RAFFASHA

RAFFASHA
Kisah Pilu Keluarga Wijaya


__ADS_3

“Bagaimana keadaannya saat ini nak?” tanya nenek pada Kayla.


“Alhamdulillah sudah baikan nek, kapan kita akan pergi kesana?” tanya Kayla.


“Mungkin lain kali saja, keadaanmu sangat tidak memungkinkan.” Ucap nenek.


“Saya siap kok nek, saya sudah baikan.” Kayla berdiri dan menggerak-gerakkan kakinya membuktikan bahwa ia sudah baikan.


“Baiklah kalau begitu. Mari kita pergi.” Ucap nenek.


Ternyata nenek membawanya ke pemakaman umum, sebelum mereka menuju pemakaman yang dimaksud, Kayla ingat ucapan Denis untuk mengalihkan perhatian Kharisma.


Kayla menghubungi Kharisma terlebih dahulu dan memberitahu keberadaannya saat ini. Tanpa Kyla ketahui Denis juga mengikutinya dari belakang untuk memastikan keselamatannya.


Kayla mengikuti nenek yang berhenti di depan pemakaman dengan nisan yang bertuliskan “Kayla Deliana Binti Ramdan”.


Kayla terduduk sambil memeluk nisan itu, kenapa tidak? Dia tau itu adalah makam ibunya yang tak pernah ia ketahui bagaimana rupanya.


“Inilah makam Kayla, majikan kami berdua dengan Lastri saat itu.” Ucap nenek.


Flash back on.


Wijaya merupakan salah seorang pemilik perusahaan terkenal di kota itu, tapi hanya memiliki beberapa cabang, selain itu cabang besarnya berada di luar negeri.


Ia memiliki 4 orang putra sedangkan istrinya sangat menginginkan seorang putri. Wijaya meminta agar mengadopsi anak saja, tapi istrinya tidak ingin mengadopsi anak.


Dengan terpaksa Wijaya menikahi seorang gadis yang saat itu menjadi karyawan di perusahaannya, sejak itu Wijaya tinggal di Indesia bersama istri barunya yaitu Kayla.


“Kalian lenyapkan anak itu sekarang juga saya tidak ingin melihat dia disini.” Teriak pak Wijaya pada pak Karman yang saat itu sebagai security disana.


Mendengar majikannya membentak-bentak seperti itu, Inem yang di dapur datang menghamipiri Lastri yang sedang menagis.


“Apa yang terjadi Las? Kenapa tuan Wijaya sangat marah?” tanya bu Inem.


“Nyonya Kayla bu, nyonya Kayla meninggal setelah melahirkan putrinya.” Tangis Lastri.


“Innalillaahi wa inna ilayhi rajiun, putrinya bagaimana sekarang?” tanya bu Inem.


“Tuan Wijaya tidak terima istrinya meninggal, ia menyuruh pak Karman untuk membunuh bayi itu.” Tangis Lastri.


“Astaghfirullah, tuan Wijaya kenapa bisa seperti itu.” Bu Inem mengangis bersama Lastri saat itu, sedangkan jenazah Kayla sudah dibawa ke rumah keluarganya untuk dimakamkan.


“Bu, saya tidak tega melihat anak itu dibuang bu. Saya akan selamatkan dia semampu saya.” Ucap Lastri.


“Las, kamu jangan nekat seperti ini Las. Bagaimana kalau Tuan Wijaya tau?” ucap bu Inem.


“Saya tidak akan kembali lagi ke rumah ini bu, saya janji itu.” Lastri berlari mengejar mobil yang dibawa pak Karman.


Inem menangis di rumah itu tinggal sendiri, ia tidak bisa melihat majikannya untuk terakhir kalinya. Setelah itu Inem tidak tahu apa yang terjadi. Karman memberitahunya bahwa Lastri pergi membawa bayi itu entah kemana.


2 tahun setelah kejadian itu, istri pertama Wijaya datang ke rumah itu dan marah-marah.


“Mas, kamu lupa tujuanmu yang sebenarnya. Walaupun kamu mencintai Kayla tapi kamu nggak bisa seenaknya membuang bayi itu.” Tangis bu Ani.


“Saya khilaf Ani, saya khilaf.” Wijaya tampak frustasi.

__ADS_1


“Sekarang keluarga Wijaya tidak lagi punya putri, padahal tujuan utama kamu menikahi Kayla karena ingin punya putri an mas.” Ani tampak emosi dengan sikap suaminya.


“Kalau seandainya dari dulu kamu kasih tau kalau bayi Kayla selamat, aku bersedia menjaganya mas. Kamu memang tidak punya perasaan mas, bayi yang tidak berdosa itu kamu buang seenak hatimu.” Ternyata Ani tidak mengetahui kalau Kayla sudah meninggal karena Ani bertempat tinggal di luar negeri sambil mengurusi salah satu anak perusahaan suaminya disana.


“Aku tidak mau tau mas, kamu harus mencarikan anak perempuan untukku.” Putus Ani.


Wijaya meminta bu Inem untuk mengambil seorang anak perempuan dari panti asuhan. Mulai saat itu mereka punya putri yang bernama Renata Putri Adinda.


Flash back off.


Nenek menangis tersedu-sedu menceritakan sekelumit kisah pilu keluarga Wijaya yang tidak diketahui orang lain.


Sama halnya dengan Kayla yang masih setia mengelus-elus batu nisan yang berwarna putih itu.


“Apa pak Wijaya tidak pernah mencari keberadaan putrinya nek?” tanya Kayla tersendak-sendak.


“Tuan Wijaya percaya kalau Karman sudah membuang bayi itu ke hutan. Sedangkan Lastri tidak diketahui keberadaannya sampai sekarang.” Jawab nenek.


Nenek membuka kembali selembar kertas itu, “Darimana dapat surat Latri ini nak?” tanya nenek.


“Saya mendapatkannya dari keluarga almarhumah nek, mbak Lastri sudah meninggal 20 tahun lalu.” Ucap Kayla. Tangis nek Inem kembali meledak.


“Pasti kamu putrinya kan?” tanya nek Inem. Kayla menggeleng sambil menahan tangisnya, yang membuat dadanya semakin sesak.


“Saya, saya anak ... yang diselamatkan mbak Las.” Kayla berbicara sesenggukan. Nenek langsung memeluknya tanpa mengatakan sepatah katapun.


“Kayla.” Ucap seseorang, membuat nenek dan Kayla menoleh pada sumber suara.


“Nek Inem? Kenapa disini juga ?” tanyanya.


“Nenek kenapa bisa bersama Kayla?” tanya Kharisma heran.


“Mmm anu, anu, nenek ada urusan dengan Kayla.” Jawabnya.


“Bukannya ini makam istri kedua papa? Kamu siapa sih sebenarnya?” kali ini Kharisma menunjukkan sisi garangnya yang sesungguhnya. Tangan Kayla dicekal dengan kuat, membuat gadis itu merintih kesakitan.


“Den Kharisma, jangan sakiti Kayla. Dia kesini untuk berziarah ke makan ibunya.” Ucap nenek.


“Apa? ibunya? Kayla ini putri istri papa yang kedua?” hanya diangguki oleh nenek.


“Nggak mungkin, aku nggak percaya. Dia hanya mengaku-ngaku, pasti kamu melakukan itu semua karena menginginkan harta keluarga Wijayakan?” dengan suara yang meninggi ia menuduh Kyla sembarangan.


“Aku tidak pernah meminta untuk dilahirkan dikeluarga manapun, setelah kejadian ini aku bersyukur tidak hidup dalam keluarga kaya yang dipenuhi kesombongan dan kekasaran.” Balas Kayla masih sesenggukan.


Ia mengambil tasnya di samping batu nisan itu, kemudian mendekati nenek Inem.


“Terimakasih banyak nek atas informasinya, semoga nenek sehat terus ya.” Kayla memeluk nenek Inem.


“Semoga suatu saat kita bisa bertemu lagi ya nek, nenek sampaikan pada keluarga Wijaya, jangan khawatir aku tidak akan meminta apapun pada keluarga itu. Aku datang kesini untuk mengetahui orangtuaku. Dan sekarang aku sudah tau dimana makam ibu, itu lebih dari cukup.” Sambungnya untuk menyindir Kharisma.


“Dan kamu, ini ponselmu.” Kayla menatuh ponsel itu doi tangan Kharisma dengan kasar. Kemudian Ia berlalu dari makam itu dengan tergesa-gesa.


“Kayla, jangan pergi nak.” Pinta nek Inem.


“Nggak usah dikejar nek, dia hanya gadis penipu.” Ucap Kharisma.

__ADS_1


“Nenek percaya padanya, nenek percaya dia adalah putri Kayla.” Tangis nenek sambil berlutut di tanah.


Kayla duduk berjalan tidak tahu arah sambil menangis, “Aku menyesal mengetahui siapa orangtuaku.” Teriaknya di jalanan sepi itu.


Sebuah tangan mengulurkan tisu padanya, ia menoleh pada orang itu ternyata Denis.


“Denis.” Ucapnya sambil menghapus air matanya. Ia tidak ingin terlihat lemah dimata orang lain.


“Hapus dulu air matanya, udah dari tadikan nangisnya?” Denis menggodanya.


“Nggak, aku nangisnya barusan kok.” Jawabnya.


“Aku sudah tahu apa yang terjadi Kay, nggk usah bohong lagi. Mulai kamu datang ke pemakaman sampai Kharisma datang, aku lihat semua.” Ucap Denis.


Kayla menoleh pada laki-laki yang berdiri di sampingnya, ternyata dari tadi lai-laki itu menguntitnya.


“Istirahat dulu ya, berhenti dulu nangisnya. Kasian mata kamu.” Ucap Denis, kemudian berjalan meninggalkannya yang masih membisu.


Deg, Kayla tiba-tiba berdebar mendengar ucapan Denis. Ia mengikuti Denis dari belakang sambil memegangi jantungnya yang berdebar kencang.


Disisi lain Kharisma bersama nenek kembali ke rumahnya. Kharisma menanyakan apa yang terjadi pada keluarganya dimasa yang lalu.


Dengan perlahan nenek menceritakan apa yang sebenarnya terjadi saat itu bersarkan apa yang ia lihat dan ketahui.


“Papa membuang bayi itu?” tanyanya memastikan.


“Iya, tuan Wijaya menyuruh Karman untuk membuang bayi itu. Tapi Lastri menyelamatkannya, dan dialah Kayla gadis yang tadi.” Ucap nenek.


“Nenek tau dimana rumah Lastri?” tanyanya.


“Tidak Den, nenek tidak tau.” Jawabnya.


“Hah...” Kharisma benar-benar frustasi memikirkan hal itu.


“Renata bukan anak kandung Tuan Wijaya, makanya nama Renata tidak ada embel-embel Wijaya.” Jelas nenek.


“Papa tidak pernah menceritakan hal ini.” Ucapnya.


“Tuang Wijaya juga tidak pernah tau kalau Karman tidak jadi membuang anak itu ke hutan, tapi Lastri yang menyelamatkannya.” Jelas nenek.


“Aku harus menemui papa dan memberitahu hal ini.” Ucapnya kemudian berlalu.


“Jangan Den, nanti nenek dipecat.” Mohon nenek Inem.


“Nenek tenang saja, semua akan baik-baik saja.” Ucap Kharisma.


Tiba-tiba nenek Inem pingsan, “Nek, nenek.” Ucap Kharisma membangunkan nek Inem.


Pembaca yang tersayang, semoga suka ya sama ceritanya. Jangan lupa komen ya supaya makin bagus kedepannya🤗


dan jangan lupa like juga ya guys...😉


terimakasih🤗


Bersambung. 15/12/21

__ADS_1


__ADS_2