RAFFASHA

RAFFASHA
Guru Privat Naura


__ADS_3

"Shanum datang... gilak kok bisa kebetulan.” Andrew exited.


Kedua temannya langsung keluar dari kamar mendengar kata-kata Andrew.


“Suara lo kecilin dikit napa?” ucap Denis, sambil melihat ke arah bawah.


Ternyata benar disana ada Shanum dengan kedua sahabatnya, mereka sepertinya ada keperluan dengan mama Raffa.


“Bencandanya gak usah kelewatan.” Teriak Raffa dari dalam kamar.


“Asli ini gak bercanda bro, dia beneran ke rumah lo.” Ucap Farid. Masuk ke kamar Raffa.


“Dah lah, gue mau lanjut tidur.” Ia menarik kembali selimutnya, tak percaya dengan ucapan teman-temannya.


***


Sudah 3 hari Raffa terbaring sakit, ia tidak mau minum obatnya. Mama mulai cemas dengan keadaannya.


“Pa, giamana menurut papa?” tanya mama.


“Papa juga prihatin sama Raffa ma, masa Cuma gara-gara gak dibolehin nikah malah sakit kaya gitu.” Ucap papa.


“Mama juga bingung pa, gimana kalau kita turutin aja pa.” Ucap mama.


“Terserah mama ja, mama harus membimbing mereka dan mereka harus tinggal disini nantinya. Mama tau juga kan papa jarang di rumah.” Ucap papa.


“Iya pa, mama bakal membimbing mereka pa.” Ucap mama. papa mengelus kepala istrinya.


Mama menyampaikan keputusan mereka untuk menerima permintaan konyol Raffa dengan mengajukan beberapa syarat.


“Sarat yang pertama, jika nanti kamu jadi menikah kalian harus tingga di rumah ini sampai lulus kuliah.” Ucap mama.


Raffa hanya mengangguk senang.


“Sarat kedua, kamu harus bekerja di kantor cabang papa untuk mencukupi kebutuhan kalian, bukannya mama sama papa pelit tapi kamu sebagai suami harus bertanggungjawab.” Ucap mama.


“Raffa ngerti ma.” Jawabnya.


“Yang ketiga kamu harus bubarkan geng mu itu.” Ucap mama.


“Raffa minta waktu kalau masalah ini ma, karna ini menyangkut teman-teman Raffa yang lain ma.” Jawabnya.


“Mama gak mau tau, pokoknya harus kamu lakukan.” Tegas mama.


“Dan yang terakhir, pernikahan ini akan dirahasiakan dulu sampai kalian berdua semester 4 kuliah.” Ucap mama.


“Siap ma, semua sarat akan Raffa lakuin ma. Makasih ya mamaku tersayang.” Ia memeluk mamanya bahagia.


“Giliran dengar nikah udah langsung sembuh.” Jengkel mama.


“Ehehe, sorry mama kuh.” Cengengesan.


“Yaudah kamu istirahat dulu.” Ucap mama.


“Kapan lamarannya ma?” tanya Raffa, tak sabaran.


“Hari Sabtu, karna papa akan berangkat hari Kamis.” Jawab mama.


“Trus nikahnya kapan ma?” tanyanya lagi.


“Emang udah yakin lamarannya diterima?” tanya mama.


“Harus yakin dong ma.” Jawabnya percaya diri.


****


Shanum


Ternyata sudah 3 hari Raffa tidak masuk sekolah karena sakit, pantas aku tidak melihat anak itu beberapa hari ini.


“Diya, dipanggil buk kepsek.” Ucap Dila, memecah lamunanku.


“Aku dipanggil buk kepsek?” tanyaku heran.


“Kok bisa dipanggil Diy?” tanya Devvina.


“Gak tau Pin, aku ke ruangan kepsek dulu, doain aku ya.” Dengan wajah memelasnya, kemudian berlalu meninggalkan kelasnya.


Ia menatap pintu ruangan kepala sekolah, mengetuk pintu dengan ragu.


“Assalamu’alaikum bu.” Ucapku.


“Wa’alaikumussalam, silakan masuk!” Ucap bu kepsek.


Aku masuk sambil menundukkan pandangan, bu kepsek memintaku untuk duduk di kursi yang ada di depan mejanya.


“Tujuan ibu meminta Shanum kemari untuk menayakan kesanggupan Shanum untuk menjadi guru privat putri bungsu ibu.” Ucap bu kepsek terhenti.


Aku berusaha menghilangkan kegugupanku dan mulai melirik buk kepsek.


“Shanum mengertikan?, sudah beberapa kali saya dan papanya mencarikan guru privat untuknya, tapi tidak ada yang betah, ibu percaya kalau Shanum bisa membimbing putri ibu.” Pinta bu kepsek.


Aku sangat menyegani bu kepsek, apalagi sejak bu kepsek tidak jadi mencabut beasiswaku saat itu.


“Bagaimana Shanum, apa kamu bersedia?” tanya bu kepsek.


“Insyallaah bu, saya bersedia.” Jawabku.

__ADS_1


“Alhamdulillaah, nanti sepulang sekolah kamu bisa langsung datang ke rumah ibu untuk memperkenalkan kamu dengan putri ibu.” Lanjut bu kepsek.


“Baik bu, tapi saya bersama teman-teman saya boleh bu?” tanyaku.


“Boleh, tapi untuk selanjutnya biar kamu sama Raffa saja ya.” Balas bu kepsek.


“I-iya bu.” Ucapku.


Aku pamit pada bu kepsek untuk keluar dari ruangannya. Berjalan dengan lunglai menuju kelasku. Kenapa aku harus berhubungan lagi dengan Raffa, padahal aku sudah bertekat tidak ada lagi berhubungan dengannya sejak kejadian waktu itu.


Sepulang sekolah aku dan kedua sahabatku menuju rumah bu kepsek.


“Rumahnya unik ya.” Komentar Deana.


“Gak usah banyak komentar Dean, ayo masuk.” Ajak Devvina.


Kami bertiga menekan bel rumah yang seperti istana itu, kemudian seseorang datang membukakan pintu sepertinya ART rumah ini.


Kami diajak ke ruang tamu kemudian ART itu memanggilkan bu kepsek.


“Eh kalian sudah datang, mari silakan duduk.” Ucap bu kepsek.


“Iya bu, terimakasih bu.” Ucap kami bersamaan.


“Tunggu sebentar ya, sepertinya putri ibu baru pulang sekolah biar ibu panggilin sebentar ya.” Ucap bu kepsek ramah.


Cara bicara buk kepsek di sekolah sama di rumah begitu berbeda, lebih asik kalau di rumah. ehehe...


“Wih, sepertinya Diya bakal jadi mantu orang rumah deh.” Goda Deana.


“Betul, aku juga setuju pendapat kamu Dean.” Balas Pina.


“Ah, kalian gak asik. Masa ledekin sahabat sendiri sih.” Kesalku.


“Jangan ngambek gitu dong nona Raffa.” Ledek Deana lagi.


“Aku ngambek.” Balasku sambil pindah duduk dari samping keduanya.


Kami mendengar suara teman-teman Raffa dari lantai atas, sepertinya mereka sedang reme-rame disana. Ingin rasanya aku melihat keadaan pria itu, tapi tidak mungkin. Aku harus jaga komitmen hatiku untuk tak pernah menaruh rasa padanya.


Bu kepsek datang bersama putrinya yang bernama Naura, sepertinya dia bukan anak nakal, tapi kenapa guru privat lain banyak yang tidak betah mengajarinya?.


Kami bercerita hingga menjelang Ashar kemudian pamit untuk pulang.


***


Raffa


Sudah lama rasanya gue nggak menginjakkan kaki ke sekolah, rindu banget. Apalagi sama dia.


“Basi lo, gue seneng lo gak datang.” Jawab gue.


“Ih, Raffa kok gitu sih.” Lebaynya kumat lagi.


Gue gak melihat dia sejak tadi padahal gue sengaja duduk dekat taman yang sering ia lalui menuju kelasnya.


“Bro, lo dipanggil buk bos.” Ucap Andrew.


“Tau darimana lo?” tanyaku.


“Gue barusan lewat sana,” jawabnya santaia kemudian masuk kelas.


Kenapa coba mama manggil gue, bukannya tadi pagi aja langsung dikasih tau.


Gue langsung masuk aja ke rauangan mama, ternyata orang yang gue tunggu-tunggu ada disana, Ya Tuhan kebetulan macam apa ini?.


Gue duduk di sampingnya berhadapan dengan mama.


Kami berdua serasa disidang sama mama, kapan lagi coba ada momen kaya gini.


“Begini Raffa, mulai sekarang Shanum akan jadi guru privat Naura. Jadi setiap pulang sekolah kamu langsung bawa dia ke rumah.” Ucap mama.


Ntah ini takdir atau bagaimana, mungkin ini ide mama untuk mendekatkan kami. Makasih banyak mama, mama emang terbaik.


“Raffa.” Ucap mama.


“Eh iya ma.” Ucapku kaget.


“Kamu dengar apa kata mamakan?” tanya mama.


“I-iya ma, Raffa dengar.” Jawabku.


Duduk di sampingnya aja udah buat gue grogi abis, apalagi tidap hari ketemu dia di rumah.


Aku dan Shanum keluar bersamaan dari ruangan mama, sepertinya ia tak ingin mengatakan sesuatu padakau, setidaknya ucapan cepat sembuh gitu.


Ketika kami akan berpisah di persimpangan jalan aku memberanikan diri memanggilnya.


“Nanti gue tunggu di parkiran ya.” Ucap gue, mencoba untuk santai.


Ia hanya mengangguk dan melanjutkan perjalanannya menuju kelas. Berbeda dengan aku yang masih mematung disana.


Sampai di kelas ketiga perusuh langsung mengintrogasi gue, kenapa bisa barengan keluar dari ruangan kepsek bareng Shanum.


“Mulai hari ini gue bakal antar dia pulang setiap hari.” Girang gue.


“lo serius?” tanya Andrew dan Farid bersamaan.

__ADS_1


“Iya gue serius.” Jawab gue.


“Gue masih belum percaya, gimana ceritanya sih?” tanya Denis.


“Shanum dikasih tugas jadi guru privatnya si Naura.” Jawab gue.


“Benar-benar peka ya nyokap lo.” Balas Andrew.


“Siapa dulu dong, nyokap gue.” Balasku.


“Jangan sombong dulu bro, lo harus hati-hati juga sama anak-anak sekolah kita. Mana tau ada yang tau kedekatan kalian, gue takut kejadian waktu itu terulang lagi.” Balas Farid.


“Gue juga cemas sama hal itu, gue minta bantuan sama kalian ya bro. Kalau seumpanya kalian lihat Shanum, tapi gue gak ada disana, kalian tolong jagain dia ya.” Pinta gue pada ketida sahabat gue ini.


“Lo tenang aja, kita bakal bantuin lo kok. Pokoknya jangan sampai anak-anak tau kalau Shanum jadi guru privatnya si Naura.” Balas Denis.


Ketiga sahabat gue ini memang baik banget, mereka punya jiwa kebersamaan dan tolong menolong yang tinggi, semoga semua baik-baik saja.


***


Raffa menunggu Shanum di parkiran seperti yang ia katakan tadi pagi. Tapi sudah lebih dari 30 menit Shanum belum datang, sedangkan sekolah sudah sepi.


“Kemanasih dia? Kok jam segini belum datang?.” Pikir Raffa.


Ia melihat Shanum dari kaca spion, berlari-lari menuju mobilnya. Shanum langsung membuka pintu belakang dan duduk dengan nafas ngos-ngosan.


“Lo kenapa?” tanya Raffa, heran.


“Nggak kenapa-kenapa. Maaf ya kamu udah nunggu lama.” Ucapnya sambil menoleh ke Raffa.


Raffa menyadari ada sesuatu yang janggal pada gadis itu, kemudian meminta teman-temannya melihat cctv sekolah.


Tidak ada pembicaraan diantara keduanya mulai dari awal mobil melaju hingga sampai di rumah Raffa.


Setelah sampai Shanum langsung turun dan mengucapkan terimakasih kepada Raffa dan berjalan duluan menuju rumah Raffa.


“Emang dia tau rumah gue?, trus kenapa dia cuek gitu ama gue?. Ah lo udah buet mood gue berantakan tau gak.” Raffa serba salah.


Raffa masuk ke rumahnya dan langsung menuju kamarnya.


“Bro, lo lihat video ini.” Chat dari Farid di grup Gentle Man.


Terlihat disana Shanum duduk di depan kelas menunggu teman-temannya selesai piket kelas, kemudian setelah orang-orang sepi barulah ia berjalan kemudian ada dua orang laki-laki mengikutinya dari belakang. Ia berlari sekencang mungkin menuju taman yang tanamannya tinggi. Setelah ia rasa aman, ia berlari lagi menuju parkiran.


“Sial, mereka masih ingin mengganggu wanitaku. Gue gak bakal biarin ini terjadi.” Ia mengepalkan tangannya emosi.


“Sepertinya Shanum masih jadi target utama mereka.” Balas Denis.


“Kita harus cari cara lain bro, untuk saat ini lo gak usah antar Shanum pulang dulu.” Ucap Farid.


“Gue juga bingung, pikiran gue lagi kacau.” Balas Raffa.


“Gimana kalau kita ngobrol sore ini di basecamp, supaya yang lain juga tau.” Usul Denis.


“Gue setuju.” Balas Andrew.


“Gue juga setuju.” Balas Raffa.


“Kuy, gue udah siap-siap ni.” Balas Farid.


Mereka siap-siap untuk menuju basecamp untuk mencari solusi menyelesaikan masalah dengan geng Serigala.


***


Mulai hari itu Shanum diantar dan dijemput oleh sopir pribadi keluarga Raffa.


“Syukurlah, aku nggak sanggup kalau setiap hari harus bersama dia.” Batin Shanum.


“Gagal dong tiap hari bareng Tuan Raffa.” Goda Deana.


“Biarin”. Juteknya.


“Diya,” panggil seseorang. Ketiganya menoleh bersamaan menuju sumber suara.


“Satria?” ucap Diya.


“Maaf ya Diy, beberapa hari ini aku gak ada kumpul bareng kalian.” Ucapnya.


“Santai aja.” Balas Devvina jutek.


“Yaudah yok ke kelas.” Ajak Deana.


“Kami ke kelas dulu ya Satria, lain kali aja kita ngobrol-ngobrol lagi ya.” Ucap Diya, ikut berlalu bersama kedua sahabatnya.


“Bikin bad mood aja tuh si Satria.” Kesal Devvina.


“Tau tuh, pura-pura baik lagi. Basi kali caranya dia.” Balas Deana.


“Diy, kamu gak bisa dekat terus sama dia. Pokoknya mulai sekarang harus jauhi cowok yang namanya Satria, titik.” Tegas Devvina.


“Iya, aku bakal jauhi Satria. Tapi kalian jangan gitu juga dong, kasiankan dia dicuekin gitu.” Balas Diya.


“Diya sayang, ngapain kasian sama cowok yang udah celakain kamu sama tuan Raffa.” Balas Deana.


“Iya, aku salah.” jawabnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2