RAFFASHA

RAFFASHA
Sepasang Sandera


__ADS_3

Raffa menunggu Satria di lapangan, ia ingin melepaskan semua emosinya saat itu juga. Tiba-tiba ada yang memukul pundaknya dari belakang hingga ia jatuh tak sadarkan diri.


Disisi lain Diya baru selesaikan makan di warung dan menunggu bus. Ia asik memainkan gawainya, dua orang laki-laki mendekat dan menutup hidungnya dengan sapu tangan hingga ia tak sadarkan diri.


***


“Bos ada berita buruk, Raffa dan Shanum diculik.” Lapornya.


“Tunggu sampai datang pertolongan.” Jawabnya.


“Siap boss.” Ucapnya.


***


Gadis itu terbangun dan melihat sekitarnya, tangannya diikat kepada kursi yang didudukinya. Ruangan itu tampak kecil dan panas membuat nafasnya begitu sesak.


Ia mendengar suara rintihan dari ruangan lain, suara yang begitu gaduh. Ia berusaha melepas ikatan tangannya. Ada potong kuku disaku roknya, dengan segenap kekuatan yang ia miliki terus berusaha melepas ikatannya.


Setelah berhasil melepas ikatannya, ia mendengar langkah yang menuju ke ruangannya. Ia pura duduk dan menundukkan kepalanya.


“Bagus, gadis itu masih belum sadar.” Seseorang datang ke ruangan itu kemudian pergi.


Ia berjalan perlahan mencari sumber suara kegaduhan,


“Dia belum tahu siapa aku.” Ucap seseorang yang sangat ia kenali suaranya. Ia buru-buru bersembunyi dibalik sofa usang di ruangan itu. Kegaduhan sudah berhenti seiring berlalunya beberapa orang dari ruangan tersebut.


Ia masuk dalam ruangan yang begitu gelap itu, melihat seseorang yang tergeletak babak belur dengan seragam yang sama sepertinya.


“Siapa dia? Kenapa dia disandera seperti aku.” Ia melihat wajah laki-laki itu, ternyata Raffa.


“Raffa, Raffa,,,” ia mengguncang tubuh laki-laki yang tak berdaya itu. Air matanya menetes begitu saja melihat laki-laki dihadapannya. Ia mengirim lokasi ke Vina untuk meminta pertolongan.


“Raf, bangun Raffa. Kita sama-sama pergi dari sini.” Tangisnya masih mengguncang tubuh laki-laki itu.


Ia melepas satu persatu ikatan tangan Raffa, kemudian menghapus darah yang bercucuran dari hidungnya dengan sapu tangan yang ia miliki.


Laki-laki itu sadar dan mendengar tangis seorang wanita, ia membuka matanya dan melihat seseorang dihadapannya.


“Raffa, kamu udah sadar?” ia agak menjauh dari laki-laki itu karena kaget.


“Shanum.” Lirihnya. Tiba-tiba memeluk wanita di hadapannya.


“Raf, apa yang kamu lakukan?” ia berusaha menghindar.


“Sebentar saja.” Bisiknya tulus. Ia terpaksa mengiyakan kata-kata Raffa.


Terdengar suara membuka pintu dengan kasar, keduanya berdiri bersamaan. Raffa memposisikan gadis itu di belakangnya.


“Bagus...” ucap seseorang.


“Begitu serasi, sepasang sandra.” Ejeknya.


“Ternyata lo berdua masih belum jera sama apa yang gue lakuin, patut ditiru.” Ia mengejek kembali.


“Apa maksud lo bawa-bawa dia ke masalah ini?” bentak Raffa.


“Karena lo suka sama dia dan gue gak senang lihat lo bahagia.” Balasnya.


Mereka berdua akhirnya adu kekuatan, dengan segenap tenaga yang ia miliki tetap memberi perlawanan kepada laki-laki kekar di hadapannya.


Gadis itu menangis melihat Raffa yang sudah hampir kalah karena tenaganya sudah habis.

__ADS_1


Disisi lain Vina melihat pesan masuk dari sahabatnya, ia mengajak Dea menuju lokasi yang dimaksud.


“Ayo cepat Pina.” Ucap Dea, keduanya mengendarai motor. Dea yang terlalu ngebut bawa motor tidak melihat mobil menyebrang di depan mereka. akhirnya keduanya menabrak mobil itu.


“Lo apa-apaan sih? Gak bisa lihat?” bentak Lki-laki itu.


“Lo, bukannya kalian temannya Diya?” tanya seorang lagi.


“Please ya biarin kita pergi, aku sama temanku bakal ganti rugi kok. Kami buru-bruru.” Ucap Dea dengan wajah memelas.


“Emang mau kemana lo pada?” tanya Andrew.


“Diya tadi ngirimin alamat, kami gak tau apa maksudnya.” Ucap Dea.


“Yaudah sekalian aja kami ikut, kan Denis.” Ajak Andrew. Yang diajak hanya mengiyakan walaupun terpaksa.


“Kami naik motor aja biar cepat nyampe.” Ucap Pina. Dea menggas motornya ngebut.


Mereka sampai di lokasi yang dimaksud.


“Bukannya itu mobil si brengs*k itu.” Gerutu Denis.


“Jangan-jangan mereka mau mencelakai Diya.” Ucap Andrew.


“Tadi Farid juga bilang, kalau kita harus nemuin Raffa.” Ucap Denis.


“Lo berdua di mobil Denis aja ya, gue sama Denis bakalan masuk.” Ucap Andrew.


“Kami ikut.” Ucap Dea


“Keadaan ini gak baik buat kalian berdua.” Kali ini Denis benar-benar baik cuy.


Andrew dan Denis masuk mengendap-ngendap ke dalam, mereka mendengar bunyi gaduh dari sebuah ruangan.


“Lo jangan lupa kasih kabar ya.” Andrew masuk ke ruangan itu.


Perkelahian antara Raffa dan laki-laki itu masih berlangsung, terakhir laki-laki itu ingin memukulkan balok ke pundak Raffa yang sudah melemah.


Gadis itu dengan sigap melindunginya, alhasil gadis itu terkena pukulan balok. Ambruk tak sadarkan diri ke tubuhnya.


Melihat gadisnya disakiti, Raffa seperti persetanan. Semua kekuatannya seperti kembali lagi membalaskan sakit gadisnya pada laki-laki di hadapannya.


“Lo gak bakal selamat.” Ia menendang laki-laki itu sekuat tenaga, hingga terpelanting ke dinding dan mengeluarkan darah dari hidungnya.


Benar, laki-laki itu tak sadarkan diri di tempat ia terjatuh. Raffa membopong gadis itu dan ingin keluar dari ruangan tersebut. Saat ia berusaha berlari, seorang laki-laki lain menyerangnya dari belakang. Tapi tak mengenai dia karena Andrew dan Denis datang tepat waktu.


“Lo bawa dia ke mobil gue, biar gue sama Andrew yang urus.” Ucap Denis.


Ia berlari keluar rumah itu dan menuju mobil Denis, disana ada Pina dan Dea.


“Diya... apa yang terjadi?” tanya Ulya histeris.


“Buruan bawa mobilnya ke klinik.” Pintanya. Pina dan Dea duduk di depan, sedangkan ia di belakang bersama gadis itu, dengan kepala sang gadis di pahanya.


“Ulya jangan ngebut gini dong.” Ucap Dea.


“Ini darurat Fizha.” Balas Pina.


****


Mereka sampai di klinik tante Farid, gadis itu segera diperiksa oleh dokter.

__ADS_1


“Ini pakaiannya den.” Ucap pak Ujang seorang ART di rumah Raffa yang ia minta membawakan pakaiannya.


“Aapa yang terjadi sama Diya?” tanya Pina pada Raffa.


“Uya, jangan tanyain dulu. Raffa juga masih panik, lihat tuh lukanya banyak.” Ucap Deaa.


“Aku gak sabar pengen tau Ja.” Dengan nada tinggi.


“Nanti gue bakal ceritain sama lo berdua.” Ucapnya.


Ia berjalan hilir mudik di depan ruang rawat gadisnya itu, berdoa untuk keselamatannya.


“Kok kamu ikut panik?” tanya Pina kesal melihat Raffa dari tadi tak bisa diam.


“Pin” Dea sedikit mencegahnya.


Dokter keluar dari ruangan dan meminta Raffa menemuinya.


“Kok dia sih yang nemuin dokter?” kesal Pina.


“Yok kita masuk.” Ajak Dea, keduanya masuk ke ruang rawat gadis itu.


Raffa mengikuti dokter ke ruangannya.


“Ada apa tante?” tanya Raffa.


“Tante turut prihatin pada kalian, harus mengalami hal seperti ini terus.” Ucap tente dokter.


“Raffa juga udah jebuh tante.” Ucapnya menundukkan kepalanya.


“Tidak ada luka serius yang dialamimya, tante hanya khawatir Diya akan trauma dengan semua kejadian yang menimpanya.” Ucap tante.


“Iya tante, Raffa bakal menyelesaikan masalah Raffa.” Ucapnya.


Ia keluar dari ruangan itu dan melihat kedua sahabatnya Andrew dan Denis duduk di kursi depan ruangan gadis itu.


“Lo gak pernah cerita apa-apa sama kita bro.” Kesal Denis.


“Maafin gue, gue gak mau kalian juga jadi sasaran mereka.” ucapnya.


“Sejak kapan lo kaya gini, bukannya selama ini kita selalu bersama menghadapi mereka.” balas Denis.


“Ini bukan masalah kita lagi bro, gue gak sengaja bawa gadis itu ke dalam masalah ini. Seperti yang kalian lihat, dia juga jadi korban.” Ucapnya.


“Apapun yang terjadi sama lo atau siapaun yang dekat lo, semua tanggung jawab kita bersama. Teman-teman yang lain juga berpendapat kalau kita sama geng srigala udah siap. Tapi ternyata nggak, lo sendiri yang harus nanggung semuanya.” Ungkap Denis.


“Maafin gue.” Ia kembali menundukkan kepalanya.


“Lo harus kuat bro, kami juga baru tau kalau lo ngelakuin ini buat kita bersama.” Andrew menepuk pundaknya.


Pina dan Dea pamit pulang sebentar, Raffa dan kedua sahabatnya menunggu di ruangan itu.


“Kalau lo ada apa-apa, bilang aja sama gue.” Ucapnya sambil mengusap kepala gadis di hadapannya. Gadis itu hanya mengangguk dan menutup wajahnya dengan selimut karena malu.


Kedua sahabatnya mulai memahami keadaan keduanya dan bisa menyimpulkan bagaimana perasaan Raffa atau gadis itu.


“Bro, nyokap lo nelpon gue.” Ucap Denis pada Raffa.


“Mampus gue, mama bakal marah lihat keadaan gue.” Ucapnya.


“Assalamu’alaikum....” semua mata menoleh ke sumber suara.

__ADS_1


“Mama...” ucapnya pelan.


Bersambung


__ADS_2