik Shanum.


“Besok lo harus pindah sekolah.” Menciptakan tanda tanya dibenak gadis itu. Ia memang bicara sesuka hatiya tanpa memikirkan lawan bicaranya.


“Sebentar lagi akan UN, gak ada cerita pindah sekolah.” Sangkal mamanya.


“Ma, ini demi ketenangan dan keselamatannya mama.” Ucapnya tak mau kalah.


“Selesaikan masalah ini sebelum UN, kalau sampai belum kelar mama gak akan biarin anak mama kenapa-kenapa hanya karena perselisihan antar geng kalian itu.” Mama menarik tangan gadis disampingnya.


Suasana makan malam kali ini sungguh diluar kendali, Raffa yang tidak bisa menahan emosinya bicara lepas begitu saja.


“Pesan papa, hubungi lagi bang El. Mana tau dia udah dapat informasi mengenai Kharisma itu, supaya permasalahan kalian bisa selesai secepatnya.” Ucap papa sambil mngelus pundaknya.


“Mama tenang saja, Raffa akan selesaikan semuanya. Raffa butuh waktu.” Ucapnya sambil meneruskan makannya yang tersisa meskipun tak selera namun tetap ia suap juga, berbeda dengan Naura berlalu meninggalkannya sendirian di ruang makan itu.


“Kalian boleh membenciku saat ini, memang aku pantas dibenci. Karena aku laki-laki yang tidak bertanggung jawab.” Batinnya lelah.


Pembaca yang tersayang, semoga suka ya sama ceritanya. Jangan lupa komen ya supaya makin bagus kedepannya🤗


dan jangan lupa like juga ya guys...😉


terimakasih🤗


Bersambung 15/12/21.

__ADS_1


__ADS_2