RAFFASHA

RAFFASHA
Tentang Kayla (1)


__ADS_3

Sudah 3 hari Raffa di rumah sakit, keadaannya semakin membaik. Nenek dan Kayla masih disana sampai Raffa benar-benar sembuh.


“Makan yang rajin ya sayang, supaya cepat sembuh.” Bisik Shanum agar tidak didengar oleh nenek.


“Iya sayang, aku bakal sembuh kok. Apalagi tiap hari disuapin sama istri tercinta.” Balasnya.


“Dimakan ya.” Shanum menyuapinya makan pagi.


Disisi lain Kayla memilih menginap di rumah Dean karena dia akan membuat revisiannya yang akan dikirim via online kepada pembimbingnya.


“Bi, sejak datang ke kota bibi sibuk banget ngerjain revisian.” Ucap Dean.


“Iya tuh, nggak seru amat bi. Kapan-kapan main yok kemana gitu.” Usul Pina.


“Dean, bibi nggak memberatkan kalau harus nginap lagi disinikan?” tanya bibi.


“Tuhkan bibi, kaya orang lain aja. Bibi udah kami anggap saudara sendiri loh bi, iyakan Pin.” Ucap Dean.


“Iya bi, kalau bibi juga nggak keberatan nginap di rumahku juga nggak masalah loh bi.” Ucap Pina.


“Kalau di rumah Pina kakak segan karena ada kakak Pina.” Ujar bibi.


“Ehehe iya juga ya bi.” Jawab Pina.


“Gimana nih bi, jadi nggak kita refreshingnya?” tanya Dean lagi.


“Bibi segan sama keluarga Raffa, masa ada musibah malah pergi keluyuran.” Balasnya.


“Bibi Kayla sayang, kita Cuma menghilangkan kepenatan. Nggak ada maksud lain pamer atau gimana.” Sambung Pina.


“Sebenarnya aku juga butuh hiburan seperti ini, untuk menghilangkan kepenatan perasaanku.” Batin Kayla.


“Yaudah, emang kita mau pergi kemana?” tanya bibi.


“Kita ke taman aja bi, sore-sore gini rame loh disana.” Usul Dean.


“Okeh, ayo berangkat.” Jawab Kayla.


Kayla bersama Dean dan Pina berangkat menuju taman, sebelumnya mereka singgah di swalayan untuk membeli cemilan.


“Rame juga ternyata.” Ujar bibi.


“Iya bi, sore-sore kaya gini dimanfaatkan untuk quality time bersama keluarga.” Balas Pina.


Mereka bercerita sambil menikmati makanan yang mereka beli tadi.


“Bi, dari tadi kok kebanyakan melamun sih?” heran Dean.


“Nggak ko, cumakepikiran revisian.” Balasnya.


“Bi, kita kesini untuk melupakan segenap masalah dan gundah supaya lebih fresh. Kalau mikirin revisian percuma aja dong.” Balas Pina.


“Iya, tadi cerita apa? bibi kurang ngeh.” Jawabnya.


“Aku yakin bibi mikirin sesuatukan? Nggak biasanya lo kaya gini.” Dean masih penasaran.


“Nggak ada Dean, bibi tadi kepikiran revisian doang.” Jawabnya.


“Bibi kalau ada masalah boleh loh cerita sama kami. Ya walaupun kami nggak punya solusi, setidaknya dengan bercerita semua beban sedikit terasa ringan bi.” Bujuk Pina.


Kayla berdiri dari duduknya, ia mengambil sehelai tisu dan menghapus air matanya.


“Bibi baik-baiak ajakan?” tanya keduanya khawatir.


Sebenarnya ada satu hal yang menjadi beban pikiran sampai sekarang. Sambil mengusap air matanya dengan tisu.


“Bibi cerita dong sama kami, kami janji nggak bakal kasih tau siapa-siapa.” Balas Pina.


“Kalian janji ya.” Pintanya.


“Iya bibi sayang.” Jawab mereka bersamaan.


Flash back on


“Eh ternyata ada tamu.” Ucap Kayla yang baru keluar dari kamarnya.


“Iya Ila, bunda minta tolong ambilin berkas bunda di lemari ya.” Ucap bunda.


Kayla mengambil berkas yang dimaksud bundanya di dalam peti yang ada di lemari.

__ADS_1


“Banyak juga ya berkas-berkas milik bunda.” Sambil melihat berkas yang bertumpuk-tumpuk ia melihat sebuah map warna kuning tulang berbeda dengan warna berkas lain.


“Ini apaya?” karea penasarannya ia membuka map itu dan melihat “Surat Adopsi” di map itu. Kemudian ia membaca lagi hingga sampai pada kertas terakhir tertera keterangan adopsi anak dari Panti Asuhan Nurul Jannah dengan nama Putri Kayla Wijaya.


Benteng pertahanannya seakan runtuh diterpa badai kerahasiaan, “Jangan nagis, aku harus segera serahkan berkas ini pada bunda, apapun yang terjadi pasti bunda punya alasan mengapa ia merahasiakan ini.” Batinnya.


Ia segera menyerahkan berkas itu pada sang bunda.


“Makasih Ila, sekarang lanjut lagi aja buat revisiannya ya.” Ucap bunda.


Kayla pu berlalu dari tempat itu, ia tau tamu yang datang adalah pengacara kepercayaan bunda untuk mempersiapkan pengalihan nama warisan milik bunda.


“Terimakasih bunda, selama ini sudah menyayangi Kila seperti putri bunda sendiri dan menganggap Kila menjadi bagian dari keluarga bunda.” Ia menagis di kamarnya.


Flash back off.


Pina dan Dean terkejut mendengar cerita Kayla, apaboleh buat keduanya tidak tahu apa yang akan dilakukan selain menenangkan Kayla.


“Bibi jangan nagis lagi dong, kami juga ikut sedih dengarnya.” Keduanya memeluk Kayla.


“Aku bukan siapa-siapa dan aku tidak punya siapa-siapa kalau seadainya bunda umurnya pendek.” Isaknya.


Dean dan Pina tidak bisa menyembunyikan kesedihan mereka, ucapan Kayla sungguh menusuk hati.


“Sudah ya bi, bibi nggak sendiri kok ada kita. Kita saudara bibi juga.” Bujuk Pina.


“Apakah Diya sudah tau bi?” tanya Dean.


“Jangan kasih tau Kila ya, cukup kalian yang tau. Biar waktu yang akan menjawabnya.” Jawabnya.


Setelah magrib keduanya mengajak Kila menonton bioskop, supaya suasana hatinya semakin membaik.


“Bibi kuat kok, ada kai disini.” Bujuk Dean.


“Terimakasih sudah ada disaat-saat seperti ini.” Ia merangkul 2 gadis di sampingnya dengan haru.


Ponsel Kayla tiba-tiba berbunyi panggilan dari Kila.


“Iya Sha, ada apa?” tanyanya.


“Bibi habis nangis? Kok suaranya sreg gitu?” tanya Kila.


“Bibi udah makankan, kalau belum biar Kila minta bantu sama Dean atau Pina ya beliin bibi makanan atau cemilan biar semangat revisiannya.” Ucapnya.


“Nggak usah Sha, bibi lagi sama Dean kok ini. Baru selesai makan juga, cemilan juga banyak dibawain sama Pina.” Ucapnya.


“Iya Diy, nggak usah khawatir. Bibi baik-baik aja kok bareng kami.” Balas Dean.


“Syukurlah kalau gitu bi, Kila tutup dulu ya bi telponnya. Teman-teman bang Raffa udah datang.” Ucapnya. Pembicaarn keduanya pun terputus.


***


“Bi, nanti kita ke rumah sakit yok. Katanya Raffaudah bisapulang hari ini.” Ajak Pina.


“Kalian saja ya yang pergi, bibi besok saja kalau Raffa sudah di rumah.” Ucapnya.


“Nggak baik kaya gitu bi.” Balas Dean.


“Ada hal yang harus bibi selesaikan sampai sore nanti.” Ucapnya.


“Tuhkan, urusan apalagi bi? Kan bisa kami bantu.” Ucap Pina.


“Semalam bibi sudah serching nama panti asuhan yang tertera di surat adopsi, panti asuhannya ada di kota ini.” Ucap Kayla.


“Bibi serius?” tanya mereka bersamaan.


“Iya.” Jawab Kayla.


“Yaudah bi, sekarang kita kesana.” Ucap Dean.


“Betul bi, kalau bisa sekarang ngapain nunggu nanti.” Balas Pina.


Kayla tersenyum melihat semangat kedua gadis di hadapannya, “Ya Allah mudahkanlah segala urusan hamba Ya Allah.” Batinnya.


Ia mengikuti kedua gadis yang begitu semangat membantunya. Setelah satu jam diperjalanan mereka sampai di panti asuhan yang dimaksud.


“Bi, betul ini panti asuhannya bi?” tanya Pina.


“Coba kita tanya dulu.” kayla begitu semangat memasuki gerbang panti asuhan yang bertuliskan Nuru Jannah itu.

__ADS_1


Mereka menemui pengasuh panti asuhan.


“Bu, saya Kayla bu ini temannya saya Dean dan Pina. Tujuan kami datang kemari untuk memperoleh sedikit informasi bu, kalau memang diperbolehkan.” Ucap Kayla.


“Saya ibu Tati, sudah 25 tahun menjadi pengasuh di panti asuhan ini. Kami berusaha akan memberikan informasi yang benar-benar kami tau jika itu memang sangat penting.” Balas bu Tati.


“Begini bu, 21 tahun yang lalu apakah ada anak asuh putri yang bernama Putri Kayla Wijaya?” tanyanya.


“Kalau ibu tidak salah ada, nama panggilannya Kayla kalau ibu tidak salah.” jawabnya.


Betapa bahagianya hati Kayla mendengar penuturan singkat dari bu Tati.


“Apakah ibu ingat siapa yang mengadopsi anak itu?” tanyanya.


“Kalau itu ibu tidak ingat, tunggu sebentar ya ibu chek dulu.” ucap bu Tati.


Ibu tati meminta bagian administrasi untu menchek data tersebut.


“Anak itu diadopsi oleh seorang guru yang bernama bu Kartika.” Ucapnya kemudian.


“Apakah ibu tau siapa yang menitipkan anak itu ke panti asuhan ini?” tanyanya lagi.


Flash back on.


Ditengah hujan badai yang sangat lebat, ada seorang wanita membawa seorang bayi perempuan. Ia berteduh di teras rumah yang tampak terang.


“Mbak ngapain hujan-hujanan disana mbak?” tanya bu Tati.


“Saya numpang berteduh ya bu, kasihan bayi saya.” Ucapnya.


“Masuk dulu mbak, di luar hujan lebat.” Tawar bu Tati.


Ibu yang menggendong bayi perempuan itu masuk ke rumah dan dibuatkan minuman oleh bu Tati.


“Kalau saya boleh tau, mbak ini mau kemana ya?” tanya bu Tati.


“Saya inginpulang kampung bu, tapi saya tidak tau harus bagaimana. Bayi ini anak majikan saya, kalau saya pulang apa kata orang kampung bu. Saya belum punya suami tapi pulangnya sudah bawa anak saja.” Ceritanya.


Bu Tati sangat prihatin dengan keadaan wanita yang bernama Lastri itu.


“Disini kenapa banyak anak-anak bu?” tanyanya.


“Oh iya, disini akan didirikan panti asuhan untuk anak-anak yang tidak punya orangtua, anak jalanan dan anak kurang mampu. sebelum gedung panti asuhannya selesai, mereka disini dulu." Jelas bu Tati.


“Kalau begitu bolehkah saya menitip bayi ini disini bu? Saya tidak bisa menjamin kehidupan anak ini kelak.” Ucapnya sambil menangis.


“Apa yang terjadi dengan orangtua anak ini? Kenapa dititip pada kamu?” tanya bu Tati.


“Saya punya majikan bu, istrinya meninggal beberapa saat setelah melahirkan anak ini bu. Majikan saya tidak terima istrinya meninggal, ia menganggap bayi ini penyebab istrinya meninggal. Ia meminta bawahannya untuk membunuh bayi ini, tapi saya kasihan bu. Saya kasihan melihat bayi yang tak berdosa dibunuh. Saya memutuskan untuk mbawa anak ini dan kabur dari rumah itu.” Jelasnya sambil menangis.


Bu Tati ikut menagis mendengar cerita Lastri, ia memeluk Lastri dengan erat.


“Semoga niat baikmu direstui Allah ya. Saya bersedia jika dia akan dititip disini.” Ucap bu Tati.


“Terimakasih banyak bu, suatu saat saya akan kembai menjemputnya kemari. Alamat saya di Gunung Jati bu.” Ucapnya dengan bahagia.


Akhirnya anak yang bernama Putri Kayla Wijaya dititipkan di panti asuhan itu.


Flash back off.


Ibu Tati sambil menagis menceritakan kejadian yang pernah ia alami.


“Ibu tau siapa anak itu? Saya anak itu bu.” ucap Kayla.


Bu Tati tiba-tiba langsung memeluknya dengan hangat, layaknya seorang ibu.


“Alhamdulillah kamu sudah dewasa nak.” Ucap bu Tati sambil mengelus pundak Kayla.


Pembaca yang tersayang, semoga suka ya sama ceritanya. Jangan lupa komen ya supaya makin bagus kedepannya🤗


dan jangan lupa likejuga ya guys...😉


terimakasih🤗


Butuh saran nih, bagus nggak kalau ada kisah Kayla diceritanya??


Komen ya guys ☺


30/11/21

__ADS_1


__ADS_2