
Shanum on
Apapun keputusan nenek, aku percaya itu yang terbaik. Tentang perasaanku padanya, mungkin sekedar pengalaman saja yaitu pernah menyukai dalam diam.
Karena beberapa hari lagi aku akan menemui pendamping hidupku, bagaimanapun orangnya aku yakin dia yang terbaik ditakdirkan Allah untukku.
Aku juga tidak tau apa yang teradi setelah pernikahan nanti, apakah aku akan melanjutkan pendidikan atau jadi ibu rumah tangga.
Semoga setelah pernikahan nanti, ia bisa memulai hidup baru tanpa kau begitu juga dengan aku, tanpa dia. Aku juga akan bebas dari orang-orang yang akan mencelakai, tapi bila aku tidak ada dia akan selau berhadapan dengan penjahat itu, mungkin sebelum aku mengenal dia semua itu sudah terjadi.
Aku tidak tau apa permasalahan diantara mereka, lebih tepatnya lagi aku tidak mau tau karena secara tidak langsung aku pernah berhubungan dengan orang jahat seperti mereka.
Dan dia mungkin bukan orang baik, buktinya kenapa ia bisa berurusan dengan orang jahat seperti mereka.
Sabtu ini aku akan berangkat ke kampung, semoga tidak terjadi apa-apa selama dalam perjalanan. Meskipun aku akan kembali lagi tapi semua terasa akan berakhir. Setelah aku kembali lagi aku sudah bukan anak gadis seperti kebanyakan para remaja, aku sudah jadi istri orang.
Dimana aku tinggal, bagaimana kehidupan rumahtangga setelah pernikahan belum bisa ku bayangkan yang jelas berlalu saja pernikahan ini, urusan suami atau istri aku percaya semua akan berjalan sebagaimana mestinya.
Shanum off
***
“Awasi Shanum kemanapun dia pergi, karena pagi ini ia akan pulang kampung.” Ucap boss.
“Siap laksanakan boss.” Jawabnya.
"Laporkan apapun yang terjadi.” Perintah bos.
“Siap boss.” Jawabnya.
***
Kedua sahabatnya mengantarkannya ke terminal untuk menunggu bus jurusan kampungnya.
“Kalau ada apa-apa kabari kami ya Diy.” Ucap Pina.
“Iya, kalian nggak usah khawatir.” Ucapnya.
“Kami nanti sore akan nyusul ya.” Sambung Dean.
Mobil yang ditumpangi Diya berangkat menuju daerah tujuan. Selama 5 jam perjalanan, Diya sampai di depan gang ke rumahnya, ia menggunakan ojek untu masuk ke dalam.
Sampai di depan rumah, ia tidak melihat banyak perubahan di rumahnya. Hanya saja cat rumah lebih dipoles dari yang biasanya.
“Alhamdulillah cucu nenek sudah sampai, masuk sayang.” Ucap nenek.
Ia menyalami nenek dan duduk di sofa bersama nenek.
“Pernikahan akan dilakukan di aula sayang, semuanya sudah beres oleh calon suamimu.” Ucap nenek.
“Iya nek,” jawabnya singkat.
“Sya, kamu udah datang.” Bibinya datang dari pasar membawa belanjaan.
“Iya bibi, sini Kila bantu bibi.” Tawarnya.
“Nggak usah, belanjaan bibi Cuma sedikit. Bibi antar dulu ya ke dapur.” Bibinya berlalu ke dapur.
“Nek, Kila belum siap untuk besok.” Ucapnya.
“Kila nggak boleh bilang gitu ya, semua akan berlau.” Ucap nenek.
Ia memeluk neneknya sambil menangis. Nenek mengelus kepala cucu satu-satunya.
“Kuatkan hatimu ya sayang, ini yang terbaik.” Ucap nenek.
Bibi datang dari dapur membawa air lemon kesukaan Kila. Ia ikut berangkulan dengan nenek dan Kila.
“Bibi kapan nyusul Kila?” tanyanya.
__ADS_1
“Bibi selesaikan kuliah dulu Sya, bibi juga mau buat rumah di samping untu bibi dan kelaurga kelak.” Ucap bibi.
“Rumah nenek masih lapang loh bi.” Sanggahnya.
“Nggak Sya, nanti kalau Sya udah punya anak. Bibi juga udah punya anak, bakalan sempit dong. Benarkan bunda?” ucap bibi pada Nenek Kila.
“Iya sayang.” Jawab nenek.
“Sekarang calon pengantin istirahat dulu, jangan sampai besok kecapean.” Goda bibinya.
“Iya bi, Kila ke kamar dulu ya bi, nek.” Ucapnya kemudian berlalu menuju kamarnya.
***
Raffa bersama ketiga sahabatnya sedang berembuk di rumahnya, jam sudah menunjukkan pukul 3 sore tapi mereka belum juga berangkat.
“Sial, mereka masih buntutin kita.” Ucap Raffa sambil melihat rekaman cctv gerbang rumahnya.
“Pina dan Dean udah gimana Rid?” tanya Denis.
“Mereka udah berangkat sama keluarganya.” Jawab Farid.
“Gimana kalau kita pake mobil lain aja. Inikan kita pake mobil Raffa, gimana kalau pake mobil bang El gitu.” Usul Andrew.
“Ya, itu ide bagus.” Sambung Denis.
“Kenapa kita nggak kepikiran itu ya dari tadi.” Balas Farid.
“Nanti yang bertindak sebagai sopir harus dengan penampilan berbeda, biar mereka berfikir kalau yang di mobil itu Cuma sopir gue.” Balas Raffa.
“Good, gue setuju. Dan kita ngumpet dulu, biar udah kaya mobil kosong yang dibawa sopir.” Sambung Farid.
Mereka berempat melancarkan aksi yang sudah direncanakan. Raffa bertindak sebagai sopir dengan penampilan layaknya seperti sopir.
Ketiga temannya bersembunyi diantara kursi mobil, sedangkan ia sudah seperti sopir aslinya. Setelah perjalanan 1 km, barula mereka duduk seperti biasa.
“Syukurlah tantangannya sudah terlewati.” Ucap Denis.
“Emang enak, siapa suruh nunggu di depan gerbang.” Ejek Andrew. Mereka tertawa bersamaan.
Dalam waktu 3,5 jam sudah sampai di lokasi, mereka akan menginap di hotel yang sudah dipesan oleh keluarga Raffa.
“Lumayan juga ya perjalanan ke rumah calon bini lo.” Ucap Denis.
“Ya gitulah, namanya aja perkampungan.” Jawab Raffa.
Mereka masuk ke kamar yang sudah dipesan kemudian makan malam bersama keluarga Raffa.
Disisi lain keluarga Dean dan Pina juga akan menginap di hotel yang sama dengan keluarga Raffa.
“Bukannya itu si Pina sama Dean?” tanya Andrew.
“Iya tuh kayaknya.” Balas Denis.
“Mereka nginap di hotel ini juga ternyata.” Ucap Farid.
“Yaudah ajak kesini aja Rid, mana tau ada rencana buat besok.” Ucap Raffa.
“Kok gue sih?” tanya Farid.
“Kan lo yang lagi dekat sama si Pina.” Ledek Andrew.
“Yaudah kalian tunggu disini dulu.” kemudian ia beranjak dari tempat duduknya.
Farid berjalan menuju Pina dan Dean yang lagi celingak-celingkuk entah mencari siapa.
“Hei, ngapai kaya orang kebingungan gitu?” tanya Farid.
“Nggak kok, mau nunggu teman. Katanya udah di cafe hotel.” Jawab Pina.
__ADS_1
“Cewk atau cowok?” ceplos Farid.
“Apa?” tanya Pina.
“Nggak ada, gue sama yang lain lagi nongkrong di dalam. Kalian mau ikutan nggak? Mana tau ada rencana buat besok.” Tawar Farid.
“Boleh.” Jawab Dean.
“Yaudah.” Jawab Pina.
Keduanya ngekori Farid dari belakang, “Seriusan kita ikutan nongkrong sama mereka?” tanya Dean ragu.
“Kan kamu yang duluan setuju.” Ucap Pina.
Ehehe, sorry. Tapi nggak apa-apa deh sekali-kali.” Jawabnya.
“Mungkin besok bakalan sering lagi kumpul sama mereka. apalagi Diya udah jadi Noa Raffa.” Balas Pina.
“Benar juga ya Pin.” Jawab Dean sambil cengengesan.
Keduanya ikut bergabung dengan geng Raffa, membicarakn rencana untuk besok.
“Shanum suka warna apa?” tanya Raffa.
“Warna coklat sama abu-abu.” Jawab Dean.
“Yaudah kalau gitu kalian besok harus pake baju warna coklat atau abu-abu.” Ucap Raffa.
“Lo mimpi atau gimana bro? Kita nggak punya baju coklat atau abu-abu.” Sanggah Andrew.
“Kita juga nggak punya.” Balas Pina.
“Pokoknya malam ini kita harus cari baju coklat atau abu-abu, titik.” Kali ini Raffa jadi pria egois yang sesungguhnya.
“Tapi,,,” belum selesai Farid bicara, Raffa sudah menyanggahnya.
“Kalian nggak usah Khawatir, sekarang kita akan mencari butik untuk membeli baju. Dan semua gue yang bayar.” Ucapnya dengan girang.
Lima orang yang dihadapannya heran melihat tinkah Raffa malam itu, mulai bucin bun makanya meresahkan.
“Ayo, mumpung belum isya. Jadi masih banyak waktu untuk memilih pakaian yang kalian suka.” Ucap Raffa.
Kelimanya berdiri bersamaan, kali ini Andrew yang kan membawa mobil. Disampingnya ada Raffa, dibelakang ada Farid dan Denis dan paling belakang lagi ada Dean dan Pina.
“Pin, yang di depanku ini siapa namanya?” tanya Dean sambil berbisik pada Pina.
“Denis kalau nggak salah.” bisik Pina.
“Kok manis ya.” Balas Dean.
Pina mencupit perutnya, pertanda agak kesal dengan omongan Dean.
“Kalau mau curhat jangan disini, nanti ketahuan.” Bisik Pina.
“Ehehe, maapkan Dean.” Balasnya.
Akhirnya mereka sampai di depan butik setelah sekian lama berputar-putar.
“Satria.” Ucap Dean. Sebelum Andrew turun.
“Dean suaranya direm.” Bisik Pina.
“Mana Satria?” tanya Denis.
“Itu, barusan keluar dari butik trus masuk ke mobil.” Ucap Dean.
“Semoga saja Dean berhalusinasi.” Ucap Raffa.
Kemudian mereka turun dari mobil dan masuk ke dalam butik. Mereka bebas memilih baju yang mereka sukai dengan warna cokelat muda.
__ADS_1
Jangan lupa Like & komen ya guys...😉
terimakasih🤗