
Tidak lama setelah itu, terdengar berita di tv bahwa bus tujuan ke Kota R mengalami kecelakaan.
"Mama, itu mobil yang ditumpangi bibi tadi." Teriak Shanum histeris.
Terdengar ponsel Shanum ternyata panggilan dari neneknya.
"Kila, tadi bibi kamu naik bus apa nak?" tanya nenek lemah. Shanum tak sanggup menjawab pertanyaan neneknya. Tangisnya semakin pecah.
"Bu, Kayla tadi naik mobil yang sama kata Shanum bu." Jawab mama sambil terisak.
Terdengar suara tangisan dari seberang sana, "Anakku Kayla." Tangis nenek.
Mama segera mematikan telpon, ia memapah Shanum dan memberitahu pada Raffa tentang hal itu.
"Tenang dulu ya sayang, kita akan menemukan bibi Kayla. Denis sama yang lain sudah duluan kesana." Bujuk Raffa.
"Pantas tadi Kila merasa nggak tenang saat bibi pergi." Ia masih terisak.
Shanum kembali menelpon nenek, "Nek, nenek tenang aja ya nek. Semoga bibi baik-baik saja. Kila sama yang lain sudah berangkat kesana. Nenek udah jangan nangis lagi ya nek." Bujuk Shanum dengan sisa tenaga yang ia miliki.
Denis dan Andrew sudah duluan sampai di lokasi. Dari sekian banyak penumpang 2 orange meninggal dunia, penumpang lainnya ada yang luka ringan ada juga yang luka berat.
"Den, lo ada lihat Kayla" tanya Andrew.
"Kita pencar aja Ndrew. Gue juga bingung dari tadi nggak ketemu." Jawab Denis.
Keduanya mengunjungi semua ruangan pasien yang mengalami kecelakaan bus tadi.
"Den, gue kaya lihat Satria deh disana." Ucap Andrew.
"Mana-mana?" tanya Denis.
"Arah sana, tapi ngapain juga ya dia kesini?" pikir Andrew.
Belum sempat selesai bicara, Denis sudah berlari menuju arah yang diberitahu Andrew.
"Benaran Satria, bangsat." Ucap Denis marah. "Apa yang dia lakuin disini?" batin Denis.
Akhirnya Denis dan Andrew menemukan Syakila. Dokter yang menanganinya belum ada di ruang rawat itu.
"Lo jaga dia, jangan kemana-mana. Biar gue yang tanya sama dokter." Ucap Denis.
Denis berlalu menuju ruang dokter.
"Pasien atas nama Kayla sudah diperiksa. Pasien engalami lula dibagian kepala yang mengakibatkan terjadinya amnesia. Tapi amnesia ini bersifat sementara. sewaktu-waktu bisa pulih kembali." Jelas dokter.
"Amnesia dok?" tanya Denis tidak percaya.
" Iya, kami berharap keluarga diberi ketabahan dalam menerima cobaan ini." Sambung dokter.
"Terimakasih atas informasinya dokter." Denis berjalan lunglai menuju ruang rawat Kayla.
"Ada apa Den?" tanya Andrew.
"Kayla amnesia ndrew." Jawab Denis.
Andrew tak dapat menjawab apa-apa lagi. Ia tau temannya sedang bersedih mendengar kabar duka itu.
"Den, kita pindahin ruang VIP saja bagaimana? sumpek tau disini." Ucap Andrew. Denis tidak menjawab, ia sibuk dengan lamunannya.
"Den, biar gue yang urus. Lo fokus dong." Ucap Andrew sambil berlalu.
Kayla pindah ke ruang VIP, Andrew merebahka. badan di sofa yang tersedia.
Ponselnya berdering ternyata panggilan dari Raffa.
__ADS_1
"Ruangan Sakinah VIP IV." Jawab Andrew setengah sadar karena baru terlelap.
Tak laa kemudian, Raffa bersama Shanum sampai di ruangan. Tampak Denis duduk di kursi samping ranjang Kayla.
"Apa yang terjadi bro?" tanya Raffa.
"Kayla amnesia." Jawab Denis singkat.
"Bibi, bibi bangun. Kila udah datang bi, bibi pasti bisa pulih. Bibi bentar lagi nenek datang ko bi." Tangis Kila sambil memeluk sang bibi.
Sudah hampir satu jam Kayla belum siuman, dokter sudah memeriksa untuk kedua kalinya.
***
Akhirnya Dean, Vina dan Farid sampai di rumah sakit.
"Udah, jangan merusuh. Kalian istirahat saja dulu." Ucap Raffa.
"Ih Raffa nyebelin deh." Jawab Dean.
"Makanya, sana shalat dulu. Doain bibi Kayla cepat siuman." Sambung Andrew.
"Iya Andrew." Jawab Pina.
Keduanya berlalu berjalan ke masjid rumah sakit.
"Dean, apa ya yang terjadi pada bibi?" tanya Pina.
"Nggak tau Pin, aku nggak mau pikir negatif." Jawab Dean.
"Dean, itu bukannya nenek ya Dean." Ucap Pina. Keduanya berlari-lari kecil menuju ke arah nenek.
"Nenek sudah sampai." Keduanya menyalimi nenek.
"Mari nek kita ke ruangan bibi." Ajak Dean.
"Assalamualaikum," Ucap nenek masuk ke ruangan.
"Waalaikumussalam, nenek." Shanum mendekati nenek dan memeluknya sambil menangis.
"Nek, bibi masih belum sadar nek." Tangis Shanum.
"Kita berdoa ya nak, semoga bibimu cepat siuman." Ucap nenek menenangkan cucunya.
"Kalian sudah pada makan siang?" tanya Andrew. "Kalau belum biar gue beliin." Ucap Andrew.
"Iyanih, gue juga laper." Balas Raffa. "Yok bro, kita makan soang dulu." Ucap Raffa pada Denis.
"Gue nggak diajak nih." Sambung Farid.
"Yaudah, kita bareng aja ke kantin." Balas Andrew.
***
"Alhamdulillah nak, kamu siuman juga." Nenek langsung memeluk bibi Kayla.
"Saya cape duduk di mobil seharian, makanya saya tidur." Jawab Kayla dengan lugunya.
"Sekarang sudah nggak cape lagikan." Ucap nenek.
"Nggak bun, sudah rileks lagi kok bun." Jawabnya.
Nenek memeluknya lagi kemudian menangis, "Alhamdulillah sayang, kamu tidak lupa sama bunda." Tangis nenek.
"Bunda, udah ya. Jangan nangis lagi. Kayla lapar." Ucapnya.
__ADS_1
Denis dengan sigap mengambil napan masi dan menyodorkannya pada Kayla.
"Terimakasih." Ucap Kayla sambil tersenyum.
"Bunda suapin?" tanya nenek.
"Emang bunda mau suapin, kan Kayla sehat bun." Jawabnya. Nenek tersenyum memegang sendok bersiap menyuapinya.
"Bun, mereka siapa bun? kok rame-rame disini. Ini lagi kok pakai infus segala." Ujar Kayla.
"Iya sayang tadi kamu jatuh. Karena bunda khawatir dibawa kesini deh." Jawab bunda.
"Bun, nggak ada garam ya. Sambelnya kok hambar." Andrew tertawa mendengar ucapan Kayla.
"Hust, lo rese banget." Ucap Farid.
"Habis lucu sih, ya jelas hambarlah. Namanya aja nasi rumah sakit." Ucap Andrew.
"Ssttt... diam." Ucap Dean.
"Bun, kapan kita pulang?" tanya Kayla.
"Maunya kapan nak?" tanya nenek.
"Sekarang boleh bun?" tanyanya.
"Boleh, tapi dokternya sudah pulang. Jadinya besok pagi." Jawab nenek. "Dimakan dulu ya nasinya." Sambung nenek.
"Nggak bun, udah kenyang." Kali ini sifatnya persis seperti anak-anak. "Oh ya bun, Shanum mana bun, nggak ikut kesini ya?" tanya Kayla sambil celingak celinguk.
Shanum yang namanya disebut, menangis dan berlari keluar ruangan diikuti oleh Raffa.
"Istirahat lagi ya nak." Ucap nenek.
"Iya bunda, ponsel Kayla mana ya bun?" tanyanya.
"Ini." Denis menyodorkan ponsel warna coklat itu ke Kayla.
"Kok coklat sih, bukannya ini ya. Warna hitam." Kayla mengambil ponsel milil Denis. Denis khawatir ponselnya sudah ada di tangan Kayla.
"Kok ada foto aku sama kamu?" tanya kayla dengan lugunya.
Andrew dan Farid ikut menertawakan.
"Mampus lo. nggak bisa jawabkan." Ucap Andrew iseng.
"Apasih Andrew," ucap Kayla.
Semua mata tertuju pada Andrew dan mereka tertawa bersamaan.
"Mampus, lo kena kan." Balas Farid.
"Kamu siapa?" tanya Kayla pada Denis.
"Gue, ... gu-e." Denis tidak bisa menjawab.
"Dia calon Kayla. Kayla lupa ya." Ucap nenek tiba-tiba.
"Ganteng juga ya calon Kayla." Ucap Kayla tersenyum.
"Alamak dapat lampu hijau si bro." Ucap Andrew sejak tadi melihat keuwuan diantara keduanya.
Pembaca yang tersayang, semoga suka ya sama ceritanya. Jangan lupa komen ya supaya makin bagus kedepannya🤗
dan jangan lupa like juga ya guys...😉
__ADS_1
terimakasih🤗
22/12/2022