Rahim Bayaran Tuan CEO

Rahim Bayaran Tuan CEO
BAB 11


__ADS_3

Julian berdiri dari sofa lalu berjalan kearah barisan buku yang tadi ditujunya sebelum Vania masuk hanya untuk bertanya Julian ingin makan apa, Julian melupakan barisan buku itu saat itu juga dan menyerang Vania disofa perpustakaan


Sungguh aneh, pikir Julian, sebelumnya Julian tidak pernah dihampiri desakan untuk meniduri seseorang sekuat ini. Tidak bisa dihitung lagi sudah berapa kali Julian mendesakkan dirinya kepada Vania, kegiatan bercinta itu bukan lagi hanya untuk menuntaskan proses pembuatan bayi, tapi lebih kepada keinginan pribadi Julian sendiri


Entahlah, mungkin karena hormon didalam tubuh Julian sedang meningkat dan terus ingin menjamah Vania


🍀🍀🍀


"Paman? Kau sudah tiba" Vania terkejut melihat Pak Norman sedang berada didapur memasukkan bahan-bahan makanan kedalam kulkas


"Eum... kau baru bangung?" tanya Pak Norman


"Iya..?" Vania hendak membantah namun menghentikan bantahannya, sadar bahwa penampilannya mungkin belum kembali rapi seutuhnya. Vania menyisir rambutnya dengan tangan lalu berjalan kearah washtafel


"Eum.. aku kesiangan" jawabnya canggung. Pak Norman menyembunyikan senyumnya dari balik pintu lemari es, berpura-pura tidak pernah tahu apa yang terjadi.


Selesai menyiapkan pakaian Julian diatas tempat tidur pria itu, Vania memutuskan untuk membuatkan sarapan.Vania berhenti, teringat akan sesuatu


"Aah.. aku lupa bertanya dia ingin makan apa?" Tadinya ia memang berniat bertanya Julian ingin makan apa, tapi pertanyaan itu terlupakan begitu saja karena Julian mengajaknya untuk bercinta


"Masak apapun yang kau inginkan, tuan muda pasti suka" Pak Norman memberikan saran, setelah selesai menyimpan bahan-bahan makanan


"Baiklah.." jawab Vania, mulai menyiapkan bahan-bahan untuk dimasak.


"Apa tuan muda hari ini libur?" tanya Pak Norman dari balik punggung Vania


"Tidak, sebentar lagi tuan Granger berangkat, siang ini ada jadwal memeriksa salah satu Hotelnya"


"Aa.." Pak Norman menganggukkan kepalanya


" Apa kau keberatan jika aku disini sebentar Nona?. Aku ingin minum minuman punch yang pernah kau buat kemarin"


" Tentu saja aku tidak keberatan, aku senang Paman datang kesini, disini terlalu sepi jika Paman tidak ada"


'Yaah tetapi malam harinya tidaklah sesepi siang hari' batin Vania


Pak Norman tersenyum memaklumi, ia melirikkan kepalanya kearah koran yang terletak diatas meja lalu mengambilnya cepat setelah membaca satu judul yang tercetak besar


AKTRIS ANGELINE SANIA MEMUTUSKAN UNTUK MENINGGALKAN SUAMINYA, DUGAAN ADANYA ORANG KETIGA


Pak Norman menutup judul itu cepat


" Apa tuan muda sudah membaca korannya?"


" Eum.., tuan belum kesini, ia langsung keperpustakaan tadi dan.." Vania terdiam, dan yang terjadi selanjutnya tidak bisa ia ungkapkan


"Aah.. sebaiknya koran seperti ini tidak diberikan kepada tuan muda, tuan muda tidak begitu suka gosip"


" Tapi tidak hanya ada gosip disana"


"Nona.. berjanjilah padaku kau akan menyingkirkan semua koran dirumah ini dan juga jangan menonton acara gosip ataupun hiburan di depan tuan muda" Vania memutar tubuhnya menghadap Pak Norman bingung


"Kenapa..?"


"Karena aku tidak mau tuan muda membaca atau melihat satu berita yang akan membuatnya kesal. Berjanjilah" Pak Norman memasang wajah serius dan mengucapkan kata itu dengan penekanan yang menakutkan.


Vania memasang ekspresi takut dan ngeri


"Baiklah.." jawabnya patuh


"Bagus.." Pak Norman menganggukan kepalanya. Ia juga harus menyuruh orang-orang untuk menyortir koran ataupun surat kabar lainnya, bahkan menyortir Internet dan saluran tv yang memberitakan tentang perceraian Angeline sania.Itu pasti akan sulit mengingat Zaman digital ini dan itu akan menjadi pekerjaan tambahan buat Pak Norman.


Wanita itu kenapa harus seorang aktris?. Semua media memberitakan perceraiannya karena wanita itu adalah seorang aktris yang cukup terkenal. Ia menikah dengan seorang CEO ternama didunia hiburan, karena iming-iming menjadi lebih terkenallah yang membuat gadis itu lebih memilih pria itu dari pada Julian. Tentu saja, siapa yang akan berpaling dari Julian Granger. CEO utama, pemilik dari lima hotel terkenal, dan satu buah mall terkemuka. Semua gadis didunia ini menginginkan posisi sebagai istri dari Julian Granger


Semua wanita selain Angeline Sania yang lebih tertarik pada ketenaran didunia hiburan dari pada posisi itu. Sungguh sangat disayangkan, setelah menikah pun karir Angel tidaklah meningkat seperti yang diinginkannya. Wanita itu bahkan harus pindah ke London berdua saja bersama putrinya karena ia tidak lagi memiliki panggilan untuk bermain sinetron,drama atau film.

__ADS_1


" Paman" panggilan Vania membuyarkan lamunan Pak Norman


"Memangnya ada berita seperti apa?" Pak Norman menyimpan koran itu dibalik jas kerjanya


"Kau tidak perlu tahu. Yang penting jangan berikan surat kabar ataupun menonton televisi sampai aku memberitahumu bahwa semuanya baik-baik saja"


"Baiklah, kuharap semua baik-baik saja paman" ujar Vania tulus


"Aku juga" jawab Pak Norman. 'Kuharap semua baik-baik saja, dan kau tidak terluka'.. tambah Pak Norman didalam hatinya.


🍀🍀🍀


Pak Norman hanya berdiam diri duduk dikursi makan selagi Vania mulai memasak, matanya menatap lekat gadis itu, tangannya yang kecil dan ramping begitu piawai memotong, membelah dan mengaduk penggorengan. Benar-benar cerminan seorang istri idaman.


"Paman kau sudah datang?" suara Julian terdengar dari belakang mereka, Pak Norman memutar tubuhnya lalu melebarkan matanya terkejut, Julian memakai kemeja berwarna biru dengan dasi bertengger dilehernya dan belum terikat. Seharusnya Julian memakai kemeja berwarna putih jika ingin mengunjungi hotel, Pak Norman hendak protes namun menghentikan niatnya


Sadar bahwa Julian tidak protes dengan pemilihan baju yang telah Vania siapkan. Biasanya Julian selalu marah jika baju yang disiapkan tidak sesuai dengan keinginannya, tapi sekarang Julian sama sekali tidak protes


Vania memutar tubuhnya dengan membawa mangkuk nasi dan meletakkannya diatas meja. Menghampiri Julian dan mengikatkan dasi Julian. Pak Norman lagi-lagi terdiam, Vania benar-benar melakukannya? Mengikatkan dasi Julian?. dan Julian mengizinkan gadis itu melakukannya


Julian memandangi wajah Vania yang berada tidak jauh dari lehernya, mata gadis itu menatap serius kearah dasinya. Julian menikmati kegiatan ini, sejak hari pertama Vania dengan tanpa izin mengikatkan dasi Julian. Entah apa yang Pak Norman perintahkan kepada Vania, gadis itu benar-benar patuh dan melakukan tugasnya dengan benar, julian selalu mengikat dasinya sendiri dan Pak Norman tahu itu. Tapi setelah Vania mengikatkan dasinya Julian pun terbiasa keluar dari kamar dengan dasi berada dilehernya, menunggu Vania yang mengikatkan dasinya


Julian juga tidak pernah marah kepada gadis itu karena pilihan warna baju yang salah, dan ia tidak tahu kenapa


" Dimana korannya?" tanya Julian


" Eum.. hari ini mereka tidak mengantar korannya" jawab Vania berbohong. Julian mengerutkan alisnya


"Itu aneh" ujarnya. Tetapi tidak mempedulikan hal itu, ia juga tidak begitu suka membaca koran, ia lebih suka membaca berita dari situs online. Karena koran biasanya mencampur berita dengan gosip para selebritis


Selesai memasangkan dasi Julian, Vania melanjutkan tugasnya menuangkan sup miso yang baru saja dibuatnya. Keningnya berkerut ketika mencium aroma tajam dari sup itu, sebisa mungkin gadis itu menahan desakan didalam perutnya yang minta dimuntahkan. Cepat-cepat Vania menutup panci itu.


"Nona Vania.. ada apa" tanya Pak Norman, menyadari ada yang tidak beres


"Ada yang salah dengan supnya, baunya tidak enak" Pak Norman berdiri menghampiri Vania membuka penutup panci lalu menghirup aromanya


"Ini terlihat enak, aromanya juga lezat" jawab Pak Norman


"Kau tidak apa-apa?" tanya Pak Norman khawatir


" Tapi wanginya membuatku mual" jawab Vania, dengan alis berkerut, cepat-cepat mengambil penutup panci dan menutup sup itu. Pak Norman menaikkan alisnya, gejala seperti ini. mungkinkah?


" Kenapa..?" tanya Julian yang berada dikursi meja makan, bingung melihat Vania dan Pak Norman


"Aku akan pergi membeli alat tes kehamilan" Pak Norman menoleh kearah Julian


" Sekarang, aku permisi tuan muda" Vania terdiam dengan mata yang terbelalak, apa maksud Pak Norman tadi? Alat tes kehamilan? Apa maksudnya saat ini Vania kemungkinan sudah hamil? Vania menghitung didalam hati, memang sudah lama ia menyadari ia terlambat datang bulan, tetapi Vania tidak pernah menyadari jika itu tanda-tanda sesuatu sedang terbentuk didalam perutnya


Pelan-pelan Vania melirik kearah Julian, pria itu terlihat sama terkejutnya seperti Vania. Julian berdeham


"Yaah.. aku juga akan memanggil dokter pribadi untuk mengecek kebenarannya"


🍀🍀🍀


CEKLEEEKK...


Julian membuka pintu kamar Vania dengan memegang segelas susu, kali ini bukan susu murni seperti biasanya, pria itu sengaja membuat susu untuk wanita hamil untuk ia berikan kepada Vania.


Mata Julian menyipit karena tidak menemukan gadis itu didalam kamar, kakinya sudah hendak melangkah keluar kamar ketika ia mendengar suara tertahan Vania dari arah kamar mandi. Julian berjalan masuk kedalam kamar, meletakkan gelas susu diatas lemari pendek sebelum membuka pintu kamar mandi


Matanya melebar terkejut melihat Vania sedang membungkuk diatas washtafel dengan tangan menutup mulutnya, wajah Vania pucat, seputih kertas


" Kau baik-baik saja.?" Julian langsung melangkah masuk lalu memegang tengkuk Vania dan memijatnya pelan. gadis itu menggelengkan kepalanya pelan. Tenaganya sudah hampir terkuras karena harus memuntahkan isi perutnya. Julian mengerutkan alisnya, ia tidak begitu suka melihat kesulitan diwajah Vania. Apa hamil begitu menyakitkan?


" Aku akan memanggil dokter"

__ADS_1


"Jangan..." Vania memegang tangan Julian cepat, sebelum pria itu pergi


" Aku tidak apa-apa, hal seperti ini memang sering terjadi pada wanita hamil"


" Kau yakin..?"


" Eum.. tuan bisa tanya pada Paman Norman" Julian masih mengerutkan alisnya, wajah Vania sama sekali tidak berwarna, masih terlihat pucat


" Istirahatlah kalau begitu"


" Baik.." Vania menganggukkan kepalanya lalu berjalan keluar dari kamar mandi, menghampiri tempat tidur dan membaringkan dirinya dibawah selimut


"Minum susunya?" Julian mengulurkan gelas yang berisi susu yang ia bawa tadi kesini. Vania menggelengkan kepalanya lemah


"Aku masih merasa mual, nanti saja"


Julian duduk ditepian tempat tidur memandangi wajah Vania. ia tidak pernah tahu jika hamil akan membuat wanita itu mengalami hal seperti ini. Yang Julian tahu, wanita hanya butuh waktu sembilan bulan untuk mengandung


Pelan-pelan Julian memijat pelipis Vania, membuat gadis itu memandangi wajah Julian dalam diam. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mereka berdua, terhanyut dalam sentuhan ringan itu, ini bukan sentuhan Julian yang biasanya yang membuat Vania bergairah tetapi sentuhan lembut yang membuat hati Vania menghangat


Merasa nyaman dengan pijatan dipelipisnya gadis itu pun memejamkan matanya, rasa kantuk menghampirinya dan Vania tertidur detik berikutnya. Julian menghentikan gerakan jari-jarinya yang memijat pelipis Vania setelah memastikan gadis itu tertidur


Julian menolehkan kepalanya kearah tubuh Vania yang tertutup selimut kemudian tersenyum, akhirnya ia akan menjadi seorang ayah pikirnya, hanya membutuhkan waktu kurang lebih delapan bulan lagi, ia akan memiliki seseorang yang bisa ia manjakan. Seperti yang ia inginkan selama ini


Julian mengerutkan alisnya, entah kenapa ada sesuatu yang salah dari ini semua, Julian merasa bahagia sekaligus merasa aneh. Aneh karena ia merasa tidak suka melihat gadis itu harus mengalami muntah-muntah seperti tadi. Julian menggelengkan kepalanya pelan, ini semua pasti karena ia merasa khawatir pada calon bayinya


Julian meyakini dirinya bahwa kekhawatirannya kepada Vania lebih kepada ia menghawatirkan calon bayinya.Julian menarik selimut Vania hingga menutupi pundak gadis itu lalu mengusap pelan kepala Vania sebelum akhirnya pergi dari kamar itu


🍀🍀🍀


Bulan ketiga di Rumah itu


"Vania.. kau harus makan ini. ini baik untuk tubuhmu" Nyonya Granger meletakkan sup ayam yang ia campur dengan beberapa rempah-rempah yang sengaja ia masak dari rumahnya dihadapan Vania.


"Anda baik sekali nyonya" Vania menatap takjub sop ayam itu, Nyonya Granger bahkan memberikan bagian ayam terbaik untuknya daripada untuk putranya


"Terima kasih, tapi aku tidak bisa menerimanya"


"Eey.. jadi maksudmu kau mau menolak masakan yang sudah susah payah kubuat untukmu?"


"Bb..Bukan..bukan begitu, hanya saja, rasanya aku tidak pantas menerima perhatian darimu" Vania mengibaskan tangannya didepan wajahnya salah tingkah, ia tidak bermaksud menyinggung perasaan nyonya Granger


"Ahahaha.. tidak apa-apa, ini semua agar ibu dan calon bayi sehat. Kau harus sehat, jadi makanlah" Julian mengamati ibunya dengan pandangan bingung bercampur geli. Ibunya tidak pernah terlihat sebahagia ini sebelumnya, apa karena sekarang ibunya sudah menerima gagasan bahwa ia akan segera menimang cucu?


" Ini untukmu sayang" nyonya Granger menyodorkan mangkuk lain untuk Julian


"Apa Mama sekarang tinggal disini?" sindir Julian. Nyonya Granger mendelikkan matanya kepada Julian


"Kau tidak suka Mama disini?"


"Bukan.. aku hanya bingung karena akhir-akhir ini Mama terlihat berbeda" Nyonya Granger tersenyum kemudian melirik Vania yang sedang menghirup kuah sup itu. Tentu saja ia berbeda, ia menaruh harapan yang sangat tinggi kepada Vania. Ia yakin gadis itu bisa membuat putranya kembali menjadi Julian yang dulu, sekarang saja sudah terlihat sedikit perbedaan dari Julian


Seperti yang Pak Norman katakan padanya Julian memang tidak pernah memasang ekspresi kosong lagi, bahkan Julian sering kali terlihat menatap lembut kearah Vania. Mungkin Julian tidak menyadarinya, tapi nyonya Granger dan Pak Norman menyadari hal itu.


"Ini karena Vania harus berada dirumah ini sepanjang hari, tanpa teman dan juga keluar. Kau pasti bosan kan?" tanya Nyonya Granger pada Vania


"Bagaimana jika kau ajak Vania jalan-jalan? Itu bagus untuk bayinya juga" saran nyonya Granger kepada Julian


Julian menaikkan alisnya kemudian menatap Vania, ia tahu gadis itu sudah merasa bosan di bulan pertama ia tinggal dirumah itu, tetapi apa yang harus ia lakukan? Gadis itu harus tetap di rahasiakan keberadaannya, apa lagi sekarang ia sedang hamil


"Tidak, dia tetap dirumah ini apapun yang terjadi" jawab Julian tegas. Nyonya Granger mengernyitkan hidungnya tidak suka, Julian belum berubah sepenuhnya


"Ini enak sekali nyonya" puji Vania kepada Rianty. Gadis itu memamerkan cengirannya kepada Rianty, membuat Rianty tersentuh bahagia


"Benarkah?, kalau begitu dihabiskan ya.." Vania tersenyum

__ADS_1


"Baik" jawabnya patuh lalu kembali pada kegiatan mengunyahnya, gadis itu membuat suara mengerang nikmat sambil menggerakkan badannya. Membuat Nyonya Granger tersenyum, Vania selalu bisa membuat suasana menjadi hangat. Rianty menoleh kearah putranya yang juga tersenyum melihat tingkah Vania. Diam-diam Rianty bertanya-tanya, Apa Vania menyadarinya?, setiap kali gadis itu tersenyum, senyumnya akan menular kepada siapapun. .


__ADS_2