
“Misi ini belum selesai, aku akan buat dia bertekuk lutut dihadapanku dan mengakui kesalahannya.” Ucap bos besar itu.
“Baik bos, siapa target utama saat ini.” Jawab anak buahnya.
“Raffa dan wanita yang ia sukai. Aku beri waktu kalian satu minggu untuk menyelesaikan misi atau, jika tidak kalian akan terima akibatnya.” Ancamnya.
“Siap bos, akan kami laksanakan.” Jawab mereka bersamaan, kemudian bubar menyusun rencana kedepannya.
“Tunggu pembalasanku.” Geramnya.
****
Diya bersama Naura belajar di ruang belajar keluarga itu, keduanya seperti sudah berkenalan lama sehingga terlihat sudah akrab saja.
“Kakak mau ambil minum dulu ya dek.” Ucap Diya.
“Oke kak.” Jawab Naura.
Diya berjalan menuju dapur, terlihat bu Ima sedang memasak untuk makan malam.
“Eh Diya, ada yang bisa ibu bantu?” tanya bu Ima.
“Tidak bu, hanya mengambil air putih.” Jawabnya. Ia mengambil air putih di dispenser yang ada di dapur.
Saat berjalan menuju kamar Naura ia tersandung.
“Au...” teriaknya.
“Tapi kenapa tidak sakit ya.” Batinnya. Kemudian ia membuka matanya ternayat ada yang menyambutnya saat ingin terjatuh.
Ternyata tangan kekar itu milik Raffa, keduanya saling berpandangan beberapa saat.
“Lepasin.” jutek Diya
“Udah dibantuin tapi gak bersyukur.” Ucapnya.
“Tapikan gak harus gitu bantunya, gak muhrim tau.” Ucapnya dengan nada khas.
“Bukan muhrim ya?” balas Raffa.
Ia hanya mengangguk.
"Tunggu gue halalin ya biar kita muhrim.” Ucap Raffa kemudian berlalu.
Gadis itu hanya mematung di tempatnya, sedangkan ia sambil tersenyum menuju dapur.
Raff tak sadar bahwa wajah wanita yang ia gombal sudah seperti kepiting rebus. Ah berlebihan amat ya thor....awok.
“Ah, Diya jangan baper. Gak boleh ya. Jaga hatimi, pokoknya jaga, jangan sampai jatuh cinta. Sadar diri ya.” Batinnya menenangkan.
“Kakak kenapa lama?” tanya Naura.
“Gak lama kok dek, ngobrol bentar sama bu Ima.” Jawabnya.
***
Setelah makan malam papa meminta keluarganya berkumpul dulu di ruang tamu, kebetulan bang El juga lagi libur dan sedang di rumah.
“Papa mau menindaklanjuti kesepkatan awal tentang Raffa dan Shanum.” Ucap papa.
Raffa berkaca-kaca mendengar ucapan papa.
“El, apa kamu ikhlas jika seumpanya Raffa dulaun menikah?” tanya papa.
“Ahaha, papa. Seperti yang El bilang sebelumnya pa, El ikhlas selagi itu yang terbaik untuk Raffa pa. Apalagi selama ini El tahu bagaimana Raffa sama wanita pa. Dia sama sekali belum pernah pacaran, El yakin Raffa benar-benar serius dengan permintaannya pa.” Ucap El.
“Papa senang dengar jawaban kamu nak, tapi papa masih kurang yakin kalau Shanum akan menerima pinangan ini nanti.” Lanjut papa.
“Papa jangan gitu dong pa.” Balas Raffa.
“Raffa perbanyak berdoa ya, semoga pinangan kita nanti diterima sama Shanum dan keluarganya.” Ucap mama.
“Iya ma, Raffa akan lakuin apa aja yang berhubungan sama Shanum.” Jawabnya.
Papa dan bang El refleks tertawa mendengar ucapan Raffa.
“Di rumah manja, di luar udah kaya singa aja.” Balas El.
“Kok abang sewot sih.” Balas Raffa kesal.
“Ma, kok Naura gak tau siapa calonnya kak Raffa?” tanya Naura.
Pertanyaan Naura sukses membuat semuanya tertawa lucu, berarti selama ini Naura tidak tahu kalau guru privatnya adalah calon kakak iparnya.
“Naura gak usah tau sekarang ya, besok aja kalau kak Raffanya udah jadi nikah.” Ucap El.
“Ih, kak El gak asik.” rengeknya manja.
“Dua minggu lagi papa rencana akan dinas luar kota dalam waktu yang belum diketahui berapa lama. Kalau bisa Minggu ini kita sudah melamarnya.” Ucap papa.
“Iya pa setuju.” Girangnya.
“Giliran melamar udah kaya anak-anak dapat balon lo.” Balas bang El.
“kan masih sewot aja sama gue.” Balasnya.
“Udah ah, berantem mulu kak.” Balas Naura.
“Mama juga setuju pa, mama khawatir akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan sama Shanum. Kalau udah jadi sama Raffa, dia bisa melindungi Shanum pa.” Ucap papa.
“Lo sih, ngapain bawa-bawa dia ke masalah lo. Kasian kan, atau jangan-jangan lo Cuma kasian sama dia, bukan karena cinta?” sanggah El.
“Kumat lagi nih sewotnya, gue beneran cinta sama dia." balasnya dengan nada tinggi..
“Raffa, suaramu.” Tegur mama.
“Dia duluan yang mancing emosi ma.” Balasnya tak mau kalah.
“Udah Raffa, El. Papa nggak suka dengar kalian berantem, satu lagi kakat-kata kalian sudah mulai tidak sopan.” Tegas papa.
“Iya pa, kita minta maaf.” Ucap keduanya bersamaan.
Suasana hening setelah keduanya mengucap kata maaf.
“Gimana? Gak jadi melamarnya?” tanya mama.
“Jadi dong ma.” Balas Raffa, gercep.
“Hari Minggu kita ke rumahnya, Raffa kamu harus memastikan mengetahui detail alamatnya. Papa nggak mau kesasar ya.” Ucap papa.
“Siap pa, laksanakan.” Jawabnya.
Disampingnya El memainkan bibirnya mencibir Raffa.
“Apa lo.” Balas Raffa.
“Sok manja lo.” Balas El.
“Lo yang manja.” Balas Raffa.
“Masih aja berantem.” Tegur mama.
“Sudah ma, papa juga mau istirahat ini.” Ucap papa, kemudian berlalu ke kamar.
“Mama gak mau lihat kalian berantem lagi, atau mau mama potong uang jajan kalian 50%.” Ancam mama.
“Nggak ma.” Jawab keduanya bersamaan.
“Ye, uang jajan Naura berarti nambah dong ma.” Balasnya.
“Naura juga, kalau semester ini nggak dapat 3 besar, bakalan mama sita motornya.” Ucap mama.
Kedua kakanya menertawakannya. Ia tak peduli ikut berlalu dari ruang tamu itu menuju kamarnya.
***
“Diy, kami udah depan kostmu.” Chat dari Devvina.
Diya langsung keluar dari kamarnya dan melihat mobil Devvina sudah berdiri di depan kostnya.
“Kenapasih pake dijemput segala?” ucap Diya.
“Ini demi kebaikan kamu, pokoknya kalau mau kemana-kemana hubungi kita.” Ucap Devvina.
“Kan gak gini juga, ini udah berlebihan.” Sanggah Diya.
__ADS_1
“No komen.” Balas Deana.
“Yaudah ayo berangkat.” Ucap Devvina sebagai driver.
“Aku masih heran deh, kenapa Diya digangguin terus sama preman-preman itu?” ucap Deana.
“Aku juga gak tau De.” Uacapnya.
“Percaya aja, ada kebaikan dibalik semua itu.” Ucap Devvina.
Diya ingat kembali kata-kata Farid waktu itu, Raffa bukan biang dari masalah yang terjadi padanya, semua itu adalah takdir.
“Diy, kok melamun sih?” tanya Devvina.
“Ng-ngak ada, aku ingat sesuatu.” Ucapnya.
“Cie yang ingat sama tuan Raffa.” Goda Deana.
Diya nggak mood membalas kata-kata Deana.
Sampainya di sekolah langsung menuju parkiran.
“Bukannya ini mobil tuan Raffa.” Ucap Deana.
“Kalau iya kenapa sih Dean?” kesal Diya.
“Eh, itu bukannya si Farid ya, godanya lagi.”
“Deaaannn.” Teriak Deavvina dan Diya bersamaan.
Dean pernah bilang kalau Devvina cocok sama Farid karena namanya mirip, memang Dean orangnya agak rese tapi asik, kaya author. Hehe
***
“Apa? lo beneran jadi lamar dia?” tanya Denis.
“Iya.” Jawabnya santai.
“Gila bro, beneran nekat ya. Nyokap sama bokap lo juga restuin ya.” Ucap Farid tak percaya.
“Keren banget si bro ya.” Ucap Andrew.
“Gue belum ada apa-apanya dibanding kalian, gue bakalan banyak nyusahin kalian setelah ini.” Ucapnya.
“Tenang aja bro, kami gak keberatan kok.” Ucap Denis.
“Satu lagi yang mau gue tanya sama lo semua.” Ucap Raffa.
‘Tanya langsung aja bro.” Ucap Andrew.
“Lo pada gak ada niat mau pacaran gitu?” tanya Raffa.
Ketiga temannya tak langsung menjawa pertanyaannya.
“Gue gak kepikiran pacaran bro, ya meskipun gue ada naksir ama cewe.” Ucap Denis.
“Gue juga gitu sih, belum kepikiran buat bagi perhatian gue, masalah kita aja belum kelar sampai sekarang. Kalau gue pacaran takutnya cuekin anak gadis orang lagi.” Ucap Farid.
“Kalau gue pengen kaya lo aja bro, langsung nikah aja nanti.” Sambung Andrew.
“Gue Cuma gak mau, gara-gara gue kalian gak ngerasaian gimana deket ama cewe.” Ucapnya.
“Lo tenang aja bro, yang penting lo fokus sama tujuan lo. Kalau masalah pasangan kita bisa urus belakangan.” Ucap Farid.
“Makasih ya, kalian memang sahabat yang pengertian.” Ucapnya. Mereka saling tos.
Tanpa mereka ketahui ada sepasang mata yang mendengar percakapan mereka dan dibalik itu ada sepasang telinga juga yang menyaksikan semuanya. Penasaran gak? Siapa mereka?.
****
Keluarga Raffa sudah siap-siap untuk berangkat ke tempat yang akan mereka tuju.
“Enam jam perjalanan kak?” tanya Naura.
“Iya dek.” Jawab Naura.
“Perjalanan yang melelahkan.” Resahnya, sambil menyandarkan pundaknya di kursi mobil.
“Sekalian jalan-jalan dek.” Balas El.
“Udah, jangan ngeluh dek. Tidur geh, bentar lagi sampai.” Bujuk mama.
“Kamu yakin ini gangnya?” tanya El pada Raffa.
“Gue yakinlah.” Jawabnya.
“Lo pernah kesini?” tanya El.
“Gue punya teman orang daerah sini, dia yang cari tahu dimana rumahnya.” Ucap Raffa.
“Pinter juga otak lo ya.” Ucap El.
“Lo aja yang lola.” Jawabnya lagi
“Masih aja berantem.” Sindir mama.
Mobil mereka berhenti di sebuah rumah yang sederhana, warna coklat.
“Lo yakin ini rumahnya?” tanya El.
“Lo jangan nyari lawan napa?” ucap Raffa.
“Udah, ayo kita masuk.” Lerai papa.
Ketika rumah diketuk, keluarlah seorang gadis dengan balutan hijab yang anggun.
“Silakan masuk bapak, ibu dan ayo dek.” Ucapnya sambil mengusap kepala Naura.
Keluarga Raffa masuk ke rumah, terlihat sofa rotan yang masih terawat dengan baik di ruangan itu.
“Mari duduk bapa, ibu.” Ucapnya lagi.
“Oh iya.” Ucap mama.
“Tunggu sebentar ya bu, biar saya panggilkan nenek di kamar.” Ucapnya kemudian berlalu.
“Belum kenal sama kita aja udah langsung nyuruh masuk ya pa.” Bisik mama pada papa yang duduk di sampingnya.
“Iya ma, papa juga seneng sama sambutannya.” Balas papa.
Terlihat seorang nenek datang dan menuju ke arah mereka.
“Nenek kira siapa, ada tamu ternyata.” Ucap nenek.
“Iya bu, maaf kalau kedatangan kami mengganggu ya bu.” Ucap mama, bersalaman dengan nenek, begitu juga papa disusul dengan El, Raffa dan Naura.
“Ibu senang sekali kedatangan tamu istimewa seperti kalian.” Ucap nenek.
Tidak berapa lama gadis itu datang membawa beberapa cangkir teh hangat untuk mereka.
“Silakan diminum pa, bu.” Ucapnya. Kemudian ia berlalu lagi mengambil beberapa cemilan di lemari dekat tv.
“Ini Kayla, putri sulung saya. Sekarang dia masih kuliah semester 8.” Ucap nenek.
“Masih muda ya Kayla.” Sambung mama.
“Kakak Kayla sudah meninggal 8 tahun yang lalu.” Ucap nenek
Flash back on
“Kak Syakira disini aja dulu sama aku ya kak.” Ucap Kayla.
“Nanti ribet jemput kesini lagi dek.” Ucap bunda Syakira.
“Kan ada bang Roif yang jemput nanti kak.” Balas Kayla.
“Yaudah deh kalau gitu, Syakira jangan nakal-nakal ya. Nanti malam ayah jemput kesini ya.” Ucap bundanya.
“Iya bun, Syakira senang main sama bibi Kayla.” Jawabnya.
“Ma, aku pulang dulu ya ma. Nanti malam kesini lagi jemput Syakira.” Ucapnya bersalaman dengan mamanya.
“Hati-hati ya nak, jangan ngebut di jalan. Kalau gak bisa jemput nanti malam juga gak masalah, besok pagi juga bisa.” Ucap mamanya.
“Iya, aku gak mau repotin mama terus.” Ucapnya.
__ADS_1
“Anak-anak mama gak ada yang repotin mama.” Ucap nenek.
“Aku pamit ya ma, Kayla kakak pergi ya.” Ia berlalu dengan motor kesayangannya.
Selesai magrib bunda syakira menelpon mamamya.
“Iya Ira, ada pa?” tanya mamanya.
“Ma, sepertinya besok pagi aja kami jemput Syakira ya ma. Meteran di rumah lagi rusak ma, ayahnya lagi perbaikin lampu ma. Apalagi disini hujan lebat ma.” Ucapnya.
“Iya Ira, hati-hati ya nak. Bilang sama Roif kalau gak bisa masang lampunya besok lagi aja diperbaiki.” Ucap mamanya.
“Iya ma, mas Roif udah biasa kok ma masang kabel yang putus.” Jawabnya.
“yasudah.” Jawab mamanya.
“Ma, jagain Syakira ya ma. Maaf kalau kami selalu merepotkan mama.” Ucapnya.
“Oh iya Ira, mama ini lagi di masjid, pengajiannya udah mau dimulai.” Ucap mamanya.
“Ira tutup ya ma, assalamu’alaikum ma.”
“Wa’alaikumussalam nak.” Jawab mamanya.
Mama, Kayla dan Syakira pulang dari masjid bersama tetangga lain. Saat itu masih pukul 9 malam.
“Ma, makan dulu yok ma.” Ucap Kayla.
“Kalian duluan aja nak, mama belum lapar.” Ucap mamanya.
“Yok Sya, kita makan duluan.” Ucap Kayla.
Keduanya makan bersama di ruang tamu sambil menonton tv. Syakira mengambil gelas yang ada di meja tapi jatuh ke lantai hingga gelas pecah.
“Astagah Sya, kamu nggak kenapa-kenapa kan?” tanya bibinya.
“Nggak bi, tapi gelasnya pecah.” Ucapnya khawatir. Ia takut dimarahi sang nenek.
“Udah jangan nangis, nenek gak bakalan marah kok. Lanjut lagi makannya biar bibi yang beresin.” Ucap Kayla.
Terdengar dering telpon rumah, Kayla mengangkat telponnya.
“Halo.” Ucapnya.
“Apa benar ini keluarganya pak Roif?” tanya seseorang.
“Anak-anak mama gak ada yang repotin mama.” Ucap nenek.
“Aku pamit ya ma, Kayla kakak pergi ya.” Ia berlalu dengan motor kesayangannya.
Selesai magrib bunda syakira menelpon mamamya.
“Iya Ira, ada pa?” tanya mamanya.
“Ma, sepertinya besok pagi aja kami jemput Syakira ya ma. Meteran di rumah lagi rusak ma, ayahnya lagi perbaikin lampu ma. Apalagi disini hujan lebat ma.” Ucapnya.
“Iya Ira, hati-hati ya nak. Bilang sama Roif kalau gak bisa masang lampunya besok lagi aja diperbaiki.” Ucap mamanya.
“Iya ma, mas Roif udah biasa kok ma masang kabel yang putus.” Jawabnya.
“yasudah.” Jawab mamanya.
“Ma, jagain Syakira ya ma. Maaf kalau kami selalu merepotkan mama.” Ucapnya.
“Oh iya Ira, mama ini lagi di masjid, pengajiannya udah mau dimulai.” Ucap mamanya.
“Ira tutup ya ma, assalamu’alaikum ma.”
“Wa’alaikumussalam nak.” Jawab mamanya.
Mama, Kayla dan Syakira pulang dari masjid bersama tetangga lain. Saat itu masih pukul 9 malam.
“Ma, makan dulu yok ma.” Ucap Kayla.
“Kalian duluan aja nak, mama belum lapar.” Ucap mamanya.
“Yok Sya, kita makan duluan.” Ucap Kayla.
Keduanya makan bersama di ruang tamu sambil menonton tv. Syakira mengambil gelas yang ada di meja tapi jatuh ke lantai hingga gelas pecah.
“Astagah Sya, kamu nggak kenapa-kenapa kan?” tanya bibinya.
“Nggak bi, tapi gelasnya pecah.” Ucapnya khawatir. Ia takut dimarahi sang nenek.
“Udah jangan nangis, nenek gak bakalan marah kok. Lanjut lagi makannya biar bibi yang beresin.” Ucap Kayla.
Terdengar dering telpon rumah, Kayla mengangkat telponnya.
“Halo.” Ucapnya.
“Apa benar ini keluarganya pak Roif?” tanya seseorang.
“Iya pak, kami keluarganya.” Jawab Kayla.
“Kami dari kepolisian mealporkan bahwa pak Aroif dan istrinya terjebak dalam kebakaran yang terjadi di rumah mereka sekitar pukul 8 tadi, sekarang ada di rumah sakit Ibnu Sina.” Ucapnya.
Kayla tak menjawab ucapan pria diseberang sana. Ia berlari menuju kamar mamanya untuk mengabarkan hal itu. Betapa terkejutnya ia mendengar berita itu, keduanya bergegas akan berangkat ke rumah sakit.
“Ayo sayang kita ke rumah sakit.” Ucap neneknya pada Syakira. Sedangkan Kayla mengeluarkan motor dari bagasi.
Mereka menuju rumah sakit yang dimaksud, sesampai disana ternyata dokter telah menvonis keduanyan telah meninggal dunia.
Kejadian itu mengubah dunia anak yang bernama Syakira hingga saat ini.
Flash back off
***
“Sejak kejadian itu Syakira tidak punya orangtua lagi, ia tinggal bersama saya dan Kayla. Karena Syakira anaknya cerdas, Kayla menyarankan agar Syakira sekolah di SMA favorit agar mudah masuk perguruan tinggi yang bagus.” Ujar sang nenek.
“Kasian sekali Syakira ya bu, tapi saya salut sama prestasinya di sekolah.” Ucap mama Raffa.
“Berarti anak ini gurunya Syakira di sekolah?” tanya nenej.
“Betul bu.” Jawab mama Raffa.
Mereka bicara panjang lebar dan saling memperkenalkan keluarga masing-masing.
“Bagini bu, sebenarnya tujuan utama kami kesini selain untuk menjalin silaturrahim, yaitu untuk melamar cucu ibu yaitu Syakira untuk putra kami Raffa bu.” Ucap papa.
“Benar bu, kami sudah mempertimbangkan hal ini sebelumnya. Apalagi Raffa dan Syakira sama-sama masih sekolah.” Ucap mama.
Nenek tersenyum penuh arti. “Saya sangat senang mendengarnya nak, senang sekali bahkan. Kelak akan ada yang menjaga cucu saya jika dikemudian hari saya sudah tiada.” Ucap nenek.
“Mama.” Ucap Kayla, yang duduk di sampingnya.
“Saya sangat setuju dengan lamaran ini, tapi semua saya serahkan pada Syakira.” Ucap nenek.
“Iya bu, kami dan keluarga kan menunggu apapun jawaban dari Syakira nantinya.” Ucap Papa.
“Insyaallah akan kami kabari Syakira tentang kabar baik ini.” Ucap nenek.
“Terimakasih banyak sebelumnya nek, jika nanti Syakira menerima lamaran saya apapun sarat yang nenek ajukan, insyaallah akan saya usahakan nek.” Balas Raffa.
“Nenek tidak meminta banyak hal, nenek berharap nantinya bisa menjaga Syakira. Bisa membuatnya bahagia, apapun nanti yang terjadi di rumahtangga kalian jangan pernah berfikir untuk berpisah.” Ucap nenek.
“Insyaalaah nek. Akan saya usahakan.” Ucap Raffa.
“Kalau Kayla gimana nih, belum ada niat untuk menikah?” tanya Mama Raffa.
“Eheh, belum ada niat kak. Calonnya juga belum ada.” Ucap Kayla.
“Semoga dimudahkan ya Kayla, apalagi Kayla sekarang semester akhir pasti sangat sibuk.” Ucap ,mama Raffa.
“Iya kak, sangat sibuk.” Jawabnya sambil senyum.
Keluarga Raffa akhirnya berpamitan untuk pulang setelah makan siang di rumah Kayla.
“Alhamdulillah, akhirnya selesai.” Ucap papa.
“Iya pa, mama juga lega.” Ucap mama.
“Gantian dong bawa mobilnya.” Ucap Raffa.
“Kalau masih mau berantem juga, biar papa yang bawa.” Ucap papa.
__ADS_1
“Biar El yang bawa pa.” Ucap El sambil menyunggingkan senyumnya.
Bersambung