RAFFASHA

RAFFASHA
Dimana Kayla.


__ADS_3

Raffa sudah bangun dari istirahatnya, jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Betapa lamanya ia istirahat.


"Ah, kepala gue. Pusing banget, Geo."Teriaknya.


"Kakak sudah bangun, lama banget tidurnya kak." Ucap Geo.


"Shanum mana?" tanya Raffa.


"Bukannya kakak dari tadi disini ya kak. Nggak ada kak Shanum disini." Jawab Geo.


"Astagfirullah, gue harus cari Shanum." Ucapnya kemudian beranjak namun terduduk lagi karena kepalanya pusing.


"Kakak istirahat saja dulu." Ucap Geo.


Raffa tidak bisa istirahat ia kepikiran istrinya, sampai saat ini belum ditemukan.


"Raffa, Shanum sudah ditemukan. Dia baik-baik saja, dia juga tidak tau siapa yang membawa dia kesana." Telpon Farid.


"Lo dimana? biar gue kesana?" tanya Raffa.


"Lo tunggu disana saja. gue sama yang lain akan beresin." Ucap Farid.


Flash back off.


Ponsel Mama berdering. Panggilan dari seseorang


"Iya ada apa?" tanya mama.


"Sudah ada titik terang bos, Shanum disekap disuatu tempat. Tidak ada yang tau siapa yang membawa dia kesana." Ucapnya.


"Informasi yang bagus, darimana dapat infonya?" tanya mama.


"Bos lupa, gmail Shanum ada pada kami. Jadi mudah melacak keberadaannya." Ucapnya.


"Bagus." Ucap mama.


"Siapa lagi yang masih punya dendam terhadap Raffa." Batin mamanya.


Mama mengabari nenek, kalau Shanum sudah ketemu dan baik-baik saja. Supaya nenek tidak terlalu banyak beban pikiran.


***


Raffa pulang ke rumahnya malam itu, Ia berharap Shanum sudah ada di rumah.


"Kami jalan ke rumah lo." Jawab Denis.


"Diy, apa yang sakit?" tanya Pina.


Shanum menggeleng, sepertinya ia trauma dengan kejadian itu. "Istirahat dulu ya." Dean menyandarkan kepala Shanum di pundaknya.


"Kapan ya semua akan berakhir, kasian Diya. Pasti tertekan banget." Ucap Pina.


"Gue juga nggak ngerti. Siapa lagi yang punya dendam sama Raffa." Balas Andrew.


Mereka samopai di rumah Raffa, pria itu terlihat acak-acakan. Seharian pusing melandanya.


"Abang." Shanum mendekati Raffa yang tersandar di sofa.


"Sayang, kamu kemana saja ha?" tanya Raffa lembut.


"Yaudah kita pamit pulang ya. Kalian istirahat gih, tante kami balik ya." Ucap Farid mewakili.


"Hati-hati ya nak. Terimakasih sudah membawa Shanhm pulang." Ucap mamanya.


"Shanum sayang, kok bisa kebablasan sih sayang?" tanya mama.

__ADS_1


"Nggak tau ma, Kila juga nggak sadar. Kila nunggu teman pas piket kelas. Eh taunya udh sampai aja di rumah kosong." Jawab Shanum.


"Kamu nggak kenapa-kenapakan sayang?" tanya mama khawatir.


"Alhamdulillah ma. Kila baik-baik saja." Ucap Shanum.


"Kalian istirahat ya, sudah malam juga." Ucap mama.


Keduanya beranjak ke kamar. "Sayang, jangan kaya gini lagi ya. Lihat nih aku udah kaya orang gila." Ucapnya.


"Iya sayang. Kita istirahat ya" Shanum mulai merebahkan badan, tidak lama kemudian sampai di dunia mimpi.


***


Kayla terbangun dari tidurnya, ia ingin minum tapi tangannya tak sampai.


"Au," pekiknya, ia yerjatuh. Kepalanya terbentur ke lantai.


"Kayla." Bundanya yang baru keluar dari kamar mandi terkejut melihat Kayla sudah tergeletak di lantai.


"Kay, Kayla. Bangun nak." Ucap bundanya. Akhirnya dokter datang memeriksa Kayla.


"Alhamdulillah, tidak ada masalah. Pasien sudah bisa pulang hari ini." Ucap dokter.


"Sykurlah dokter. Terimakasih dokter." Ucap bunda.


Dengan bahagia bunda mengemaskan semua barang-barang mereka. Bunda berniat menghubungi keluarga Raffa, tapi naas paket nelpon maupun internetnya habis.


"Astaghfirullaah nak, Paket bunda habis, bunda beli ke depan sebentar ya. Jangan kemana-mana ya." Ucap bunda.


Kayla menyiapkan kemas bundanya, setelah itu ia duduk di kursi depan kamarnya.


Bunda selesai membeli pulsa dan kembali ke kamar.


"Sus, lihat anak saya sus. Tadi si ruangan ini." Ucap bunda.


"Tadi saya sempat melihatnya, tapi tidak tau kemana perginya" Ucap suster.


Bunda sudah keliling rumah sakit, namun Kayla belum ia temukan. Bunda terduduk lesu, ia lupa pada niat awalnya untuk menghubungi keluarga Raffa.


"Nek, nenek ngapain disini?" tanya Denis.


"Denis, Kayla hilang Denis." Ucap bunda. Deg, seakan disambar petir, Denis panas dingin mendengar kabar itu. Ia masuk ke kamar dan melihat barang sudah dipacking.


Denis berlalu dari sana ia menuju ruang cctv berada.


"Ruang berapa mas?" tanya petugas.


"VIP IV pak." Jawab Denis.


Dari kamera terlihat Kayla sedang duduk di kursi depan ruangannya. Tak ada orang yang mencurigakan. Kemudian Kayla berjalan menuju halaman depan gedung.


Tidak hanya sampai disana, ia duduk di kursi tunggu IGD.


"Mau kemana dia pak?" tanya Denis.


"Lihat mas, dia berjalan lagi." ucap petugas. Cctv hanya sampai di halaman depan rumah sakit. Kayla tidak tau pergi kemana.


Denis memutuskan untuk mengirim pesan kepada seseorang.


"Kalau lo nggak sibuk, ada yang mau gue omongin." Hanya sebatas itu pesan Denis. Kemudian ia pergi le ruang dimana nenek masih disana.


"Berarti sudah bisa pulang nek?" tanya Denis. Hanya diangguki oleh nenek.


"Mari nek, kita ke rumah Raffa dulu. Kayla nanti biar saya yang urus." Ucap Denis. "Untung gue bawa mobil." Batinyya.

__ADS_1


"Denis kok bisa kesini? tidak sekolah nak?" tanya nenek.


"Nggak nek, tadi telat bangun. Ternyata udah jam 8, feeling aja mau kesini." Jawab Denis.


"Kemaren Shanum, sekarang Kayla. Apa sebenarnya salah nenek nak?" nenek terisak.


"Nenek kuat nek, nenek sedang diuji. Nenek harus percaya dibalik kesulitan ada kemudahan." Ucap Denis.


Ponsel Denis berdering, ternyata panggilan dari Kharisma.


"Lo mai bilang apa?" tanya Kharisma dengan nada tinggi.


"Ini semua gara-gara lo, kemaren Shanum diculik. Sekarang Kayla hilang." Ucap Denis.


"Mulut lo busuk an***. Gue nggak percaya Kayla hilang." Ucap Kharisma.


"Gue nggak mau tau, lo harus tanggung jawab." Ucap Denis.


"Ok. Lo tunggu aja berita dari gue. Jangan salahkan gue kalau nanti gue bacok orang yang nyuri adik gue." Ucap Kharisma.


"Ngaku lo jadi abang?" Tanya Denis sinis.


"Gue bakal buktiin, kalau perlu gue yang duluan sampai le lokasi." Ucap Kharisma.


"Ok, gue tunggu." Ucap Kharisma.


Debis sedikit tenang mendengar ucapan Kharisma. Ia percaya kalau Kharisma tidak bakalan ingkar janji.


"Nenek tenang ya, teman-teman udah pada gerak cari Kayla nek." Ucap Denis.


"Syukurlah nak." Ucap nenek.


***


"Apa lagi ini Raffa. Kemaren Shanum, sekarang Kayla. Siapa lagi musuhmu Raffa?" Ucap mama murka.


"Pa, tenang dulu ya pa." Bujuk mama.


"Papa mana bisa tenang ma. Dia pengen nikah, diusahakan. Giliran udah nikah malah memberatkan istrinya. Sekarang Kayla, kalau kaya gini terus, pasti ada sasaran selanjutnya ma." Ucap papa.


"Maafkan Raffa pa. Ini di luar kendali pa. Dulu Kharisma yang punya dendam, sekarang udah selesai pa, Raffa nggak tau dimana salahnya pa." Jawab Raffa.


"Assalamualaikum." Ucap nenek.


"Wa'alakumussalam, Ibu kesini sama siapa bu. Kenapa tidak kabari?" tanya mama.


"Ibu segan nak. selalu menyusahkan keluarga kalian." Tangis nenek.


Mama memeluk nenek dengan erat.


"Tidak bu, tapi kami yang menyusahkan keluarga ibu. Maafkan kami bu." Ucap mama.


"Denis, lo?" tanya Raffa.


"Iya, gue yang jemput nenek." Jawab Denis. "Om, tante, nenek saya balik dulu ya." Denis berlalu setelah pamit.


"Heh, lo mau pergi gitu aja?" tanya Raffa.


"Lo tenang aja bro, gue punya link baru. Lo disini aja sama keluarga, biar gue yang beresin." Ucap Denis.


"Lo yakin?" tanya Raffa.


"Iya bro, yaudah gue cabut ya." Denis menepuk bahu Raffa dan berlalu dengan mobilnya.


23/12/22

__ADS_1


__ADS_2