RAFFASHA

RAFFASHA
Akar permasalahan Raffa


__ADS_3

“Astagah, haruskah dia hadir disaat-saat seperti ini.” Batin Kayla sambil meneteskan air mata.


Kayla mengurungkan niatnya untu bertemu bu Inem di rumah itu, ia berlari keluar pagar dan bergegas meminta Denis melajukan mobil.


“Apa yang terjadi? Apa mereka menyakiti bibi?” tanya Denis tampak khawatir.


“Kok Denis perhatian banget sih sama bibi?” batin Dean.


“Disana ada Kharisma.” Jawabnya.


Jleb, ternyata ucapan Denis pada Dean tadi benar adanya. Rumah itu merupakan kediaman keluarga Wijayanto saat ini.


Tidak ada balasan dari jawaban Kayla.


“Bibi nginap di rumah aku aja ya.” Tawar Dean.


“Tidak usah, biar bibi nginap di penginapan saja. Di rumah Dean kan ada Shanum.” Jawab Kayla.


“Bibi yakin akan menginap disini?” tanya Dean saat sampai depan penginapan.


“Iya, nggak usah khawatir.” Jawab Kayla.


“Denis, kamu antar Dean sampai di rumah dengan selamat ya.” Ucap Kayla.


“Siap bibi.” Jawabnya.


Keduanya berlalu meninggalkan Kayla disana, dengan tidak sengaja Kayla melihat El di penginapan yang sama namun di kamar lain.


“Haruskah kami dipertemukan disini?” batin Kayla kemudian buru-buru masuk ke kamarnya.


“Semoga besok masalah ini bisa selesai.” Batin Kayla kemudian terlelap melupakan misinya sejenap.


***


Shanum bertanya banyak pada Dean kenapa bisa pulang larut malam seperti itu.


“Lain kali harus pulang lebih awal ya Dean, nggak baik jalan berduaan sama cowok kaya gitu.” Nasehat Shanum. Dean menerima dulu pandangan Shanum padanya, karena ia tidak mungkin mengatakan apa yang mereka lakukan seharian.


Paginya lagi-lagi Raffa melupakan tujuan mereka yang sebenarnya, ia datang ke rumah Dean untuk sekedar bertemu karena beberapa hari ini Shanum tidak ingin bertemu bahkan berkomunikasi dengannya.


“Aku janji akan menyelesaikan masalah ini secepatnya, tapi aku butuh dukungan kamu. Kalau kamu seperti ini terus siapa yang bisa mendukung aku, siapa lagi yang ada di belakang aku.” Ucap Raffa.


Shanum melihat wajah kecewa dan sedih disana, ia menyesal sudah cuek pada Raffa beberapa hari ini.


“Udah ngomongnya?” tanya Shanum. Raffa tidak menjawab, ia hanya menatap lekat wanita yang ada di hadapannya.


“Aku juga janji akan support abang sepenuhnya. Bila perlu abang cerita sama Kila apa masalah yang sebenarnya, mana tau Kila bisa bantu.” Ucap Shanum.


Raffa memeluknya dengan erat melepaskan kerinduannya selama beberapahari ini.


“Iya abang akan cerita, tapi ini bukan waktunya.” Jawab Raffa.


Sepasang mata sudah merekam apa yang terjadi walaupun tak mendengar pembicaraan keduanya.


Shanum dan kedua sahabatnya berangkat ke sekolah tanpa ada curiga sedikitpun, mobil mereka mogok dijalan sehingga ketiganya sama-sama keluar dari mobil. Laki-laki berbadan tegap menutup mulut mereka dari belakang hingga mereka pingsan. Dean dan Pina dimasukkan dalam mobil mereka namun Shanum di bawa pergi.


Ponsel dean dan Pina berdering-dering dari tadi. Ternyata panggilan dari Raffa, Denis, Andrew dan Farid bergantian. Mendengar suara yang begitu berinsik di luar, Dean dan Pina terbangun dan tidak melihat Shanum disana.


“Diya.” Pekik Pina, kemudian keluar dari mobil sambil memegangi ponselnya.


“Kalian baik-baik saja?” tanya orang-orang yang ada di luar.


“Baik pak, bapak lihat teman saya nggak?” tanya Dean.


“Nggak neng, sejak tadi kami melihat Cuma neng berdua di dalam mobil.” Jawab si bapak.


Ponsel Pina berdering panggilan dari Raffa.


“Kalian dimana? Kenapa tidak masuk sekolah?” tanya Raffa.


“Diya diculik.” Ucap Pina singkat. Panggilan langsung terputus.

__ADS_1


Raffa bersama teman-temannya terpaksa bolos dari sekolah karena masih pukul 8 pagi, mereka akan mencari dimana keberadaan Shanum.


“Kali ini gue nggak akan melibatkan teman-teman yang lain. Kalau kalian mau, kalian bisa bantu gue. Kita akan berbencar tapi tidak dengan seragam sekolah dan motor yang sama.” Usul Raffa.


“Boleh juga.” Balas Farid.


Mereka pulang ke rumah masing-masing dan berpencar sesuai dengan intruksi dari Raffa tadi.


“Gue masih kepikiran sama Kayla, nggak mungkin dia nunggu kami pulang sekolah baru pergi ke rumah Wijaya.” Batinnya.


Denis terpaksa tidak sesuai dengan intruksi tadi, karena ia kepikiran pada Kayla. Sampai di penginapan ia menanyakan keberadaann Kayla pada resepsionis.


“Sudah keluar sejak jam 7 tadi.” Jawabnya.


“Terimakasih mbak.” Jawabnya kemudian berlalu. Denis bingung harus mencari Kayla dimana, apalagi ia belum kenal betul jalan disana.


Denis punya inisiatif untuk langsung menuju ke rumah yang kemaren sempat mereka datangi, dia memantau rumah itu dari kejauhan berharap ada tanda-tanda Kayla akan pergi lagi kesana.


“Kayla lo dimanasih? Kok gue yang cemas ya mikirin lo.” Batin Denis serba salah. ia melihat sebuah taxi berhenti di depan rumah itu, ternyata benar itu adalah Kayla.


“Kan benar dugaan gue, dia bakalan pergi kesana sendirian.” Batin Denis masih mengamati dari jauh.


Karena fokus memantau Kayla disana, Denis tidak mendengar ponselnya bergetar beberapa kali. Setelah ia melihat ponselnya ternyata ada panggilan tak terjawab dari Farid.


“Lo dimana bro? Kita masih belum menemukan jejak mereka.” balas Farid.


“Gue juga belum bro, eh tunggu dulu ya gue buru-buru nih.” Ucap Denis saat melihat seseorang keluar dari gerbang. Tak lama laki-laki itu berdiri disana, sebuah mobil menghampirinya kemudian melaju menuju suatu tempat.


“Semoga lo baik-baik saja disana Kay.” Ucap Denis. Kemudian mengikuti mobil itu. Ternyata mobil itu berhenti di tempat yang tak pernah mereka ketahui sebelumnnya. Orang yang pertama kali keluar dari mobil itu adalah Satria.


“Sepupu laknat.” Geram Denis melihat Satria, ia tampak membopong seseorang yang Denis yakini itu Shanum. Ia buru-buru merogoh ponselnya kemudian mengirim sharelock di grupnya.


“Gue nyelamatin Shanum atau Kayla ya?” batinnya bingung. Denis memutuskan untuk menyusul Kayla, dia punya rencana baru.


Disisi lain Kayla diam-diam masuk lewat gerbang, ia melihat seorang laki-laki berbadan tegap menuju gerbang kemudian ia bersembunyi di antara bunga-bunga taman.


“Aman, tidak ada security.” Batinnya kemudian berjalan ke arah pintu belakang berharap melihat seseorang disana.


“Hei kamu.” Teriak security. Teriakan itu sukses membuatnya ketakutan setengah mati.


“Saya inginmenemui bi Inem, saya ponakannya.” Jawab Kayla asal.


Seorang wanita tua keluar dari rumah itu.


“Siapa dia?” tanyanya pada security.


“Sa-saya ponakan bu Inem bu.” Jawabnya Khawatir. Kayla mengisaratkan sesuatu pada si nenek tua itu. Ia tidak tau kalau wanita yang sedang berbicara dengannya itu bu Inem.


“Oh iya, dia ponakan saya. Kamu lanjut bekerja lagi ya.” Ucap bu Inem.


“Mampus aku, ternyata ini bu Inem. Ku kira masih ibu-ibu ternyata udah nenek-nenek.” Batinnya merasa bersalah.


“Nenek tau kamu sedang berbohongkan, ayo masuk dulu.” ucapnya.


“Maafkan saya nek, maafkan kelancangan saya.” Ucapnya.


“Nenek yakin kamu gadis yang baik, ayo berbicara di kamar nenek saja. Disini jarang ada majikan nenek, mereka pada sibuk semua.” Ucap si nenek.


Betapa terkejutnya Kayla melihat foto gadis berpakaian serba merah ala-ala pakaian Chna di dinding itu.


“Itu majikan nenek, namanya Renata. Tapi dia sudah meninggal setahun lalu.” Cerita si nenek. Kemudian masuk ke sebuah kamar yang begitu mewah, padahal ia hanya asisten rumahtangga disana.


“Ayo duduk disini, apa yang ingin disampaikan pada nenek.” Tayanya.


Kayla meneluarkan selembar surat Lastri yang berisikan majikannya yang bernama Kayla dan teman kerjanya yang bernama bu Inem.


Nenek yampak bergetar membaca surat itu, tidak ia sadari air matanya sudah menetes di lembaran kertas yang ia genggam.


“Lastri, kamu kenal dengan Lastri? Antar nenek kesana ya.” Pintanya sambil menggenggam erat tangan Kayla. Kayla tidak bisa menahan tangisnya, ia mambalas genggaman si nenek.


“Mbak Lastri sudah meninggal 22 tahun yang lalu nek.” Jawab Kayla.

__ADS_1


Nenek tampak frustasi, ia duduk tersandar seketika di pinggiran ranjang king sizenya.


“Lastri adalah saksi hidup gadis itu, Lastri yang tahu dimana gadis itu sekarang.” Tangisnya.


“Apa yang terjadi nek?” tanya Kayla.


“Nenek akan bawa kamu ke suatu tempat, nenek akan bercerita disana. Ayo kita pergi.” Ucapnya. Keduanya berlalu dari kamar itu dan menuju gerbang menunggu taxi.


Disanalah Denis datang menghampiri Kayla dan ingin membicarakan sesuatu.


“Maaf nek, saya bicara dengan teman saya dulu sebentar ya nek.” Ucap Kayla kemudian berjalan ke arah Denis. Denis berbicara tanpa membuka helemnya.


“Ada ap Denis?” tanya Kayla.


“Shanum dalam bahaya, dia sedang diculik oleh geng Srigala.” Ucap Denis.


“Shanum, siapa yang menyelamatkan dia?” cemasnya.


“Aku punya ide supaya bibi mengalihkan perhatian Kharisma untuk sementara waktu. Ini ponselnya, bibi bilang saja akan menyerahkan ponsel ini padanya.” Pinta Denis.


“Tapi Denis, ini ponselnya terlalu mahal.” Kayla benar-benar tidak tau waktu untuk menawar.


“Soal harga nanti kita bahas ya, sekarang bibi hubungi dia. Dan bilang kalau bibi akan mengembalikan ponsel yang kemaren rusak. Supaya Raffa dan yang lain mudah menyelamatkan Shanum.” Pinta Denis.


“Baiklah akan saya coba.” Ucapnya.


“Ponsel bibi mana?” tanya Denis. Kayla mengeluarkan ponselnya, Denis langsung meraih ponsel itu dari tangan Kayla sepertinya ia mengetikkan sesuatu disana.


“Ini nomor saya bi, kalau Kharisma macam-macam bibi hubungi saja saya ya.” Ucap Denis, ia tidak sengaja mengembalikan layar ponsel Kayla ia melihat foto Kayla bersama Renata disana.


“Renata? Bibi kenal dia?” tanya Denis.


“Denis, udah dulu ya jangan tambah beban pikiran saya saat ini. Saya begitu pusing.” Tangisnya.


Tiba-tiba Kayla pingsan, Denis segera turun dari motornya sedangkan nenek memanggilkan taxi agar Kayla segera dibawa ke rumah sakit.


“Nek, dibawa ke rumah saya saja ya. Kebetulan papa saya dokter.” Usul Denis.


“Baiklah.” Jawab nenek.


Benar ucapan Kayla tadi, ternyata penyebab kesehatannya menurun karena beban pikirannya yang terlalu banyak dan berat.


Nenek pamit keluar membeli makanan untuk Kayla.


“Bi, maaf sebelumnya saya bertanya hal ini sekali lagi. Tapi saya yakin ini ada sangkut pautnya dengan permasalahan yang dihadapi Raffa saat ini.” Ucap Denis.


“Aku dan bunda pernah bertemu dengan Renata, saat itu Renata menagis ia bercerita tentang laki-laki yang telah merenggut kesuciannya.” Kayla menangis menceritakannya.


“Kemudian kami mengajaknya ke rumah dan berusaha menghiburnya. Ia mengaku bahwa pacarnya yang sudah melakukan itu padanya. Kami berusaha menghibur Renata,


setelah 5 hari di rumah kami memutuskan untuk menemaninya memeriksa kehamilannya di sebuah rumah sakit. Tapi saat itu aku sedang membeli minuman sedangkan bunda ke toilet sebentar ternyata Renata sudah tidak ada lagi di lokasi itu, kami mencarinya kemana-mana namun tidak bertemu sampai saat ini. Tadi dapat kabar kalau Renata sudah meninggal kasian dia,” isak Kayla.


“inilah akar dari permasalan yang dihadapi Ragga. Raffa tidak bersalah, tapi siapa pacar Renata saat itu.” Batin Denis.


“Apa Renata menunjukkan siapa laki-laki itu?” tanya Denis.


“Iya, aku ingat wajahnya. Tapi aku tidak pernah melihatnya.” Jawab Kayla.


Denis memperlihatkan foto geng Serigala yang sempat ia ambil saat tour beberapa tahun lalu.


“Apakah ada dia disini?” tanya Denis.


Kayla tampak mengamati satu persatu dari orang yang ada di foto itu.


“Ini dia orangnya.” Ucap Kayla sambil menunjuk salah satu diantara mereka.


“Dia?” tanya Denis tidak percaya.


Pembaca yang tersayang, semoga suka ya sama ceritanya. Jangan lupa komen ya supaya makin bagus kedepannya🤗


dan jangan lupa like juga ya guys...😉

__ADS_1


terimakasih🤗


14/12/21


__ADS_2