
Setelah 3 hari di rumah sakit, 4 hari pemulihan akhirnya Raffa kembali sekolah. Ia berangkat bersama mama dan Shanum. Kali ini ia tidak sempat memikirkan hal buruk yang akan terjadi setelah itu.
“Raffa dan Shanum berangkat dari rumah Raffa boss.” Ucap seseorang.
“Shanum tinggal di rumah Raffa?” tanyanya.
“Sepertinya begitu boss.” Jawabnya.
“Kalian harus ikuti sampai kembali ke rumahnya.” Ucap seseorang.
“Baik boss.” Jawabnya, telpon terputus.
“Ternyata kamu masih bisa main-main, kebahagiaanmu saat ini sebentar lagi akan luntur, aku tidak ingin melihatmu bahagia.” Camnya.
***
“Kalian berangkat sekolah bareng?” tanya Denis pada Raffa, yang hanya diangguki Raffa.
“Mampuslah kita setelah ini, kok lo nekat banget sih?” tanya Farid.
“Gue capek main petak umpet mulu, gue siap sama apa yang terjadi setelah ini.” Jawab Raffa.
“Bro, lo harus pikirin keselamatn Shanum. Lo lihatkan apa yang mereka perbuat sebelum ini, apalagi kalau seandainya mereka lihat kalian sering barengan, Shanum akan terancam.” Nasehat Denis.
Raffa tampak memikirkan sesuatu, ucapan sahabatnya sangat benar. Dulu sebelum mereka punya hubungan apa-apa, Shanum sudah merasakan sakitnya disekap, ditampar dan dibentak-bentak apalagi sekarang mereka sudah menikah.
“Aaaahhh, apa gue memang nggak ditakdirkan bahagia?” Raffa frustasi sambil mengacak rambutnya.
Ketiga sahabatnya tidak berbuat apa-apa melihat Raffa yang tengah menunduk dengan rambut kusut.
“Kita harus punya planing setelah ini,” Ucap Andrew. “Kita harus mempersiapkan solusi dari kemungkinan buruk yang akan terjadi.” Sambungnya lagi.
“Emang apa kemungkinan buruk akan terjadi?” tanya Raffa.
“Bisa jadi Shanum diculik lagi, mereka selalu nekat melakukan kekerasan walaupun itu pada wanita.” Ucap Andrew.
“Pokoknya sebagai antisipasi, Shanum nggak usah tinggal di rumah lo sementara.” Usul Denis.
“Nggak bisa bro, dia bini gue.” Jawabnya.
“Bro, lo tenang dulu ya. Ini demi kebaikan Shanum, lo aja sakit sampe seminggu lamanya padahal lo laki-laki, gimana kalau terjadi apa-apa sama Shanum dan sakitnya lebih parah dan lebih lama dari lo.” Bujuk Farid.
Raffaterdiam, ada benarnya ucapan Farid barusan. “Gue setuju, tapi gue nggak mau Shanum gue tinggal di kontrakan lagi.” Ucapnya.
“Lo tenang aja, kan ada Pina atau Dean yang bisa bantu kita.” Usul Andrew.
“Gue percaya sama kalian, maafin gue terkadang keras kepala.” Ucap Raffa.
“Kami paham bro, selain keras kepala, lo juga bucin.” Ejek Andrew.
Denis dan Farid ikut tertawa mendengar ejekan Andrew pada Raffa.
***
Raffa meminta Shanum menemuinya di ruangan mamanya untuk menyampaikan kesepakatan mereka tadi.
“Sayang, ada yang mau aku bicarain sama kamu.” Ucap Raffa.
“Mau bicara apasih? Serius banget kayaknya?” tanya Shanum.
__ADS_1
Raffa duduk berhadapan dengan Shanum. “Apaansih bang, malu nanti kalau mama lihat.” Ucap Shanum.
“Besok-besok kita bakalan jarang kaya gini.” Ucapnya sambil memegang tangan sang istri kemudian menciumnya.
“Ada apasih bang?” tanya Shanum penasaran.
“Mulai nanti malam nginap di rumah Dean atau rumah Pina aja ya.” Ucapnya perlahan agar Shanum tidak marah.
“Syukurlah kalau pikiran abang udah terbuka, Kila juga udah kepikiran hal itu sebelumnya.” Ucapnya.
“Seriusan sayang nggak marahkan?” tanyanya lagi.
“Iya sayang, Kila nggak marah kok. Ini semua demi kebaikan kita bersamakan.” Ucap Shanum.
“Jadi makin sayang sama istri abang.” Ucapnya sambil memeluk sang istri.
Udah ya bang pelukannya, nanti mama datang loh. Nggak malu apa?” ucap Shanum.
“Ngapain malu, kan udah jadi istri.” Balasnya masih tetap memeluk Shanum.
“Kila malu loh bang.” Balasnya.
“Yaudah kalau nggak mau peluk, kiss boleh?” tanyanya sambil menujuk pipinya.
“Kan makin aneh.” Balas Shanum.
“Kok aneh sih sayang? Berarti nggak sayang lagi nih sama aku?” ucapnya pura-pura ngambek.
“Iya sayang, sini.” Shanum mencium pipi laki-laki dihdapannya agar tidak banyak permintaan lagi.
“Makasih sayanh, yaudah kita ke kelas lagi ya. Jangan lupa kasih kabar terus ya.” Pesannya.
Keduanya berpisah seiring dengan berbunyinya lonceng masuk kelas setelah habis jam pelajaran.
***
“Boss kali ini Shanum pulang ke rumah temannya, sedangkan Raffa ke rumah orangtuanya.” Lapor seseorang.
“Berita macam apa yang kalian laporkan ini, apa sebenarnya kesimpulannya?” tanyanya.
“Kami belum dapat menyimpulkan boss, sepertinya butuh penyelidikan lebih lanjut.” Ucap seseorang itu.
“Baiklah saya tunggu sampai besok.” Ucapnya.
“Siap boss, laksanakan.” Panggilan terputus.
***
Shanum meilih menginap di rumah Dean karena keduanya memang memiliki misi rahasia sebelumnya.
“Diy, aku yakin masih ada mata-mata lain yang ngikuti kamu ataupun Raffa.” Ucap Dean.
“Aku juga mikirnya kaya gitu Dean, sebenarnya aku juga udah punya ide kaya gini sebelumnya tapi karena aku takut Raffa tersinggung makanya idenya ditangguhkan dulu.” jelas Diya.
Ponsel Dean berdering ternyata panggilan dari bibi Kayla.
“Dean kok bibi nelpon sama kamu? Perasaan ponsel aku aktif.” Diya heran.
“Bentar ya aku angkat dulu.” ucap Dean. Sambil keluar kamar menuju balkon.
__ADS_1
“Bi, nanti aja ya, ada Diya disini.” Ucap Dean. Dean melihat Diya berjalan menuju kearahnya.
“Ternyata bibi nanya file toh, kirain ada hal penting apa.” ucap Dean pura-pura. Dean terpaksa memutuskan telponnya agar Diya tidak curiga.
“Bibi bilang apa?” tanya Diya.
“Oh itu, ternyata masih ada file bibi yang tinggal di laptop aku.” Jawab Dean terpaksa berbohong.
“Kirain apa, makanya aku heran kok bibi nggak nelpon aku.” Balas Diya.
“Yaudah yok ke kamar, aku sekalian ngirim file bibi yang tertinggal.” Ucap Dean.
***
“Sudah dapat disimpulkan boss, bahwa Shanum memang tinggal bersama temannya dan tidak di kontrakan lagi.” Lapor seseorang.
“Kamu yakin?” tanya si boss.
“Yakin boss, sudah 3 hari ini Shanum pulang ke rumah temannya yang sama.” Jawabnya.
“Bagus, kamu ikuti terus dia.” Balas si boss.
“Siap boss.” Jawabnya.
“Dengan ini semua kecurigaanku padamu akan segera terungkap Raffa dan kamu akan merasakan apa yang aku rasakan selama ini.” Ucapnya sambil memegang erat ponselnya.
***
Raffa dan Shanum terpaksa mencuri waktu untu bertemu di ruangan kepala sekolah.
“Kamu yang sabar ya sayang, aku janji akan menyelesaikan masalah ini secepatnya.” Bujuk Raffa.
Shanum tersenyum dan menggenggam tangan suaminya.
“Harusnya aku yang bilang kaya gitu, abang harus sabar menghadapi masalah ini supaya cepat selesai.” Ucap Shanum menguatkan Raffa.
“Terimakasih udah bertahan sampai saat ini, padahal aku adalah sumber dari semua masalah yang kamu hadapi.” Ucap Raffa.
“Abang jangan bicara kaya gitu dong, pokonya kita sama-sama melaluinya. Ingat bang, masalah ini bukan hanya abang yang menanggung tapi teman-teman abang juga, bahkan setiap hari harus ada diantara mereka yang masuk rumah sakit. Abang tau ini karena apa? Kila bukan menyalahkan abang tapi apa kendala abang, kenapa sampai saat ini masalah ini tak kunjung usai.” Tanya Shanum.
Raffa berjalan menjauhi Shanum, dia juga bingung kenapa permasalahannya tak kunjung usai padahal sudah lebih dari satu tahun.
“Abang juga nggak tau, makanya sampai saat ini abang belum bisa menyelesaikannya.” Ucap Raffa.
Shanum benar-benar kesal mendengar jawaban Raffa. Ia berlalu meninggalkan Raffa tanpa sepatah katapun.
“Sayang, kenapa sayang seperti menyalahkan abang ?” tanyanya saat Shanum pergi.
Raffa menarik rambutnya frustasi dan duduk di sofa ruangan mamanya.
“Shanum, harusnya lo yang jadi penguat gue bukan malah lo yang jatuhin gue kaya gini. Gue akan buktiin sama semua orang kalau gue nggak bersalah, iya gue akan buktiin.” Tekatnya.
Ia berlalu dari ruangan itu menuju kelasnya.
Pembaca yang tersayang, semoga suka ya saka ceritanya. Jangan lupa komen ya supaya makin bagus kedepannya🤗
dan jangan lupa like juga ya guys...😉
terimakasih🤗
__ADS_1
14/12/21