
Raffa berjalan menuju meja makan untuk sarapan, ia melihat mama dan adiknya sedang sarapan.
“Mulai hari ini hukkuman kamu selesai.” Ucap mama.
“Asik dong ma, bisa minta jemput sama kak Raffa lagi dong.” Balas Naura.
“Em, udah sebulan ya ma?” tanyanya tak percaya.
“Udah.” Jawab mama singkat.
“Ma, mulai hari ini Raffa bakal naik bus kok ke sekolah.” Ucapnya kemudian menyelesaikan sarapannya dan menyalami tangan mamanya kemudian berlalu.
“Kok kakak berubah ya ma.” Ucap Naura.
“Alhamdulillah ada kemajuan.” Ucap mama.
“Kemajuan apasih ma, Ura gak paham.” Tanyanya.
“Ura belum saatnya paham, ayo buruan habisin sarapannya sayang. Bentar lagi bel.” Ucap mamanya.
****
Seperti biasa Raffa akan duduk di samping gadis itu, tapi pagi ini berbeda. Raffa memilih duduk di belakangnya, karena ia yakin gadis itu sudah tau siapa dirinya.
Laki-laki yang di sebelah gadis itu sangat mencurigakan, sejak tadi dia mengirim pesan kepada seseorang dengan mengambil foto gadis di sebelahnya.
“Mereka masih belum kapok juga.” Batin Raffa.
Setelah bus berhenti, Raffa sengaja berjalan di belakang gadis itu sedangkan laki-laki itu ada di belakangnya.
“Siapa sih nih orang, mengganggu rencana gue aja.” Gerutunya.
“Jangan main-main lo sama gue.” Batin Raffa.
Semuanya sudah turun dari bus, Raffa mengikuti laki-laki misterius itu. Ternyata benar dia adalah suruhan geng Srigala.
“Kali ini kita boleh gagal, tapi besok lihat saja gadis itu akan binasa dan ia mengakui kesalahannya dihadapan polisi.” Uangkapnya kemudian tertawa besar bersama teman-temannya.
“Lo kira gue sebodoh itu? Gue gak bakalan nyerah sama lo.” Batinnya kemudian berlalu.
Ternyata gerbang sudah dikunci. Raffa terpaksa harus menerima hukuman membersihkan kolam renang sekolah karena terlambat.
****
“Raffa terlambat karena membuntuti seseorang bos.” Lapornya.
“Apa? dia terlambat?” kemudian melirik ke arah luar ruangan dan melihat Raffa sedang duduk sambil minum air mineral disana.
“Informasi yang bagus.” Ucapnya. Kemudian telpon terputus.
****
Setelah bel pulang, Raffa sengaja duluan dari teman-temannya.
__ADS_1
“Lo mau kemana?” tanya Farid mengikutinya.
“Mereka mau mencelakai dia, gue gak bisa tinggal diam.” Ucapnya.
“Gue bakal bantuin lo.” Ucap Farid.
“Ini masalah gue bro, lo pulang aja sama yang lain.” Ia menolak bantuan Farid.
“Kalau lo kenapa-kenapa lo hubungi ge ya. Gue cabut dulu.” Farid berlalu setelah menepuk pundaknya.
Terlihat seorang gadis keluar kelas dengan menggunakan maskernya menuju halaman sekolah hingga keluar dari pekarangan sekolah. Ia naik bus trip terakhir untuk hari ini karena sudah pukul 2 siang. Kemudian turun di depan kostnya.
“Dia udah masuk kost, trus gue harus kemana nih?” batinya.
Ia melihat sebuah warung yang tidak jauh dari kost tersebut, dan dari warung bisa melihat siapa saja penghuni kost yang keluar dari kamar. Kemudian menelpon seseorang untuk mengantar motornya kesana.
“Makasih ya pak.” Ucapnya pada pak Joko sopir mamanya yang mengantar motornya bersama seoramg karyawan lain.
“Kalau ginikan gue aman, motor udah ada tinggal pulang deh kalau semua beres.” Batinnya.
Ia menyerumput minuman yang ia pesan sambil mengawasi sekitar kost itu. Ternyata benar, keluar seorang gadis yang mengenakan jaket dan hijab hitam dengan sebuah kantong besar ditangannya. Ia berjalan menuju pinggir jalan raya sepertinya ingin ke suatu tempat.
“Buk disana ada apa ya?” tanyanya.
“Oh disana ada pembuangan sampah, biasanya orang sekitar sini buang sampah kesana.” Jawab si pemilik warung.
“Oh begitu buk.” Jawabnya. Matanya masih terus mengikuti langkash gadis tersebut.
Saat lengah sedikit ia tak melihat gadis itu lagi, “Ah sial kemana perginya dia?” batinnya kemudian berlari menuju tempat pembuangan sampah yang tidak jauh namun agak telindungi oleh rumpu tinggi.
“Sombong banget tuh cewek.” Batinnya, kemudian mengikutinya dari belakang. Tidak disangka ternayata sebuah mobil hitam lewat dan berhenti tepat dipinggir gadis itu kemudian membawanya masuk ke dalam mobil.
Kalian tau gimana ekspresi Raffa saat itu, pasti lucu ya kan.
Raffa berlari sekencang mungkin menuju warung karena motornya ada disana. “Buk ini bayaran kopi saya buk.” Kemudian ia mengambil tasnya dan meninggalkan uang 20 ribuan.
Ia memacu motornya sekencang mungkin mengejar mobil yang membawa gadis tadi.
“Kalau ada apa-apa sama dia, gue gak bakalan tinggal diam.” Ia memacu motornya terus.
Mobil berhenti di sebuah tempat yang tidak jauh dari pusat perkantoran, ternyata ia salah mengikuti mobil.
“Any*ng, sial. Gue salah ngikutin mobil, ia frustasi , panik. Mengistirahatkan diri duduk do motornya. Saat istirahat seperti itu ia melihat mobil yang persis lewat di hadapannya. Ia mengikuti mobil itu menuju sebuah perkempungan.
Ternyata mobil yang diikutinya itu benar. Beberapa orang keluar dari mobil itu dan membawa gadis yang tadi.
“Maafin gue, gue udah bawa lo ke masalah gue. Padahal lo bukan siapa-siapa gue Shanum.” Batinnya kemudian berjalan perlahan menuju pintu belakang rumah tersebut.
“Si bos mana nih, targetnya udah ketemu.” Ucap seorang laki-laki.
“Bos ada di kamar, bangunin gih.” Ucapnya. Ternyata bukan hanya geng motor saja pasukannya, dalam pencurian ini ia melibatkan preman-preman pasar.
Laki-laki yang disebut boss itu berjalan menuju kamar penyandraan.
__ADS_1
“Ternyata lo cantik juga, gak salah kalau dia suka sama lo.” Ia menyentuh dagu gadis itu.
Gadis itu hanya menangis dan menolak perlakukannya, “Lepasin saya.” Tangisnya.
“Gue bakal lepasin elo saat lo bisa menghancurkan hidup laki-laki breng*ek itu.” Ucapnya.
Tidak ada jawaban dari gadis itu, ia terus menangis dan menangis.
“Lo dengar apa kata gue ha?” bentaknya menarik hijab gadis itu.
“Siapa yang kalian maksud?” tanyanya tak paham.
“Raffa, lo pasti tau laki-laki itukan. Pacar lo aja gak tau lo namanya.” Ucapnya.
“Aku buka pacarrnya.” Belanya.
“Lo gak usah pura-pura, kalau lo mau selamat lo harus ngelakuin apa yang kita mau.” Ucapnya.
Flash back on.
Diya berjalan menuju masjid siang itu, kebetulan kedua temannya tidak ikut serta.
“Apa alasan lo benci sama Raffa ha? Sampai lo menghindar gitu dari dia.” Ucap Farid.
Tidak ada jawaban dari gadis yang ada di hadapannya.
“Lo gak bisa jawabkan,” ucap Farid dengan nada tinggi.
“Aku benci dia, karena dia semua orang di sekolah memusuhiku.” Ucapnya singkat.
“Lo lebih dengarin kata-kata mereka atau gue ha? Raffa gak sengaja ngelakuin itu ke elo. Pagi-pagi pas turun dari bus, dia mau bantuin lo dari suruhan geng Srigala. Tapi lo malah jatoh ke dia.” Ucap Farid berapi-api.
“Lo benci karena semua orang sinis sama lo sejak itukan.” Hanya diangguki olehnya.
“Mulai sekarang lo harus tau, Raffa bukan biang masalah yang lo hadapi. Semua itu takdir, lo tau takdir kan. Dan lo juga muslimah masa gak tau mana yang takdir mana yang rencana.” Frid tengah emosi.
Gadis di hadapnnya hanya menagis sesenggukan karena merasa bersalah.
“Masalah beasiswa lo, dia udah perjuangin supaya gak jadi dicabut dan lo juga pastinya udah tau kan.” Ucap Farid melemah. Masih dianggukinya.
“Lo harus tau Raffa bukan orang jahat seperti yang ada dibenak lo, emang dia sering tauran tapi itu bukan keinginannya.” Ucap Farid.
“Dan lo harus paham itu.” Ucap Farid kemudian berlalu.
Sejak itu Diya merasa bersalah selama ini sudah menyalahkan Raffa.
Flash back off.
Raffa sudah berada dekat jendela tempat gadis itu dikurung.
“Gimana tawaran gue, lo terima atau nggak?” gadis itu tak menjawab pertanyaannya.
Plak, satu tamparan mendarat di wajah mulusnya.
__ADS_1
Bersambung