
Raffa membawa Diya ke rumahnya, kebetulan mama dan papa masih belum tidur.
“Ma, bantu Raffa ma.” Ucapnya, membuat mama dan papanya menuju ke arahnya.
“Astagah Raffa, apa yang terjadi?” tanya mama khawatir.
“Ceritanya panjang ma.” Jawabnya.
“Bawa ke kamar tamu aja, biar lebih dekat.” Ucap papa.
Shanum dibaringkan di kasur, “Wajahnya begitu pucat, apa dia sedang sakit?” tanya mama.
“Sepertinya iya ma.” Jawab Raffa.
“Kalau keadaannya seperti ini, papa nggak percaya sama kamu Raffa.” Ucap papa. “Belum aja jadi sama kamu, dia sudah menderita duluan. Papa tidak tega lihat dia seperti ini terus.” Ucap papa.
“Pa, kasih Raffa kesempatan pa. Raffa janji akan jagain Shanum pa.” Ucapnya memohon.
“Syarat yang mama ajukan kemarin belum ada yang kamu tepati, mama juga nggak setuju kalau hubungan ini dilanjutkan.” Ucap mama.
Raffa terdiam seribu bahasa, disisi lain ia yakin kalau Shanum bersamanya ia bisa menjaga Shanum. Jika masih berjauhan, bagaimana caranya untuk menjaga Shanum.
“Sekarang kamu boleh pergi, jangan pernah berharap bersama Shanum lagi.” Ucap mama dengan nada agak tinggi.
Raffa tidak bisa membantah ucapan mamanya, ia berlalu dari kamar itu.
“Apa rencana mama selanjutnya?” tanya papa.
“Mama juga belum tau pa, sampai sekarang kita juga belum dapat kabar.” Ucap mama.
“Yasudah ma, papa keluar dulu ya. Mama atau bibi aja yang jagain Shanum?” tanya papa.
“Mama aja pa, nanti minta bantuin bi Ina.” Jawab mama sambil tersenyum sambil mengelus kepala Shanum.
****
Shanum sadar melihat sekelilingnya, ia melihat bunda bersama neneknya duduk di dekat tempat tidurnya.
“Bunda sama nenek ngapain nih, asik banget.” Tanya Diya.
“Bunda sama nenek ingi membicarakan tentang jodoh kamu sayang.” Jawab bunda.
“Kenapa dengan jodoh Kila bun?” tanyanya.
“Dia laki-laki yang baik.” Jawab bunda sambil menerawang entah kemana.
“Iya Kila, nenek juga percaya sama dia.” Sambung nenek.
“Sini sayang.” Bunda meminta duduk disampingnya.
“Tapi akan banyak rintangan yang kana kalian jalani, jangan sampai mengeluh ya sayang.” Ucap bunda sambil mengelus rambutnya.
“Kila jangan putus asa dengan apa yang terjadi, nenek yakin semua akan terlewati.” Sambung nenek.
“Sekarang Kila sudah akan menikah, jangan manja ya sayang. Selalu berbuat baik kepada suami dan keluarganya, karena merekalah yang akan menjaga Kila.” Nasehat bunda.
Ia bahagia melihat bunda dan neneknya, “Ya Allah, apakah ini mimpi?” batinnya.
Kemudian ia terbangun dari tidurnya melihat sekelilingnya, pastinya itu bukan kamarnya. Ia melihat pakaiannya sudah berbeda, tidak selusuh saat kejadian.
“Dimana aku? Ini bukan pakaianku.” Ia beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu kamar sambil melihat ruangan yang sudah sepi dan remang-remang karena beberapa lampu dimatikan.
“Astagah, ini rumah Raffa.” Batinnya.
__ADS_1
Ia menuju dapur untuk mengambil air minum, kemudian duduk di meja makan sambil mengingat kejadian terakhir yang menyebabkan ia harus dibawa ke rumah Raffa.
Dari kejauahan ia melihat sosok laki-laki yang menuju ruang makan juga, ia beranjak dari tempat duduknya kemudian ingin berlalu.
Ternyata laki-laki itu Raffa, ia menghidupkan lampu karena ingin melihat gadis itu dengan jelas.
“Ada yang akan aku bicarakan.” Ucap Raffa.
Seakan ada yang menuntunnya kembali duduk di kursinya semula.
“Kemana beberapa hari ini tidak masuk sekolah?” tanya Raffa.
“Ya Allah, kenapa dia menanyakan hal itu?” batinnya.
“A, aku kurang enak badan.” Jawabnya.
“Kenapa bisa kejadian yang sama terulang lagi?” tanya Raffa.
Gadis di hadapannya tampak menahan air matanya, sambil menggeleng.
“Apapun yang terjadi, hubungi aku. Aku tidak mau hal yang sama terulang lagi.” Ucap Raffa.
Gadis itu semakin menangis dan tidak berani melihat padanya.
“Sudahlah, mungkin aku ditakdirkan untuk mengalami ini semua. Apalagi sejak mengenal kamu (sambil terisak). Terimakasih sudah membantuku selama ini, mungkin kejadian yang sama tidak akan terjadi lagi bila kita tidak saling mengenal seperti dulu.” sepertinya keadaan mendukungnya berbicara panjang kali ini.
“Maafkan aku Shanum, aku janji akan memperbaiki semuanya.” Ucap Raffa.
“Lupakan saja kalau kita pernah kenal, supaya aku tenang seperti dulu lagi.” Ucapnya kemudian berlalu meninggalkan Raffa sendiri.
“Aku tidak janji semua akan baik-baik saja walaupun tidak ada hubungan diantara kita.” Ucap Raffa. Langkah gadis itu terhenti mendengar ucapan Raffa, namun tetap membelakangi sumber suara.
“Kamu tahu kenapa mereka mengancammu, karena aku mencintaimu.!” Pernyataan Raffa membuat tangisnya semakin meledak.
“Lupakan saja semua, aku akan katakan pada mereka tidak ada hubungan diantara kita. Semua akan selesai.” Jawab gadis itu.
“Tidak semudah itu, semua akan selesai saat kamu jadi pendamping hidupku.” Ucap Raffa dengan berani.
Gadis itu berlalu begitu saja mendengar pernyataan terakhir Raffa.
“Shanum, maafin gue.” Ucapnya frustasi.
****
Setelah shalat subuh Shanum menelpon sahabatnya.
“Diya, ini benaran kamu?” tanya Dean tak percaya.
“Iya Dean, nanti jemput aku ya. Pina tadi aku telpon tapi nggak diangkat.” Ucap Shanum.
“Alhamdulillah Diy, kamu baik-baik ajakan.” Ucap Dean.
“Iya Dean, aku di rumah Raffa sekarang. Jangan lupa ya jemput aku.” Pintanya.
“Siap Nona Raffa, akan dilaksanakan.” Jawab Dean. Kalau nggak rese, bukan Deana namanya.
Saat ia keluar kamar, kebetulan mama Raffa datang.
“Gimana keadaannya Shanum, sudah mendingankan?” tanya mama Raffa.
“Sudah bu, terimakasih banyak ya bu.” Ucapnya.
“Jangan sungkan-sungkan Shanum, jangan anggap ibu orang lain sampai kamu harus mengucapkan terimakasih berkali-kali.” Ucap mama Raffa sambil tersenyum.
__ADS_1
“Maaf bu.” Singkatnya.
“Yok sarapan pagi, nanti pulangnya diantar sama Raffa ya.” Ucap mama.
“Nggak usah bu, nanti Deana sama Devvina akan datang jemput bu.” Ucap Shanum.
Shanum ikut serta sarapan bersama keluarga Raffa, keduanya saling canggung karena perdebatan tadi malam. Selesai makan, papa, mama dan adik Raffa sudah berangkat sekolah.
Sedangkan Shanum menunggu kedua sahabatnya di teras rumah Raffa.
“Udah hampir 30 menit kamu menunggu, biar aku antar saja.” Ucapnya. Krik, krik, krik.
Masih tidak ada jawaban dari lawan bicaranya.
“Kamu boleh benci sama aku Shanum, tapi jangan larang aku berbuat baik sama kamu.” Sambungnya.
Setelah mengucapkan kalimat itu, terlihat mobil Devvina menuju ke rumah Raffa.
“Terimakasih, aku pergi dulu.” ucap Shanum tanpa menoleh pada lawan bicaranya.
Ia masuk ke mobil sahabatnya kemudian mobil berjalan meninggalkan kediaman keluarga Raffa.
Kedua sahabatnya bertanya banyak ha padanya tentang kejadian kemaren, tapi ia tidak menanggapi dan berpura-pura lesu.
Saat ini menghantui pikirannya adalah kata-kata Raffa yang mengucapkan kata cinta padanya.
“Aku juga nggak mau bohongi diriku sendiri Raf, aku juga suka sama kamu. Entah sejak kapan perasaan ini muncul. Tapi takdir berkata lain, aku harus menikah dengan pilihan nenek.” Batinnya.
“Diy, kok melamun sih? Nggak baik lo.” Ucap Pina.
“Nggak kok, aku merasa belum sehat aja. Insyaallah besok aku masuk sekolah.” Ucapnya.
“Yaudah kami antar ke kontrakan aja ya. Tapi jangan keluyuran kemana-mana, kalau mau beli apa-apa tunggu sampai kita datang.” Ucap Deana.
“Kita trauma sama kejadian kaya kemaren Diy. Kamu juga jadi korban keganasan mereka, siapa sih mereka?” sambung Pina.
“Udah, kita lupakan aja kejadian kemaren ya. Semua akan baik-baik saja seperti dulu.” balas Diya.
“Aamiin Ya Allah.” Jawab mereka bersamaan.
Diya turun di depan kontrakannya, kemudian bergegas masuk ke rumah. Ia melihat rumah yang begitu berantakan mungkin ulah kedua sahabatnya kemaren.
Hal pertama kali yang ia lakukan yaitu membereskan rumah, dan menyapu. Saat menyapu teras ia heran melihat seorang laki-laki duduk di teras rumah dengan berpakaian seragam lengkap.
“Raffa.” Batinnya, kemudian mengambil tindakan masuk lagi ke dalam.
“Shanum, tunggu!” cegahnya.
“Ada apa lagi Raffa?.” Kali ini ia mengucapkan nama Raffa. Tak seperti biasanya.
Ia heran melihat laki-laki itu tersenyum. “Mau ngapain?” juteknya.
“Aku seneng, kamu panggil namaku.” Balasnya.
“Kalau nggak ada apa-apa, aku mau masuk.” Jawabnya.
“Sabar dikit napa buk, jangan marah-marah. Ntar cepat tua loh.” Goda Raffa.
Shanum kesal dengan ucapan Raffa, ia benar-benar masuk ke rumah dan mengunci pintu.
“Shanum, aku yakin kamu dengar ucapan aku. Aku mau minta maaf sama kamu, karena udah bawa kamu ke masalah geng kami. Aku janji bakal jagain kamu, itu hal yang harus kamu ingat. AKU AKAN JAGAIN KAMU.” Ucapnya kemudian pergi dari sana.
Jangan lupa Like & komen ya guys...😉
__ADS_1
terimakasih🤗