
“Bro, lo cepat kesini! Shanum diculik.” Ucap Farid.
“Lo nggak usah ngada-ngada deh.” Sanggah gue.
“Gue serius, barusan tetangga bilang, dia pergi sama mobil hitam dan kita nggak tau mobil hitam itu siapa.” Ucap Farid.
“Lo pastiin lagi, nggak mungkin dia diculik. Karena mereka lagi sibuk di markasnya.” Balas Denis.
“Ini ada telpon dari Diya.” Ucap wanita dari seberang sana.
“Diy, kamu dimana Diy.?” Tanyanya dengan nada cemas.
“Aku..., aaaa..., ” belum sempat menjawab pertanyaan wanita itu terdengar suaranya berteriak.
“Mereka lagi,” teriaknya.
“Bro lo harus kejar mereka sekarang.” Ucap Farid.
“Kalian berdua langsung ke markas biasa mereka, kalau ada tanda-tanda langsung kabari kita.” Denis kemudian mematikan telpon.
“Kita tetap cari anak itu, karena ada kemungkinan mereka membuat markas baru.” Ucap Denis.
Gue benar-benar khawatir, bagaimana keadaan Shanum sekarang?.
Raffa Off
****
“Lo kemana aja ha? Daritadi ditungguin bos.” Ucap seseorang.
“Bukan urusan lo.” Ucapnya kemudian berlalu masuk ke dalam rumah.
“Apa yang membuatmu terlabat datang?” tanya seseorang yang mereka panggil bos.
“Mereka mengikuti sampai ke rumah, setelah semua aman barulah gue kemari.” Jawabnya.
“Apakah ada berita baru?” tanyanya.
“Tidak ada, tadi siang mereka hanya membicarakan rencana Raffa akan bekerja di kantor bokapnya. Mereka hampir mengetahui keberadaanku, tapi tidak berhasil.” Ucapnya.
“Baguslah, lakukan begitu setiap hari.” Ucap ucapnya.
“Sekarang kau pergi dari sini, sebentar lagi wanita itu akan sampai.” Ucapnya.
“Baiklah bos, saya pamit.” Ucapnya kemudian berlalu dan mengendarai motornya.
“Bukannya itu cowok yang kita kejar tadi.” Ucap Denis.
“Benar nis.” Balas Raffa.
Denis dan Raffa melihat laki-laki itu keluar dari sebuah rumah sepertinya rumah kontrakan.
“Akhirnya kita menemukan tempat mereka.” ucap Denis.
“Gue masuk dari kiri, lo masuk dari kanan.” Sambung Raffa.
Keduanya melancarkan aksi masing-masing, tak lupa Raffa shareloc di grup mereka.
“Ternyata hubungan kalian berdua masih awet sampai sekarang ya.” Bentak si bos.
“Hubungan apa?” tanyanya polos.
“Nggak usah sok polos lagi, hubunganmu sama Raffa.” Bentaknya.
“Aku tidak ada hubungan apa-apa sama Raffa.” Balasnya.
“Bohong, lo mau jujur atau kayu ini melayang ke elo.” Bentaknya.
“Kami tidak ada hubungan apa-apa.” balasnya lagi.
Sebuah pukulan mendarat di pipinya.
“Kenapa lo sering ke rumahnya dia?” tanyanya.
“Aku jadi guru privat adiknya.” Jawabnya bergetar.
“Lo bohong lagi.” Kursi yang ia duduki ditendang hingga terjatuh.
“Aaa...,” teriaknya.
“Lo bakalan tau akibatnya kalau bohong sama gue. Selagi lo sama dia, jangan anggap hidup lo bakalan tenang.
__ADS_1
“Bunuh saja aku, jika itu yang kalian mau. Memang aku tidak ada hubungan apa-apa dengan dia.” Balasnya dengan berteriak, masing dengan keadaan kursi yang tumbang.
“Lo berani lawan gue, ha?” menarik hijab yang dikenakan gadis itu.
“Aku melawan karena aku tidak bersalah.” Teriaknya lagi.
“Kalian, bereskan dia. Aku tidak mau menndengar suaranya lagi.” Ucapnnya kemudian berlalu.
Dengan wajah yang pucat, ia duduk dengan tangan dan kaki yang diikat ke kursi. Mulutnya ditutup dengan saputangan.
“Ya Allah, cobaan apa ini. Kenapa aku selalu menjadi sasaran kekejaman mereka?” batinnya sambil meneteskan air mata.
Terdengar suara membuka pintu, ia pura-pura tidur. Melihat seseorang yang berseragam SMA mendekatinya dengan wajah yang tertutup.
“Siapa dia? Sepertinya bukan Raffa.” Batinnya.
Dengan sikap mengawasi sekelilingnya, kemudian mendekati gadis itu.
“Shanum, gue Denis ayo bangun. Gue bakal bantu keluar dari neraka ini.” Ucapnya.
Gadis itu membuka matanya seiring dengan Denis membuka semua ikatan.
“Lo pegang pisau ini, sewaktu-waktu ada yang melihat kita kabur.” Ucap Denis.
Setelah berhasil keluar dari kamar itu, mereka bertemu dengan seorang algojo, dengan cepat Denis menaklukkannya. Mereka bergegas keluar dari rumah itu lewat pintu belakang.
Terdengar suara dari kamar lain, “Sudah gue bilang, hidup lo gak bakalan bahagia sebelum lo mengakui kesalahan lo. Dan gue tidak ingin melihat lo menderita.” Ucap seseorang.
“Shanum, lo masuk sembunyi aja dulu ya. Mereka berhasil menemukan Raffa.” Ucap Denis.
Ia hanya menggeleng pertanda tidak ingin pergi.
“Ini bahaya buat lo Shanum.” Bujuk Denis.
Shanum mengambil rompi algojo dan menyuruh Denis untuk mengenakannya agar Denis bisa masuk ke dalam.
“Lo tunggu disini ya, nih pegang tas gue, di dalam ada hp dan kunci mobil. Kasih tau di grup kita sedang bahaya.” Ucapnya kemudian berlalu.
Denis masuk ke dalam ruangan, ia melihat banyak algojo di ruangan itu termasuk Satria dan bos besar geng Srigala.
Disisi lain Shanum sedang mencari perlindungan, ia bersembunyi di dalam mobil yang ia ketahui itu milik Devvina.
Ia membuka hp milik Denis tapi terkunci. “Gimana cara ngabarinnya kalau hpnya dikunci.” Ucap Diya. Tak lama ponsel Denis berdering ternyata panggilan dari Andrew.
“Aku Diy, HP Denis sama aku. Mereka masih di ruang penyekapan. Raffa dalam bahaya.” Ucapnya.
“Lo yang tenang ya, kalian masih di alamat yang tadikan. Kita udah bawa teman-teman yang lain. Tunggu disana.” Ucap Andrew.
****
“Udah berapa kali gue bilang, percuma lo bawa banyak teman-teman lo. Gak bakalan bisa ngalahin gue.” Ucapnya sombong.
Wajah Raffa penuh dengan lebam pukulan dari bos Srigala.
“Gini aja, gu kasih lo tawaran. Lo ngaku kalah dihadapan gue, semuanya akan selesai.” Ucapnya.
“Cuih...,” Raffa meludah sebagai aksi tidak setujunya.
“Ok, sekarang kalian selesaikan anak ini. Jangan kasih ampun.” Ucapnya kemudian berlalu dari ruang itu.
Tiba-tiba saja salah satu dari algojo itu mengunci pintu dan menyimpan kuncinya. Ia menendang yang lain kemudian melepas ikatan Raffa.
“Gue Denis Raf.” Ucapnya.
Kemudian keduanya melawan algojo yang kekar dan kuat. Ada 12 orang yang harus mereka taklukkan. Disisi lain, Shanum tidak bisa diam saja di mobil, dia kembali ke rumah itu dan berhasil ditemukan oleh suruhan Bos Srigala.
“Raffa, Denis.” Teriaknya sebelum ia pingsan akibat saputangan yang diberi obat.
“Shanum.” Ucap keduanya bersamaan.
Mereka mencari sumber suara, tapi ruangan itu dikunci. Andrew dan yang lain sudah datang, ternyata mereka sudah membawa Shanum lewat pintu belakang.
“Mereka tidak berada disini.” Ucap Denis.
“Sial.” Rutuk Raffa.
Mereka berembuk untu memikirkan langkah selanjutnya.
****
Wajah gadis itu sudah semakin pucat, karena beberapa hari ini ia memang sakit.
__ADS_1
Flash back on
Shanum mendapat pertolongan dari Denis, ia mengambil kembali ponselnya yang terpelanting saat mengangkat telpon dari Pina.
Ia mendengar percakapan dari bos dan beberapa suruhannya termasuk Satria, orang yang pernah ia percaya.
“Malam ini bawa dia ke markas baru, jangan sampai mereka tau lokasinya.” Ucap si bos.
“Dimana markas barunya bos?” tanya Satria.
“Di jalan Kenanga nomor 8 ada rumah kontrakan, letakkan dia disana. Dan tugasmu Satria, awasi dia untuk malam ini. Yang lain kita harus menyusun rencana baru.” Ucapnya.
“Baik bos.” Jawab mereka bersamaan.
Flash back off.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, masih belum ada tanda-tanda keberadaan Shanum.
“Bro, kita balik dulu ya. Gue yakin mereka nggak bakal bertindak lebih jauh sama Shanum.” Ucap Denis.
“Gue juga kepikiran gitu bro.” Ucap Farid.
“Gue berharap kalian akan siap saat nanti ada kabar.” Ucapnya.
“Aman bro, teman-teman yang lain juga udah gue kabari.” Ucap Denis.
Akhirnya mereka kembali ke rumah masing-masing.
“Pin, udah dapat kabar dari Diya?” tanya Dean lewat chat.
“Beluan Dean, kata Farid kita berdoa aja semoga Diya baik-baik saja.” Balas Pina.
“Tadi mama nanyain kabarnya Diya, malah ngajakin ke rumahnya Diya lagi. Untung aku bisa bujuk mama biar nggak jadi pergi ke kontrakan Diya.” Chat Dean.
“Pokokya jangan sampai mama kesana ya, jadi brabe nanti urusannya.” Balas Pina.
“Iya Pina, Nona Farid.” Balas Dean.
“Deaaaaannnnnnn, awas kamu besok.” Balasnya.
Dean mengirim emot ledekan kepadanya.
****
Raffa masih stay dengan ponselnya, ia berharap dapat kabar dari teman-temannya yang sedang bertugas untuk melacak keberadaan mereka.
“Jalan Kenanga nomor 8.” Satu pesan yang dapat mengubah suasana hatinya saat itu. Dengan sigap ia mengambil motor matic adiknya kemudian berlalu menuju alamat yang dimaksud.
Raffa melihat rumah itu begitu sepi namun banyak motor yang terparkir di dalam rumah. Saat ia mencoba memegang gagang pintu, ternyata tidak dikunci.
Terlihat beberapa orang yang sedang tertidur pulas disana, ada juga satria yang ketiduran di depan pintu sebuah ruangan.
“Mungkin dia ada di ruangan ini.” Batinnya, kemudian ia masuk pelan-pelan.
Ia melihat gadis itu begitu pucat dengan pakaian yang lusuh.
“Maafin gue Shanum, semua gara-gara gue.” Ia mengelus kepala gadis itu.
Dengan perlahan ia membuka ikatan tangan dan kaki Shanum.
“Raffa.” Bisik Shanum, saat terbangun dari tidurnya.
Terdengar suara pintu terbuka, Raffa bersembunyi dibalik pintu sedangkan Shanum pura-pura tidur.
“Aman.” Ucap Satria. Oh ya Satria disini pakai topeng ya, eheheh.
Raffa terpaksa memapah Shanum yang sudah lemah dan tak kuat untuk berjalan.
“Maaf ya, terpaksa aku harus papah kamu. Kita harus berjalan tanpa mengeluarkan suara.” Bisiknya. Shanum hanya mengangguk.
Keduanya berjalan perlahan menuju pintu dimana Satria sedang berjaga, ternyata ia tidur dengan pulas. Di ruang tamu juga ada beberapa orang yang sedang tidur, mereka bisa melewati penjagaan dan berhasil kabur dari rumah itu.
“Kamu hati-hati ya, kalau memang nggak sanggup duduk biar aku telpon Farid bawain mobil.” Ucap Raffa. Shanum membalas dengan gelengan.
Raffa membawa Diya ke rumahnya, kebetulan mama dan papa masih belum tidur.
“Ma, bantu Raffa ma.” Ucapnya, membuat mama dan papanya menuju ke arahnya.
“Astagah Raffa, apa yang terjadi?” tanya mama khawatir.
Jangan lupa Like & komen ya guys...😉
__ADS_1
terimakasih🤗