RAFFASHA

RAFFASHA
Untuk Shanum


__ADS_3

Plak, satu tamparan mendarat di wajah mulusnya.


“Lo bisa biacarakan?” bentaknya sambil menendang kursi dimana gadis itu diikat. Raffa siap-siap untuk memecahkan kaca di hadapannya untuk masuk.


“Aku gak akan melakukan apa-apa padanya, dia tidak bersalah. Dia orang baik.” Jawabnya.


“Shanum, gue gak nyangka lo berfikiran kaya gitu sama gue. Gue bukan orang baik.” Ucapnya. Masih mengurungkan niatnya untuk masuk.


semua yang ada disana menertawakan jawabannya.


“Baik? Lo nggak tau siapa dia sebenarnya.” Ucapnya.


“Bunuh saja aku.” Teriaknya pilu.


“Bunuh? Itu pasti. Tapi kamu harus merasakan sakitnya dulu.” Ucapnya. Ia menendang kursi itu hingga sang gadis kesakita terplanting, hijabnya ditarik paksa. Lakilaki itu mendengus dilehernya, ia bberintak tapi tangan dan kakinya diikat. Baju seragamny asobek dibagian pundak.


Preng, terdengar suara pecahan kaca dihadapan mereka. raffa menampakkan wujudnya.


“Ternyata lo benar-benar mencintai gadis ini.” Ejeknya.


“Mau gue suka atau nggak itu bukan urusan lo.” Jawab Raffa.


Terjadi perkelahian antara Raffa dan ebebrapa anak buahnya disana, laki-laki itu membawa gadis itu kabur dari sana. Raffa benar-benar kewalahan menghadapi preman-preman yang berotot kekar itu.


Setelah semua kalah Raffa berlari mencari laki-laki yang membawa gadis tersebut. Terdengar suara teriakan dari sebuah ruangan.


“Tolong.....” teriaknya pilu.


Raffa segera mendobrak ruangan tersebut, laki-laki itu hampir melakukan hal tidak senonoh pada sang gadis. Ia segera melumpuhkan laki-laki itu.


Lo pakai jaket gue.” Melihat pakaian gadis itu sudah sobek-sobek, “Ini ganti hijabnya ya.” Ia memasangkan topi jaketnya ke kepala gadis itu.


“Lo jangan nagis lagi.” Kemudian ia menarik tangan gadis itu dan berlalu dari sana. Mereka sampai di klinik tante Farid.


“Tante periksa dia ya tante.” Pintanya penuh harap.


Tante dokter memeriksa gadis itu dan meberikan hijab dan seragam klinik padanya.


“Apa yang terjadi?” tanya dokter padanya.


Gadis itu hanya menangis. “Pundakmu tampak terluka, ada jejak juga di lehermu. Apa yang dilakukan Raffa padamu sayang?” tanya dokter.


“Bukan Raffa, tapi musuh Raffa. Ia menyobek pakaianku....” gadis itu terisak.


“Sudah sayang jangan dilanjutkan, tante mengerti maksudmu.” Dokter mengelus kepalanya memberi kekuatan.


“Istirahatlah disini, siapa namamu sayang?” tanya dokter.


“Diya, namaku Diya dokter.” Jawabnya terbata-bata.


“Jangan pikirkan lagi ya sayang, tante akan bantu kamu pulih kembali.” Ucap dokter.


Dokter berlalu keluar ruangan, Raffa langsung menemuinya.


“Bagaimana tante?” tanyanya tak sabaran.


“Kamu duduk dulu dong jangan panik gitu.” Goda sang tante.


“Diya baik-baik saja, hanya saja ia masih trauma dengan kejadian tadi.” Ucap tantenya.

__ADS_1


“Makash tante.” Ucapnya lega.


Ia masuk ke ruang rawat gadis itu. Terlihat gadis itu tiduran sambil menatap langit-langit ruangan.


“Gue minta maaf, gue gak sengaja bawa lo kemasalah gue. Gue juga gak tau kenapa ini bisa terjadi.” Ucapnya dengan ekspresi penyesalan.


Lawan bicaranya masih menatap ke langit-langit ruangan, kemudian menggeser tubuhnya ke kanan untu mengambil air putih.


Bukannya mengambil air putih tapi ia jatuh dari tempat tidur. Raffa refleks mengejarnya dan membatunya untuk beridri dan naik ke ranjangnya. Tangan gadis itu masi dipegangnya.


“Gak muhrim.” Refleks si gadis sambil menarik tangannya dari pegangan Raffa.


Kalau gue halalin lo mau?” tanpa sadar kata-kata itu keluar dari mulutnya.


“Apa?” taya gadis itu pelan.


“Gak ada, lo istirahat yang cukup. Gue mau pulang dulu.” Ia malu kemudian berlalu dari ruangan itu.


“Dengar Raffa bilang kaya gitu kok aku jadi deg-deg an ya, ah gak mungkinlah.” Batinnya.


Tidak berapa lama kedua sahabatnya datang menemuinya di klinik. “Jantung gue terasa berhenti berdetak pas gombalin dia tadi, rasanya gak mau waktu itu berlalu. Apalagi pas gue pegang tangannya... astagah makin banyak aja dosa gue jadinya.” Batinnya.


“Diya, kamu kok sering sakit sih?” pertanyaan konyol dari siapa lagi kalau bukan Fizha.


“Udah takdir pun.” Jawabnya sambil tertawa.


****


Raffa bersiap menuju klinik tante untuk menemui Diya.


“Mau kemana malam-malam begini?” tanya mama.


“Emmm, mau ke klinik ma. Tadi sore Shanum sakit dan dibawa ke klinik.” Ucapnya santai.


“I-itu ma, tadi dia pingsan trus Raffa yang bantu bawa ke klinik.” Jawabnya asal.


“Kamu gak boleh pergi....” ucap mama.


“Tapi ma, Raffa harus tanggung jawab ma. Kan Raffa yang batuin Shanum tadi.” Bujuknya lgi.


“Sekarang kamu pilih dia atau mama?” tanya mama.


Raffa benar-benar dilema dengan perkataan mamanya, ia berlalu ke kamarnya. Ia melihat notifikasi Hpnya.


“Bro keluar yok, malam Minggu nih.” Ajak Denis.


“Yok, gue juga gabut di di rumah.” Jawab Andrew.


“Gue gak bisa, nyokap gak bolehin.” Balasnya.


“Seriusan lo @Raffa?” tanya Farid.


“Iya, gue gk bercanda.” Balasnya.


“Kami duluan ya kalau gitu.” Balas Andrew.


Yoi, gapapa bro.” Balasnya.


Ketiga temannya memutuskan untuk ikut nimbrung di basecamp mereka. sedangkan ia tidak bisa melakukan apa-apa karena larangan mamanya.

__ADS_1


****


Diya dan kedua sahabatnya makan di kantin biasa, ia sudah belajar menerima semua cobaan yang terjadi padanya, tak mempedulikan lagi ucapan-ucapan orang lain tentangnya.


“Eh si cupu ternyata udah berani keluar kelas.” Sindir Sonia dan geng.


“Udah kebal mungkin.” Ucap yang lain.


Diya tidak menanggapi ucapan mereka ia hanya berlalu menuju toilet.


“Gue bakal kasih pelajaran sama tuh cewek.” Kesalnya.


Ketiga gadis tersebut mengambil satu ember air dan menyiramkan air ke toilet yang ditempati Diya. Ia basah kuyup karena ula girls famous yang tidak berperasaan itu.


Ia berlari ke belakang sekolah dengan menangis sesenggukan. “Ya Allah gimana caranya belajar, bajuku basah kuyup begini?” ia tetap berdiri di bawah terik matahari siang itu agar pakaiannya kering.


“Lo mau kemana?” tanya Farid.


“Gue mau ke belakang sekolah, berisik disini.” Jawabnya, kebetulan kelas mereka kosong siang itu.


“Gue ikut dong.” Ucapnya. Ketiga temannya ikut dengannya. Dari kejauhan ia melihat seorang gadis di bawah teriknya matahari.


“Raf, itu bukannya....” belum selesai Farid bicara, Raffa sudah berlari mendekati gadis itu.


Ia melihat gadis yang memunggunginya itu, bajunya tampak basah.


“Shanum, lo ngapain disini dan baju lo kenapa?” gadis itu beralih ke sumber suara di belakangnya dan pingsan, untung ada Raffa dengan cepat menyabutnya agar tidak jatuh ke tanah.


Ia dibawa ke UKS dan diberi perawatan oleh tim PMI sekolah.


“Gue rasa ada yang tidak beres.” Ucap Andrew.


“Maksud lo?” tanya Denis.


“Jangan-jangan dia jadi korban bully anak-anak yang lain.” Andrew mengutarakan pemikirannya.


Raffa dan Farid berfikiran begitu juga, namu Denis yang otaknya belum sampai kesana masih diam tak memberi tanggapan.


Raffa berlalu dari UKS, diikuti oleh Farid. Ternyata mereka ke lapangan basket.


“Lo amankan?” tanya Farid. Ia mengerti bagaimana perasaan Raffa saat ini.


“Gue harus ngelakuin sesuatu untuk Shanum, gue gak tega lihat dia menderita terus.” Ucapnya.


“Lo mau ngelakuin apa?” tanya Farid.


“apapun akan gue lakuin untuk Shanum.” Tekatnya.


“Gue baru kali ini lihat lo begitu tulus cinta ama cewek. Dia gak ngelakuin apa-apa aja lo bisa kaya gini.” Godanya.


“Gue juga gak ngerti Rid, gue bisa ngalahin anak buah geng Srigala, tapi gak bisa lihat dia merasakan sakit.” Jawabnya tulus.


“Fix ini berarti lo udah cinta beneran sama tuh cewek.” Balas Farid.


“Kalau bisalah hati gue dibelah, lo bakal lihat nama dia aja disini.” Ia menyentuh dadanya.


"Ahahahah.” Farid benar-benar tertawa mendengar jawabannya.


“Lo tuh udah ketularan virus bucin tau gak.” Ucap Farid.

__ADS_1


“Siapa yang bucin?” tanya seseorang dari belakang mereka.


Bersambung


__ADS_2