RAFFASHA

RAFFASHA
Niat Baik


__ADS_3

jam istirahat Raffa menuju ruangan mamanya.


“Ngapain kesini Raffa?” tanya mama tanpa menoleh.


“Ma, Raffa izin buat lihat data anak kelas 12. Ada yang mau Raffa lihat.” Pintanya.


“Untuk apa ?” tanya mamanya.


“Ma, please ma. Besok bakal Raffa kasih tau kok buat apanya.” Jawabnya.


“Yaudah Sana.” Ucap mamanya.


Ia menuju rak data kelas 12 IPS dan melihat satu persatu map yang tersusun rapi disana.


“Ini dia ketemu.” Ujarnya sambil duduk dan membaca isinya.


Ia mengeluarkan ponselnya dan mengambil gambar dari dokumen yang ia baca.


“Udah ko ma, Raffa mau keluar dulu. Makasih ya ma.” Ia berlalu setelah pamit.


Ia kembali ke kelasnya setelah membeli sebotol air mineral di kantin.


“Lo darimana aja bro?” tanya Andrew.


“Dari ruangan buk bos.” Jawabnya.


“Ngpain lo kesana, tumben banget.” Sambung Farid.


“Menurut lo semua, gimana kalau gue mutusin buat nikah.” Ucapannya sukses membuat ketiga sahabatnya kaget.


“Lo gak lagi sakitkan.” Denis meraba dahinya.


“Gue gak sanggup gini terus.” Jawabnya.


“Dasar bucin lo.” Balas Andrew.


“Lo kok bisa mikirin hal itu sih bro? Gue jadi heran aja.” Balas Farid.


“Ya gue juga gak tahu kenapa hati gue bisa gini, makin dilarang rasanya makin dalam.”


“Halah mister bucin.” Gerutu Denis.


“Terserah lo pada mau bilang gue apa, yang jelas gue udah kasih tau niat baik gue buat nikahin dia.” Tekatnya.


“Lo pikir NIKAH itu main-main bro, nggak. Itu ibadah seumur hidup.” Ujar Farid.


“Iya gue paham, makanya gue mau sama dia seumur hidup.” Jawabannya membuat ketiga temannya melenguh panjang.


“Apasih yang dia lakuin sampai lo segininya ma dia?” tanya Denis.


“Dia gak ngelakuin apa-apa.” jawabnya santai.


“Trus?” tanya Andrew.


“Diamnya aja udah buat gue jatuh apalagi cintanya.”


Ketiga sahabantnya sedikit menertawainya, seorang Raffa yang terkenal dingin udah meleleh kaya es.


****


Selesai makan malam Raffa mempersiapkan dirinya untuk menyampaikan keinginanyya pada papa dan mamanya.


“Pa, ma, Raffa mau ngomong seuatu.” Ucapnya kaku.


“Ngomong aja Rafa.” Jawab papa.


“Ini urgent pa.” Ucapnya lagi.


“Seurgent apasih Raf?” tanya mama.


“Pa, ma, Raffa mau nikah.” Jawabannya membuat papa dan mama saling menoleh satu sama lain.


“Naura, ambilin obat di lemari!” ucap mamanya sambil meraba dahinya.


“Ma, Raffa gak bohong ma. Raffa serius.” Jawabnya.


“Ma, kenapa anaknya bisa gini ma?” tanya papa.


“Enak aja anak mama, anak papa kali.” Keduanya malah dibuat kebingungan.


“Pa, ma. Raffa cape harus jauhi dia terus, sesak banget rasanya.” Ia menyandarkan pundaknya di sofa dan memandang ke langit-langit rumah.

__ADS_1


“Kakak kamu saja tidak pernah bilang itu sama papa dan mama.” Ucap papa.


“Raffa serius pa, Raffa bakal lakuian apa aja yang mama papa minta asalkan Raffa bisa nikah sama dia.” Ucapnya.


“Raffa, kamu masih dibawah umur nak. Gak mungkin mama sama papa bakal lepasin kamu begitu saja.” Nasehat papa.


“Pa umur Raffa udah lewat 17 tahun pa, udah dewasa.” Sanggahnya.


“Papa belum percaya sama kamu.” Ucap papa.


“Mama juga gak percaya sama kamu, apalagi buat jagain anak gadis orang.” Sambung mama.


“Pa, ma. Please izinin Raffa buat nikah ya. Raffa janji bakal jagain dia semampu Raffa.” Bujuknya.


“Gak usah banyak cerita Raffa, papa belum percaya kamu bisa tanggungjwab.” Ucap papanya.


“Sekarang, kamu pikirkan masa depan dulu ya sayang, lulus SMA, habis itu kuliah.” Buju mamanya.


“Raffa mau nikah secepatnya ma.” Tegasnya. Ia berlalu ke kamarnya.


“Raffa...” panggil papanya, namun ia tetap berlalu.


“Kenapa Raffa jadi seperti itu ma?” tanya papa, putus asa.


“Mama juga gak tau pa, sejak dihukum dia menujukkan perubahan yang drastis. Udah jarang tauran, tapi kejadian waktu itu membuat seorang gadis harus masuk dalam masalahnya. Setiap hari ia mengikuti gadis itu karena khawatir akan disakiti geng sebalah.” Cerita mama.


“Raffa masih ikut geng itu ya ma?” tanya papa. Mama hanya menganggukinya.


“Menurut mama bagaimana, mama tau siapa gadis itu?” tanya papa.


“Iya pa, dia gadis baik, berprestasi, sederhana.” Jawab mama.


“Kita tangguhkan saja dulu ya ma, papa juga belum percaya sepenuhnya Raffa bisa bertanggungjawab.” Ucap papanya.


“Iya pa, mama juga berfikir begitu.” Ucap mama.


Paginya Raffa tidak turun untuk sarapan, mama meminta Naura untuk memanggilnya.


“Ma, kamar kak Raffa dikunci.” Ucap Naura


“Kenapa lagi tuh anak.” Ucap mama pelan.


“Gak ada jawaban juga pa.” Jawab Naura.


“Udah pa, dia Cuma mau ngancam kita aja kayaknya, karna keinginannya gak dituruti.” Ucap mama.


Sebelum pergi sekolah, mama berpesan pada bibi untuk melihatkan Raffa.


****


“Raffa kemana nih?” tanya Andrew.


“Nggak biasanya tuh anak gak hadir, apalagi gak ngasih tau di grup lagi.” Jawab Farid.


“Buk bos juga gak ada ngasih tau ke kelaskan.” Ucap Denis.


Ketiga sahabatnya heran, tak ada kabar dari Raffa. Ketiganya sudah berusaha menelpon ataupun bertanya pada nyokap Raffa, tapi belum ada jawaban.


“Atau dia lagi ngambek.” Ujar Farid.


“Ngambek gimana maksud lo?” tanya Denis.


“Feeling gue dia udah nyampaiin niatnya sama nyokap ataupun bokapnya.” Ucap Farid.


“Trus gak direstuin, gitu maksud lo?” tanya Andrew.


“Kan bisa jadi.” Ucap Farid.


“Benar juga ya.” Sambung Denis.


“Yaudah kalau gitu habis pulang sekolah kita ke rumahnya.” Ucap Andrew.


Disisi lain tiga sejoli itu sedang makan di kantin sekolah.


“Nanti malam keluar yok, kan malam libur.” Ajak Dea.


“Emang mau kemana?” tanya Pina.


“Itu ada cafe baru dekat rumah aku, sekalian dapat diskon makanan enak.” Rayunya.


“Yaudah ayok.” Diya menimpali.

__ADS_1


“Giliran makan kencang nih Nona.” Jawab Dea.


“Sekali-sekali kan gapapa.” Balasnya cengengesan.


“Yudah tar malam aku jemput Diya ke kost, Pina langsung nunggu di cafenya aja.” Usul Dea.


“Siap.” Jawab keduanya bersamaan.


****


Tiga orang sahabat Raffa sudah sampai di rumahnya, mereka mengetuk-ngetuk pintu kamarnya namun tak ada jawaban.


“Kok gak ada jawaban ya.” Ucap Frid.


“Bibi, tadi Raffa ada keluar kamar gak bi?” tanya mamanya.


“Nggak ada Nyonya.” Jawab bibi.


“Gimana dong buk?” tanya Andrew.


“Akal-akalan dia aja tuh, kalian gak usah khawatir.” Ucap mamanya kemudian turun.


Ketiga sahabatnya malah duduk di depan pintu kamarnya. Berharap Raffa akan keluar menemui mereka.


“Udah hampir 3 jam bro, dia masih belum keluar.” Ucap Denis.


“Yaudah kita pulang dulu aja, ntar malam kesini lagi. Kan besok Minggu, bisa begadang semalaman.” Ucap Farid.


Ketiganya pamit untuk pulang ke rumah masing-masing.


Selesai sholat magrin ketiganya kembali ke rumah Raffa berharap Raffa sudah keluar dari kamarnya.


“Pa, gimana dong? Kak Raffa belum keluar kamar dari tadi.” Adiknya cemas.


“Gak usah khawatir sayang, kakakmu Cuma mau nenangin diri dulu.” Jawab papanya mengelus kepalanya.


“Tapi kak Raffa belum makan pa.” Ucapnya.


“Udah makan, percaya deh sama papa.” Ucap papanya.


“Pak, gak ada gitu kuci serap kamarnya Raffa. Khawatir juga pak sejak tadi gak keluar kamar.” Bujuk Farid.


“Ada, coba bapak tanya sama pak Ujang dulu ya. Kalian tunggu sebentar.” Ucap papanya.


Setelah kunci serap ditemukan, kamar Raffa bisa dibuka. Ternyata dia menutupi tubuhnya dengan selimut tebal miliknya.


“Raffa, kenapa nak?” tanya papanya sambil membuka selimutnya.


“Dingin pa.” Ia tampak menggigil dengan wajah pucat.


Papanya meraba dahinya, “Astaghfirullah, badannya panas sekali.” Ucap papanya.


Ketiga temannya ikut meraba dahinya. Papa menelpon dokter untuk memeriksa keadannya.


“Lo makan dulu ya, habis itu minum obat.” Ucap Denis.


Ia hanya menggeleng dengan wajah pucatnya, menutupi kembali seluruh tubuhnya dengan selimut itu.


“Lo masih kedinginan?” tanya Farid. Tak ada jawaban dari balik selimut itu.


“Gue punya ide buat bohongi dia.” Bisik Andrew pada kedua sahabatnya.


“Apa coba?” tanya Farid.


Andrew mengambil poselnya kemudian pura-pura menelpon seseorang.


“Shanum, lo dimana sekarang?” tanya Andrew. Sedangkan Denis dan Farid melihat reaksi dari balik selimut.


“Oh lo di kost kan, gue jemput ya kesana.” Ucapnya lagi.


“Ok, tunggu depan kost lo aja deh.” Ucapnya.


Raffa membuka selimutnya dan melihat tiga temannya.


“Giliran dengar nama Shanum aja udah sembuh telinganya.” Ucap Denis.


“Lo ngebet banget nikah sama Shanum.” Ucap Farid.


Raffa kembali menutup wajahnya dengan selimut. Terdengar suara bel rumah berbunyi, Farid melihat ke bawah ternyata ada Shanum.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2