
Mira menatap punggung Julian yang menjauh dengan tatapan emosi yang campur aduk
"Sangat tampan tapi sayang memiliki sifat yang kejam. aku harap seseorang bisa mengubahnya"
" Aku ingin kau mengawasi kerja mereka, jika terjadi keributan lagi segera laporkan padaku" Julian duduk dibalik meja kerjanya sambil memberikan perintah pada manager Raka
"Baik tuan Granger" jawab manager Raka patuh. Setelah mendapatkan perintah dari Julian manager Raka pun pergi dari ruangan kerja Julian
Julian tengah menyibukkan dirinya dengan laporan mengenai pendapatan hotel itu ketika ponselnya berbunyi
"Halo.."
"Tuan muda ini aku"
"Oo Paman Norman, ada apa?"
"Aku sudah menyerahkan semua tugasku pada Vania, gadis itu bisa melakukannya dengan benar" Julian menaikkan kepalanya menatap keluar jendela. Itu artinya gadis itu bersedia menggantikan tugas Pak Norman, kenapa Julian tidak terkejut mendengarnya.
" Baiklah"
" Anda bisa mulai memberikan jadwal anda padanya sore ini"
" Aku tahu, tidak perlu diingatkan" Julian menutup teleponnya lalu kembali pada pekerjaannya. Matanya berhenti membaca digantikan dengan tatapan kosong dikertas laporan itu, kenapa gadis itu mau melakukannya?. Tidak ada orang yang bersedia melakukan hal konyol seperti ini, bersedia mengandung anak seseorang hanya untuk kesembuhan Ibunya, setelahnya bersedia memberikan bantuan untuk mengurusnya? Gadis seperti apa dia ini?.
Julian menyandarkan dirinya disandaran kursi lalu menerawang jauh, Vania memang mirip dengan Angel, tapi sesuatu membuat Julian tersadar bahwa mereka benar-benar berbeda, apa mungkin karena rasa mereka berbeda?.
Julian pernah mencium Angel sekali, dan ia merasakan kegembiraan yang luar biasa waktu itu, berbeda dengan Vania. Hanya mencium sekali gadis itu membuat Julian merasakan bukan perasaan gembira tapi perasaan membutuhkan
Julian teringat kembali akan malam tadi, dimana Vania berada dibawahnya, menggeliat dan mendesah nikmat. Julian menggelengkan kepalanya membuang jauh pikiran itu, jika terus diingat kemungkinan Julian tidak akan bisa fokus pada pekerjaannya karena ingin segera pulang dan meniduri Vania lagi. dengan cepat Julian bisa kembali berkonsentrasi dan kembali pada kesibukannya bekerja.
πππ
Malam harinya Julian pulang menemukan Vania berdiri dihadapannya dengan senyum diwajahnya
"Selamat datang tuan Granger, anda ingin mandi atau makan dulu?" Julian mengerutkan alisnya, Pak Norman memang sering bertanya seperti itu dan Julian terbiasa mendengarnya, tapi kenapa jika Vania yang bertanya terdengar seperti sambutan dari seorang istri kepada suaminya yang baru pulang bekerja
Julian berdeham
"Mandi" jawabnya
"Mandi" Vania menganggukan kepalanya lalu mengulurkan tangannya kepada Julian ketika Julian melepaskan jasnya
Julian memandangi Vania sambil menyerahkan jasnya kepada Vania, melepaskan dasinya dan menyerahkannya kepada Vania lagi. ini menarik, pikir Julian
Julian berjalan kearah kamarnya, mendengar jelas langkah ringan Vania mengikutinya dari belakang. Sesampainya dikamar, Julian membuka kemejanya lalu menyerahkannya kepada Vania, matanya melirik kewajah memerah Vania yang memalingkan wajahnya ketika dada Julian terekspos dihadapannya
Biasanya Julian tidak akan terpengaruh jika Pak Norman yang mengikutinya sampai ke kamar. Pak Norman selalu menunggu Julian masuk kekamar mandi dan memungut pakaiannya yang berserakan dilantai tidak menungguinya seperti yang dilakukan oleh Vania saat ini. Ini menjadi semakin menarik
Julian mengamati wajah Vania selagi ia melepaskan celana panjangnya, mulutnya sedikit melengkung keatas ketika dilihatnya gadis itu melirikkan matanya kearah Julian lalu melirik lagi kelain arah dengan wajah yang semakin memerah
Berdiri dengan memakai celana boxernya, Julian menyerahkan celana panjangnya ditangan Vania yang terulur kedepan, melangkah kedepan agar lebih dekat dengan gadis itu
"Apa Paman Norman mengatakan padamu harus melakukan ini?" tanya Julian
"Iya" jawab Vania, menahan nafasnya ketika dada telanjang Julian berada didepan wajahnya. Julian menaikkan alisnya, apa maksud Pak Norman menyuruh Vania melakukan ini
Tugas Pak Norman memang mengurus kebutuhannya, tetapi tidak sampai pada titik menungguinya melepaskan semua pakaiannya sebelum mandi. Didalam benak Julian tahu, Pak Norman tengah melakukan sebuah tipu muslihat agar Julian dan Vania sering berdekatan, anehnya Julian tidak menolak untuk berdekatan dengan Vania seperti ini
Melihat wajah Vania yang memerah karena malu sambil menguatkan diri untuk tetap membantu Julian hingga selesai, Julian semakin ingin mempermainkan gadis ini
"Biasanya Paman Norman menemaniku masuk sampai ke kamar mandi"
"Apa..?" Vania menolehkan kepalanya menatap Julian
__ADS_1
"Tapi, Paman bilang hanya sampai menungguimu melepaskan baju" bantah Vania
" Dia tidak bilang kau harus memeriksa air panasnya?"
"Ooh.." Vania mengerti, ia pun bergegas masuk kedalam kamar mandi dan menyalakan air shower, memeriksa panas air itu dengan tangannya
"Aah.. panas" Vania mengibaskan tangannya lalu cepat-cepat menekan memutar keran untuk air dingin, menunggu beberapa saat lalu memeriksa airnya lagi
" Sudah cukup hangat" Vania memutar tubuhnya dan terkesiap kaget karena Julian sudah melepaskan sisa pakaiannya dan berdiri tepat dibelakangnya
Julian memegang pundak Vania lalu mendorong gadis itu masuk kedalam bilik berkaca kamar mandi, membuat gadis itu basah karena guyuran air hangat dari pancuran. Vania mengerjap kaget mengusap wajahnya yang basah lalu bersandar di tembok bermarmer yang ada dibelakangnya. Matanya menatap lebar ketika Julian mengambil pakaian yang dipegang Vania lalu membuangnya keluar
" Disambut seperti ini lebih menyenangkan dari pada disambut oleh Paman Norman" Vania menelan salivanya memandang pemandangan menakjubkan dihadapannya, mereka sudah basah karena guyuran air dari shower
" Tapi Paman bilang aku tidak harus sampai masuk kedalam sini" Vania berusaha mengeluarkan suaranya, ketika tubuhnya dialiri listrik menyambut sentuhan tangan Julian ditubuhnya
" Dia juga tidak bilang kita akan bercinta disini kan?"
" Apa..?"
" Jangan pura-pura bodoh. Sekarang lepaskan bajumu yang sudah basah ini, lalu kita mulai lagi proses membuat bayi" lalu Julian menunduk dan mencium Vania dengan keahlian yang sama yang ia tunjukkan kepada Vania kemarin malam
Suara ******* dan erangan terus keluar dari bibir mereka. Julian berhasil membebaskan Vania dari pakaiannya yang sudah basah, menumpuk pakaian itu dilantai bermarmer. Air hangat yang keluar dari shower membuat pergulatan mereka menjadi semakin panas, gerakan tangan Julian mengusap dan membelai dengan tergesa-gesa, uap panas menyelimuti mereka, meninggalkan embun disekeliling dinding kaca bilik kecil itu
Tidak ingin bermain-main karena tubuhnya sudah sangat ingin dipuaskan Julian mengangkat Vania dalam gendongannya mengalungkan kaki Vania dipinggangnya, mendorong Vania hingga punggung gadis itu membentur tembok bermarmer. dan mulai memasuki gadis itu.
Vania mengigit bibirnya tertahan, merasakan sekali lagi benda tumpul itu memasuki dirinya, rasanya tidak sesakit seperti kemarin tapi Vania tetap terkesiap kaget karena tiba-tiba merasa penuh dibawahnya
Julian mengerang karena Vania masih sesempit kemarin, mendesah setelah berhasil masuk seutuhnya, dan mulai bergerak dengan tekanan yang cepat dan memabukkan. Vania menumpukan tangannya dibahu Julian, merasakan kenikmatan bertubi-tubi seiring pergerakan tubuh mereka. ******* dan erangan menyertai mereka
Julian mencium Vania ketika gelombang kenikmatan itu menghampirinya, dengan sekali dorongan Julian pun sampai pada pelepasannya. Begitu juga dengan Vania yang datang sedetik sebelum Julian, Vania sekali lagi merasakan aliran hangat memasuki rahimnya
Mungkin setelah ini Vania benar-benar akan hamil. Setelah berhasil mengatur nafasnya, Julian melepaskan dirinya dari Vania dan menurunkan kaki gadis itu kembali menginjak lantai
"Tidak apa-apa" jawab Vania, apa lagi yang harus ia jawab?
" Sekarang kau harus ikut mandi bersamaku" Julian menjauh dari Vania, menyemprotkan sabun cair ditanganya kemudian menggosoknya dengan kedua tangan hingga berbusa. Julian mengusapkan tangannya yang berbusa ditubuh Vania, tangan, perut, lengan hingga ke****dara gadis itu
Damian berlama-lama menyabuni ****dara Vania, semalam dia tidak melihat dengan jelas, gadis ini memiliki lekukan tubuh yang indah, ****daranya penuh hingga bisa memenuhi tangannya
Julian menarik pinggang Vania hingga menempel dengan tubuhnya, Julian sudah menegang lagi hanya dengan memandangi tubuh Vania
"Sekali lagi, setelahnya kita benar-benar mandi" setelah mengucapkannya Julian pun mendaratkan ciumannya. Dan sekali lagi bercinta dengan Vania
πππ
Rumah besar keluarga Granger
"Kau melakukannya dengan sangat baik Norman"
" Tentu saja nyonya, aku juga pandai berakting"
" Aku harap mereka jadi semakin dekat, dan saling jatuh cinta. Bukankah bagus jika gadis itu nantinya akan menikah dengan Julian?"
" Anda tidak keberatan tuan muda menikah dengan gadis biasa-biasa saja?"
" Setelah semua ini terjadi? Tentu saja tidak,aku akan merestui siapapun wanita yang bisa mengembalikan putraku seperti Julian yang dulu"
" Bahkan dari seorang wanita yang tidak jelas asal-usulnya?"
" Yaa..."
"Lalu bagaimana jika dari wanita yang datang dari masa lalu?" Pak Norman bertanya hati-hati
__ADS_1
" Apa maksudmu?" Pak Norman menyerahkan sebuah koran kepada Rianty
Rianty mengambil koran itu dan membacanya pelan-pelan
"Wanita ini akan bercerai?"
" Begitulah yang diberitakan"
" Apa dia akan kembali ke Jakarta?"
" Aku tidak tahu nyonya" Rianty meremas koran itu dengan emosi tertahan
"Jangan sampai Julian tahu berita ini" ancamnya pada Pak Norman
"Bercerai? Yang benar saja? tidak puas dengan suaminya?" dengus Rianty
"Jika dia memutuskan untuk kembali dari London dan pulang ke Jakarta,usahakan Julian tidak pernah tahu, kau mengerti?. Aku tidak mau wanita itu memasuki hidup Julian lagi dan merusak rencana kita berdua"
"Akan kulakukan semampuku nyonya" Rianty menaikkan sudut bibir kirinya, mendengus pelan
"Ck.. Angeline Sania, aku tidak akan pernah mengizinkanmu mempengaruhi putraku lagi"
πππ
Bulan Kedua Sejak kedatangan Vania dirumah itu⦠Mobil sedan berwarna hitam berhenti dihalaman luas sebuah rumah besar yang terletak jauh dari keramaian, kau bisa berjalan cukup jauh hanya untuk menemukan rumah lain disana. Rumah besar itu berdiri sendiri diantara pepohonan tinggi dan besar, udara yang sejuk dan segar membuat siapa saja yang tinggal disana merasa sehat
Pak Norman keluar dari mobil sedan itu dengan tangan membawa bahan-bahan makanan untuk kebutuhan Vania dan juga Julian dirumah besar itu. Sudah dua bulan berlalu dan berkat Vania, pekerjaan Pak Norman menjadi lebih ringan, ia hanya dibutuhkan ketika persediaan makanan dirumah itu habis
Pak Norman benar-benar terkejut mendapati majikannya itu sama sekali tidak pernah protes ataupun mengeluh tentang Vania. Pak Norman bisa langsung menebak gadis itu sudah tentu pandai mengurus Julian, atau dia memang pandai mengurus seorang suami
Pak Norman melangkah masuk mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru rumah, rumah itu sepi, Pak Norman melirik kearah jam, hari sudah menjelang siang. Julian kemungkinan sudah bekerja, lalu dimana Vania?.
Pak Norman meletakkan bahan-bahan makanan itu diatas meja lalu mulai mencari keberadaan Vania. Gadis itu mungkin diteras samping rumah bermain bersama anjing kampung yang sering ia beri makan. Tidak ada, Pak Norman mengerutkan alisnya, gadis itu tidak ada diteras, Pak Norman kemudian kembali masuk dan berjalan menuju kamar tidur gadis itu
" Nona Vania..? aku sudah datang" Pak Norman mengetuk pintu kamar Vania, tidak ada sahutan dari dalam kamar itu.
Pak Norman pun beranjak dari pintu kamar Vania menuju perpustakaan, mungkin Vania disana, gadis itu sering mengisi waktu luangnya dirumah dengan membaca buku yang ada disana
Mendekati pintu perpustakaan Pak Norman mendengar Vania memekik pelan dari dalam perpustakaan, Pak Norman hendak membuka pintu perpustakaan itu karena takut sesuatu menimpa Vania kemudian berhenti ketika mendengar suara erangan Julian menyahuti Vania
Pak Norman membuka mulut lalu mengatupnya rapat, cepat-cepat berbalik dan berjalan menjauh, tidak perlu dilihat lagi ia tahu apa yang terjadi didalam sana.
Suara nafas yang tersengal-sengal memenuhi ruang perpustakaan itu. Julian menyandarkan kepalanya disandaran empuk sofa dengan Vania berada dipangkuannya, nafas Vania yang menderu menyapu permukaan bahunya, gadis itu jelas terlihat sangat kelelahan. Tentu saja, lelah karena Julian memintanya bergerak lebih cepat untuk mendapatkan apa yang ia dan Julian cari
Julian menaikkan kepalanya, mengalungkan tangan kirinya dipinggang Vania lalu menyurukkan tangan kanannya dirambut kecokelatan Vania
"Kau semakin pandai bercinta" bisikan kata-kata vulgar itu membuat Vania meremang dan merona karena malu. Bagaimana dia tidak menjadi pandai, jika Julian dengan ahli dan piawai mengajarinya
Vania bahkan tidak pernah tahu ada posisi-posisi yang membuatnya tercengang dan juga mendapatkan kenikmatan lebih. Seperti hari ini, Julian tadinya hanya menyuruhnya duduk dipangkuan pria itu, tetapi entah bagaimana mereka berakhir seperti ini, bercinta dengan menggebu-gebu, seperti tidak akan ada hari esok untuk mereka. Vania menjauhkan kepalanya
" Tuan harus ke Hotel siang ini" ujar Vania mengingatkan dan mendapati anggukan dari kepala Julian
" Akan kusiapkan baju kerjanya" Pelan-pelan Vania menjauhkan dirinya dari tubuh Julian
Julian mendesah karena Vania melepaskan dirinya dari tubuh hangat Vania. Bersamaan mereka merapikan pakaian mereka, Julian memakai kembali celananya yang terbuka hingga lutut begitu juga Vania yang merapikan rok dan bajunya. Setelah merasa rapi Vania pun berjalan keluar menuju kamar Julian, menyiapkan pakaian untuk pria itu.
.
.
.
Mohon saran dan kritiknya teman-teman ππ
__ADS_1